Presdir Bucin

Presdir Bucin
Boleh Kan Sayang?


__ADS_3

Mon Maap ada tiiittt.. ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜‚


Ncuss lah lanjut.


Happy Reading ๐Ÿ’œ Hati-hati typo.


________________


Deena sungguh salah tingkah di buat suami dadakannya bak tahu bulat itu.


Selain lebih banyak mengagumi ketampanan Hanska yang membuatnya terpana, Deena juga hampir lupa bernapas, kalau Hanska tak mengingatkan gadis itu.


Deena mengibas-ngibaskan sebelah tangannya ke wajah, sedangkan satu tangannya lagi menarik kemeja milik Hanska.


Pria itu mengetatkan rahangnya.


"Berhenti menggodaku Dee." Geram Hanska menahan hasrat yang siap meledak.


Deena mendongak, masih dengan posisi Hanska yang menindihi tubuhnya, gadis itu menatap dengan polos seolah bertanya. Kenapa?


"Maksudnye? Bagian mananya Dee disebut menggoda?" Jawab Deena dengan setengah kesal, Dia tak mengerti.


Krieettt.


"Eh..."


Krikk.


Krikk.


Krikk.


Terjadi keheningan beberapa detik. Satu suster yang membuka pintu secara tiba-tiba, masih terdiam membisu ditempat.


"Keluar!" Bentak Hanska kesal, dia tak rela tubuh Deena di lirik walau pun itu oleh perempuan.


"He.. hahah, kenapa? kesel?" Tanya Deena menggoda melihat suaminya turun dari ranjang lalu mengungci pintu.


Pria itu bukannya menjawab, malah balik menaiki ranjang dan menyerang Deena.


"Ini menggoda namanya sayang." Ucap Hanska terkekeh jenaka, menunjuk pada pipi Deena yang menggembung dan bibirnya yang mengerucut.


Sontak gadis itu menyilangkan tangannya, menutupi penglihatan Hanska. Malu bukan kepalang.


Bego Deena! Apa-apaan sih.


Batinnya teriak.


Tangan Hanska ter-ulur. "Jangan di tutupin." Ucapnya menurunkan tangan Deena, kedada bidangnya.


Deena mengernyitkan alis bego, merasa sesuatu mengganjal paha. Ditatapnya mata Hanska penuh tanya.

__ADS_1


"Ini apa mas?" Tanyanya spontan tangan Deena turun.


"Ehh.." Sadar akan kebodohannya sendiri, Dia menarik tangannya kembali.


Sebelum itu terjadi, Hanska sudah lebih dulu mencekal tangan Deena. mengunci kedua tangan Deena keatas kepala gadis itu, dengan satu tangannya.


Mata Hanska terlihat menyipit dengan sudut bibir menyeringai.


Gleeekk.


Gadis itu meneguk ludahnya susah. "Mas.." Ucapnya ragu dengan pupil membesar.


"Boleh kan sayang." Tanya Hanska lebih ke pernyataan, Iya, sebab mau tidak mau, Deena harus setuju.


Oke baik, ini memang memaksa, tapi toh juga sudah halal, mau ngapain juga di nilai ibadah. apa-apa jadi ibadah kan? yang penting ga saling nyakitin, apalagi duain. Eaak.


Gadis itu menatap gusar kearah Hanska. "Ta..tapi mas, kita dirumah sakt." Ragunya, teringat akan kata mertua pagi tadi, lengkap dengan usulan dan pertanyaan Rihlah yang absurd.


"Janji bakal pelan." Desak pria itu tak mau membuang waktu.


Mencoba di rumah sakit? What?!


Batinnya Deena.


Lama menunggu gadis itu, Hanska hilang sabar, masih sambil bertopang badan dengan siku.


Hanska mulai membujuk dengan rayuan mautnya.


Begitu terus, sampai dirasa gadisnya sudah tak berontak lagi dan mulai mengikuti ritme. Hanska melunak


"Eh.. Hanska." Gumam Deena.


