
Cusss lanjut wae lah
Eitss sebelum itu. Seperti biasa, protokol membaca, buka imajinasi, hati-hati typo and Happy Reading kalian ๐งก๐๐งก
__________________
"Jujur, kenapa Deena minta waktu sama mama Rihlah di kapal pesiar waktu itu, karna Deena mau balas dendam untuk kematian mama Deena." Jelasnya. Sebenarnya Hanska sudah tahu semua itu, kecuali tentang Deena yang hidup kembali dan bagaimana kehidupan Deena sebelumnya.
"Dan maaf Hanska, sekali lagi maafkan Deena, bukan maksud untuk menolak pemberianmu termasuk anak. Deena masih takut anak kita malah kenapa-kenapa kalau mereka masih berkeliaran bebas." Jelas Deena tampak sedih.
"Mama..mama saja bisa mereka bunuh, Deena ga mau kehilangan lagi hikss. Kalau sampai Dee lengah, bisa aja mereka.." Ucapan sesenggukan Deena tertahan dengan jari Hanska di bibirnya.
"Sssttt, kamu harusnya cerita sama aku, ga akan kubiarkan siapapun menyakitmu dan anak kita." Jelas Hanska menenangkan Deena.
Memeluk istrinya sambil mengusap surai lembut Deena.
"Maaf tuan, pesanan nyonya." Ucap Arga.
Sebelum Hanska menerima paper bag berisi es krim dan pastry hangat manis untuk istrinya.
Deena sudah lebih dulu menyerobot bungkusan itu dengan binar dan mengintip isinya seolah penuh bunga-bunga mengelilingi.
Setelah itu Arga masuk dan mobil kembali membelah jalan.
"Yuhu makasih, selain bibir Hanska, es krim mood booster kedua!" Pekik Deena senang langsung mengambil cup eskrim dan menyantapnya dengan riang.
Seolah cerita sedihnya tadi dan rencana balas dendam yang begitu menggebu, tak pernah sedikitpun terucap olehnya.
"Nakal." Ledek Hanska menyentil pelan jidat Deena.
"Ga papa emwaah." Balasnya mengisyaratkan kecupan jauh.
Chup.
Hanska menelisik wajah istrinya dan tak tahan untuk melabuhkan kecupan di sudut bibir Deena.
"Pelan-pelan, tak ada yang berebut denganmu." Ucapnya memperingati sambil menyentil hidung Deena.
Istrinya mengangguk patuh. "Oke bossqu." Jawab Deena.
"Mulai sekarang jujurlah tentang apapun itu." Ucap Hanska memperingatkan istrinya.
"Bicara, dengerin dan cari solusi?" Tanya Deena polos tak sadar bibirnya bercelemot eskrim.
"Ide bagus." Jawab Hanska gemas mengambil tissu dan mengelap sudut bibir istrinya.
Deena mengangguk-angguk sebagai jawaban.
Kruyuuk~
"Eh, laper hohoho." Monolog Deena terkekeh mengusap perutnya.
"Arga tolong antarkan kami ke Ha' Resto." Titah Hanska.
Deena menggeleng, sebelum Arga putar haluan. "Ga mau, maunya makan sate padang yang dipinggir jalan." Ucapnya.
"Baiklah, kita cari sate padang." Jawab pria itu mengusap pelipis Deena.
__ADS_1
Setelah berkeliling sekitar setengah jam mencari pedagang sate, mereka menemukan deretan pedagang kaki lima yang tampak padat dan sesak dengan ramainya pembeli.
"Itu, itu! ayo kesana!" Pekik Deena senang.
Hanska gantian menggeleng. "Ga boleh, kalau kau sesak napas dan pusing karna ramainya gimana?" Tolak pria itu.
Deena menyipit sambil berkacak pinggang, posisi duduknya masih sama, dipangku oleh Hanska dan menghadap pria itu.
"Hey tuan muda, Dee ini bertahun-tahun hidup kaya gitu, makan di kaki lima, kerja di cafe yang riweh, sering naik bus padet pulang sekolah." Jelas Deena seolah mengomel.
Hanska mengacak rambut Deena. "Arga, cari pedagang sate dan beli gerobak sama orang-orangnya juga." Ucapnya.
"No Arga! Hans ayo turun, kita makan di sana aja bisa milih menu yang lain." Jawab Deena manja menggambar pola-pola abstrak didada suaminya.
Arga masih diam saja menunggu putusan final dari tuan dan nyonya-nya, Dia hanya tersenyum jenaka melihat kedua orang itu tampak sudah berbaikan.
Menghembuskan napas pasrah. "Yaudah iya." Jawabnya menyentil ujung hidung Deena.
Istrinya menyengir. "Asyik, udah lama ga makan pinggir jalan." Ucap Deena dengan girang.
