
Happy Reading💜
Kecup jauh buat kalian semua :* makasih support silentnya, aku sayang kalian 100% 😘
________________
Brakk.
Gebrakan tak senang dari pihak Silya terdengar.
Ratih melotot kearah Laras, bagaimana bisa respon anaknya sangat gegabah. Pikirnya.
Sedangkan dari pihak Yoko, Silya menatapnya dengan sinis tanda tak suka, begitupun Yoko yang tampak tersinggung dengan ucapan Laras.
"Cowok cacat?!" Kesal Silya anaknya di hina, wajahnya tertekuk tak senang.
Senyum mengejek muncul di wajah Yoko, sang suami.
"Heh, berani sekali kau menghina putraku, begini ya caramu mendidik Bakara!" Tanya Yoko yang terdengar seperti pernyataan.
"Penghinaan! ayo sayang kita pergi!" Bentak Silya kesal, menggandeng lengan suaminya dan menarik lembut tangan Dion.
Siap-siap melangkahkan kaki.
Bakara meneguk ludahnya kasar, siap melayangkan tamparan telak ke pipi Laras, jika lupa kalau saat ini mereka sedang ada tamu.
"Maafkan saya tuan, saya mohon bantulah saya, bukan maksud putri kami begitu." Bujuk Bakara mendekat kearah Yoko, pandangannya menoleh kearah Laras agar anak bodohnya itu lekas minta maaf.
Namun, dasar Larasnya saja yang tak peka. Dia malah merutuki Deena dalam hati, menyalahkan kebodohan Deena yang menolak di nikahkan dengan lelaki cacat itu, sampai-sampai dirinya yang harus menikah dengan Dion.
"Sudah! perjodohan ini batal, tak sudi aku di permalukan begini." Bentak Yoko melangkahkan kakinya sambil menggandeng balik Silya. Diikuti oleh Dion.
"Tuan.. nyonya." Cicit Bakara saat melihat Yoko dan keluarga sudah hilang di balik pintu. Diikuti Deena di belakangnya untuk mengantar tamu pergi, biar bagaimana pun juga, adab mengantar tamu sebagai attitude yang baik.
"Maafkan perkataan adik saya tuan nyonya, dia masih perlu banyak belajar attitude pada orang lain." Ucap Deena tanpa mau basa basi.
Yoko dan Silya mengurungkan niat masuk kedalam mobil. Mereka berdua menoleh bersamaan, sedangkan Dion sudah masuk lebih dulu.
Seperti biasa, berceloteh riang.
Gadis itu tersenyum ramah. "Semoga perjalanan anda bertiga menyenangkan." Tambah Deena lagi.
Raut tak senang Silya, terganti dengan senyum ramahnya. Yoko melihat istrinya senang diapun ikut tersenyum kearah Deena.
"Sesama anak, tapi kelakuannya beda jauh." Sewot wanita baya di hadapan Deena itu, sindirannya mengarah untuk Laras.
Masih terus tersenyum, Deena menundukkan kepalanya melihat ke arah Dion.
__ADS_1
"Hai Dio, hari minggu Deena mampir ke rumah boleh? mau ajak temen juga buat main bareng kamu." Tanya Deena senang, membuat Dion kegirangan diajak bermain.
Dion mengangguk senang. "Boleh! boleh kan Ma?" Tanya lelaki itu menatap kearah Silya.
Tentu saja sang mama mengangguk senang. "Tentu sayang, pintu kami terbuka lebar untukmu." Jawab wanita baya itu.
"Tuh boleh kata mama, janji ya?" Ucap Dion menjulurkan jari kelingking kearah Deena.
Deena tersenyum ramah ikut menautkan jari kelingking mereka.
"Janji." Jawab gadis itu.
Deena menegakkan kembali tubuhnya, menatap kedua paruh baya yang masih tampak awet muda itu sambil tersenyum.
"Hari sudah larut, kami balik ya nak Deena." Pamit Silya ramah.
"Hati hati di jalan." Ucap gadis itu lalu mobil melenggang pergi.
Plakkk.
Suara tamparan terdengar.
"Papa.. kenapa papa menamparku?!" Tanya Deena tak senang bagitu masuk kedalam rumah, dirinya sudah di sambut dengan tamparan telak di pipi.
Sudut bibirnya tampak mengeluarkan darah segar, telinganya berdengung beberapa saat.
Pria itu menjambak rambut Deena kasar, menyeret gadis itu mengikuti langkahnya sambil mengamuk.
