
Apa kabar kalian semua sayangnya author lopeeeh" 💛💛 Meng sad yah ppkm makin parah, jadi kita cuma bisa stay at home sambil ngehalu drama percintaannya Hanska Deena yg absurd ini. ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
Seperti bias ah. Hati-hati typo di jalan. Happy Reading :*
____________________
Nyuuut.
Lagi-lagi Deena bangun dengan pinggang yang kram campur berdenyut.
Sudut bibirnya berkedut gemas merasakan bagaimana sikap Hanska menggagahi dirinya.
Deena membelitkan selimut, berjalan kearah walk in closed dan mengambil jubah handuknya.
Ssrrrr.
Terdengar suara percikan air dari dalam kamar mandi. Deena yakin itu pasti suaminya yang tengah mandi.
Setelah menyiapkan kopi dan kue pastry diatas meja kerja Hanska, Deena memilih duduk dekat jendela, menatap pemandangan dari lantai teratas gedung Alz hiruk pikuk kota di pagi hari.
Saat ini mereka sudah kembali dari kota Angkasa, ingatan saat mereka sedang di kapal pesiar pekan lalu mendadak menyerang Deena.
Untung saja yang datang adalah orang-orang penting dan status sosial tinggi, sehingga tak banyak orang biasanya yang mengetahui siapa sebenarnya Deena.
Gadis itu merenung lagi.
Sekeluarnya mereka dari acara, kedua orang tua Hanska langsung menghampiri dengan mama Rihlah yang mengomeli Hanska habis-habisan di kantor cabang, sebab Hanska membiarkan Calista memeluknya seenak jidat saja di Depan Deena menantu kesayangannya.
Tentu saja Rihlah tak sudi, dia berdiri di pihak Deena.
Setelah puas Rihlah mengomel dan Hanska yang menjelaskan semuanya dengan sang mama, barulah Rihlah sedikit tenang.
Hanska berjanji tak ada hal seperti ini lain kali. Rihlah memaafkan putranya, namun dengan syarat.
Hanska harus membuat pesta besar untuk Deena dan mengundang seluruh media, agar mempublikasikan bahwa Deena lah satu-satunya istri Hanska yang diakui oleh keluarga Alzavier.
Hanska menyetujuinya demi membuat sang mama senang. Tapi, Deena meminta waktu agar pesta mereka tidak diadakan dalam waktu dekat dengan alasan.
"Dee masih ada yang mau di selesaikan ma.. pliss kasih waktu ya."
Karena tak tega, Rihlah mengiyakan memberi Deena waktu tiga bulan untuk menyelesaikan urusannya.
Dan sekarang sudah dua minggu berlalu, berarti kurang tiga bulan lagi waktunya Deena mau tidak mau mempublikasikan hubungannya dengan Haska, seorang presdir yang menjadi banyak incaran di negaranya.
Itulah yang membuat Deena kepikiran sampai sekarang, kedatangan Hanska di hidupnya membuat Deena lupa dengan rencana balas dendam kematiannya di masa lalu.
Sekarang Deena harus fokus memikirkan itu, waktunya tak lama lagi.
Ceklek.
Lamunannya buyar mendengar suara pintu kamar terbuka. Tampaklah sang suami sudah berpakaian lengkap berjalan mendekat kearahnya.
Kesan hot daddy muncul saat Deena melihat dua kancing atas kemeja suaminya terbuka, memamerkan dadanya yang ditumbuhi bulu halus.
"Mikiri apa hmm?" Tanya Hanska mencium kening Deena cepat.
Deena terlonjak kaget, menoleh cepat kearah Hanska dengan alis bertaut heran.
Sejak kapan suaminya ini sok manis begini.
__ADS_1
Pikir Deena.
"Ehemm.." Hanska berdehem juga heran dengan apa yang dia buat.
Salah kan saja pada buku yang Dia baca.
Jurus Menaklukkan Istri.
Begitulah judul yang tertera.
"Mikirin sejak kapan ya Hans jadi bucin gini?" Ucap Deena dengan senyum jenaka menjawab suaminya.
"Sejak pertama kali aku mendengarmu mendesah minta tambah." Balas Hanska tak mau kalah dengan nada menggoda.
"Huh.." Deena membuang tatapan kesamping mendorong Hanska agar menjauh darinya.
Gadis itu berjalan kedalam kamar dengan Hanska yang sudah duduk di kursi kebesaran miliknya, menikmati sarapan yang di siapkan Deena.
Tak berapa lama Deena keluar, sudah berganti pakaian dengan dress batik selutut miliknya.
"Mas.. nanti Deena izin masuk kelas ya." Ucap Deena meminta izin sambil memasangkan dasi sang suami.
