Presdir Bucin

Presdir Bucin
Pertemuan Aneh dan Pengumuman


__ADS_3

Lanjuutttt Kuyy" 💐


Happy Reading Hati hati typo sayaang"kyuuu 🧡🧡


__________________


"Selanjutnya barang utama, sekaligus penutupan dalam acara amal kali ini, kita sambut.." Jeda MC menambah rasa penasaran audiens, sampai tirai biru penutup kotak pun dibuka.


"Ini dia, gelang naga satu-satunya di dunia." Ucap MC saat tirai terbuka sempurna menampilkan gelang berwarna emas dan berpahat naga menyala.


Wanita yang tadi masih menikmati teh dihadapannya pun, langsung membulatkan mata dengan pupil membesar.


Gelang miliknya yang selama bertahun-tahun dia cari, hilangnya pun dia lupa bagaimana, kini muncul di acara lelangan amal.


"Ayah, aku menemukannya." Gumam wanita itu berkaca, Dia ingat betul gelang miliknya hanya ada satu, ayahnya mendesain sendiri gelang itu dengan khas mata naga yang hidup.


Tak ada satupun yang tahu keberadaan gelangnya, tak pula tercatat dalam kekayaan milik keluarga. Hanya dirinya dan ayahnya saja yang tahu.


"Dapatkan apapun bayarannya, gelang itu milikku." Ucap tegas wanita berpakaian cheongsam itu pada wanita disampingnya.


"Baik nyonya." Jawab sang asisten.


"Kita buka dengan harga lima ratus juta." Ucap si MC.


"Tujuh ratus juta." Salah satu pria menawar.


"Sembilan ratus juta."


"Satu miliar." Wanita dengan dress nyentriknya tak mau kalah.


"Tiga miliar." Suara si asisten mengheningkan seisi ruangan.


Mereka semua saling pandang, sedangkan sosok pria yang berada di lantai dua balkon hanya tersenyum menyungging.


"Tiga miliar setengah." Wanita dengan dandanan nyentrik itu masih kekeuh mengangkat poin nomornya, seakan menantang wanita berdress cheongsam.


"Seratus miliar!" Suara penawaran berhenti sampai di seratus miliar oleh asisten wanita itu.


Keadaan benar-benar hening, mereka semua mengkode pandang ingin tahu siapa gerangan yang menawar harga mahal untuk gelang tersebut.


"Ini.." MC meragu.


Seorang wanita naik keatas panggung dan berbisik kearah pembawa acara itu.


"Pesan dari tuan pemilik, beliau ingin bertemu dengan nyonya penawar saat ini." Ucapnya dengan hormat.


Dengan ini acara lelang pun berakhir dengan barang terakhir yang masih tertahan.


"Cepat Freya! aku ingin bertemu dengan orang yang mengambil barang milikku!" Ucap wanita itu berjalan cepat di koridor mewah sebuah gedung hotel terkemuka kota Galaksi itu.


Sang asisten yang disapa Freya pun mengikuti langkah nyonyanya dengan lebar.


"Hati-hati nyonya." Tutur Freya melihat wanita dihadapannya hampir tersandung kakinya sendiri.


"Hanya anda yang boleh masuk, silahkan nyonya, Mr. Abraham sedang menunggu." Ucap ramah pelayan yang menuntun langkahnya mempersilahkan masuk, tapi mencegah saat asisten wanita itu ingin lewat.


"Tunggulah disini, aku tak apa. Milikku akan kuambil kembali." Ucap wanita itu tegas.


"Baik nyonya." Jawab Freya pasrah.


Wanita itu masuk dengan tergesa, siap meledak dengan siapapun orang yang menyambutnya.


"Silahkan nyonya." Ucap si pelayan mempersilahkan wanita itu masuk, lalu menutup pintu guna memberi privasi.


"Selamat datang istriku." Sambut suara pria, berbalik badan dengan sebelah tangan Dia selipkan kedalam saku celana bahannya.


"Istrimu!?" Pekik wanita itu langsung mengernyit, sumpah serapah dan makian yang siap dilontarkannya pun menguap begitu saja.


Pria yang dipanggil Abraham tadi langsung merentangkan tangannya. "Sini peluk suamimu." Ucap pria itu.


"Kau gila! mana gelangku, kembalikan!" Bentak wanita itu.

__ADS_1


Si pria hanya tersenyum menyungging, wanita di hadapannya ini masih sama seperti belasan tahun lalu, jutek tapi imut.


"Maksudmu ini?" Tanya pria itu memamerkan gelang pahat naga miliknya.


Wanita itu melangkah hendak merebut, namun si pria mengangkat tangannya tinggi, membuat wanita itu menggeram.


"Ada harga yang harus dibayar Thata." Ucap pria itu, sebelah tangannya merengkuh pinggang wanita yang dipanggilnya Thata tadi.


Wanita itu langsung mengerutkan alisnya terdiam dengan suara-suara yang berseliweran dikepalanya.


