Presdir Bucin

Presdir Bucin
Kelinci Juga Menggigit


__ADS_3

Hallo semuanya sayang aing!! apa kabar kalian? semoga sehat selalu, tetap perhatikan pola hidup sehat, jangan keseringan begadang kek aing, ntar ngedrop😖, inget cuy, sakit itu mahal plus".


🗣 : "Psstt! sadar dong thor, gegara elu up kemaleman ne, gimane sik.🤬"


👩‍💻 : "Iye maap, aing salah.😓"


🐦🐦...


Cusss Hati-hati warning typo huhuyyy. Happy Reading sayang aing mumuwaaa😘😘


________________


Langkah Deena terhenti, saat punggung Rose menubruk dinding fitting room dan sedikit memajukan tubuhnya, semakin jelas aura intimidasi didominasi olehnya.


"Ah, satu hal lagi, kau ingin menggoda suamiku? kau harus mampu melewatiku dulu. mengerti!" Tekan Deena sedikit menekan dada Rose dengan telunjuknya.


Senyum tersungging masih setia, berada dibibirnya.


Tadinya Deena masih bersabar dan berpura-pura untuk terlihat santuy dihadapan teman suaminya ini.


Namun, dasar si ceweknya yang ke-tengilan, apa boleh buat. Begini deh jadinya.


Rose melotot tak senang, namun Deena tetap tak gentar.


"Hmm.." Deena masih menghimpitnya dan menaikkan sebelah alis, menunggu jawaban dari Rose.


Tak.


Bunyi kunci, dari pintu fitting room yang berisi Hanska.


Deena kekeuh masih menunggu jawaban.


"Mengerti! Aku mengerti." Ucap Rose pelan, namun penuh tekanan.


Deena langsung menjauh dari Rose, setelah melihat Hanska muncul masih dengan pakaian miliknya.


"Ada apa?" Tanya Hanska melihat kedua wanita itu, dengan atmosfer yang aneh.


Senyum smirk Deena tadi, sudah terganti dengan senyum manis bak anak kecilnya, seperi semula.


"Nona Rose bercerita, tangannya pernah digigit dan dicakar kelinci, Deena ngasih tau untuk lebih hati-hati Hans, jangan sampai tergigit lagi, bisa jadi, gigitan kali ini berefek mematikan." Jawab Deena dengan cengirannya.


Lalu tatapannya mengarah ke Rose. "Ingat kan nona Rose?" Singgung Deena sambil melebarkan mata penuh isyarat, senyumnya tampak mengerikan dimata Rose.


Rose mengangguk canggung. "Ya, tentu saja." Jawabnya kikuk.


"Aku teringat ada urusan, kalian lanjutkan saja. Permisi." Pamit Rose, langsung ngacir tanpa mendengar persetujuan dari keduanya.


Deena tersenyum tipis.


Pandangannya beralih ke suaminya, menelisik Hanska dari atas kebawah.


"Ah ga adil banget, kamu cocok pake apa aja, tapi tetep Deena lebih suka setelan navy kok." Jawabnya menilai Hanska sambil menyengir.


"Ku pikir juga gitu. Ayo ketempat lain." Jawab Hanska meraih pinggang Deena posesif. Kakinya melangkah keluar butik, setelah memberikan set tuxedo tadi ketangan karyawan.


"Oke!" Jawab Deena semangat.


"Aku hampir menyuruh Arga datang, dan membawa bodyguard untuk menjagamu, tapi kau bahkan lebih mengerikan dari mereka." Ucapnya mengecup pelipis sang istri.


Hanska bukannya tak tahu, apa yang terjadi pada istrinya saat Dia berada di fitting room tadi.


"Kelinci pun kalau terancam, ya bakalan menggigit." Jawab Deena cuek.


Hanska mengangguk. "Baiklah kelinci nakal, kau ingin apa lagi?" Tanya Hanska.


Deena tampak berpikir, sambil mengetuk dagu dengan jari.


"Mangga, mangga, mangga!" Pekik Deena semangat dengan kepalan tangan terangkat.


"Let's go." Jawab suaminya.


Sementara Itu.


"Sudah dapat informasinya?" Tanya Abraham melihat asistennya masuk, setelah mendapat izin.


"Seperti yang anda minta tuan." Jawab pria itu.

__ADS_1


Bobby si asisten pun, meletakkan map cokelat berisi informasi lengkap Bakara keatas meja.


"Baiklah, kau boleh pergi." Titah tuannya.


"Hee, apa ini?" Tanya Thalia, setelah meletakkan segelas teh chamomile keatas meja Abraham.


Pria itu menyeruput tehnya. "Hmm, ini berkas seluruh informasi suamimu." Jawab Abraham dengan nada meledek, saat menyebutkan Bakara suaminya Thalia.


Wanita itu mendengus. "Kau menyindirku Axcel."


Abraham tertawa. "Kesini, duduklah istriku." Pria itu menepuk pahanya, lalu membuka map yang diserahkan anak buahnya tadi.


Thalia memutar bola mata malas, walau begitu, tetap berjalan menuju kearah suaminya.


