Presdir Bucin

Presdir Bucin
Bagai Iblis


__ADS_3

Ngebut kan nulisnya, sampe jam setengah 2 dini hari lho. baru aja sampe rumah, dari pulang mudik 🤪.


Nah kalau jumpa typo di jalan awas kesandung, kadang" buat lidah jadi keseleo 🤭


Oke, happy reading All ♥️


_________________


"Sakit.. aarggh." Jeritan kesakitan terdengar ngilu.


Iya, pria itu memang kejam jika sudah menghukum musuhnya, siapapun tak ada yang boleh mengusik milik Hanska. Pria itu seperti kanker, diam-diam mematikan.


Dan yang membuat Hanska tak habis pikir, mereka para bandit itu adalah orang suruhan ibu tiri Deena. Pria itu bersumpah, jika Deena mengizinkan akan Dia musnahkan saat itu juga keluarga Bakara.


Bagi Hanska, hal ini setimpal mereka dapatkan mengingat betapa kejinya para bandit itu memperk*sa korban mereka dan menggilirnya bergantian hingga t*was.


Dari mana Hanska tahu? dalam perjalanan menuju markas, Tama mengirim informasi dari masing-masing bandit itu dan kasus yang mereka lakukan kebanyakan membunuh para wanita.


Mata Hanska menyipit, sebentar saja pria itu telat entah bagaimana nasib gadis kecilnya.


Setelah beberapa menit Hanska mengeksekusi, pria itu memberi jeda lima menit melihat hasil karyanya. Senyum puas terukir di bibir.


Lihatlah mangsanya saat ini, duduk terikat dengan bibir terjahit penuh darah, bentuk tubuhnya sudah tak terdefinisikan lagi, sedang terkulai tak berdaya di posisinya.


"Suntikan." Ucap Hanska. Terlihat satu bodyguard yang tadi membawa alat-alatnya, menyerahkan suntikan berisi cairan virus pemakan syaraf.


Hanska melepas sarung tangan silikon penuh darah itu, membuangnya kesembarang arah.


"Bereskan." Titahnya berlalu diikuti ketiga sahabatnya.


"Anjigur, puas banget muke lo." Ledek Tama terkekeh.


Hanska hanya menaikkan alisnya bangga.


"Ah ga asik, tau gitu tadi gue mutil*si aja tuh si*lan." Ucap Arsen menekuk wajahnya.


"Anjrot gada puasnya lu." Ejek Tama heran melihat betapa senangnya Arsen dalam menyiksa korban mereka.


"Gue jadi penasaran, gimana ya Arsen ngebucin in cewek." Pancing Hanska mulai permainan.


Hanska terkekeh melihat ketidak puasan sahabatnya itu, padahal mangsanya sendiri sudah tiga setelah Hanska melancarkan eksekusinya.


Zibril dan Tama tertawa tak sanggup membayangkan hal itu. Mereka saling sikut.


"Idih jijik banget, gamungkin gue bucin." Elaknya dengan ekspresi dibuat seolah dia akan memakan sampah menjijikan.


"Aelah Ar, dulu juga loh pernah ngebucin, siapa yang tak tahu seorang Arsenio Barata Wijaya adalah seorang duren paling hot di negeri kita ini." Ledek Zibrilio di sambut gelak tawa oleh Tama dan Hanska.


"Tam, gimana kalau kita taruhan." Usul Zibril kemudian. Diangguki antusias oleh Tama.


"Oke, gue bakal taruhin lima persen saham perusahaan kalau sampe Arsen jadi bucin parah sampe mampus." Tawar Tama serius.

__ADS_1


Zibril menyengir lebar. "Kalau gitu gue ngorbanin lahan awan untuk perusahaan lo, kalau sampe Arsen berhenti nyiksa mangsanya demi tuh cewek." Tawarnya tak kalah menggiurkan.


lahan Awan, adalah daerah emas terbesar yang ramai di perebutkan oleh banyak perusahaan, termasuk perusahaan Tama dan Zibril.


"Deal." Mereka berdua berjabat tangan.


Hanska tak mau kalah. "Gue taruhin Kelana Sampai Hati, kalau lo berhasil nikahin si gadis desa itu." Tawarnya menunjuk Arsen.


Kelana Sampai Hati, adalah tongkrongan yang mereka rintis sedari SMA, tongkrongan yang kini lebarnya saja sudah seluas alun-alun kota.


Awal mulanya Hanska membangun Kelana dengan usahanya sendiri, saat itu hanya sebesar box container berukuran 3x3 meter di pinggir jalan, akibat keisengan sekaligus kecintaannya pada kopi lah yang membuatnya termotivasi.


Setelah berjalan satu bulan, Hanska mengajak ketiga sahabatnya, dan posisi Hanska adalah pemegang saham terbesar. Itulah mengapa Kelana jatuh ke tangan pria itu.


