Presdir Bucin

Presdir Bucin
Hormon Ibu Hamil


__ADS_3

Selamat pagi,siang,sore dan malam untuk kalian yg akuu sayangi dalam waktu apapun 🧡 tetap jaga kesehatan yee uwaak" semuanya, sebab sakit itu mahal dan aing udah ngerasain sendiri nih, hampir dua minggu ga bisa rasa dan cium bau :'


Tiiittt.... 🐦🐦


Cusss lanjutt, sebelum itu hati-hati typo and Happy Reading semuanyaa 🧡🧡


__________________


Deena berdehem. "Hans, Deena minta tolong boleh?" Tanyanya.


"Apapun kecuali pergi dari hidupku." Tegas suaminya memeluk Deena posesif.


"Deena mau minta..." Jeda istrinya tampak berpikir. Walau ragu namun Deena harus mencoba.


"Hans tolong tunjukin dimana tempat cetak undangan." Deena seketika mengubah raut mukanya menjadi ngambek bak anak kecil yang merajuk.


"Heh, tadi siang masih so-soan." Ledek Hanska menyentil sayang hidung sang istri.


"Masa Dee di bilang gonta-ganti pasangan, dah gitu enak aja yang nuduh sama bapak bapak tua, orang menikah sama om om hot gini." Protesnya merasa difitnah dekat dengan pria tua, padahal kan Hanska ga terlihat tua-tua amat walau sudah om-om.


"Dasar mulutnya. Siapa yang om om?" Hanska gantian protes.


"Mending om om dong Hans, dari pada di katain bapak-bapak tua? hemm." Balas Deena bergelanyut manja dilengan suaminya.


"Yaudah iya." Jawab suaminya malas mendebat.


"Pokoknya ga setuju dikatain kaya gitu Hans." Rengek Deena.


Pria itu berdehem, ternyata berita di forum universitas benar-benar mempengaruhi istrinya yang sedang hamil.


"Baiklah, aku akan menyuruh Arga untuk mencetak undangan kita dan menyiapkan pesta untukmu." Jawab Hanska yang peka dengan keinginan istrinya.


Deena kegirangan. "Bener ya Hans?!" Tanyanya memastikan.


Hanska mengangguk.


"Ingin outdoor atau indoor." Tanyanya mempermainkan ujung surai Deena.


"Menurut Hanska?" Tanya sang istri balik.


"Kebiasaan. Orang nanya di jawab dulu baby, malah nanya balik." Sentilnya.


"Yah kan nanya pendapat juga." Balas Deena.


Hanska tampak berpikir. "Keduanya?"


Diangguki Deena. "Boleh. Pagi sampe siang outdoor di pantai. Malemnya indoor untuk formal."


Hanska mengangguk sependapat.


"Setelah kau lahiran, perusahaan akan melamarmu menjadi sekretaris pribadiku." Jelas suaminya.


Deena yang lagi asik dengan dada bidang Hanska pun langsung mendongak.


"Langsung? ga nunggu si kembar sampe masuk sekolah?" Tanyanya.


Hanska menggeleng. "Aku hanya memberi waktu tiga bulan, setelah itu kau akan bekerja denganku baby."


Titah Hanska tanpa bantahan.


"Kok gitu Hans? yang ngurus anak-anak siapa?" Tanyanya sedikit tidak setuju.


Paling tidak, tunggu sampai ketiga anaknya sudah memasuki sekolah dasar.


Alasan lainnya, Deena ingin sedikit lebih bebas dari Hanska.

__ADS_1


"Yakin kau punya waktu dengan mereka selain menyusui dan malam hari?" Tanya Hanska.


Alis Deena tertaut. "Kenapa engga? mereka kan anak-anak Deena." Jawabnya.


"Anak kita." Ralat Hanska.


Tampak Deena mengangguk.


"Mereka punya banyak aunty, om dan sepupu yang sudah lama menanti mereka. Kau lupa dengan mama yang penuh drama itu, mereka pasti mengambil alih ketiganya." Jelas Hanska.


