
Semoga dan semoga lagi, apapun itu adalah hal yang terbaik. Eaakkk.
Happy Reading semwaa Hati hati typo shayy, ngetiknye sambil ngantuk-ngantuk wkwkw. ๐งก๐งก
๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐
Ceklek.
Kedua daun pintu besar itu perlahan terbuka, Hanska masuk beriringan dengan sang istri diikuti seluruh bagian eksekutif, berjalan dibelakang mereka dengan mimik kaku bagai menghadiri sidang hidup dan mati.
Hanska menarik bangku disamping tempat duduk khusus C.E.O dan membuat sebagian orang yang hadir dalam rapat saling pandang, penuh tanya melihat sang tuan muda arogan berdarah dingin itu mempersilahkan seorang gadis untuk duduk disampingnya.
"Makanlah dulu anggur ini sampai es krim-mu datang baby." Ucap Hanska mendekatkan piring berisi anggur kehadapan istrinya.
Deena mengangguk patuh. "Key sip." Jawabnya mencomot sebiji anggur kehitam-hitaman itu.
Bertambah heran lah para petinggi perusahaan itu, melihat sikap lembut anak presdir mereka ke Deena dan bahkan sampai membawanya kedalam rapat internal, namun begitu tak ada yang berani bersuara apalagi menyinggung kehadiran Deena.
Beberapa yang hadir dalam perjamuan saat di kapal pesiar tempo lalu hanya merespon biasa saja, sebab siapapun yang datang kala itu tahu gadis itu adalah Deena Prameswari Alzavier, istri sah dari Hanska Regantara Alzavier, tuan muda mereka.
Tentu berita mengenai siapa nyonya muda pertama keluarga Alzavier, tak ada seorang pun yang berani angkat suara secara lantang, apalagi membuat Deena menjadi buah bibir. Bisa di pastikan saat itu juga mereka kehilangan identitasnya di negara ini.
Hanska berdehem mengembalikan fokus mereka ke tujuan diadakannya rapat.
"Baiklah, rapat kita mulai." Ucap Hanska bagai melempar bom ke wajah mereka semua yang hadir.
Setelah itu, rapat berjalan alot penuh drama dengan Hanska yang berbicara memakai intonasi tenang namun tajam, membuat hawa dalam ruangan besar nan luas itu bagai kehilangan oksigen.
Belum lagi, didapati-nya dua penghianat yang berani menjual informasi ke perusahaan lawan dan bahkan itu masih dua.
"Kurung mereka! Lihat bagaimana tuan Regan menghukum." Ucap Hanska dingin menitahkan agar kedua orang itu segera di enyahkan dari hadapannya.
Rasanya Hanska sangat ingin mematahkan kaki dan tangan mereka yang bermain api dengan perusahaan sang papa. Tapi Dia urungkan, sebab Hanska tak ingin ikut campur dalam permainan Regan.
Menghukum? permainan yang menyenangkan.
Begitulah ucap Regan.
Hal Itu sudah dalam aturan, seluruh keturunan Alzavier yang memiliki perusahaan masing-masing, jika pasal hukum-menghukum akan menjadi tanggung jawab si pendiri atau pemegang perusahaan tersebut.
Walau suasana mencekik, namun saat dari mereka menjelaskan dan giliran Hanska untuk mendengarkan.
Tangannya tak tinggal diam.
Sesekali memainkan rambut Deena, menggulungnya, menyisir dengan jari, mengacak ataupun mencium helaian surai sang istri.
"Kau pakai merek shampo apa?"
"Wangi melon."
"Ada wangi lemon juga."
"Kau pakai shampo melon atau lemon baby?"
"Yang manapun tetap wangi."
"Jangan pernah ganti merek atau ku akuisisi saja perusahaannya?"
Begitulah yang pria itu katakan setiap kali mencium helaian surai Deena.
Dan Deena hanya menjawab.
"Jangan! dari dulu Dee cuma pake yang ada gambar hewannya atau yang mereknya mirip nama binatang komodo." Jawabnya jujur sambil menunjukkan kedua jari membentuk peace.
"Kekanakan." Ledek Hanska menyentil jidat Deena pelan.
"Hati-hati jadi bucin sama anak-anak." Cibir Deena memutar bola mata malas, membalas ucapan suaminya.
Asisten yang setia berdiri di pojok ruangan pun begitu terheran sekaligus kagum melihat Deena, walau sedari tadi suasana bagai dihimpit ribuan orang dalam ruangan yang membuat siapa saja merasa sesak.
Namun hal itu tidak berlaku untuk Deena.
Bukannya takut, canggung apalagi tertekan, Deena malah tampak berbinar sambil menikmati suap demi suap es krim yang berada di hadapannya bagai menikmati indahnya pemandangan.
Siapa saja yang halu pasti bisa melihat euforia gadis itu bagai di kelilingi bunga-bunga.
"Kau lihat itu? bagai ada taburan bintang sekitar wajahnya." Bisik salah satu asisten yang berada di sudut ruangan pada temannya.
