Presdir Bucin

Presdir Bucin
Deena dan Kerajaan


__ADS_3

Laras masuk kelas dengan seringaian di wajahnya melihat Deena sudah duduk di samping Aleta.


"Kyaaa kakak!" Teriak Laras memeluk Deena, mengundang seisi kelas menatap mereka.


Deena terlonjak kaget mendapat serangan dadakan dari Laras.


Kenapa si bocah ini?


Batinnya dalam hati, Aleta langsung melepas pelukan Laras dari sahabatnya.


"Aku kangen banget sama kakak, kakak ga pulang udah berapa bulan." Ucapnya membuat seisi kelas saling pandang.


"Semenjak kakak di bawa pergi sama pria tua, kakak ga pulang-pulang." Tambahnya dengan nada sedih.


Semenjak kedatangan Hanska dan membuat kedua orang tuanya syok terutama sang ayah yang sampai masuk rumah sakit, Laras tak pernah lagi melihat Deena menampakkan dirinya.


Ditambah lagi kakak tirinya itu di jemput oleh pria tua karena melihat Arga. Laras tak dapat melihat wajah Arga dan Hanska dengan jelas sebab ruangan bawah tanah hanya di terangi dengan lampu kecil.


Dari situlah dia yakin, Deena pergi dengan pria tua berduit.


"Jangan asal nuduh lo!" Bentak Aleta tak suka. Sementara Deena malah tersenyum geli mengingat Hanska di sebut pria tua.


Pastilah pria tua yang ada di pikiran Laras adalah pria berusia 65 tahunan.


Deena dengan cepat menahan tubuh Aleta saat di rasa sahabatnya itu mau menjambak Laras.


"Masih di kelas Al, ntar banyak yang lihat kalau kamu nindas dia." Bisik Deena menenangkan sahabatnya itu.


"Tapi Dee.." Tampak Deena menggeleng.


"Kurasa adik salah paham, kakak mendapat rekomendasi magang di perusahaan Alz Group, mereka menyediakan tempat tinggal, transportasi dan biaya hidup sebagai fasilitas. Gimana kakak bisa nolak." Jelas Deena percaya diri. Keadaan yang tadi menudingnya tidak benar, sekarang berbalik kagum.


"Iya ya, kita kan juga hadir saat di aula penyerahan beasiswa." Bisik-bisik terdengar, keadaan jadi berpihak padanya.


Aleta tersenyum puas. "Heh bocah kecil, kayanya elo yang kebanyakan main sampe ga tahu kakak lo siswi berprestasi ya." Tuding Aleta melipat tangan.


"Udah ayo Al, bentar lagi jam pagi mulai." Ajak Deena menarik lengan sahabatnya menjauh dari Laras dkk.


Cih, lihat aja kau jalang busuk.


Batin Laras kesal.


Tangannya mengetikkan sesuatu di benda pipih persegi miliknya. Setelah menekan send, senyum licik terbit di bibirnya sambil menatap Deena meremehkan.




Hanska sedang duduk di kursi kebesaran miliknya sambil fokus memeriksa beberapa dokumen, sampai sebuah ketukan mengalihkan pikirannya.



"Masuk." Titah Hanska.



Pintu besar terbuka, menampilkan Arga yang sedang membungkuk hormat.



"Ada seseorang yang ingin bertemu." Ucap Arga mempersilahkan wanita di sampingnya masuk.



"Geiá sas kýrie." Sapa wanita dengan suara pria itu hormat di depan Hanska.



Hanska langsung berdiri. "Masuk." Titahnya duduk di sofa.



"Arga tutup pintu, jangan biarkan seorang pun masuk."

__ADS_1



Arga menunduk patuh. "Baik tuan." Jawabnya keluar ruangan.



"Bagaimana penyelidikanmu Brey?" Tanya pria itu menghidupkan treasurer luxury miliknya dan menghisap rokok itu menghasilkan kepulan asap saat Hanska menghembuskannya.



Wanita di depan Hanska tadi, kini tak tampak seperi wanita lagi saat Dia melepas seluruh pakaiannya dan mengusap riasan di wajah, terganti dengan set pria dengan wajah eksotis yang tampan.



Pria yang kerap di sapa Brey oleh Hanska itu mengeluarkan dokumen penting dari dalam tasnya.



