
Mohon maaf yang sebesar"nya dari lubuk hati aing terdalam untuk kalian readers tercintahhh ku ๐ญ๐๐ป dikarenakan kondisi kurang nyaman beberapa pekan kemarin, jadi mempengaruhi suasana hati/ mood untuk menulis.
Maafkan juga atas ketidak profesional an aing waktu mengupdate wakk, malah baper sampe gantungin cerita dan buat kalian greget.
Tapi, berita baiknya aing kasih crazy up huhuhuu, dua hari 10 eps ecek"nya ๐ญ
Skuyy lah lanjuttt, moga masih pantengin cerita ini yee, aku sayang kalian plus", banyaak" mumumuwaaa๐งก๐งก๐๐๐
Happy Reading semua, hati" typo ๐งก
_______________
"Di mana istriku?!" Geram suara berat dari arah pintu masuk, wajahnya celingukan mencari sosok istrinya.
"Pak Hanska!" Pekik mereka terkaget, melihat kedatangan si pemilik yayasan yang mendadak.
"Silahkan masuk!" Sadar dari syok, mereka menyambut kedatangan Hanska.
Apa itu tadi? Istrinya? Sejak kapan tuan dengan mulut pedas, berwajah malaikat itu memiliki istri?
Mereka membatin.
Belum selesai dengan keterkejutan saat Arga memanggil Deena dengan sebutan nyonya, kini penghuni belakang panggung pun juga di kejutkan dengan kedatangan Hanska.
"Tuan." Sapa Arga menunduk, setelah meletakkan bag berisi makanan Deena keatas meja.
Pria itu berdehem. "Balik ke kantor, istriku biar aku yang urus." Titahnya.
"Baik tuan, kalau begitu saya permisi. Nyonya." Pamitnya pada Deena dan Hanska.
Deena mengangguk. "Thanksyou Arga!"
Suasana masih hening dengan mereka yang berperang batin, masih menerka kondisi apa saat ini yang dilihat oleh mata.
"Dee.." Gumam beberapa siswa didekat Deena, saat melihat Hanska berjalan kearahnya.
Deena malah menjawab dengan cengiran khasnya, seolah yang mereka lihat masih belum seberapa.
Deena berdehem.
"Kenalin, bapak ini.."
Ucapan Deena terjeda dengan delikan gemas dari Hanska yang menyebutnya dengan embel-embel bapak.
"Cih, bapak? aku tak setua itu." Gumam Hanska menatap sinis.
"Suamiku, namanya Hanska Regantara Alzavier, mungkin sebagian kalian udah kenal dong ya dengan beliau." Ucap Deena memperkenalkan Hanska dengan sedikit kekehan.
Beberapa dari mereka sampai ternganga mendengar ucapan Deena.
"Be..beneran Dee?" Pertanyaan Tasyika mewakili semua yang ada di dalam ruangan itu kecuali Dirga dan Aleta yang ber-bucin ria.
Deena mengangguk antusias. "Bener! makanya kalian harus dateng ya! ke nikahan kami." Jawabnya semangat.
"Se..selamat ya Dee!"
"Kita turut seneng loh!" Seru yang lain.
"Bener, semoga samawa sampe kakek nenek."
Walau masih diliputi keterkejutan, namun do'a dan ucapan selamat pun menghampiri kedua pasuti itu.
"Ah hampir lupa!" Pekiknya meraih paperbag yang bertengger manis diatas meja.
Deena berdiri, hendak membagikan undangan khusus dengan desain elegan berisi kartu kamar tersebut.
"No! duduk dan makan, sekarang sudah jam makan siang." Tegur Hanska menarik tangan Deena dan istrinya kembali duduk.
"Tapi.."
__ADS_1
"Udah Dee, denger kata suamik." Ledek Gigi si cewek cantik berwajah jutek.
"Biar kita aja yang bagiin." Tasyika mengkode dengan mengangkat alis kearah Gigi dan sahabatnya.
Mereka mengangguk. "Udah, makan gih."
"Kakak ipar! sini, biar gue aja yang bagiin." Ucap Dirga cepat, menyerobot bag sebelum diraih oleh Gigi.
Lagi-lagi, akibat ulah cowok most wanted se-universitas itu keadaan menghening kembali.
"Haa! kakak ipar?!" Pekik beberapa orang.
"Sono makan siang dulu woy! nganga mulu lo pada, ga laper ape?" Tasyika menyandarkan mereka semua.
Benar juga.
Mereka pun membuka bag yang tadi diberikan oleh bodyguardnya Deena.
Hanska pun juga membuka bag berisi makan siang istrinya dan menata diatas meja.
