Presdir Bucin

Presdir Bucin
Pembalasan


__ADS_3

Tak Henti-hentinya aing meminta maaf karna lama up, ku harap kalian tak kesal😅 oke..


Tett.. tenetttt.. teneetttt.


Selamat untuk pemenang👇🏻😭 niatnya 10, malah 3 😭😭


@Ayuni Wati 🧡💐


@Siti Nurdiah 🧡💐


@Putri Diva Scinta 🧡💐


Mon maap bila ada kesalahan nama. Untuk nama yang aing sebut di atas, tolong berbagi Instagram di kolom komentar, biar aing bisa dm langsung dan kasih hadiahnya.


Atau bisa juga ngadu ke whatsapp bapak Hanska Regantara Alzavier kita yang terhormat 😭👇🏻


+62 831-6485-0529


🐦🐦... apaan sehh gue.


Tiitttt.


But ini beneran ya, aing tunggu lho balesan kalian, mau chat dari mangatoon tapi gatau😭 minta kontak di sini aje dah.


Key lanjut baca dahh.. sebelum itu hati-hati typo and Happy Reading semuanyaa🧡🧡


___________________


"Mau apa kalian?! kyaaa!! Toloong.. tolong! ada penculikan." Teriak seorang wanita terus memberontak minta di lepas, saat dua orang pria bersetelan hitam menyeret paksa wanita itu, masuk kedalam sebuah gedung tinggi.


Kakinya yang tak sanggup mengimbangi langkah kedua pria itu hanya bisa menendang kesembarang arah.


"Kalian penjahat! ilegal, cepat lepaskan aku! aku laporin kalian ke polisi!" Bentaknya masih terus meronta minta dilepas.


Sungguh sial sekali dia seminggu ini, baru saja dua hari lalu terlepas dari penculikan yang membuat seluruh tubuhnya penuh luka, sekarang malah ingin di culik lagi.


Matanya menatap awas pada sekeliling yang tampak sepi dan menyeramkan, Dia diseret melewati koridor tinggi nan luas, namun gelap.


Tidak, jangan lagi siksa dia.


Pikirnya.


Tak menggubris, kedua pria itu seakan menulikan telinga mereka dan terus menjalankan titah sang tuan.


Prinsip mereka.


Diam dan laksanakan.


"Lepas!"


Brakk.


"Awshh.. sakit!" Ringisnya, merasakan bokong yang terbentur dengan kursi besi.


Cetak, cetak.


Sebelah tangan dan kedua kakinya pun langsung terborgol dengan kursi.

__ADS_1


"Apa yang kalian lakukan?! kalian mau uang? akan ku beri sebanyak apapun, tapi cepat lepaskan aku." Bujuknya terus berusaha memberontak dan mencoba bernegosiasi.


Namun lagi-lagi, seluruh pria bersetelan hitam dalam ruangan itu pun tetap acuh, ada empat pria.


Dua yang menyeretnya, dua lagi menjaga pintu.


Mereka seakan menutup pendengaran dan mata mereka, agar tak iba melihat wanita cantik tengah menderita.


"TOLONG!! Siapapun tolong aku!!" Teriaknya meminta tolong.


Brakkk.


Pintu terbuka dengan keras, beruntung, kedua bodyguard yang berjaga di pintu sudah siaga menyambut kedatangan tuan mereka.


Wanita yang terikat di kursi itu pun menetralkan jantungnya, setelah tadi terlonjak kaget mendengar gebrakan pintu yang tiba-tiba terbuka.


"Ha..Hanska! Tolong, untung kamu datang tepat waktu, aku diculik tolong aku." Ucapnya memohon dengan kelegaan melihat Hanska yang sudah berdiri di depan pintu.


Pria itu tak menggubris dan menatapnya dengan dingin, berjalan mendekat kearah Calista, wanita yang dulu sempat berlabuh di hatinya, namun wanita itu juga yang ingin membunuh istri kecilnya.


Murka? tentu saja, beruntung istri dan ketiga buah hatinya baik-baik saja.


"Makasih kamu dateng tepat wak..." Ucapnya terpotong.


Hanska langsung mencekik leher Calista, melampiaskan kemarahannya seakan ingin membunuh wanita itu di tempat.


Uhuuk. Uhuukk.


"Cih, mudah sekali kalau langsung membunuhmu." Ucap pria itu mengapit kencang dagu Calista. Lalu menghentakkan wajahnya kuat.


Setelah Hanska memastikan Aleta baik-baik saja dan istrinya sudah mulai tenang, pria itu langsung memburu Calista setelah meneror wanita itu sampai seminggu.


"Uhukk! ka..kamu kenapa.. Hans?" Tanyanya meringis sekaligus bergidik, wanita itu memegang lehernya dengan sebelah tangan yang bebas.


"Kau ingin membunuh istriku! kau akan merasakan memohon untuk dibunuh." Ucap pria itu sadis, bahkan Calista sampai terkesiap mendengarnya.


