Presdir Bucin

Presdir Bucin
Sekaya Apa?


__ADS_3

Jika kalian senang, Rhe juga senang. Maaf jika update lama, apalagi sering kesandung typo gegara aing ga baca ulang sebelum post.


Sorry juga kalau sering nyinyir.


Aishh kok mengandung bawang sejenak gini :'v


So Happy Reading ๐Ÿ’ž Tetap hati" typo.


____________________


"Mas.. yakin ki..kita belanja di sini?" Tanya Deena meneguk salivanya kasar.


Hanska mengernyitkan alis heran.


Cetak.


Sentilnya di jidat sang istri.


"Duh.. kok malah di sentil?"


Setelah setengah harian Deena dan Aleta berkunjung ke kediaman Yoko dengan membawa mainan.


Kini dirinya berbelanja dengan Hanska berada di parkiran salah satu mall terbesar milik Alzav Group.


Aleta dan Deena sangat senang berkunjung ke rumah Dion, sebab mereka disambut baik oleh kediaman itu, apalagi Silya yang senang melihat kedatangan Deena.


Kalau Dion jangan tanyakan lagi, seperti biasa, lelaki itu kegirangan dengan bertepuk tangan sambil berceloteh ria.


Padahal dalam hati berteriak, kapan drama dari ibu nya itu akan berakhir. Ah sudalah, biar itu menjadi urusan mereka.


"Hey, kau meragukan perekonomian suamimu ini? Kenapa kau tahu Arga kaya, sedangkan kau tak tahu seberapa kayanya suamimu?!" Jelas Hanska kesal mengingat istrinya malah lebih tahu pengaruh Arga di kota ini.


Ketimbang dirinya yang bahkan berpengaruh besar bagi negara mereka.


Baca di part (Siapa Om Ini?) Atau (Bertemu Tuan Muda.)


"Sekaya apa?" Tanya Deena polos.


Hanska menyipit, dia memijat pelipisnya yang berdenyut.


"Kau lihat sayang? HansAlzav Mall itu di bangun oleh suamimu ini sayang, ingat itu!" Bisik Hanska setengah geram mengapit dagu Deena, menolehkan wajah istrinya kearah bangunan megah pencakar langit itu.


"...." Deena diam terkesiap.


"Masuk lah dulu, nanti aku menyusul." Titah Hanska melepas sabuk pengamannya.


Deena menoleh. "Lah terus kalau Dee nyasar gimana? Gimana mas tau posisi Dee? Kalau mau bayar bajunya gimana? Kalau di culik om om tampan gi.." Pertanyaan tak berfaedah Deena terpotong dengan delikan mata suaminya.


Sambil tersungging senyum iblisnya Hanska menjawab. "Om om tampan? bukan kah aku sudah lebih dari tampan untukmu!"


Glukk.


Salah ngomong lagi.


Batin Deena.


"Yah.. becanda." Cicitnya menautkan kedua telunjuk dengan bibir manyun.


"Ck bawel, di ponselmu ada pelacaknya, sudah masuk lah lebih dulu sayang. Lagian siapa juga yang mau dengan gadis kekanakan sepertimu?" Jelas Hanska melihat tampilan istrinya dari atas hingga bawah.


Deena memakai set mertuanya saat masih muda, entah kenapa masih ada dan jika di tanya alasannya simpel, terkadang jiwa muda Rihlah masih sering muncul hingga Dia kadang memakai barangnya sewaktu muda dulu.

__ADS_1


Seperti ini Rok plisket gradasi nude sepanjang mata kaki, dengan kaos lengan panjang dan sepatu kets.


Deena pun memakai kaca mata dengan rambut di ikat kuda.


Braaak.


Suara pintu di banting terdengar.


"Huh dasar om om! ini tuh setelan anak muda tau!" Teriak Deena memeletkan lidahnya mengejek, langsung kabur sebelum suaminya itu murka di katai om-om.


"Hey jangan lari kau bocil!" Teriak Hanska.


"Ckk dasar kekanakan."


Disisi Deena.


"Huuftt.. Hufftt.. hahah rasain, enak aja ngatai kekanakan." Monolog Deena dengan napas tersenggal.


Saat ini dirinya sudah berada di dalam Mall, matanya hampir mau copot melihat desain interior yang super mewah.


Surga dunia!


Batinnya berteriak girang.


Kakinya melangkah kearah mana saja ingin berpijak, teringat niat awal datang ke sini, Deena berhenti mengagumi dan mulai fokus mencari brand paling murah sajalah. Pikirnya.


"Woaah.. bagus banget..!" Teriak Deena kegirangan mengabaikan tanda.


DILARANG MENYENTUH! MENYENTUH BERARTI MEMBELI.


Deena bahkan sudah menguselkan gaun itu di pipi, gaun hasil karya desainer favoritnya. Rheamanda.


