
Ayoyoo.. mon maap yg minta double" up harap bersabar ini ujian, lagi otw ngetik, tinggal send🧡
Okee. Hati" typo semuaa, Happy Reading 💐💐💐
_____________________
"Minumlah dulu." Titah Hanska mendengar penjelasan Brey yang panjang saja membuatnya seret, apalagi yang menjelaskan.
Brey tampak menyengir kuda sambil terkekeh menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Hehehe.. tuan tau aja saya lagi seret, emang tuan yang paling peka deh." Puji Brey menjilat tuannya tanpa maksud tertentu.
Hanska memutar bola mata malas.
"Lanjutkan." Ucapnya kembali serius.
"Hmmm.." Brey berdehem sambil mengusap dagu memilah file mana yang akan di jelaskan selanjutnya.
Seakan teringat, dia menjentikkan jari.
"Salah satu anak perempuan tunggal kerajaan itu sempat menghilang beberapa tahun lamanya, namun ditemukan kembali dalam keadaan yang memprihatinkan." Jelas Brey manut-manut. Lah kenapa bukan Hanska yang begitu? Bodo amat lah.
Hanska masih memilah-milah seluruh informasi yang dia dapat di kepalanya.
"Biar ku tebak, apa namanya Thalia?" Terka Hanska memadamkan rokoknya di asbak berpahat naga miliknya.
Cetak.
Bunyi jentikan jari berasal dari Brey.
"Ah bagian menarik ada di sini." Ucap Brey tersenyum menyungging menunjuk lembaran kertas disertai foto-foto.
"Haa.. huftt masih ngejar ga ya?" Monolog Deena dengan napas tersenggal, kedua tangannya bertumpu pada dengkul sambil menoleh kebelakang.
Baru berapa menit Deena pisah dari Aleta, dirinya sudah di kejar-kejar oleh sekelompok pria yang tak tahu siapa mereka.
"Hey jangan lari kau!" Teriak salah satu pria, di belakang sana mereka masih tampak mengejar, sekitar dua orang pria.
"Hii sedeng kali tuh orang." Ucap Deena masih sempat-sempatnya setelah menarik napas siap untuk lari lagi.
Entah bagaimana kakinya membawa sampai belakang gedung kampus, area yang sangat jarang di lewati oleh orang lain.
"Siap siap." Titah Laras dengan ponsel genggamannya.
Muncul smirk jahat di bibir melihat dari bawah pohon kemunculan Deena.
Orang dari seberang sana menjawab antusias. "Baik nona. Mau kita apakan?" Tanya salah satu pria.
Laras tertawa. "Kalian tunggu aja di gudang, begitu dia masuk langsung lucuti semua pakaiannya, terserah mau di apakan. Tapi ingat, jangan berhenti sampai kerumunan mahasiswa datang." Jelas Laras mendekat kearah Deena sambil memegang sebotol mineral ditangannya.
*Braakk*.
Setelah memberi kode pada kedua pria yang mengejar Deena untuk berhenti.
"Kyaaa..!" Pekik Deena terlonjak kaget. "Laras?!" Teriaknya.
"Kenapa kakak lari-lari gini?" Tanya Laras dengan wajah palsu perhatian.
Sambil menyodorkan sebotol minuman tadi.
"Huftt, Di kejar orang makanya bisa sampe di gudang belakang." Ucap Deena masih mengatur napas, tangannya menerima sebotol pemberian Laras dengan gampang seolah tak ada kecurigaan sedikitpun.
"Minggir dulu kak, sini." Ajak Laras menarik tangan Deena mendekat dengan pintu gudang yang sedikit terbuka.
__ADS_1
Tanpa Deena ketahui, Laras sudah mengirimkan pesan pada teman-temannya untuk segera datang ke gudang terbengkalai kampus dengan dalih ada berita besar menggemparkan.
*Berita heboh! Kalau kalian mau tau sifat asli cewek bermuka dua macam Deena, cepat datang ke gudang lama*.
Begitulah isi pesannya.
Senyum jahat tersungging di bibir Laras saat tanda send berhasil diketuk.
Deena meminum air mineral pemberian Laras.
*Ku ikuti permainanmu bocah*.
Batin Deena.
"Kenapa kau disini?" Tanya Deena basa basi.
Seolah teringat sesuatu, Laras mengubah raut wajahnya tampak cemberut.