Hanska menaikkan alisnya, masih tetap fokus pada pipi Deena.


"Iya sayang?" Balas Hanska dengan gumaman juga.


"Su..sudah dong." Rengek Deena malu.


"Hmm apa?" Goda Hanska.


".Dirumah ya.." Nego Deena.


"To..long, Hans."


Pria itu mengangkat kepalanya, dengan sebelah alis terangkat seolah bertanya ada apa. Tapi walau begitu bujukannya tetap lanjut.


"Memohonlah sayang." Gumam pria itu dengan bibir bermain di daerah perut rata Deena.


"Mohon, le..pas kan Deena mas." Jawab gadis itu menurut.


Hanska menyunggingkan senyum. Berdecak disela kecupannya pada perut Deena, tampak bertebaran kiss mark di situ.

__ADS_1


"Ckckc, bibirmu bilang tidak sayang, lihatlah tubuhmu." Ledek Hanska mengangkat tubuhnya menjauh dari Deena.


Inilah yang dinamakan tubuh tak singkron dengan ucapan. Dimulut berkata lepaskan, seolah menolak sentuhan.


Tubuh? Sudah tentu lebih jujur. Lihatlah refleks yang ditunjukkan oleh Deena, seolah berkata, jangan lepaskan aku Hanska.


"Mas tolong, jangan siksa.. Deena." Nego gadis itu lagi.


Hanska menggelitik sedikit tubuh gadis itu, membuatnya semakin hilang akal.


"Memohon lah sayang!" Geraman Hanska terdengar.


Deena mengangguk pasrah. "Tolong!"


Tiiitt. Author: (Mon maap Author gakuatt wkwkw) rehat jenak, gosah tegang kali yekan bacanya. Napas woy napas๐Ÿ˜‚ Jan lupa bernapass~


PLAKK!


Hanska: Rusak suasana aje lu Thor๐Ÿ˜ก


Oke Back to topic!!!๐Ÿ‘‡๐Ÿป


"Tak akan selesai cepat sayang." Gumam pria itu menyunggingkan senyum puas.


Hanska bisa melihat jelas, kondisi Deena yang menurutnya sangat sayang untuk di lewatkan itu.


Mata sayu dengan keringat membanjiri pelipisnya, oh kasihan sekali tangan yang tersambung infus itu. Deena bahkan tak memperdulikannya.


Napas tersenggal gadis itu juga terlihat mendukung, seolah sedang lari marathon sejauh kiloan meter.


"Sial kau Deena!" Geram Hanska.


Pria itu turun dari ranjang VVIP istrinya, melihat tubuh Terkulai Deena, membuatnya tersenyum setan.


Dia menyeringai senang, melihat ketidak berdayaan Deena.


Dilepasnya kemeja putih dan membiarkan celana bahan masih bertengger manis di paha pria itu.


Sraaak.


Tirai tertutup mengelilingi ranjang Deena, pintu juga sudah terkunci, kini Hanska balik keranjang istrinya, menaiki kembali tubuh terkulai Deena.


"Let's play the game baby!" Ucap pria itu agar Deena menyiapkan batinnya. Walau Hanska tak menerima penolakan, namun Dia juga bukannya tak peduli ini hal pertama bagi istrinya.


Gadis itu mengangguk sedikit bercampur malu.


Mata sayunya menatap memohon belas kasihan pada Hanska.


Selanjutnya terjadilah hal yang sudah Hanska dan para readers nantikan, sayangnya kita tidak boleh mengintip, nanti bintilan ckckck, biarlah mereka berkembang biak dengan sendirinya. ๐Ÿ˜„


Lanjut.

__ADS_1


To Be Continue >>>


Aduh, lindungi otak gue woee, otak gue dah traveling ga kuat wkwkw๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ mon maaf, ini revisian yaak, ga bagus kan kalau terbaca ame bocil :' takut di report guee


__ADS_2