__ADS_1
Duk~
"Awh." Ringis pelan asisten itu saat temannya menyikut.
"Sudah diam." Jawab temannya.
"Siapa yang bertanggung jawab atas proyek resort ReRi?" Tanya Hanska setelah satu petinggi menjelaskan bagiannya.
Salah satu pria angkat bicara. "Saya tuan." Jawabnya.
"Jelaskan kenapa pembangunannya terhenti? padahal dana mengalir terus." Tuntut Hanska menopang dagu dengan tangan, tatapan tajamnya pun tak lupa dia hunuskan.
Pria yang ditanya pun menjelaskan bagiannya, begitu seterusnya. Hanska mendengarkan penjelasan mereka sambil mengetuk-ngetukkan jarinya diatas meja.
Merasa jenuh dengan penjelasan tak bermutu dari bawahannya, Hanska menoleh kearah sang istri memastikan apakah Deena masih ada ditempat atau tidak.
Karena semenjak es krimnya datang dan rapat dimulai, Deena hanya fokus pada kudapan manis itu walau masih ngeh jika Hanska mengajaknya berbicara.
Yaelah Hans, perasaan Deena di samping lu deh. Kalaupun dia mau kemana juga pasti lu tau ๐งโโ๏ธ
Tiiittt. Suara skip.
"Gimana baby, suka?" Tanya Hanska lembut berganti menopang kepala menghadap istrinya.
Deena yang masih fokus ke eskrimnya pun menoleh cepat langsung mengangguk antusias.
"Syukaaaa banget!" Jawab Deena mengepal semangat namun masih menjaga intonasinya.
"Ayo aaa.." Ucap Deena mangap sambil menyodorkan sesendok eskrim kearah Hanska.
Isyarat agar suaminya itu buka mulut.
"Hmm.." Hanska menerima suapan istrinya dengan senang hati, mengabaikan sejenak orang-orang yang haus akan jabatan namun tak ber-tanggungjawab itu.
Semua tak luput dari semua orang yang hadir dalam rapat, lagi-lagi, mereka hanya diam.
"Manis kan, kan?" Tanya Deena menatap penuh binar kearah Hanska.
Hanska mengangguk-angguk pelan. "Manis." Jawabnya menyetujui.
"Huu.." Deena membuang muka, menyantap lagi eskrimnya.
"...begitulah tuan." Ucap salah satu pria mengakhiri penjelasannya.
"Baiklah, rapat selesai." Ucap pria itu.
Setelahnya Hanska menarik pinggang Deena posesif agar mengikuti langkah pria itu untuk keluar dari ruang rapat.
Bisa di lihat para penghianat yang terjaring oleh Hanska pun sudah di amankan oleh bodyguard milik Regan, mereka dalam pengawasan mulai saat ini.
Tak hanya itu, Hanska ingin memberi contoh pada mereka yang lain bahwa tak ada ampun bagi mereka yang mencoba berkhianat.
Baru seluruh petinggi perusahaan itu dapat bernapas lega melihat Hanska dan Deena hilang diantara pintu.
Kruyuukk.
Bunyi samar dari perut Deena.
"Nah sekarang kau mau makan apa hmm?" Tanya Hanska mengusap puncak hidung Deena gemas.
Deena menyengir kuda sambil terkikik. "Barbeque!" Seru Deena senang.
"Oke, kalau gitu ayo balik ke kamar siap-siap dulu." Jawab Hanska.
Tukk~
"Eh!" Pekik Deena saat merasa kakinya menendang sesuatu.
Terdengar kekehan geli dari sampingnya, tentu saja itu berasal dari sang suami.
__ADS_1
"Lama sekali jalanmu, ku gendong sajalah!" Ucap Hanska langsung mengangkat Deena ala bridal.
"Kyaa!" Pekiknya terkejut merasa tak siap tiba-tiba tubuhnya terasa melayang.
"Lagian siapa suruh pake nutup mata segala." Balas Deena mencebikkan bibir.
"Emangnya kita mau kemana sih Hans?" Tanyanya mengalung-kan tangan kepundak sang suami.
*Chupp*.
"Shhtt, ntar ga surprise namanya." Jawab Hanska setelah mengecup bibir Deena singkat.
Buat Deena melting mendapat serangan dadakan darinya.
"Hah! surprise?" Tanya Deena tersadar.
"Sampai." Ucap Hanska menurunkan Deena dari gendongannya.
Tangannya meraih kain penutup mata Deena, mendekatkan wajahnya ke telinga sang istri.
"Di hitungan ketiga baru buka mata." Titah Hanska.
Deena mengangguk patuh.
"Satu."
"Dua."
"Tiga.." Barulah Deena perlahan membuka kedua matanya.
**To Be Continue** \>\>\>
**Kyaaaa!! nanggung ๐ญ๐ญ**
**But apalah daya, hayuuu tinggalkan jejak. ๐พ**
**Like, follow cerita ini dan komen di bawah.๐๐ป๐๐ป**
**NEXT**!!!
__ADS_1