
Udah" lanjut ajee.
Happy Reading and Hati hati typo 🧡🧡💐
_________________
Drrttt. Drrtt.
Drrtt. Drrttt.
"Ada telpon Hans." Ucap Deena terkekeh geli melihat tampang kesal suaminya.
"Sial! kenapa bisa lupa mode silent." Gerutunya bangkit berdiri dari tubuh sang istri.
Hanska membelitkan handuk yang tergeletak dilantai kepinggangnya.
Deena sudah membelitkan selimut ke tubuhnya untuk mandi lagi. Baiklah ini salahnya, siapa suruh begitu siap mandi dan memasak sarapan lalu langsung menggoda sang suami.
membangunkan singa tidur itu namanya.
"Ada apa?!" Nada kesal jelas terdengar dari posisinya. Tanpa melihat siapa si penelpon, Hanska langsung mengangkat.
"Heh bocah, dengan nada apa kau berbicara denganku?!"
Bentak Regan membuat Hanska langsung menatap layar perseginya, tampaklah..
Papa posesif Calling.
"Oh papa, ada apa pa?" Tanya Hanska setelah berdehem, mengaku salah dengan ketidak sopanannya.
"Tolong kau urus pemberontak di cabang kota Bintang. Papa lagi mengurus kekacauan ulah si penghianat tua itu, kesal sekali aku sampai mau mematahkan kaki tangannya."
Ucap Regan terdengar menggeram kesal, Hanska mengangguk paham.
"Baiklah, Hanska mengerti." Jawab Hanska setelah itu panggilan tertutup sepihak.
Ceklek.
Hanska menoleh kearah pintu kamar mandi yang terbuka, menampilkan sang istri dengan terbelit jubah handuk.
"Kenapa mandi hmm?" Tanyanya mengapit dagu Deena, melabuhkan kecupan-kecupan manis di bibir.
"Pliket tau, tadi pagi tuh Dee udah mandi terus Hans-nya malah main tarik aja." Jawab Deena mengikat rambutnya di cepol keatas.
"Seksi baby." Ucap Hanska mengerling genit kearah istrinya.
"Dih mesum, mandi gih Hans Deena mau manasin sarapan dulu." Cibir istrinya menggembungkan pipi.
Hanska terkekeh, entah kenapa belakangan ini dia suka sekali terkekeh.
"Mesum ke istri sendiri kan ga dosa, malah nambah pahala." Balasnya menggigit pipi Deena gemas.
"Deh.. takiit Hans, lepasin." Rengek Deena dengan 1% sakit dan 99% takut suaminya itu bakalan horni lagi.
Oh itu tidak akan selesai dalam waktu singkat dan satu sesi.
"Udah siap-siap Hans, lihat jam tujuh nih. Bos itu harus disiplin." Ucap Deena mendorong bahu Hanska agar suaminya itu masuk kedalam kamar mandi.
Hanska langsung berbalik dan memeluk Deena. "Tolong, jangan pergi dariku."
Ucap Hanska mengusap surai lembut Deena penuh sayang. Istrinya mengangguk.
"Iyaa, ga akan pergi kalau bukan Hanska yang ngusir." Jawab Deena.
"No! apapun yang terjadi aku tak akan mengusirmu." Janji Hanska memeluk Deena erat seolah istrinya itu akan meninggalkannya.
"Duh, siapa yang naruh bawang di sini? hot daddy ku jadi melow." Ledek Deena terkekeh geli, sedangkan Hanska sudah berdecak.
"Oh kalau begitu.. terimalah hukuman dari hot daddy mu baby!"
"Kyaaa tidak!" Teriak Deena saat tubuhnya terhuyung naik keatas gendongan Hanska bak karung beras.
Braak.
Pintu kamar mandi tertutup kasar.
"Baby, bersiaplah kita pergi ke kota Bintang." Ucap Hanska menyelesaikan sarapannya.
"Ada masalah ya di sana?" Tanya Deena membereskan sisa sarapan mereka.
"Hmm ya, ada penghianat bersembunyi di perusahaan." Jawab Hanska menggeram.
"Oke Deena siap-siap." Pamit Deena berlalu memasuki kamar.
*Tok.Tok.Tok*
"Tuan." Ucap Arga.
__ADS_1
"Masuk." Balas Hanska setelah itu Arga muncul diantara daun pintu.
"Ini berkas yang anda minta tuan." Hanska mengambil berkas yang di serahkan oleh Arga.
"Semua keperluan anda dan nyonya sudah di siapkan." Tambah pria itu.
Hanska mengangguk. "Handle perusahaan selama aku pergi." Titahnya.
"Baik tuan." Jawab Arga lalu setelah itu dia pamit keluar.
