
Hiks :'( Kapan corona berakhir? kutak mau wisuda drive thru (**.**") gada feel nya hikss :'(
Happy Reading š§” Hati" typo
_______
"Mas.. hikss hiks, Dee.. kotor, Dee di sentuh, jijik. Dee jijik banget kotor.." Racaunya sambil menggaruk kasar tubuhnya dengan kuku, menimbulkan garis merah memanjang, bahkan ada yang tampak berdarah.
"Shhtt, tidak sayang." Ucap Hanska dengan cepat memeluk tubuh bergetar Deena.
Cetak.
Terdengar suara jitakan keras dari kepala indah Hanska.
"Sshh.." Hanska menoleh sangar, hampir saja Dia mematahkan tangan yang tanpa dosa menjitak kepalanya.
"Apa kamu? mau mencekik mama? ayo sini." Tantang Rihlah berkacak pinggang.
"Hah.. mama ngapain di sini?" Tanya Hanska polos.
Pria itu juga dikejutkan dengan kedatangan Regan ayahnya.
Tuh kan, ga bisa haru dikit apa suasananya? :'( Selalu aja ada yang ganggu keseriusan, Hikss.. (**~**")
Rihlah menggeser tubuh Hanska menjauh dari ranjang plus Deena dengan pinggangnya.
Dipeluknya gadis yang saat ini menatap mereka dengan sisa sesenggukan.
"Yaampun sayang, kamu diapain Hanska sampe jadi begini?" Drama wanita itu menepuk punggung Deena sayang.
Agak miris juga, melihat beberapa bagian tubuh Deena yang tampak memar, Rihlah bukannya tak tahu kejadian yang menimpa Menantu kesayangannya itu.
Sepanjang perjalanan dari koridor kantor, Tama sudah menceritakan semuanya termasuk bagaimana cara Hanska menghabisi bandit yang dengan lancang menyentuh tubuh Deena.
Rihlah yang mendengar tampak merinding, namun tentu saja beda dengan Regan. Ayahnya itu berceletuk.
"Hmm.. memang anakku, tahu bagaimana cara melindungi wanitanya."
Begitulah. Dan Rihlah? Hanya menggeleng kan kepalanya tak habis pikir.
"Kok Hans sih ma?" Kesal juga pria itu, dituduh dua kali melecehkan Deena.
Deena? Antara bingung mau mengadu dari mana, dan sudah tak ada feel untuk melanjutkan tangisannya.
Rasanya tuh gini, ibarat lo udah totalitas dalam hati, berusaha nangis dan emang di tambah suasananya menyedihkan.
Eh tiba-tiba waktu hening, ada tukang cilok toet toet lewat sambil teriak, cilok cilok, cilok e mbak -,- what the!
Buyar dah.
Apa kalian pernah mengalami hal serupa? Kalau begitu kita senasib.
__ADS_1
Ok, back to topic :')
Gadis itu menggeleng pelan.
"Mama ga mau tau ya Hans, sekarangĀ juga kamu harus nikahin Deena." Tegas sang mama tanpa mau dibantah.
Deena yang semula menundukkan pandanganya, langsung terangkat menatap lekat kearah Rihlah.
Alis Hanska terangkat. "Hah?! Gamau, kenapa jadi sekarang ma? Kan janjinya minggu depan." Pria itu terkesiap, spontan menolak.
"Minggu depan atau sekarang sama saja, toh kalian juga bakal menikah." Telak sang mama.
"Iya besok ma besok." Jawab Hanska menyerah. Siapapun bisa di lawannya dengan mudah, bahkan orang terhormat sejagat sekalipun.
Tapi tidak untuk Rihlah, ibunya itu punya 1001 cara untuk membuatnya tak berkutik.
"Sekarang Hanska Regantara Alzavier." Jawab sang mama melotot kesal tak mau kalah.
"Tapi ma.."
Rihlah gemas setengah mati, ingin sekali rasanya, ibu dari 5 anak itu mencubit pipi putranya.
Tampak Rihlah beralih bergelanyut manja di lengan suaminya.
"Sayang kalau aku kesal, kamu ga boleh tidur di kamar, tidur saja di ruang tamu sana." Ancam sang istri memberi isyarat, sambil memanyunkan bibirnya pura-pura kesal.
Hanska tampak memutar bola matanya malas, drama queen syndrome ibunya kambuh.
Tentu saja Regan tak senang. "Anak kampret!" Umpatnya kesal.
Tampak beberapa orang memasuki ruangan.
"Bagaimana saksi? Sah?" Tanya penghulu lantang.
"SAH!" Jawab saksi tak kalah lantang. Terutama para sahabat Hanska, yaitu Arsenio, Zibrilio, Wiratama dan tentunya..
"Yuhuu.. SAH pak SAH SAH." Teriak heboh Rihlah, tanpa peduli waktu sudah menunjukkan pukul berapa.