Semua kenangan, manis pahit ada di Kelana, Hanska tak mau melepasnya ketika ada investor lain menawarkan kerjasama. Baginya cukup mereka ber empat saja, karena Kelana tak hanya sebuah tempat, tapi sebuah kisah.


"Sialan lo pada, gue yang di jadiin objek taruhan." Ucap Arsen mendengus kesal.


"Lo yakin ngorbanin Kelana Hans?" Tanya Zibril memastikan.


"Biar greget kan, gue juga gamau kalah."


"Btw siapa si gadis desa yang lo maksud?" Tanya Tama.


"Jangan bilang yang waktu itu nolongin anak lo pas Alde jatuh di kolam ikan?" Pekik Zibril yang mengundang kernyitan dalam di alis Tama.


"Udah ntar gue jelasin." Bisik Zibril menyikut Tama.


Arsen semakin mendengus. "Ngaco lo pada, gue juga ikut taruhan lah, kalau gue beneran jadi cowok bucin yang berhenti nyiksa mangsa dan berhasil nikahin tuh gadis desa, gue bakal jabat tangan si tengik Rama dan cium tangannya dia di depan lo pada." Putusnya membuat ketiga sahabatnya bersorak menantikan hal tersebut.


Demi apapun, taruhan Arsen lebih di minati mereka dibanding saham perusahaan ataupun lahan yang jadi perebutan. Masalahnya, hal itu menyangkut ego, dan Arsen adalah pria yang sangat menjunjung tinggi harga dirinya.


"Oke deal." Putus mereka semua.


Drrttt. Drrtt.


Tampak nama Arga, tertera di layar ponsel miliknya.


"....."


"Tunggu aku segera kembali, siapkan saja keperluanku." Jawab Hanska di balik telpon nya dengan Arga.


"Gue cabut dulu, masih ada urusan." Pamit Hanska menelusupkan tangan kedalam saku celananya.


"Mulai bucin hee." Ledek Arsen diselingi gelak tawa oleh yang lain.


"Ye, si*lan lo." Balasnya berlalu pergi.


"Tuan." Sapa Arga membungkuk hormat saat melihat Hanska turun dari jaguar kesayangannya.


Pria itu membersihkan tubuh di toilet khusus, sebelum kembali memasuki ruangan kebesarannya. Setelannya pun kini berganti dengan yang lebih santai, terlihat fresh dengan rambut yang masih basah.

__ADS_1


Pria itu keluar sambil mengenakan jubah handuk yang terbalut di tubuh.


"Bagaimana keadaannya?" Tanya Hanska sambil berjalan, diikuti Arga di samping.


"Tadi nona sempat mengigau dan meracau tak jelas tuan, lalu nona sudah sadar dan mengunci diri di dalam kamar." Jelas Arga, di jawab anggukkan paham oleh Hanska.


"Baik, istirahatlah Arga." Ucap Hanska. terlihat Arga pamit undur diri.


Hanska berhenti di depan pintu berpahat phoenix itu. tangannya terangkat untuk mengetuk.


Tok Tok Tok.


"Dee, ini mas, buka pintunya." Panggil pria itu.


"..." Tak ada sahutan dari dalam.


Hanska beralih membuka laci di samping meja kerjanya.


Ceklek.


Pintu terbuka dengan kunci cadangan.


Terlihat Deena sedang tidur meringkuk di sudut ruangan dengan belitan selimut tebal miliknya.


Hanska berjalan mendekat, berjongkok di hadapannya. Tampak wajah sembab Deena yang Hanska yakini, gadis kecil itu habis menangis.


"Kenapa menangis?" Monolog pria itu sambil mengangkat tubuh Deena dan membaringkannya diatas kasur.


Tampak sesenggukan Dia dalam tidurnya.


"Dee, bangun sayang." Panggil Hanska menepuk pipi Deena lembut.


Gadis itu mengernyit dalam.


Mata lentiknya perlahan terbuka.


"Enghh.."


"Mas..?" Panggilnya memastikan.


"Iya sayang, ini mas."


"Mas.. hikss hiks, Dee.. kotor, Dee di sentuh, jijik. Dee jijik banget kotor.." Racaunya sambil menggaruk kasar tubuhnya dengan kuku, menimbulkan garis merah memanjang, bahkan ada yang tampak berdarah.


"Shhtt, udah tenang ya ini mas, di mana mereka menyentuhmu?" Tanya Hanska dengan cepat memeluk tubuh bergetar Deena.


To Be Continue >>>


Duh, tuhkan gantung lagi >,<


Hai, readers ku tersayang, jangan lupa koment kalian, setiap apapun yang kalian torehkan akan kujadikan motivasi 😘

__ADS_1


__ADS_2