"Suntik." Ucap pria itu pada anak buahnya.


Salah satu pria maju dan memberikan nampan berisi suntik dan sebotol cairan kecil, pada Hanska.


"Ga Hanska! Jangan!" Tolaknya menggelengkan kepala kuat, saat Hanska menarik paksa pergelangan tangan Calista.


Wanita itu sadar kearah mana ucapan Hanska.


"Aku mohon.. tolong kasih aku kesempatan terakhir!" Teriaknya putus asa, wanita itu sungguh takut dia akan mati.


Hanska menghentikan gerakannya yang ingin menyuntik, matanya menatap tajam Calista.


Hanska meletakkan suntiknya kembali diatas nampan, mata Calista semakin melotot saat tangan pria itu mengeluarkan belati kecil dari saku jasnya.


"Ah, aku jadi ingin menyiksamu lebih lama." Ucap Hanska memainkan belati itu di pipi kirinya yang basah.


Hanska tersenyum setan, lagi-lagi, Calista terkesiap, semakin mendelik takut menatap was-was kearah belati itu. Sisi yang tak pernah wanita itu tahu, Hanska sungguh nampak bagai iblis dimatanya saat ini.


"Kyaaaa!! sa..sakit, ampun Hanska, sekali saja beri aku kesempatan." Ringisnya memohon ampun, merasakan rahang bawahnya tergores pedih.


"Nikmati saja, ini lah akibat dari perbuatanmu Lista! kau sudah mengabaikan peringatan dariku." Ucap pria itu dingin.

__ADS_1


Calista terlonjak, selama ini Dia berteguh, dengan percaya diri merasa Hanska masih mencintainya seperti dulu, pria itu hanya kesal sesaat dan melampiaskan ke Deena.


Tapi jika di lihat sekarang, Calista sungguh menyesal, semua telah berubah.


"Hanska.. sakit, sakit..sakit sekali, sekali saja maafkan aku." Bujuk Calista merasakan perih di rahang kanannya. Memohon agar pria itu tak semakin merusak wajahnya.


Sungguh menyiksa. Hanska hanya menghunuskan tatapan tajamnya.


"Nikmatilah, saat saatmu. Setelah itu, kau akan tau rasanya perlahan lahan menderita." Jelas Hanska tanpa rasa iba sedikitpun.


Hanska menyalahkan perbuatan Calista, Dia sendiri yang berulang kali mengganggu istrinya, bahkan sudah sering Hanska memperingati wanita itu, tapi tetap saja, Calista malah bergerak semakin lancang.


"Tidak Hanska, beri aku kesempatan, ku mohon." Bujuknya memelas.


Tak ada lagi senyuman kesombongan di wajah cantiknya, kini yang ada hanya ketakutan dan air mata saat melihat reaksi Hanska yang dingin.


Drttt. Drtttt.


Hanska merasa ponsel dalam sakunya bergetar sejak tadi.


Tertera nama istri tercinta dilayar ponsel, langsung saja Hanska mengangkatnya.


"Ada apa baby?" Tanyanya dengan nada hangat, wajah menyeramkan yang sedari tadi muncul di hadapan Calista pun, berubah menjadi malaikat.


"Kamu dimana? mereka bertiga pengen ketemu tau." Omel Deena dari sebrang sana.


Hanska terkikik geli. "Baiklah tunggu aku." Ucapnya, lalu Deena memutus panggilan mereka.


Setelah telpon mati, wajah Hanska kembali dingin saat menatap Calista lagi.


"Kau beruntung saat ini." Ucapnya.


"kau dan kau, kalian layani wanita ini baik baik, aku akan kembali lagi nanti." Ucapnya bak iblis yang diselimuti wajah malaikat.


Tampak menawan, sekaligus mengerikan.


Calista langsung melotot dan menggeleng kuat, Dia merasa semakin tak enak.


Hanska memutar badan, lalu melangkah pergi tanpa menoleh.


Calista memohon dan menangis, namun begitu Hanska tetap acuh.


"Tidak Hanska.. kyaaa!! aku mohon lepaskan, lepaska aku Hanska!! Ahs..sakit!" Teriaknya sekuat tenaga memberontak, sekaligus menahan sakit di ulu hatinya.


"Hanska! Hanska.. Hanska!" Teriakan Calista tak membuat Hanska menoleh sedikit pun dan terus melangkah.


Brakkk.


Pintu tertutup dengan kuat.


To Be Continue >>


Menurut kaluan gimaneee? suntik mati, atau bebaskan? bisa komen di bawah.


Mon maap up ngaret pemirsahh semuanya😭


Aku sayang kalian plusss-pluss. Peluk jauhh🧡🧡💐.

__ADS_1


Cusss dah follow cerita ini, like and komen sesuka dan baik hati di bawah.


NEXT NEXT NEXT NEXT NEXT!!!


__ADS_2