Lah kok jadi gini? Drama yang sangat membagongkan untuk disaksikan para pembaca.
Entah bagaimana ceritanya, belum setengah jam sejak Rihlah mengancam suaminya, Hanska dan Deena sudah sah menjadi suami istri.
Hanska menatap datar kearah orang tuanya, ayolah, pemandangan gila seperti ini tak hanya sekali terjadi di keluarga ayahnya. Bahkan ada yang lebih parah dari pernikahan dadakannya.
Yaitu saat sang mama melahirkan adiknya di pesawat, hingga membuat Regan dengan tegas memproduksi pesawat khusus milik keluarga Alzavier.
Ada lagi saat pernikahan sepupunya, mirip seperti pernikahannya saat ini. Benar-benar, jika tak usil bukan bagian dari Alzavier.
Pernikahan mereka hanya dihadiri oleh kedua orang tuanya, para sahabat dan beberapa orang lain.
Deena membuang napas kasar. Lihatlah, jangankan pernikahan impiannya bak putri dengan gaun hasil desain dirinya sendiri, bahkan di make up pun tidak.
__ADS_1
Yah, boleh diakui bahwa wajah Deena cantik walau tanpa make up, tetapi tetap saja, siapa sih yang tak ingin menjadi ratu walau hanya sehari?
Batinnya teriak, tapi apa yang mau di kata, nasi sudah menjadi bubur, Hanska telah menjadi suami sahnya di mata agama dan negara, walau wanita negaranya tak ada yang tahu sedikitpun jika pangeran mereka sudah menikah.
"Selamat ya sayang, kamu sudah sah menjadi anak mama, huhuh mama seneng banget akhirnya ada juga yang mau nikah sama bujangan lapuk ini." Ucap Rihlah yang sontak mengundang gelak tawa dari sahabat anaknya.
Regan mencibir. "Semoga saja pedang kecilmu masih mampu memberi kami cucu." Ledeknya kejam.
Hanska semakin kesal mendengar ucapan ayahnya. Namun, kekesalannya reda melihat Deena ikut terkikik geli saat Regan meledek dirinya.
"Baiklah ma, Dee nya mau istirahat." Kode Hanska agar mereka lekas pergi meninggalkan pengantin baru itu.
"Inget loh sayang, sering mampir kerumah ya." Ucap Rihlah mengamit lengan Deena, tampak cincin emas tersemat di jari manis menantunya itu.
"Duh cantik banget." Tambahnya.
Deena tersenyum manis mendapat pelukan hangat dari sang mertua. "Pasti ma." Ucapnya antusias.
Setelah mengucapkan selamat, satu persatu meninggalkan mereka di dalam kamar, tinggal lah mereka berdua.
Seketika suasana mendadak canggung, bagi Deena, tidak untuk Hanska.
Terbukti dengan pria itu yang terlihat santai bergabung di samping Deena di atas kasur, membaringkan tubuh dan menarik selimut sampai batas dada.
Deena memanyunkan bibirnya kesal.
"Eh..eh." Hanska menarik tangan Deena, membuat tubuh mungilnya ikut berbaring di samping, ralat, didalam pelukan pria yang sejam lalu berubah status menjadi suaminya.
"Sudah, tidur dulu sini." Ucap Hanska membenamkan Deena kedalam dada bidangnya, tanpa peduli tubuh kaku gadis itu.
Biarlah pikirnya, toh suka atau tidak, Deena harus menerima statusnya sebagai istri seorang Hanksa.
"Tapi mas.." Deena berusaha menolak.
Pria itu semakin mempererat dekapannya pada Deena.
"Mas ngantuk banget, kamu ga lihat sekarang jam berapa hemm?" Ucap pria itu tetap memejamkan mata.
Bukan, bukan Hanska yang lelah, Dia hanya tak tega melihat Deena jika harus di paksa melayani nafsu buasnya.
Biarlah untuk saat ini Dia melepaskan gadis itu, toh juga masih banyak waktunya untuk menyiksa Deena. Pikirnya.
Deena mengangkat sedikit pandangannya, melihat kearah jam ding dong berpahat naga yang berdiri manis di sudut ruangan.
Matanya membelalak, melihat jarum jam menunjukan pukul empat subuh, yang artinya mereka menikah pukul tiga, dan kedua orang tua Hanska, para saksi dan sebagainya.
Deena langsung menggeleng, otak polosnya tak mampu menerima ajaibnya keluarga Hanska, lebih baik Dia ikut bergabung dengan pria itu di alam mimpi.
Deena menelusupkan wajahnya kedalam dada bidang Hanska.
Hanska menyunggingkan senyum merasakan napas teratur Deena. Lalu diapun ikut terlelap.
__ADS_1
To Be Continue >>>>
Mo nangis lihat cuaca nya :( pagi terik, sorenya hujan. Pagi hujan, malemnya gerah banget :' hikss