"Nah, aaa.. buka mulut." Ucap Hanska menyodorkan sesendok nasi dan lauk.
Deena menerima suapan suaminya.
"Tadi kenapa begitu dateng langsung kesel? hemm." Tanyanya mengingat kedatangan sang suami.
"Begitu aku balik dari rapat kau menghilang, andai tadi Arga tak pamit menemuimu, sudah kupasang poster dicari orang hilang." Jawab Hanska dengan jengel.
Deena terkikik geli membayangkan jika dirinya dicari bagai buronan.
"Konyol banget." Ledeknya.
"Ingat kalau kau lagi hamil baby, sudah kubilang biar Arga yang mengurus semua." Tegur Hanska sambil terus menyuapi Deena.
Istrinya tampak memutar bola mata malas.
"Ga bisa dong Hans, kemarin kita kan udah sepakat." Deena menjawab dengan cemberut menggembungkan pipinya.
"Kita keluar bentar ya kak." Pamit Dirga langsung menarik lengan Aleta, menghiraukan jawaban kedua kakaknya.
"Eh..eh tunggu Kak!" Protesan Aleta pun Dia hiraukan dan menyeret gadis itu mengikuti langkahnya.
"Tuh, jangan cemberut." Hanska membenarkan ucapan sahabat istrinya itu.
"Hmm, ga cemberut nih, nih." Deena menjawab dengan memamerkan deretan giginya.
"Jam berapa pengumumannya?" Tanya Hanska.
"Sejam lagi." Jawab Deena menggeleng saat Hanska menyodorkan sesuap nasi lagi.
"Udah, mual." Tolaknya.
"Ayo istirahat bentar." Ajak Hanska.
Deena menggeleng. "Belum kelar, siapa yang ngurus disini?" Tolaknya.
Tak.
Hanska menjentikkan jari, isyarat pada beberapa bodyguardnya.
"Bantu mereka urus yang disini." Titahnya. Bodyguard pun mengangguk patuh.
"Kalian." Ucapan Hanska menggantung, membuat seluruh mahasiswa yang berada diruangan itu mendekat kearahnya dan seakan siap menjalankan intruksi.
"Siapapun didalam ruangan ini yang membantu istriku, kalian mendapat tempat di Alz Group." Ucap Hanska tegas.
"Wah.." Pekik tertahan terdengar.
"Deena sedang hamil, biarkan dia beristirahat sebentar. Kalau kalian butuh apapun beri tahu bawahanku, paham?" Ucap Hanska.
__ADS_1
Semuanya mengangguk semangat. "Baik pak!" Seru mereka.
"Sekarang giliranmu." Ucapnya menarik lembut lengan sang istri.
"Tapi, tapi.." Deena menahan langkah.
"Udah istirahat lo sana, urusan disini serahin ke kita aja." Ucap Tasyika mengkode mereka.
"Ya! bener bener! lo istirahat aja sana Dee!" Gigi memekik, di angguki setuju oleh mereka semua.
"Ayo." Deena tak bisa membantah lagi, walau dirinya merasa baik-baik saja, tapi apa boleh buat.
Suaminya sungguh diktator.
"Kyaaa!! seneng banget!" Setelah kedua pasutri itu hilang dibalik pintu, langsung saja keheningan dan canggung yang sempat menyerang pun mendadak lenyap.
"Yuwu! kapan lagi coba dapet kesempatan emas masuk ke Alz Group cuma-cuma!"
"Bener bener! ayo semangat!"
"Nyonya, silahkan sebelah sini." Ucap wanita muda dengan set pakaian formal, mempersilahkan jalan.
Wanita yang di panggil nyonya itu pun tersenyum mengangguk.
"Barang yang ku suruh cari, benar di lelang dalam acara ini?" Tanya wanita berpakaian cheongsam, berwarna hitam dengan motif naga emas itu pada asistennya.
"Benar nyonya, orang yang saya suruh mengatakan baru kali ini barang *itu* dilelang." Jawab asistennya.
Sang nyonya mengangguk paham.
*Ngiing*.
Suara mikrofon terdengar nyaring, membuat mereka yang berada di ruangan raksasa itu, terfokus pada sosok pria yang kini berdiri dengan gagahnya, setelah di persilahkan oleh MC sebagai tanda bahwa acara dimulai.
Pria itu berdehem. "Baiklah, tanpa berbasa-basi lagi, langsung saja acara amal hari ini, kita mulai." Ucapnya.
*Teng. Teng. Teng*.
Suara palu terdengar.
**To Be Continue** \>\>\>
**Follow cerita ini, like and komen di bawah**.
__ADS_1
**NEXT NEXT**!!