Presdir Bucin

Presdir Bucin
Menuju Perang Dingin


__ADS_3

Hallo sayang"nya aing, gimana nih kabar kalian semua? masih sanggup kah menunggu kegabutan cerita Hanska Deena? ☻


Key lanjut.


Happy Reading all hati hati typo🧡🧡


_____________________


Tampak berbaris beberpa bodyguard di sisi kanan dan kiri membentuk jalan, Arga mendekat sambil membungkuk hormat.


"Selamat datang tuan, nyonya." Ucap Arga diikuti bodyguard yang hadir.


Barang-barang yang diseret oleh petugas pihak bandara pun berpindah tangan ke para pengawal Hanska.


"Bagaimana perusahaan?" Tanya Hanska meminta data perkembangan selama kepergiannya.


"Baik-baik saja tuan, hanya beberapa pembangkang dan sudah di selesaikan." Jawab Arga jelas memberikan berkas kedua.


Setelah menghabiskan waktu dua minggu untuk membereskan kekacauan di cabang Bintang, Kini Hanska dan Deena telah tiba di kota mereka.


Selama di Bintang, Hanska benar-benar membuat Deena layaknya ratu. Perlakuan suaminya itu sungguh manis, seperti lima hari lalu, mengajak Deena berkeliling kota dengan helikopter yang di supiri oleh Hanska sendiri.


Deena berulang kali kehilangan kata-katanya dibuat sang suami. Belum lagi, Hanska mengajak Deena berlayar menggunakan kapal pribadi dan pria itu mempersilahkan dirinya untuk mengambil alih kapal.


Tentu Deena sangat senang, sampai-sampai Deena mendengar para wanita meneriaki suaminya saat mereka tiba di bibir pantai.


"Tolong jadi sugar daddy ku om!"


"Kyaa! rela jadi j*l*ngnya!"


"Tuh cewek ga cocok, bodynya jelek, cebol lagi!"


Begitulah, selebihnya terlalu kotor makanya harus di sensor.


"Ingin makan siang dimana tuan, nyonya?" Tanya Arga yang duduk disamping kemudi.


"Ke.." Jawaban Hanska terpotong oleh perkataan istrinya.


"La..langsung balik aja Ga! Makan siang disana, Deena ngantuk." Pekik Deena yang beralasan sedang mengantuk.


"Pulang." Titah Hanska singkat, padat, jelas.


Deena menatap keluar jendela dengan pandangan cemas, duduknya pun begitu resah di samping Hanska, membuat sang suami yang tadinya fokus pada kerjaannya di ipad, langsung menoleh kearah sang istri.


"Kenapa hmm? Gelisah sekali." Tanya Hanska meraih bahu sang istri dan melabuhkan kecupan singkat di puncak kepala Deena.


Istrinya menggeleng. "Eng..engga ga ada apa-apa." Jawab Deena tergagap.


Hanska mengernyit, merasakan ada sesuatu dengan Deena.


Apa dia sakit dan takut untuk bilang.


Batin Hanska.


Kedua tangannya menangkup wajah Deena, membuat pandangan istrinya terfokus pada Hanska.


"Kau sakit baby? ayo bilang aja." Tanya Hanska membujuk, menelisik seluruh wajah Deena demi mencari informasi dengan perubahan raut wajah istrinya.


Deena langsung menggeleng cepat.


"Baik-baik aja Hanska." Jawab Deena membuang tatapannya.


Hanska menghembuskan napas kasar.


"Kita telah sampai nyonya, tuan." Ucap Arga.


Saat pintu dibuka, Deena buru-buru turun dari mobil dan ancang-ancang berlari.


"Jangan lari! nanti kau jatuh baby." Titah Hanska.


Deena sudah melesat pergi. "Hanska sibuk aja dulu, Deena keatas duluan, ngantuk." Ucapnya berteriak memenuhi lobby kantor.


Deena langsung masuk kedalam lift, tapi sialnya Hanska lebih dulu menyusul.


"Buru-buru sekali." Ucap Hanska memicingkan matanya.


Deena meneguk salivanya susah payah.


Tingg.


Bunyi dentingan menandakan mereka telah sampai di lantai yang di tuju.


Deena mengurungkan niat awal yang membuatnya gelisah, saat ini memilih mandi dan siap-siap untuk istirahat.

__ADS_1


Sssrrr. Tak.


Dirinya selesai mandi dan menatap lekat tubuhnya yang terbalut handuk didalam cermin.


"Baby ayo cepat, nanti kau bisa masuk angin." Panggil Hanska memperingati.


Ceklek.


"Iyaa nih keluar." Jawab Deena.


Tampak didalam kamar sudah tersaji beberapa menu favoritnya, Dengan cepat Deena mengganti baju di dalam walk in closed.


"Hans aaa.." Ucap Deena minta di suapi oleh suaminya.


Dengan senang hati Hanska menuruti keinginan sang istri.