Saat ini, dirinya berada di salah satu butik kelas dunia. Hanya menjual barang limited.


Plaaakkk.


Datang salah satu karyawati, menepis kasar tangan Deena yang memegang gaun bertema bunga forget me not itu.


"Heh orang kampung! Kau pikir ini gaun yang bisa di sentuh sembarang orang?!" Bentak sang karyawati itu menarik banyak perhatian.


Dia malah dengan berani menarik kerah baju Deena, membuat tubuh mungilnya sedikit tertarik menjinjit.


Deena mengerutkan alis tak suka menatap mata sang karyawati yang tak sopan itu.


"Marah ya marah aja, ga perlu gini segala." Sewot Deena mencekram kuat tangan karyawati itu, membuat siempunya meringis.


"Aduh.. dasar J*l*ng kurang ajar!" Bentaknya meneriaki Deena.


"Heh, kau mengataiku kurang ajar, minta di cakar!" Ucap Deena mencakar wajah, mencekram kuat tangan karyawati itu hingga berdarah pada bagian pipinya.


Plaakkk.


Muncul satu lagi teman karyawan itu. Ditariknya lengan Deena hingga terlepas langsung melayangkan tamparan.


Membuat sudut bibir Deena terkoyak.


"Kalian akan menyesal menghinaku!" Balas Deena dingin.


"Wah.. ada apa tuh?" Tanya salah satu pengunjung wanita menyikut temannya.


"Heboh banget kayanya." Bisik-bisik terdengar.

__ADS_1


"Mau lihat?"


"Berantem mungkin?" Duga salah satunya.


"Kayanya seru! ayo kesana." Ucap yang lain.


"Ayo ayo.."


Yak.. inilah yang saya sukai, mengkepo keributan ckckc ๐Ÿ˜†.


Banyak orang mendekat kedalam butik Rhea's Sweet. Itulah nama butiknya.


"Banyak gaya sekali kau!" Bentak satunya.


"Lihat! baik baik berapa harganya!!" Ucap si karyawati menunjukkan label dengan bandrol seharga 16 juta dolar tepat di mata Deena.


Sebab mereka menjambak rambut Deena kasar, dan menarik wajahnya agar menatap lekat bandrol tersebut.


"Ck kalian pikir aku tak sanggup membayar? akan ku beli gaun ini." Ucap Deena arogan dengan aura percaya diri yang kuat.


"Heh kau pikir kami bodoh?!"


"Melihat dirimu ini.." Jeda karyawati itu menilai Deena dari atas ke bawah.


"Seumur hidup menjual tubuh sampai organ dalam pun takkan mampu membelinya!" Hardik karyawati lain dengan arogannya melipat tangan di depan dada.


Deena mulai terpancing, dia tahu betul berapa harga yang harus di bayar hanya untuk menyentuh gaun tersebut.


Di kehidupan lampau, Deena berhasil berkolaborasi dengan Rhea di ajang Lady's Secret, dengan usahanya sendiri.


Walau butuh waktu beberapa tahun dan hinaan yang sering menerpanya, namun usaha tak akan mengkhianati hasil . itu benar adanya.


Tapi, tangannya benar-benar refleks menyentuh gaun tersebut, salah sendiri Dia sejenak bernostalgia.


"Kalian akan menyesal, aku tak hanya akan membuat kalian di pecat, tapi juga tak akan bisa mendapatkan pekerjaan di manapun!" Entah mendapat kepercayaan diri dari mana Deena berkata demikian.


Percayalah itu semua bohong, Deena bahkan ingin menenggelamkan saja dirinya jika bisa, benar-benar membuat malu.


"Gimana nih kak? jangan jangan dia beneran sanggup bayar?" Bisik salah satu temannya mulai ragu.


Walaupun yang satu lagi tak gentar, namun dalam hati juga mulai bergetar.


"Mana mungkin! kau ga lihat gaun ini? dengan harga selangit melebihi harga mobil sport." Jawab yang satu lagi meyakinkan diri.


"Tapi kak, kata katanya.."


"Hey kalian! ada apa? kenapa heboh sekali?" Tanya sang manager muncul saat mendengar kegaduhan di dalam butik.


Terlihat peperangan ini dua lawan satu. Ah tidak, jadi tiga lawan satu, sebab muncul lagi satu wanita di samping mereka.


Deena kenal siapa dia.


Terlihat kedua karyawati itu membungkuk hormat.


"Bu manager !" Sapa mereka. Serentak.


"Dia bu! beraninya menyentuh gaun ini, padahal sudah jelas tertulis larangan menyentuhnya." Tuding salah satu dari mereka menunjuk papan larangan.


Sang manager menoleh.


To Be Continue >>>

__ADS_1


Follow cerita ini, jangan lupa like and komen di bawah, siapa tau bisa saling mengenal.๐Ÿงก๐Ÿงก


Peluk Jauh, Rits Rhea.


__ADS_2