"Anda bisa melihatnya tuan, akan saya jelaskan satu persatu." Ucap sopan penjaga bayangan yang di latih khusus oleh Hanska untuk memberikannya informasi apapun yang Hanska inginkan, walau itu mustahil sekalipun.



Hanska mencocokkan data yang terakhir kali diserahkan oleh Tama mengenai dengan sata yang di berikan oleh Brey



Ada beberapa foto hitam putih orang dengan baju dinasti kuno tampak di foto diikuti catatannya.



"Mengenai segel di punggung istri anda. Saya menemukan ini tuan." Jawab Brey memberikan selembar foto.



Hanska mengamati. "Ini adalah lambang milik Dinasti Tangsun tuan, kerajaan yang dulunya berdiri sangat kokoh dengan pasukan jutaan militer hingga saat ini di negara Mingzhun." Jelas Brey, Hanska mengangguk-angguk walau sejenak terkesiap.



Dalam foto itu terdapat lambang yang sama seperti giok naga miliknya dan segel di punggung Deena.




Hanska bahkan tidak tahu, jika selama ini giok naga kesayangannya berasal dari keluarga kerajaan dan hanya sampai di situ, jadi Dia tak bertanya lebih pada sang kakek atau pun mencari tahu asal usul giok tersebut.



Hanska pikir giok itu sama seperti milik keluarga lain yang diturunkan dari generasi ke generasi.



"Mengenai segel milik nyonya, anda harus melihat ini." Ucap Brey memberikan beberapa lembar foto bayi dengan punggung bertato yang mirip dengan segel milik Deena.



Kening Hanska mengernyit.



"Ini istriku?" Tanyanya.



Brey menggeleng. "Tidak tuan, ini milik para pangeran dan putri keturunan kerajaan Tangsun." Jelas Brey.



Hanska menoleh cepat. "Jadi maksudmu.." Ucapan Hanska menggantung.



Brey mengangguk pasti. "Ya tuan, istri anda keturunan dinasti Tangsun tuan, berasal dari keluarga kerajaan yang saat ini masih berdiri kokoh di negara yang bernama Mingzhun." Jelas Brey.

__ADS_1



Hanska terkejut. Ternyata latar belakang Deena bukan biasa lagi, namun luar biasa. Hanska mengira segel Deena mungkin perihal sederhana, namun sekarang jika di pikir-pikir tak sesederhana itu.



Pantas Arga dan Tama tak bisa menerobos dengan mudah hanya untuk mendapatkan informasi tentang Deena dan Thalia.



Hanska bahkan harus menyuruh penjaga bayangannya yang turun tangan.



"Hmm.." Hanska berdehem mengubah posisi duduknya. Di hidupkan nya lagi satu batang treasurer luxury-nya tanda pikiran Hanska sekarang bagaikan ada batu besar yang terus menimpanya.



"Mengenai segel ini, tak semua keturunan raja bisa mendapatkannya tuan, hanya ada satu anak setiap seratus tahun sekali." Tambah Brey.



"Dan seseorang yang memiliki segel ini, keturunannya akan terus berhubungan dengan pemilik giok naga tersebut tuan, sebab keluarga kerajaan akan datang dan menjodohkan keturunan mereka dengan si pemegang giok ataupun keturunannya."



Hanska manut-manut paham.



"Lalu.." Penjelasan Brey terpotong dengan ucapan Hanska.



"Minumlah dulu." Titah Hanska mendengar penjelasan Brey yang panjang saja membuatnya seret, apalagi yang menjelaskan.



Brey tampak menyengir kuda sambil terkekeh menggaruk kepalanya yang tak gatal.



"Hehehe.. tuan tau aja saya lagi seret, emang tuan yang paling peka deh." Puji Brey menjilat tuannya tanpa maksud tertentu.



Hanska memutar bola mata malas.



"Lanjutkan." Ucapnya kembali serius.



"Hmmm.." Brey berdehem sambil mengusap dagu memilah file mana yang akan di jelaskan selanjutnya.



**To Be Continue** \>\>\>



**Hyyy bundooo" sistahhh and agan semuaa.. masih adakah yg pantau cerita ini? 😭 iyeee author nya nyebelin, udah lama up malah ga crazy up lagi hikss** :'



**Mon maap yee**



**Btw komen di bawah, like and follow**.


__ADS_1


**NEXT**!!!


__ADS_2