"Sudah siap?" Tanya Hanska.
Deena mengangguk berjalan beriringan disisi Hanksa.
"Arga ga ikut?" Tanya Deena melihat Arga hanya mengantar mereka sampai di pintu masuk bandara.
Suaminya menggeleng. "Perusahaan harus ada yang mantau baby." Jawabnya.
Setelah mereka masuk kedalam pesawat pribadi milik Hanska, barulah Arga pergi kembali ke perusahaan.
"Baby? kau belum merasakan apapun?" Tanya Hanska mengusap surai Deena lembut.
"Hmm apa?" Tanya Deena menoleh dengan memiringkan kepala. Kegiatan mengaguminya dari jendela pun teralih dengan pertanyaan sang suami.
"Aku merasa sudah begitu banyak benih yang tertanam, kenapa sampai sekarang kau belum hamil?" Tanya Hanska to the point.
Deena mendadak kaku dan hal itu dapat di tangkap jelas oleh suaminya.
*Kenapa belakangan ini Hanska selalu bertanya soal anak*?
Batin Deena.
Hanska mengernyit dalam, jelas itu tak mungkin. Sebab setiap Deena masuk rumah sakit, Hanska pasti akan memeriksa seluruh kesehatan istrinya.
Deena tentu saja gadis yang subur, seharusnya istrinya itu sudah hamil.
Begitupun dirinya, tubuh Hanska dalam keadaan yang sangat baik, soal kesuburan juga jangan di tanya.
"Hmm.. kau harus banyak minum obat penyubur tubuh Dee." Jawab Hanska kembali bersandar pada bangkunya.
Mendadak suasana menjadi dingin.
Deena salting masih menata deru napasnya, sedangkan Hanska berkecamuk pada pikirannya.
Tidak, Dia harus memeriksa kesehatan istrinya, barangkali ada sesuatu yang terlewat.
Pesawat sudah landing dan kini mereka tiba di perusahaan milik sang papa.
"Selamat datang tuan muda." Sapa seluruh karyawan menyambut kedatangan Hanska dan juga Deena.
Hanska berhenti melangkah, menarik pinggang Deena posesif.
__ADS_1
"Perkenalkan, Dia istriku Deena Prameswari Alzavier." Ucap Hanska memperkenalkan Deena pada seluruh karyawannya.
"Selamat datang nyonya muda." Sapa mereka kemudian, Deena membalas dengan tersenyum ramah.
"Rapat diadakan satu jam dari sekarang." Ucap Hanska dingin bagai bom atom yang meledakkan seisi kota.
"Baik tuan!" Ucap mereka semua.
Setelah itu Hanska membawa istrinya ke ruangan khusus C.E.O
"Duduk lah disini sambil aku memeriksa berkas, jika lapar kau bisa memanggil siapapun." Ucap Hanska mencium kening sang istri.
"O..oke." Jawab Deena duduk di sofa ruangan, letaknya tepat di hadapan meja kerja Hanska.
Dengan begini, pria itu bisa memantau Deena.
"Beni, masuk." Panggil Hanska melalui interkom.
*Tok.Tok.Tok*
"Masuk." Titah Hanska.
"Siapkan ruang rapat, lima belas menit lagi aku akan kesana." Titah Hanska, Beni yang tak lain adalah sekertaris pun mengangguk.
"Tambahkan satu kursi lagi di samping kursiku dan sediakan buah anggur dimejaku." Tambahnya.
"Baik tuan." Jawab Beni paham, setelah itu dia pamit pergi.
"Lapar baby?" Tanya Hanska memeluk Deena dari belakang sofa, wajahnya dia sembunyikan diceruk leher sang istri.
Kecupan manis pun berlabuh di garis lehernya. Ada perasaan tak rela di hati Hanska, sesak mendera membuatnya semakin mendekap tubuh Deena.
"Belum, tapi daging plus alpokat boleh juga." Jawabnya berkedip cepat.
"Selera yang aneh." Ledek Hanska.
Deena hanya menyengir.
"Ayo ikut keruang rapat." Ajaknya mengapit jemari sang istri.
"Hans, boleh minta es krim? es krim vanila pake buah ceri sama emas di atasnya." Ucap Deena. Keinginannya dari dua hari lalu, tapi di tahan. Saat ini Dia benar-benar pengen.
Hanska tersenyum lalu mengusap lembut puncak hidung Deena dengan jari.
"As you wish, baby." Jawab Hanska.
**To Be Continue** \>\>\>
**Seperti biasa sayaang"kyuuu jangan lupa like, komen and follow cerita ini.🧡🧡**
**NEXT!! NEXT**!!
__ADS_1