Presdir Bucin

Presdir Bucin
Ampun Mas


__ADS_3

Tiiittt... Selamat berbukaa puasaa 😅


Othor mau info, mohon maaf mulai Part ini gw revisi gede"an sampe seterusnya yang ada adegan aiueo😭✌🏻 pembaca lama gw mereka pasti tau buat yang masih ingat, untuk new readers kisahnya Hanska Deena, makasih👋♥️ gue harap kalian puas sama cerita gw and kasih komen di bawah......


Happy Reading ♥️


Deena tampak lesu, Ia memanyunkan bibirnya. "Tapi Dee masih 18 tahun Agustus nanti oma, masih kuliah di Univ Angkasa juga." Jelas Deena. Saat ini Ia sudah duduk di sofa samping Ajeng.


Kali ini gikiran mereka yang tercengang. Terutama para sepupu dan saudara-saudara Hanska, yang kebanyakan adalah perempuan dan lelaki dewasa.


Lanjut.


"Kalau begitu seumuran dong sama Haidar." Celetuk Medline menunjuk arah putranya.


Tampak wanita itu menjentikkan jarinya, seolah mendapat ide. "Jika nak Deena tak mau dengan Hans, biarkan Haidar saja yang berpacaran dengan kamu, gimana?" Tambah wanita itu menggoda sepupunya, Hanska.


Rihlah tak terpancing, justru yang terpancing adalah anaknya, dan Medline memberi kode pada tantenya menunjuk kearah Hanska yang menggeram.


Hanska bangkit berdiri, berjalan kearah Deena. Entah kenapa Ia kesal, seperti mainannya akan direbut.


"Kau harus di hukum." Bisik Hanska tepat ditelinga gadis itu. Terlihat Deena membulatkan matanya.


Rihlah tersenyum puas. Ini akan jauh lebih mudah bila Hanska yang bergerak. Masalah Deena, itu gampang. Pikirnya.


Hanska dengan cepat menyentak tubuh Deena kedalam gendongan sebelah tangannya. Entah tubuh Deena yang kekecilan atau tenaga Hanska memang berlebih.


"Ma.. mama, tolongin Dee." Rengek gadis itu meminta tolong.


Rihlah pura-pura tidak dengar. "Apa Dee, kamu mau kami semua ke halaman belakang?" Teriak Wanita itu jahil.


"Baiklah jika itu keinginan kalian, kami mengalah." Teriak Riana, dengan nada jengkel yang di buat-buat.


Lihatlah satu keluarga tidak ada yang normal.


Alamaak. Tamat sudah.


Batinnya menelan ludah susah payah.


Posisi pria itu memboyongnya saja sangat aneh, seperi orang yang sedang mengapit bola basket di keteknya.


Deena menggeliat bagai cacing kepanasan, Ia berontak minta dilepas.


"Turunin aku om, pusing." Rengek Deena kesal memukul-mukul lengan kekar pria itu.


Hanska tak bergeming. Baginya, pukulan kecil dari Deena, bagai gelitikan.

__ADS_1


Terdengar riuh suara siulan dari ruang tamu, bukannya mereka risih melihat hal itu, tapi malah bersorak sorai.


Seorang Hanska Regantara Alzavier yang terhormat, terkenal dengan mulut pedasnya dan sifat kejamnya menyerah dengan seorang gadis belia.


Mereka pikir, tipikal pasangan pria itu masih sama seperti Dia, wanita dewasa yang anggun dan lemah lembut. Nayatanya, gadis kecil imut yang tak suka dikekang seperti Deena.


Cetak.


Terlihat Hanska mengunci pintu kamar beraroma maskulin itu dengan dekorasi khas pria dewasa. Kamar yang sudah lama tak Ia tempati.


Brakk.


Tubuh mungil Deena di banting keatas kasur. Pria itu melepaskan jasnya, membuang kesembarang tempat.


"Lihat ini, ini hukumanmu." Ucap Hanska menyeringai tajam.


Deena panik, mundur perlahan kebelakang. "Ka..kang..mas, mau apa?" Gagap Deena bertanya.


Deena tambah panik saat melihat pria itu merangkak, menaiki bed king size miliknya.


