Presdir Bucin

Presdir Bucin
Yang Hilang Kembali Datang


__ADS_3

Untung" ga membagongkan yee wak" semuaa partnya sampe sini wkwkw 😭😭


Wes lah cusss lanjut.


Happy Reading semuwaa, btw hati-hati typo loh 🤭


___________________


"Aku akan menolongmu." Ucap si pria lembut duduk disampingnya.


Gadis itu meneguk ludah susah payah menyingkirkan keinginan dalam hatinya untuk menyerang si pria.


"SAH!" Seru seluruh orang yang dipanggil pria itu tadi. Gadis bernama Thata itu pun sontak menoleh.


"Hah.. ada apa ini?!" Pekiknya dengan tenaga yang masih bersisa.


"Panggil aku Axcel, namaku Abraham Axcel Lincoln." Ucap pria itu memperkenalkan dirinya.


Orang-orang yang tadi menjadi saksi, wali dan penghulu pernikahan dadakan bak tahu bulat pun, sudah meninggalkan kamar, menyisakan mereka berdua.


"Aku tak, mengenal..mu! pergi kau! Lepaskan aku!" Bentak gadis itu menepis tangan Abraham.


"Thata, kau butuh bantuanku dan aku hanya perlu status istri darimu. Kita impas." Jelas si pria mengangkat paksa tubuhnya.


"Apa.. apa yang kau lakukan padaku?! aku sedang diberi obat, sialan!" Bentaknya.


Pria itu tersenyum menyungging. "Kau hanya harus menikmati Thata, sekarang kita sudah sah!" Tegas Abraham melempar Thata keatas ranjang.


"Tak mau! a..aku tak mengenalmu! kita be..belum sah!"


"Sebut namaku Axcel." Ucap pria itu mulai melepaskan set pakaian formalnya.


"Hentikan! hentikan!" Teriak gadis itu mundur kepojok ranjang.


"Kau istriku Thata, lihat, kau memakai cincin nikah kita." Balas Abraham memamerkan jari manis miliknya.


Dia sampai tak sadar kapan cincin itu tersemat di jarinya sendiri. Tiba-tiba segerombolan orang tadi juga mengatakan sah.


"Suami? Ka..kau gila! kita tidak menikah! Tak saling kenal." Racaunya plus efek obat yang menggoyahkan pertahanannya.


"Baru saja kau resmi menjadi istriku Thata."


"Lepas!" Bentaknya berontak, namun apa daya, semua itu sia-sia. Dia diberi obat dan tenaga pria ini mampu mendominasi.


Malam panjang pun terjadi.




Gadis itu terbangun dini hari menjelang pagi, matanya membulat mengingat semua kejadian yang menimpanya beberapa jam lalu.



Dengan sakit yang luar biasa di bawah sana, dirinya keluar dari selimut dan berjalan kekamar mandi.



"Ga, aku ga boleh terpuruk gini, Ayo Tha! bisa!" Ucapnya menyemangati diri sendiri, setelah menangis dan mengguyur diri selama setengah jam.



Dirinya bangkit memakai pakaian milik pria itu dan meminta tolong pada pelayan untuk dicarikan tali.



"Enak saja kau menikahiku, tanpa persetujuan dariku." Ucapnya geram mengikat tangan pria itu kesudut-sudut ranjang.



"Hey! apa yang kau lakukan?" Pekik Abraham berusaha melepas tali yang mengikat kedua tangannya.



Tubuhnya hanya terbalut selimut dan gadis itu menjauhkan ponsel, sisa pakaian dan barang lainnya dari Abraham.



"Kau pikir aku cewek apaan bisa kau nikahi seenak jidatmu! dasar om tua! bye!" Ucap Thata berteriak sekaligus mengejek pria itu.



"Ingat ini Thata! kemanapun kau pergi, kau akan selalu menjadi istriku, Abraham Axcel Lincoln!" Pria itu berteriak dengan tubuh gadisnya perlahan menghilang dibalik pintu.



"In your dream!" Balasnya berteriak juga dari luar pintu.


__ADS_1


"Thata!"



Suasana dalam mimpinya pun berubah demikian cepat dan absurd. Dibanding mimpi, ini semua bagaikan memori yang tersimpan apik dalam gudang pikirannya.



"Cepat Lia! lompatlah sekarang!" Teriak suara wanita dengan paniknya.



Dirinya menggeleng. "Tidak Rifah! Jika kau mati aku juga ikut denganmu!" Tolaknya.



"Hikss lompatlah Lia, biarkan aku menggantikanmu." Bujuk wanita yang disebut Rifah itu melepas gelang giok milik Thalia dan memakai ditangannya sendiri.



"Kau punya anak gadis yang cantik Lia, bawalah uang ini dan pergi sejauh mungkin dengannya, cepat! jangan sampai Ratih dan keluarga gila itu menemukan kalian, hiduplah bahagia dengan anak gadismu." Bujuk Rifah lagi.