"Cih siapa suruh kau menolak pernikahan ini, rasakan." Suara Laras mencibir sambil memegang pipinya yang tampak merah juga, Deena pastikan itu hasil telapak tangan ayahnya.
"Sakit pa.. kenapa papa menghukumku? sedangkan yang membuat mereka marah adalah Laras." Bela Deena berusaha melepas jambakan ayahnya.
"Kalau bukan karnamu menolak perjodohan ini, bagaimana mungkin Laras begitu impulsif menolak." Alibi Ratih membela anaknya.
"Tapi, shhh..sakit pa sakit!" Rengek Deena memaksa Bakara melepaskan rambutnya, namun nihil.
Deena berontak, berjalan terseok mengikuti seretan ayahnya.
"Diam kau! dasar tak tahu diuntung! masih baik aku membesarkanmu selama ini! bukannya terimakasih, malah membuatku malu!" Bentak Bakara.
"Tuan ampuni nona kali ini tuan, saya mohon." Datang mbok Mirna bersimpuh di hadapan Bakara, membuat tuannya itu menghentikan langkah.
"Mbok.." Tegur Deena menggelengkan kepala lemas, mengkode agar pembantunya itu tak ikut campur.
"Kurang ajar! siapa kau rupanya berani halangi jalanku!!" Teriak Bakara murka, dengan masih menjambak Deena, kakinya menendang pembantu itu hingga tersungkur.
Braakk.
__ADS_1
"Tuan..!" Spontan mang Dadang teriak mendekati istrinya yang saat ini terduduk lemas.
Terlihat kepala mbok Mirna berbenturan dengan ujung meja kaca, darah mengalir dengan derasnya.
"Papa..!" Deena tak tega, melihat mbok yang sudah dianggapnya ibu itu masih berusaha menghentikan kekejaman Bakara, walau bajunya sudah basah karena dengan darah.
"Diam kau! sini kau harus di hukum!" Teriak Bakara lagi melanjutkan langkahnya menyeret Deena.
"Lepas pa.. tolong Deena." Ringisan dan bujukan terus saja terdengar dari gadis itu.
Matanya membelalak ketika langkah ayahnya, membawa mereka menuju ruang bawah tanah.
"Pa..papa lepasin Deena pa.. Deena mohon ampun pa, jangan gini pa mohon ampuni Deena." Lirih gadis itu berharap ada sedikit saja rasa iba ayahnya.
Lehernya terasa tercekik, napasnya mencekat seakan oksigen sudah habis tak bersisa untuk di hirup.
Keringat membanjiri pelipis Deena, dengan wajah gadis itu yang seketika memucat.
Didalam mobil.
"Hahah.. bocah banget sih nak, apa itu tadi? janji kelingking? bwah wahahah.." Ledekan keras terdengar dari Silya sang mama.
Terlihat Dion melipat tangannya tanda kesal.
Yoko menoleh ke samping dimana istrinya duduk. Dia terkekeh heran dengan ledekan sang istri untuk si anak.
"Seneng banget kamu ya Dio di katain cacat hmm?" Tanya Yoko menaikkan alisnya, dengan ekspresi setengah meledek.
Seketika wajah Silya berubah kesal.
"Engga tuh, mama malah benci banget pa waktu si anak tengil kampret itu ngatai Dio cacat, dia kira siapa dia? sayang banget nak Deena gak mau di jodohin sama Dio." Ujar wanita itu bergelanyut manja di lengan sang suami.
Sambil memainkan rambut ombrenya, duh persis seperti anak kecil yang minta dibelikan mainan.
"Hahah.. kesal? hey ide siapa ini yang buat iklan perjodohan untuk Dio di medsos, poster, majalah hingga di tv pake drama segala jadiin Dio punya penyakit keterbelakangan mental?" Ejek Yoko panjang lebar, mengingatkan istrinya lagi barang kali ibu awet muda itu lupa dengan ide gabutnya.
Yoko mencubit gemas hidung sang istri.
Mereka berdua duduk di belakang, sedangkan Dion duduk di depan samping supir.
"Ya iyalah tuh anak ga mau, orangnya juga udah nikah kok." Jawab Dion menyugar rambutnya ke belakang, saat ini setelannya sudah berganti dengan kaos oblong putih.
Barulah terlihat tubuh kekarnya dengan wajah tampan blasteran Rusia, siapa sangka pria macho itu menyembunyikan parasnya dengan sifat bocah.
Kedua orang tuanya langsung menoleh serentak, lengkap dengan tersedak liur mereka sendiri.
To Be Continue aja deh >>>
__ADS_1