
Yowoo, masih adakah yang menunggu cerita ini?
Maaf yaa semua sayangkuu, membuat kalian merasa di php in, aing ga maksud begitu, semoga kalian ga kecewa dengan updatean aing yg super lama ini, udah gitu gaje pula 😭😭🥺
sayaaang kalian🧡🧡
Btw Cusss lanjut, seperti biasa. Happy Reading and hati" typo sayangnya aingg semuaaa💐
____________________
Hari Besar Pernikahan.
Hari yang Deena tunggu-tunggu dengan greget, acara besar dalam hidupnya yang akan di hadiri oleh banyak orang.
Pernikahan mewah bak tuan putri, siapa sih wanita yang tak menginginkan pesta layaknya putri walau sehari, begitu juga Deena.
Deena memperhatikan pantulan dirinya di cermin sebesar dinding ruangan, tampak gaun putih menjuntai elegan, beruntung, perutnya masih terlihat rata walau diraba terasa berisi.
Walau tampak ribet, namun terasa nyaman, suaminya itu sangat peka dengan keadaan Deena.
Deena melihat keluar jendela, tampak ramai dekorasi bertemakan outdoor dari atas sini.
Akhirnya setelah sekian lama dirinya menikah dadakan dengan Hanska, bagaikan ketiban durian runtuh, kini Deena bisa tersenyum lebar, dengan mata berkaca-kaca melihat dekorasi pernikahan outdoor mereka.
"Bahagia tidak?" Tanya sebuah suara menepuk pundak Deena, membuat siempunya menoleh.
Cantik.
Batin seseorang itu.
Deena mengangguk semangat, menerima uluran tissu dari Aleta.
"Bahagia banget!" Ucapnya memeluk Aleta girang.
"Aduh.. hati-hati Dee." Aleta meringis khawatir melihat sahabatnya itu lompat kepelukannya.
"Eh maaf Al, masih sakit? duduk aja ayo, mana kak Dirga? lukamu sudah sembuh?" Deena tersadar, tanyanya beruntun tampak khawatir.
"Hahah cerewet, gue mikirin ponakan gue itu terguncang karna lo lompat-lompat." Jedanya melirik perut Deena, sarat akan khawatir.
"Kalau gue mah udah baikan, sehat banget malah, lo cantik banget sih Dee, sahabat siapa ini hmm." Goda Aleta menaik turunkan alisnya.
"Ya jelas, gue gitu M.U.A nya." Bukan Deena yang menjawab, melainkan Tasyika dengan bangga, muncul dari arah belakang Aleta.
Deena tersenyum manis, sedangkan Aleta memutar bola mata jengah.
"Iya iya, gue juga dong didandani." Ucap Aleta, Tasyika dengan senang hati mengambil alat tempurnya.
Jari lentik Tasyika dengan lihai menciptakan karya indah di wajah Aleta.
__ADS_1
"Wah, buka WO aja lo Tas, gila pacar siapa ini cangtip banget." Ucap Aleta memuji karya Tasyika dan tentu wajahnya sendiri melalui cermin.
"Ada yang cengo tuh." Ucap Deena mengisyarat dengan dagu kearah pintu.
Tampak Dirga yang awalnya terpana melihat Aleta, langsung berjalan cepat seakan tak rela melihat gadisnya begitu cantik.
"Ale, temeni aku keluar sebentar." Tiba-tiba Dirga menarik lengannya, menyeret Aleta yang masih terheran.
"Eh eh kak.. aduh, Dee, Tas, gue keluar bentar!" Teriak Aleta setelah itu mereka hilang di balik pintu.
"Hahaha, dasar bucin." Ledek Deena tertawa.
Yang meledek malah tak sadar, pasangannya sama bucinnya.
Kruyuukkk.
"Aduh bego tadi gue turun mau ambil makan kenapa langsung naik." Tasyika merutuki kebegoannya.
"Gue turun lagi ambil makan ye bund, bentar doang." Tambahnya pamit.
Deena meledek lalu mengangguk semangat.
"Dua in!" Teriak Deena.
"Key." Jawab Tasyika balik teriak hingga menghilang diantara pintu.
Brraakk.
"Ehh.." Jengitnya langsung menoleh ke sumber suara.
Ternyata itu ulah Joandan.
Sudah lama dia tak melihat lelaki jahat itu, selama ini Deena mendiamkan Joan, tapi cowok itu malah terus-terusan mendekatinya.
"Mau apa kau ke sini." Ketus Deena sarat ketidaksukaan-nya. Berharap Joan paham dan lekas pergi.
