Presdir Bucin

Presdir Bucin
Pesta Untuk Deena 2


__ADS_3

Maaf yaaa semuanyaaa.. kalau aing ada ga balassi komen kalian, tapi aing pantengin terus kooo komennya sayang" akuuu semua🧡🧡🧡 terimakasih support dan masukan kalian. mumumumuuwaaa😍😍🥰🧡


🗣 : Thorr kapan sii lu tiap hari update? kapan sii crazy up? lama banget deh up nya, jadi kzlll nih 😠


Thor : maapinn aing hiikss, gimana doong, gamau terlalu cepat menamatkan kisah mereka🥺


🗣 : . . . . 🐦 yeuu alesann.


tiittt..


Seperti biasaa sayang- sayang aingg, tihatii typo and Happy Reading semwaaa🧡🧡


______________________


"Hey ada apa ini?!" Terdengar rontaan dari wanita paruh baya namun masih tampak muda.


"Lepaskan kami!" Bentak suara pria di sampingnya.


Ada enam bodyguard menggiring langkah mereka, dua diantaranya berjaga di belakang, satu memegangi si istri dan dua lagi mengurus sang suami.


"Tolong! Tolooong! hhmmpp." Mulut pria itu di bekap saat Dia berteriak meminta tolong.


"Siapa kalian?! kyaaa! siapapun tolong kami!"


"Hmppp.. Hmppp"


Kedua pasangan suami istri itu terus saja memberontak, agar terlepas dari cengkeraman para pria bertubuh kekar, bodyguard bayaran milik Hanska.


Mulut mereka di lakban agar tak menimbulkan keributan berarti dan menarik perhatian.


Keduanya di seret dengan paksa setelah turun dari mobil. Mereka di bawa kedalam sebuah ruangan yang tak jauh dari tempat pernikahan Hanska dan Deena berlangsung.


"Diam!" Bentak Arsen muncul dari arah pintu. Keduanya tampak terjengit.


Walau begitu, masih terus meronta.


Sudah muak dia melihat kedua orang ini, terutama si istri pria itu. Berulang kali dirinya mengancam agar mereka tak terus menggangu kehidupan istri Hanska.


Bukannya berhenti, malah semakin jadi. Bahkan anak perempuan mereka pun tak Henti-hentinya menggangu Deena.


Srakkk.


Arsen membuka cepat lakban milik pria itu.


"Hah..! Kenapa kau menculik kami?! Kami tak pernah menyinggungmu tuan." Ucap Bakara.


Siapa yang tak kenal Arsen, pria psikopat berdarah dingin itu. Tentu jika tak ingin mati mengenaskan, lebih baik jangan menyinggung pria itu.


Bakara merasa tak pernah menyinggung dirinya, kenapa Arsen sampai harus turun tangan.


"Bukan aku, tapi kau sudah menyinggung seseorang yang tak seharusnya kau singgung." Tekan Arsen.


Wajah kedua orang itu sudah pucat pasi, saat Arsen mengeluarkan belati tajam miliknya.


Jika Hanska tak mewanti-wanti Dia, sudah dari lama Arsen membereskan keluarga kecil itu.


"Siapa yang kami singgung? aku tak pernah sedikitpun menyinggung seseorang." Elak dirinya.


"Aku sudah sering peringatkan ke kalian, baik-baik diam disini." Tekan Arsen geram, Dia memasang lagi lakban di mulut bakara.


Berjalan meninggalkan ruangan dengan gebrakan pintu.


"Dah selesai lo ngebucin?" Tanya Arsen meledek Hanska.


"Sial." Umpat Hanska.


"Gimana si tua Bakara dan istrinya itu?" Tanyanya kemudian, sengaja menekankan kedua orang yang tadi diseret oleh bodyguardnya.


"Udah gue urus, sisanya ke bodyguard aja, acara lo udah mau mulai, gih yuk." Jawab Arsen mengajak sahabatnya itu untuk meninggalkan tempat dimana Bakara dan istrinya disekap.


"Tama gimana?" Tanya Hanska, sedari tadi dirinya ber-vidio call ria dengan Deena yang entah kenapa, mendadak memanggil dirinya, saat Dia ingin menginterogasi Bakara dan istrinya itu.


"Lagi jemput dua orang tamu kehormatan lo." Jawab Arsen menyugar rambutnya.


Matanya memberi kode kearah taman labirin, kalau semua berjalan sesuai arahan Hanska.

__ADS_1


Hanska mengangguk, mereka berjalan beriringan menuju tempat acara.


"Bagus. ayo, gue udah ga sabar malam pertama." Ucapnya yang sukses membuat Arsen menoleh cepat.


Langsung menggeplak pundak Hanska ala pria.