"To..tolong! Selamatkan aku." Teriak suara perempuan berlari meminta tolong.


"Ikut aku! siapa namamu?"


"Tha..Thata!" Samar-samar tampak ruangan mirip kamar hotel.


"Panas~"


"Kau Thata."


"Thata!"


"Aku akan menolongmu."


"Sshh.. sakit, sakit." Ringis wanita yang disebut Thata itu sambil memegang kepalanya yang terasa mau meledak.


"Kenapa denganmu?" Tanya pria yang merengkuhnya dalam pelukan itu menunduk, untuk mengecek.


"Minggir! Si..siapa kau?!" Bentaknya menahan denyutan dikepala.


"Aku Axcel, kau lupa padaku Thata?" Jawab pria itu mendekat.


"Panggil aku Axcel, namaku Ab... Axcel Li.."


"Aku tak, mengenal..mu! pergi kau!"


"Ahhkk sa..kit, sakit hiks." Ringisnya semakin terdengar.


"Tenangkan dirimu Thata." Ucapnya menyodorkan segelas air.


"Ahhkk..!" Pekiknya nyut-nyutan saat mendengar pria itu menyebutnya dengan Thata lagi. Gambaran samar berdatangan dikepala kecilnya.


"SAH!"


"Thata, aku hanya perlu status istri darimu."


"Apa yang kau lakukan padaku?! aku sedang diberi obat."


"Diam! sekarang kita sudah sah."


"Tak mau! a..aku tak mengenalmu! kita be..belum sah!"


"Panggil aku Axcel. Abr.. Axcel Lin..."


"Hentikan! hentikan!" Teriak wanita itu memegangi kepalanya.


"Thata, Thata!" Panggil Abraham.


"Diam! Shhh.. namaku, Thalia Han Tangsun! bukan Thata." Ucap wanita itu.


"Kau istriku Thata, lihat, ini dirimu." Balas Abraham memperlihatkan sebuah foto kehadapan Thalia.


Dalam lembar foto tersebut, tampak beberapa orang dan pria wanita diatas ranjang tampak sedang melaksanakan pernikahan.


Kepalanya langsung berdenyut melihat foto itu.


"Suami? Ka..kau gila! kita tidak menikah! Tak saling kenal."


"Baru saja kau resmi menjadi istriku Thata."


"Lepas!"

__ADS_1


"Hey!"


"Thata kemanapun kau pergi, kau akan selalu menjadi istriku, Abraham Axcel Lincoln!"


Banyak suara berdatangan dikepalanya, silih berganti dengan gambaran samar bagai karya absurd.


Thalia memegang kepalanya yang kian terasa menusuk, sampai kegelapan meliputi.


"Thata!" Pekik Abraham langsung menggendong tubuh ramping Thalia ala bridal, membawanya keatas tempat tidur.


"Panggil dokter, cepat!" Teriak Abraham saat membuka pintu dan menemukan asisten Thalia masih setia menunggu.




"Perhatian semuanya. Yang terhormat para petinggi universitas. Para dekan, seluruh staf dan teman-temanku tercinta." Jeda Deena mengambil napas.



"Saya selaku mahasiswi universitas Angkasa, saat ini berdiri diatas podium untuk mengklarifikasi perihal berita pencemaran nama baik saya sendiri yang membuat saya terancam dikeluarkan dari universitas." Jelasnya.



"Berita tersebut berisi tentang, saya gonta-ganti pria dan menyebabkan hamil diluar nikah, mencemarkan nama baik universitas dan menjadi gadis bayaran." Jedanya membuat keadaan menjadi kasak-kusuk berbisik.



Sebagian besar berada di pihak Deena, sebagian kecil lagi menyindir dan menatapnya sinis.



"Kalau begitu, handle dulu perusahaan dari kota Bintang sampai aku kembali, Arga." Ucap Hanska.



Hanska yang masih berada diluar auditorium pun mendengar samar bisik-bisik suara yang menuding istrinya dengan keji.



"*Baik tuan, lima belas menit lagi mereka sampai*."



Jawab Arga dari sebrang sana.



"Bahwa, berita tersebut adalah fitnah, tidak benar adanya. Tak hanya itu, saya juga ingin menyampaikan hal yang bersangkutan dengan pemilik yayasan, bapak Hanska Regantara Alzavier.." Ucapnya.



Membuat semua mahasiswa, kecuali yang satu ruangan dengannya tadi dan beberapa petinggi saling bertanya heran.



Termasuk Bakara, Laras dan Joandan.



**To Be Continue** \>\>\>



**Mon maap kalau susah di cerna, but ini pertemuan dua insan yang telah lama terpisah.. eaakkk😭**



**Baiklah cintakuu semua, follow cerita ini, like and komen di bawah! kuy kuy**.


__ADS_1


**NEXT! NEXT! NEXT**!


__ADS_2