"Tidak Rifah! jangan." Dia terus menolak bujukan sahabatnya.



"Pergilah, aku akan membencimu jika kau tak pergi!" Bentak Rifah melindungi gelang giok milik Thalia setelah mendorong sahabatnya itu keluar dari dalam mobil.



*Duaarr*.



Dengan mata kepalanya sendiri setelah terguling dan membentur batu, Thalia melihat mobil yang tadi ditumpanginya bertabrakan dengan mobil lain dengan hebat.



Tampak kedua mobil itu terguling kedalam jurang dan tak lama setelah itu ledakan keras terdengar.



"Rifah! Tidak! Tidak! Waaaa..!" Teriaknya menangis kencang.




Terdengar suara pria tertawa dibibir jurang. "Nyonya, misi selesai." Ucap pria itu diponsel genggamannya.



*Duaar*.



Bunyi ledakan kedua.



"Rifah.." Lirihnya sebelum kegelapan menyelimuti.



***Kilasa Memori selesai***.



"Rifah.. Rifah! Tidaak!!" Thalia langsung membuka matanya dan terduduk dengan napas tersenggal.



"Tenang Thata, minumlah dulu." Ucap Abraham menyodorkan segelas air hangat padanya.



Thalia menerima gelas itu dan meminumnya. Matanya melihat kearah Abraham yang tampak khawatir dengan alis mengkerut, disisi kanannya juga terlihat sang asisten yang tak kalah khawatirnya.



"Hikss.. Rifah sahabatku, maafkan aku." Ucapnya sesenggukan.



Abraham langsung merengkuh Thalia hati-hati, seolah takut jika wanita itu akan pergi lagi dari hidupnya.


__ADS_1


"Tenang lah sayang ada aku, all is well, apapun itu, semuanya telah berlalu, maafkanlah dirimu sendiri." Bujuk Abraham lembut mengusap surai istrinya yang telah lama menghilang.



Thalia mendongak. "Hikss A..Axcel?" Panggilnya.



"Axcel?!" Pekik Thalia memeluk dan menangis makin kencang didada pria itu.



Semua memori dimasa lalunya telah kembali, mulai saat dirinya kabur dari rumah kerajaan, bertemu dengan Abraham dan menolong pria bernama Bakara hingga mereka menikah.



Bodohnya Thalia, dia meninggalkan anak gadisnya bersama keluarga gila itu.



"Putriku Deena! aku ingin bertemu dengannya." Pekik Thalia tersadar dari semua memorinya.



Pandangannya melihat sekeliling dengan cemas, sang asisten yang tak pernah melihat kecemasan dari nyonya-nya ini pun langsung mendekat.



"Nyonya, anda harus tenang." Bujuk sang asisten.



Bisa dilihat pelipis nyonya-nya itu banjir oleh peluh, napas tersenggal dan tubuh bergetar hebat.



Untung ada Abraham yang menahan bobot tubuhnya.



"Tenanglah Thata, aku akan menceritakan semuanya padamu saat perjalanan kita ke kota Bulan nanti, sekarang kau istirahat dan pikiranmu, aku tau apa yang mau kau lakukan, maka dari itu tenangkan dirimu dan percayakan padaku." Bujuk Abraham menggenggam kepalan tangan Thalia dalam dadanya.



"Cepat panggil dokter." Titah Abraham tak melepas sedetik pun tatapannya dari Thalia.



"Aku sangat merindukan dirimu, bertahun-tahun aku cari diseluk dua kota, tak kutemukan juga." Ucapnya lirih.



Pria itu duduk dan menunduk disamping ranjang.



"Aku mengerahkan seluruh kekuatanku mencarimu, di kota pertama kali kita bertemu dan tak kutemukan Thata, kau berbohong soal namamu, sulit sekali aku mendapat sedikit saja informasi tentangmu." Tambah pria itu masih menunduk bertumpuan dengan tangan Thalia.



Wanita itu merasakan tangannya basah oleh air mata.



"Maaf.. maafkan aku." Ucapnya angkat suara setelah hanya diam mendengarkan pria itu mengadu.



Abraham menggeleng. "Tidak, aku yang minta maaf, andai saja waktu itu aku tak memaksa menikahimu dan mencari informasi terlebih dulu, mungkin semua kesakitanmu tak akan terjadi." Ucapnya tulus.



Thalia tampak lebih tenang dari pada saat dirinya bangun tadi.



"Kau tau Axcel? Orang yang paling menderita dari kejadian ini adalah anak kita." Ucapnya membuat Abraham sontak mengangkat kepalanya.



**To Be Continue** \>\>\>



**Sabar uwaa" semuanya sayang aingg, setelah part ini Hanska Deena muncul kok😭**



**Wokelaah kuyy" follow cerita ini, like and komen di bawah**.

__ADS_1



**NEXT!! NEXT NEXT NEXT**!!


__ADS_2