"Dihukum sama dosen suruh bersihkan gudang kak.." Jawab Laras tampak ragu meneruskan kata-katanya.
"Kenapa?" Tanya Deena.
"Tadi kami bertiga, tapi adik di tinggal, temani adik ambil barang yuk kak, habis itu kita pulang." Ajak Laras menatap Deena seolah berharap.
"Yaudah ayo." Ucap Deena, Laras menepuk tangannya senang.
Walau tau ada sesuatu, tapi Deena masih mengikuti permainannya. Gadis itu yakin ada sesuatu di dalam sana.
Saat Deena berjalan mendahului Laras, senyum polosnya terganti dengan wajah licik.
"Mampus lo jal\*ng!" Teriak Laras.
Gadis itu siap-siap mendorong Deena masuk kedalam, tapi sayang Deena dengan cepat menoleh kebelakang langsung menghindari dorongannya.
*Braaakk*.
Diikuti suara pintu tertutup dengan kuat dan gedoran nyaring dari dalam.
*Dok dok dok*.
"Jal\*ng sialan! Buka pint... kyaaa!! bukan aku! kalian salah orang!" Teriak Laras dari dalam sana menggedor pintu papan setinggi berpuluh kali lipat dari tinggi manusia.
"Gadis manis akan kami buat kau puas." Sambut salah satu dari mereka.
Terlihat total ada dua orang pria.
"Baj\*\*gan! kalian salah orang." Bentak Laras, terdengar suara koyak-kan dari dalam.
"Diam! masih mending gelap, kau tak perlu terlalu malu." Terdengar sayup suara pria membentak dari dalam.
__ADS_1
"Tolong tol..ong, kyaaa.. salah orang, aku yang nyuruh kalian sialan! Cewek itu masih di luar!" Teriakan dan makian terdengar bersahutan sampai suara ramai dari kejauhan membuat Deena menjauh dari pintu gudang.
Bersembunyi di balik pohon dekat pagar, namun masih dapat melihat drama yang di timbulkan oleh adik tirinya.
Cih. Adik tiri? kata itu sungguh tidak pantas.
Deena mengintai bagai detektif yang bertugas mencuri informasi.
Kumpulan mahasiswa datang berbondong-bondong, ingin melihat kebenaran dari pesan yang di kirim Laras tadi.
"Di sini nih, pasti Deena lagi berbuat tak senonoh." Fitnah salah satu cewek yang Deena ketahui adalah teman Laras.
"Gak mungkin, Deena itu mahasiswi teladan paling berpengaruh di universitas ini." Bantah gadis berkacamata petak tak tampak ber-min, Dia bukan kutu buku, hanya ikut tren saja.
Beberapa setuju dengan perkataan gadis berkacamata itu.
"Betul, mana mungkin Deena gitu dia gadis baik-baik." Bela yang lain.
"Halah muka boleh polos, tapi hati, mana ada yang tau." Sewot cecemit-nya Laras.
Dua cewek yang tak lain dayang-dayangnya Laras pun ikut mengompori.
"Ya.. ya, jangan percaya sama muka sok alimnya." Seru salah satu diantara temannya Laras.
Mereka saling pandang. Ada yang tak percaya, Ada juga yang ikut terpengaruh.
"Udah buka aja lah!" Seru salah satu diantara mereka.
*Braak*.
Pintu gudang terbuka dengan lebarnya, menampilkan sosok gadis tanpa busana sehelai pun, diantara dua orang pria setengah berpakaian.
"I..ini.." Gagu salah satu teman Laras yang tadi paling lantang memfitnah Deena sepanjang jalan kegudang hingga depan pintu.
"To..tolong, b..bukan seperti yang kalian lihat." Lirih Laras menutupi area sensitifnya.
Kedua lelaki yang berada di gudang pun ikut terkejut, sama seperti keterkejutan pengikutnya Laras.
Kedua pria yang bukan mahasiswa universitas itu pun langsung ngacir, menerobos keluar kerumunan dengan menutupi wajah mereka saat banyak ponsel mengabadikan momen memalukan Laras.
Sudah bisa di pastikan bagai mana kelanjutan reputasi adik tiri Deena itu di Universitas.
"Laras?" Tanya salah satu siswi yang sekelas dengan Deena dan Laras.
**To Be Continue** \>\>\>
**Jangan lupa Follow cerita ini, like and komen di bawah yaa lopeehh" semuaaa🧡🧡🧡**
**NEXT**!!!
__ADS_1