Hanska berdecak. "Heh, sekarang kau tau memanggilku apa." Cibirnya.


Deena menunduk saat dirinya terpojok, dihimpit oleh tubuh besar Hanska. "Am.. ampun mas, ga Dee ulangi lagi." Mohon gadis itu agar segera di lepaskan.


"Setelah itu akan kau ulangi lagi, dan kau berjanji lagi." Ucap Hanska tajam.


Entah bagaiman jadinya, kini posisi mereka jadi sangat ambigu, dengan Hanska yang mendominasi berada di atas Deena.


Hanska menelisik wajah gadis di bawah kuasanya ini. Terlihat bibir mungil, mata amber keemasan dan pipi berisi dengan tatapan teduh. Tubuhnya mungil padat, sangat pas dalam pelukannya.


Kulitnya mulus dan cerah, diikuti wajahnya yang tanpa cela.


Deena seorang gadis imut yang pembangkang, itu menambah point tersendiri dalam penilaiannya.


Gadis itu menggeleng kuat. "Tidak kangmas.."


"Apa yang tidak?"


Deena menggigit ibu jari kanannya gusar, hal yang sering Dia lakukan saat tertekan.


Tak sadar Deena menggigit bibirnya, lalu mencubit kecil bibir bawahnya. Entah supaya apa Ia melakukannya, namun kembali lagi, itu semua hal yang sering Ia lakukan saat tertekan.


Semua tindakan Deena, tak luput dari penglihatannya.


Hanska menopang bobot tubuhnya dengan siku, agar tak membebani gadis dalam kungkungannya tersebut.

__ADS_1


Pria itu mengulurkan sebelah tangannya, menarik tangan Deena agar gadis itu berhenti mencubiti bibirnya sendiri.


"Jangan sakiti bibirmu! Walau kau sendiri yang melakukannya!" Protes Hanska menggeram tak suka.


Deena mengerutkan alisnya cemberut.


Dari posisi ini, Deena bahkan bisa melihat, betapa lentiknya bulu mata pria itu, bola mata hitam legam yang sering membuat orang gugup meski hanya menatap matanya, dengan alis tebal namun rapih, pangkal hidungnya yang tinggi, menunjukan bahwa Hanska memiliki hidung mancung.


Semua tercetak sempurna untuk Hanska, seolah yang maha kuasa sedang tersenyum saat menciptakannya.


Ahh tidak tidakk, ini salah.


Batinnya berteriak.


Dia tersadar, sekarang bukan saat nya bagi Deena untuk mengagumi mahkluk tuhan satu ini.


"Ish.. Lepasin!" Susah payah Deena mendorong dada bidang Hanska.


"A.. ampun mas, lepaskan Deena." Bujuk gadis itu memohon ampunan.


Hanska melepaskan dasinya dengan sebelah tangan, langsung mengunci kedua tangan Deena membawanya keatas kepala gadis itu.


"Nikmati saja hukumanmu Dee."


"Mas.." Deena akan protes, saat merasa Hanska mengikat kedua tangannya dengan dasi.


Dada Deena bergemuruh hebat, napas nya seakan memburu berlomba ingin keluar. Mata mereka saling Tatap dalam diam, sungguh Deena terhipnotis dengan mata hitam legam milik Hanska.


"Hahahahahaha..." Hanska menggelitik perut gadis di bawahnya tanpa ampun.


Seolah menulikan pendengarannya, tanpa ampun Hanska menghujami Deena dengan gelitikan maut. Deena sangat sensitif, perlakuan Hanska benar-benar melumpuhkan sarafnya.


"Wahahahah..." Deena hanya bisa tetawa lepas seolah tak ada beban dalam dirinya.


"Rasakan ini." Ujar Hanska.


Tubuh Deena sudah menggeliat-geliat bagai cacing. Kepalanya memutar ke kanan dan kiri.


Seperti disekap oleh perampok saja dia saat ini.


Dia akan menggila, pergerakannya terkunci oleh Hanska yang mengapit dirinya.


"Ampun? Tidak?" Tanya pria itu.


To Be Continue >>>

__ADS_1


Kiyowoooo, kuy lanjut cuss. Jangan lupa judul Tuan Arsen atau buka profil aing yak hehehehh.. 😃


__ADS_2