"Lagian Hans, lebih bagus kamu bukain lapak buat mereka, tapi bayar tempat ke kamu jangan mahal banget, kesian merekanya." Celoteh Deena tanpa sengaja yang terdengar seperti usulan.
Hanska pun manggut-manggut.
"Arga." Ucap Hanska.
Seakan paham maksud dari tuannya, Arga menjawab. "Baik tuan, akan saya urus."
Hidup lama dengan Hanska membuat Arga memiliki kepekaan terhadap pria itu menjadi sensitif.
Pembeli pun tak kalah ikut meramaikan lapak kaki lima tersebut.
"Uda!" Panggil Deena mengayunkan tangan memanggil kang sate.
Mereka sudah dapat tempat duduk, letaknya ditengah-tengah antara meja lain.
"Eh adiak! lah lamo ndak basuo, baa kabanyo?" Ucap kang sate khas logat minangnya menghampiri meja mereka.
Istrinya terkikik. "Ga ngertilah uda, pake bahasa sehari-hari disini dong." Balas Deena.
Tampak kang sate itu tertawa. "Lama gak jumpa, kau apa kabar?" Tanyanya.
"Alhamdulillah baik. Uda sendiri gimana?" Deena balik bertanya sebagai kesopanan.
"Yah, seperti yang kau lihat dik." Jawab kang sate ramah.
Mereka berdua seolah lupa jika ada pria di samping Deena duduk.
Hanska menghunuskan tatapan seolah berkata,
Sudah tak perlu berbasa basi, catat saja pesanan kami.
Begitulah.
"Pstt, pstt! lihat ada cogan."
"Mana? eh gile kharismatik banget."
__ADS_1
"Kyaa dewasa banget! cocok jadi sugar daddy."
"Eh lo ga liat di sampingnya ada cewek?" Tegur yang satu.
"Ah mungkin aja tuh anaknya."
"Gue mau kesana ah, siapa tau tuh cowok butuh binik buat jagain anaknya." Ucap yang satu dengan pede.
Terdengar bisikan-bisikan yang tak seperti bisikan dari para wanita yang berdekatan duduknya dengan Hanska dan Deena.
Tentu yang menjadi primadona dimanapun dan kapanpun adalah suaminya, sebab bagi Deena pun Hanska terlihat menyilaukan sebenarnya.
Deena berdehem tanda kesal mendengar bisikan mereka.
Diraihnya lengan Hanska yang terlipat didepan dada, lalu Deena bergelanyut manja.
"Kenalkan uda, ini suamiku! aku sudah menikah." Ucap Deena menepuk-nepuk bahu Hanska pelan.
"Namanya Hanska Regantara." Tambahnya memperkenalkan Hanska dengan penegasan bahwa pria itu adalah suaminya.
Tentu saja dengan maksud agar wanita-wanita disekitar mereka tau kalau pria yang mereka bicarakan sudah memiliki istri.
"Yah gagal sebelum mulai." Terdengar helaan napas kecewa.
"Hai uda, ambo tukang sate langganan istri kau." Sapa si tukang sate ramah.
Hanska menaikkan sebelah alisnya, lalu berdehem dengan senyum tersungging.
"Suami Deena." Tegasnya.
"Tolong catatkan pesanan kami, istriku mengidam sate dari pagi." Titah Hanska ngarang, sedari tadi menekankan kata suami dan istri.
"Baik, silahkan di tunggu." Ucap kang sate lalu melenggang pergi.
Sebenarnya agak bergidik melihat gelagat Hanska, dari pada bermasalah lebih baik kabur sajalah. Pikirnya.
Setelah pesanan mereka datang, Deena makan dengan berceloteh riang menceritakan masa lalunya yang terasa konyol jika Diingat kembali.
Hanska yang mendengarkan pun ikut terkekeh, melihat begitu antusias istrinya ini bercerita. Bahkan nasi sotonya saja hanya termakan setengah.
Deena menceritakan dulu pernah dirinya kejar-kejaran dengan bus karena terlambat bangun yang berakhir di hukum bersihkan wc. Juga pernah sok-sokan nolongin nenek tua menyebrang jalan yang berakhir kena omelan.
"Cah kurang ajar koe yo! susah payah nyebrang malah disenangi balik, wong gendeng." Deena memperagakan bagaimana nenek itu mengayunkan tongkatnya kearah Deena.
Sambil terkikik dengan sedikit terbatuk, Hanska menyodorkan segelas air hangat.
"Minum." Titah Hanska luntur senyumnya.
Deena menyengir kuda. "Makasih sayang!" Ucapnya.
"Ehem! Terus Deena langsung kabur deh, dari pada kena jitak." Tambahnya mengusap air di sudut mata.
To Be Continue >>>
Yuwuuu, follow cerita ini, like and komen di bawah naisss.
NEXT!!
__ADS_1