Hanska hampir saja lupa kalau Dia menikahi daun muda yang masih duduk di bangku kuliah.
"Masa magangmu sudah selesai?" Tanya Hanska dengan senyum tersungging.
"Dari dua hari lalu." Deena mengangguk.
"Lalu, jika di tanya apa yang kau pelajari? apa yang akan kau jawab? bagaimana cara menyenangkan suami? atau bagaimana ciuman yang baik?" Kekehan Hanska terdengar mengundang pelototan dari Deena.
Deena yang kesal pun mengikat kuat dasi Hanska, membuat suaminya itu tercekik.
Deena memasangkan dasi suaminya dari awal lagi.
"Siapa yang duluan menjebak Deena? kan magang sini niatnya masuk divisi perancangan." Jawabnya cemberut.
"Salah sendiri tak membaca perjanjian dengan baik." Jawab Hanska mengedikkan bahu acuh.
"Huh sebel..!" Deena hanya membalas dengan mencebikkan bibir.
"Langsung pulang jika sudah selesai, akan ada supir yang mengantar dan menjemputmu." Ucap Hanska menarik lengan Deena.
"Jangan, Dee naik bus aja ya." Nego Deena yang malas jika kehidupan kuliahnya terganggu.
Hanska menyentil jidat istrinya.
"Kenapa?" Tanya pria itu dengan nada tak suka.
"Belum waktunya." Jawab Deena singkat.
Hanska menggeleng tak setuju.
"Kau istriku baby, jangan pernah menolak apa yang ku beri, termasuk benih-benih ku." Jawab Hanska tegas tanpa mau di tolak.
Tubuh Deena mendadak kaku.
Selama ini tanpa sepengetahuan Hanska, Deena memakan pil pencegah kehamilan diam-diam. Alasannya, dia tak ingin mengandung sementara dendamnya belum terbalaskan.
Mungkin itu terdengar jahat, tapi pahamilah kondisi Deena, Dia tak ingin malah nanti anaknya kenapa-napa.
__ADS_1
"Apa yang kau pikirkan baby?" Sentak Hanska membuat Deena kaget.
Deena menggeleng cepat. "Ga ada." Jawabnya pelan.
"Sebaiknya kau tak menyembunyikan apapun yang membuatku marah Deena." Ucap Hanska yang berarti dia serius jika sudah menyebut nama istrinya.
Deena mengangguk takut. "He'em.. yaudah dianter supir, Dee pergi dulu ya Mas." Pamit Deena cepat mencium tangan suaminya.
Sekeluarnya Deena dari ruangan, Hanska menyipitkan matanya tanda curiga.
Maaf Hans kalau Dee jahat, Dee cuma belum siap.
Batinnya merasa bersalah.
"Berhenti." Titah Deena mendadak membuat asisten Arga, plus orang kepercayaan Hanska juga sontak menginjak rem hingga bunyi decitan di aspal.
Nemo si asisten menoleh kebelakang.
"Anda baik-baik saja nyonya?" Tanya Nemo panik takut menyakiti nyonya nya.
Deena mengangguk.
"Aku turun di sini aja!" Titah Deena.
"Tapi nyonya, kita belum sampai kampus." Jawab Nemo yang saat ini bertugas menjaga Deena.
Deena menggeleng. "Mengantar sampai sini, menjemput juga di sini." Titah Deena final.
"Baik nyonya." Jawab Nemo patuh.
Mereka berhenti jauh di ujung halte yang jarang di lalui orang. Deena merasa itu tempat yang aman, tak ada yang akan mencurigainya.
"Dee! kyaaa gue kangen banget sama lo!" Teriak Aleta yang pertama kali menyambut, saat Deena menginjakkan kakinya di dalam kelas.
"Sama aku juga hikss." Lebay nya berhambur kedalam pelukan Aleta.
"Kaka ipar~" Ledek Aleta menyadarkan kembali status Deena yang beberapa detik lalu dia lupakan.
Dengan cemberut Deena melepas pelukan mereka.
"Ihh cebelll." Kesalnya cemberut.
Aleta terkikik.
Untung di kelas masih beberapa orang yang datang sebab masih ada waktu setengah jam lagi sampai kelas di mulai.
Deena dan Aleta mengambil tempat duduk.
"He Dee, lo tau ga?!" Bisik Aleta antusias.
Deena tentu saja menggeleng cepat.
"Ade tiri lo sekelas sama kita, sampe sekarang nih gue heran bocil tengil kek gitu bisa lompat kelas." Jelas Aleta sewot sambil mencibir.
Deena terkejut.
To Be Continue>>>
Hayuuu komen di bawah, like and follow cerita ini.
__ADS_1
NEXT!!!