"Yeee geblek lo, so soan malam pertama, bayi dah tiga juga, sama sape lo malam pertama." Sedikit bergidik jijik mendengar perkataan Hanska. Arsen menjawab dengan sewot.


"Makanya lo cari binik, setiap malam adalah malam pertama." Ledek Hanska telak mengenai jantung Arsen.


Nyutt.


Seakan ada benda tajam tak kasat mata menikam hatinya.


"Sial*n lo Hans." Sewot Arsen.


"Gue seneng, lo akhirnya ga ditinggal nikah lagi." Ledeknya gantian. Sekarang Hanska yang tampak kesal.


"By one, gue tunggu di lapangan besok." Ucap mereka berdua berbarengan.


Lalu keduanya saling menatap tajam dan tertawa layaknya orang bodoh.




"Yaampun Deena! Deena! Cantik banget!" Tamara berteriak dari arah pintu masuk ruangan rias, Diikuti dengan Beliza dibelakangnya.



"Cantik banget dek, sumpah demi alek pak Hanska pasti cengo parah." Ucap Beliza memeluk Deena, Setelah Tamara melerai pelukannya.



Deena menyengir. "Kyaaa, makasih kak udah mau dateng!" Jawab Deena girang.



"Dee ayo, acaranya dah mau di mulai." Aleta muncul langsung menyadarkan kelima orang dalam ruangan itu.




Tamara membantu dengan mengambil alih, agar Deena dapat beridiri tegak. "Kuy, mari kita bantu." Ucapnya.



Tasyika, Aleta, Tamara dan Beliza memegang bagian belakang gaun Deena, mereka memakai setelan gaun yang sama warnanya, soft sebagai bridesmaid.



Layaknya sang ratu yang di kawal oleh peri-cantik, Deena singguh anggun dengan balutan gaun pernikahannya.



"Hmmpp ka..kalau ada yang lihat bagaimana?" Terdengar suara wanita dari sisi celah bangunan.



Tak terlalu lebar, sedikit temaran, cocoklah untuk mojok 😅



Deena dan yang lainnya mendengar suara-suara aneh, namun mereka harus melewati jalan itu dan mengabaikannya.



"Tenang, tak akan ada yang peduli." Jawab si pria.



*Hah! Ternyata*.


__ADS_1


Batin Deena tergelak mengejek.



Dia mengambil ponsel dan merekam, kegiatan mesum kedua orang itu, setelah puas, Deena memberikan ponselnya pada Zibrilio.



"Bang, nitip ya." Ucapnya.



"Oke, serain aja samaku." Jawabnya berbisik mengangguk.



"Ehem! Gerah banget ya lewat sini, kaya ada aura-aura setan gitu ga sih?" Tanya Aleta menyindir dengan suara keras, membuat kedua orang itu langsung gelagapan dan melepas tautan mereka.



Dirga yang setia di sampingnya pun menggeleng heran melihat tingkah konyol Aleta yang blak-blakan.



"Wih, ternyata cowok yang tadi maksa-maksa buat balikan ke istri orang." Sindir Tasyika mengikuti alur Aleta.



"Benar, menjijikkan." Ucap Zibrilio dengan sudut matanya melihat kedua orang itu, lebih tepatnya kearah Joandan.



"Ayo jalan, Hanska pasti lagi geregetan nungguin Deena." Ucap Zibril kemudian. Mereka semua mengangguk setuju dan berlalu meninggalkan Joandan yang sudah menggeram marah.



*Pllakk*.



Satu tamparan telak, mendarat di pipi perempuan yang lima menit lalu masih di cumbunya dengan lembut.



Wanita itu memegang sebelah pipinya merasa sakit hati. "Kenapa?" Tanyanya kesal.



"Berisik banget lo! Udah gue bilang diem!" Bentak Joandan geram dengan intonasi tinggi.



"Hum! lihat aja lo entar cowok br\*ngs\*k!!" Wanita cantik itu balik membentak Joandan, Dia tak terima mendapat perlakuan seperti itu dari Joan.



Lalu wanita yang tak di ketahui namanya itu, berjalan dengan angkuh meninggalkan Joandan yang murka.



"Arrgghh sial!" Teriaknya di celah bangunan hotel. "Awas saja kalian! akan kubalas semuanya!" Teriaknya lagi.



**To Be Continue** \>\>\>



**Hayeuuu siapaa yaa yang di tunggu-tunggu Hanska 😅 mari kita menanti bersama**.



**By the way, cusss follow cerita ini, like and komen di bawah**.


__ADS_1


**NEXT NEXT NEXT NEXT NEXT NEXT NEXT NEXT NEXT NEXT NEXT NEXT**


__ADS_2