Matanya mencari benda pipih persegi miliknya untuk berjaga-jaga.
"Deena sayang aku tau kamu mencintai aku, kamu cuma terpaksa kan nikahin pria tua itu? kan, kamu hanya marah karna melihatku dipeluk Laras sewaktu dirumah." Ucap Joan panjang membujuk Deena, tangannya sudah meraih sebelah tangan Deena.
Mata Deena melotot tak suka berusaha melepas genggaman, cowok di masa lalunya.
"Eh apaan nih, lepas Joan!" Deena mulai kesal berusaha menghentak-hentakkan genggaman Joan.
"Maafkan aku Dee, itu semua karna Laras, dia yang udah godain aku, naik ke pangkuanku, sampai kamu datang. Kamu percaya sama aku ya, masih sempat kalau kamu ikut denganku, akan kuberi apapun keinginanmu Dee, ayo ikut aku." Bujuk Joandan lagi menarik paksa lengan Deena, agar mengikuti langkahnya.
"Lepas breng**k!" Teriak Deena memberontak, sedikit kesulitan karena gaun pengantinnya menjuntai, salah pijak bisa-bisa dirinya jatuh.
"Dee hanya aku yang pantas untukmu, kau hanya boleh jadi milikku!" Joan mulai hilang sabar, terus menarik lengan Deena.
"Lepas!!" Deena membentak dengan sekali hentakan kuat, tangannya terlepas dari genggaman Joandan.
__ADS_1
Plaakk.
Satu tamparan telak berhasil mendarat di pipi kiri Joan. Lelaki itu termenung sejenak dengan alis bertaut marah.
"Kau akan menyesal Deena!" Bentak Joan.
"Woy!! apaan lo, apa yang lo lakuin ke Deena?!" Bentak Zibrilio yang datang dengan Tasyika disampingnya.
"S*al, kau bakal menyesal karna menolakku Deena!" Teriak Joan langsung berlari keluar dari ruangan rias.
"Woy!" Teriak Zibril.
"Udah kak ga usah buang-buang waktu ngejar dia." Ucap Deena menahan sahabat suaminya itu.
Beruntung yang datang adalah Zibril, jika dua yang lain, terutama Arsen, bisa-bisa dekorasi pernikahan Deena bakalan terciprat darah.
"Dee lo ga papa?" Tanya Tasyika menggenggam kedua pundak Deena. Menuntunnya untuk duduk dibangku rias.
Deena menggeleng, menerima segelas air mineral dari Zibril.
"Udah ga papa, makasih kalian." Jawab Deena meletakkan gelas diatas meja.
"Maaf, gue ga ninggalin lo sendiri lagi deh lain kali, trauma gue kalau sampe lo kenapa-kenapa." Tasyika menghembuskan napas lega.
"Sanss aja Tas, hee by the way titipan aku mana?" Tanya Deena menagih sepiring nasi titipannya.
"Yah, lupa gue Dee, habis tadi gue buru-buru makan terus langsung cabut, takut ninggalin lo kelamaan." Ucap Tasyika sedih, nah ini dia kelemahan gadis cantik namun super jutek itu.
Plus-nya, Dia cantik, pintar dan pentolan Universitas Angkasa. Minusnya adalah Tasyika gadis pelupa dan teledor.
"Bentar gue turun dulu, lagian disini ada.."
"Nih, udah gue bawain." Ucap Zibril, meletakkan nampan berisi sepiring nasi dan segelas susu ibu hamil keatas meja.
"Loh kok? kapan ngambilnya?" Tanya Tasyika mengernyitkan alis.
"Gue dititipin Hanska buat jaga binik nya, lagian lo lemot banget sih, gitu aja bisa lupa." Ucap Zibril sadis. membuat Tasyika langsung melotot tajam.
"Dasar bapack-bapack! untung tua, kalau ga gue botakin lu." Gumam Tasyika kesal, walau pelan namun sial masih terdengar hingga ketelinga Zibril dan Deena.
Deena menggeleng tersenyum menerima nampan tersebut. "Makasih kak." Ucapnya memotong tatapan tajam Zibril untuk Tasyika.
"Sama-sama ipar." Jawab Zibril mengalah.
"Hanska dimana? kok ga kelihatan?" Tanya Deena mengunyah suapan kesekiannya, lalu meneguk susu hingga sisa setengah.
"Ntar juga tau." Jawab Zibril menghempaskan dirinya keatas Sofa.
To Be Continue >>>
Kurang yaa? hayuulah maapin aing, follow cerita ini, like and komen di bawah👇🏻 kali aja dapet temen..
__ADS_1
NEXT NEXT NEXT!!!