"Siapa istrimu hmm, memangnya ada pernikahan yang dipaksakan?" Cibirnya melipat tangan.


"Hey, jangan menyindirku." Gemasnya menoel pipi sang istri.


Alis Abraham mengernyit, kala matanya membaca dengan detail berkas tersebut.


"Apa ini? kau tak pernah menikah dengan pria itu?" Tanya Abraham.


Thalia menggeleng. "Menikah, sebab aku menyelamatkannya dulu, tapi kami tak tidur bersama." Jawabnya.


"Lihat ini, kalian tak pernah menikah." Bantah Abraham menunjukkan berkas ditangannya kearah Thalia.


Alis wanita itu mengernyit. "Sial, waktu aku menyelamatkannya dulu, saat bangun dari koma Dia bilang kami sudah menikah dan Dia menunjukkan buku nikah, alasannya cinta pandangan pertama, Dia juga memberiku mas kawin." Jelas Thalia tak senang, karna sudah di tipu, pasti ada sesuatu dibalik Bakara yang saat itu langsung menikahinya.


"Kau istriku! jangan pernah dalam otakmu mengakui pria lain sebagai suami." Geram Abraham.


"Baiklah pria arogan, lagi pula aku cuma kesal bisa tertipu begitu bodoh." Jawabnya.


"Eh, apa ini?" Tanya Thalia mengambil amplop diatas meja.


"Ah, aku lupa memberitahumu, itu undangan pernikahan anak kita." Jawab Abraham.


Thalia langsung menoleh. "Hah.."


"Ayo, kita ngadain pesta resmi pernikahan juga." Bujuk Abraham menyelipkan rambut diantara telinganya.


Thalia menggeleng. "Udah ga cocok, jamuan sederhana aja kalau ga?" Tolaknya memberi usul.


"Hadiah apa yang bagus untuk mereka? aku mau ngasih kejutan." Tanya Thalia.


Abraham mengusap surai istrinya. "Kedatangan dan permintaan maaf kita, sudah jadi hadiah paling istimewa." Jawab Abraham.


Thalia menggeleng. "Itu beda lagi, pokoknya aku harus memberinya hadiah." Tolaknya.


"Baiklah, ayo kita cari." Abraham bangkit berdiri, mengangkat Thalia dalam gendongannya.




"Baby, kau yakin?" Tanya Hanska tak habis pikir.



Deena mengangguk semangat. "Yakin, yakin, yakin." Jawabnya dengan nada khas si Ipin.



Pria itu menggeleng, saat Deena menyodorkan potongan mangga lagi padanya.



"Kau pasti dendam padaku baby, ini sudah buah ke tiga, dan semuanya asam." Tolak Pria itu.



Matanya menatap ngeri, ke keranjang buah yang masih berisi tiga mangga muda.



Padahal saat di Mall tadi, istrinya masih baik-baik dengannya dan meminta dibelikan mangga muda dengan semangat untuk dimakan sendiri.


__ADS_1


Tak tahu kenapa, masih potongan pertama, Deena sudah mual dan dirinya yang harus menghabiskan enam buah mangga muda.



Setan apa yang merasuki tubuh istrinya, hingga berpikiran 'Ngidam' Sebagai alasan.



Deena terkekeh, namun langsung menyipit tanda tak senang.



"Deena ngidam, ini permintaan mereka, satu anak, dua buah." Jawabnya.



*Tuh kan, ngidam lagi*.



Batinnya.



Rambut Hanska sudah acak-acakan, akibat terus dijambak olehnya yang tak tahan menahan asam.



Bahkan, Dirinya sempat menelpon sang mama dan bertanya pasal ngidam. Tapi Rihlah menjawab.



"*Pernah, mama dulu paling parah waktu hamil kamu ngidamnya. Mama minta sama papa, buat manjat pohon mangganya langsung dan minta papa ngemilin mangga muda yang paling asem diatas*."



Begitu jawaban sang mama. Hanska bahkan tak bisa membayangkan, wajah tersiksa papanya yang takut ketinggian.



"Aaa.. ayo dong, sayangnya Deena." Ucapnya kembali memberikan potongan mangga kearah Hanska.



Saat Hanska tetap mengatup rapat bibirnya dan menggeleng, raut Deena berubah sedih.



"Hikss.. kamu mau anak kita ileran tiga tiganya?" Tanya Deena.



Bibir Hanska berkedut, tak tega juga dirinya, sepertinya Hanska Harus memikirkan cara.



"Baiklah, apa katamu." Jawab pria itu menerima suapan istrinya.



Hanska menerima lagi potongan mangga, hingga potongan ketiga.



"Aduh! sshh.." Ringis pria itu memegang perutnya, rahangnya mengetat, tubuhnya berguling diatas sofa.



**To Be Continue** \>\>\>



**Btw mohon maaf, tadi malem pas nulis tertekan "lanjut", jadi ga sadar terpublish😭😭 ayo baca lagi, ini yg revisiannya**.



**Yuwuuu gimana kelanjutannya? pantenginn teruss. cusss komen di bawah, like and follow cerita ini**.

__ADS_1



**NEXT NEXT NEXT NEXT NEXT**!!!


__ADS_2