"Enak?" Tanya pria itu.


Deena mengangguk-angguk semangat.


"Hemm, Hanska ga ada niatan beli rumah untuk kita tinggalin?" Tanya Deena polos menatap childish kearah sang suami.


Hanska berdehem melihat betapa imutnya Deena.


"Menurutmu gimana? lebih baik kita tetap disini atau.." Tanya Hanska menggantung sambil menaik turunkan alisnya melempar senyum penuh arti.


Tangan pria itu menurunkan sebelah tali tipis lingerie Deena dengan menggoda.


"Punya rumah sendiri dong." Jawab Deena dengan suara menggoda.


"Kenapa?" Tanya Hanska memancing.


Walau tampak berpikir, tapi Deena sudah menaruh jawaban di kepalanya, Dia berdehem.


Sebelah tangannya menopang dagu, sedikit maju kearah Hanska.


"Lebih banyak tempat dan sudut yang berbeda." Jawab Deena sensual mengedipkan sebelah matanya nakal.


Hanska tersenyum smirk langsung menjauhkan meja dari sisi ranjang.


"Kau semakin pandai menggoda ya baby." Geram Hanska mendorong Deena hingga tubuhnya terhempas keatas tempat tidur.


Tak seperti awal-awal Deena yang tampak malu, kini dirinya malah lebih inisiatif dan aktif bund :'v


Yah, setelah itu kalian tahu lah apa yang terjadi. Pergelutan yang tak akan cukup dengan kata sekali.




**Keesokan Harinya**.



Deena bangun lebih dulu dibandingkan Hanska, sebab jam masih menunjukkan waktu subuh, setelah selesai mandi dan memakai pakaian, Deena tak langsung membangunkan sang suami.



Dia lebih milih mengendap-endap dan mengintip, apakah Hanska sudah bangun atau belum. Tapi ternyata masih pulas tidurnya.



Ini kesempatan Deena, untuk membuang pil pencegah kehamilan yang sudah lama tak dia konsumsi. Dengan hati-hati dirinya menarik koper selagi Hanska masih tidur.



"Duh, untung aja masih pulas tidurnya, kalau ga kapan lagi ada kesempatan buang ini." Monolog Deena mengambil semua papan tablet dan membungkusnya diantara gulungan plastik.



"Apa yang kau lakukan?" Tanya Hanska begitu dekat di telinga Deena membuat istrinya terlonjak kaget.



"Ha..Hanska, ngagetin aja deh." Ucap Deena tergagap berusaha menetralkan degup-an jantungnya.



Hanska memicingkan mata melihat gelagat sang istri, matanya tertuju pada gulungan plastik ditangan Deena.



"Apa ini?" Tanya Hanska langsung merebut bungkusan itu dari Deena.

__ADS_1



Mata Deena membelalak dengan napas tercekat, salivanya sulit sekali di telan.



"Ga..gak penting Hans! Sini in." Jawab Deena berusaha mengambil kembali bungkusan itu. Namun sial, Hanska lebih dulu melihat isinya.



Hanska langsung mengetatkan rahangnya saat membaca tulisan yang tertera dibungkusan tablet itu.



*Pil Pencegah Kehamilan*.



"Kau minum ini?" Tanya Hanska dengan geraman yang kental terasa.



Deena benar-benar merutuki kebodohannya. "Ma..maaf Hans, bu..bukan maksud Deena." Jawabnya takut sang suami akan mengamuk.



Hanska menatap tajam sang istri, bahkan didalam tatapannya samar akan kekecewaan.



Pria itu langsung meninggalkan Deena yang terdiam mematung, mencampakkan plastik ditangannya dengan geraman.



"Hanska, Hanska!" Panggil Deena setelah tersadar dan mengejar suaminya.



Dia harus menjelaskan semua pada prianya itu sebelum kesalahpahaman mengambil alih.



"Hanska!" Deena berteriak saat lift khusus C.E.O tertutup.



Entah akan ke mana suaminya itu pagi ini, bahkan untuk sarapan saja belum.



Deena berjongkok didepan lift dengan tangisan yang tak dapat di tahan. Arga muncul membantu sang nyonya muda untuk berdiri.



"Nyonya, silahkan kembali ke kamar, anda butuh istirahat." Ucap sang asisten.



"Hikss, Hanska salah paham Arga!" Tolak Deena menangis dan menyembunyikan wajahnya diantara lipatan tangan.



"Tuan hanya butuh waktu untuk menenangkan dirinya nyonya." Bujuk pria itu berharap Deena mendengarkan perkataannya.



Deena berusaha berdiri dan berjalan dengan gontai menuju kamarnya.



**To Be Continue** \>\>\>



**Huwaaaa..😭😭😭 ga sukaaa ah ada bawang" gini hikss**.



**Follow cerita ini, like and komen di bawah 👇🏻 kira" gimana kelanjutannya**.



**NEXT**!!!

__ADS_1


__ADS_2