Deena tersadar, lalu ingatannya kembali pada saat Hanska menghubungi sang mama dan memberitahukan kabar bahwa Deena tengah hamil bayi kembar.


Langsung saja Rihlah mengundang mereka untuk datang makan malam. Belum lagi, ternyata seluruh keluarga Hanska datang saat itu juga dan terjadilah perebutan hak asuh untuk ketiga bayi mereka.


"Kau tak akan punya waktu untuk mereka, sudah banyak yang akan mencintai anak kita." Jelas Hanska.


Benar kata suaminya, padahal Deena masih mengandung dua bulan lebih seminggu, tapi nama anak baik lelaki atau perempuan sudah disarankan dari keluarga besar suaminya.


Mama Rihlah juga bolak-balik menjadwalkan shopping dengannya untuk membeli perlengkapan bayi.


"Hikkss, antusias banget, andai keluarga Deena kaya gitu." Ucapnya menggelengkan kepala, jika diingat lagi entah bagaimana Dia membayangkannya.


"Lalu, kau ingin tema pernikahan yang bagaimana?" Tanya Hanska mengurut pelipis istrinya.


"Pernikahan yang elegan tapi ga norak." Jawabnya.


"Tentu, bagian outdoor kita buat santai." Suaminya menyarankan.


Deena mengangguk setuju lalu dikecupinya seluruh wajah Hanska, hingga naik kepangkuan suaminya.


"Makasiih sayangnya Deena, suami tercinta mumumwahh." Ucapnya kembali mengecupi pipi dan bibir Hanska.


Suaminya tersenyum smirk.


"Begini rasanya hormon ibu hamil." Ucap Hanska berbalik menyerang Deena.


...~~~...


Sebelah tangannya dimasukkan kedalam saku, pikirannya teralih dengan ketukan dipintu.


"Maaf tuan, Mr. K ingin bertemu." Ucap si sekretaris muncul setelah diizinkan masuk.


"Suruh masuk." Titah tuannya menyetujui.


Setelah itu muncul pria dengan setelan hitamnya, sambil membungkuk hormat.


"Selamat siang tuan." Sapa Mr. K tersebut.


Tampak tuan yang disapanya memutar badan dan berjalan kearah kursi kebesarannya.


"Bagaimana penyelidikan mu selama ini?" Tanya si tuan.


"Ternyata wanita yang selama ini anda cari sudah kembali ke negara asalnya dan kehilangan ingatan tuan. Dia juga sudah menikah dan dikaruniai seorang anak, tapi anak itu berada jauh dengannya." Jawab Mr. K.


Tuannya tampak mengangguk.


"Tinggalkan berkas penyelidikanmu disitu dan cari tahu hubungan suami dan anaknya. Aku ingin besok laporannya sudah berada di mejaku." Tegas sang tuan dengan mata tajamnya.


"Baik tuan saya permisi." Jawab Mr. K sekalian pamit.


Pria itu membaca lembar demi lembar laporan yang diberikan oleh orang kepercayaannya. Andai saja dulu kekuatannya sudah seperti sekarang, mungkin wanita itu akan dengan cepat ditemukannya.


Pria ini membaca dengan begitu detail informasi akurat yang membuatnya menunjukkan senyum tersungging.


"Dunia ini sempit ternyata." Ucapnya meletakkan kembali berkas yang sudah dibacanya hingga lembaran kesepuluh.

__ADS_1


Di Sisi Lain.


"Kyaaaa! selamat ye bund, akhirnya jadi emak juga lu." Pekik Aleta kegirangan mengusapkan pipinya kewajah Deena.


Deena tampak terkikik geli ikutan tertawa dengan Beliza dan Tamara.


Mereka berempat berada di kantin kantor, walau jam masih menunjukkan pukul tiga, namun apa daya bila bumil satu itu sudah merengek dengan alasan ngidam untuk membuat Beliza dan Tamara membolos.


Para atasan mereka tak ada yang bisa perotes mengingat ini adalah titah sang nyonya muda.


"Kamu ini Dee tokcer banget dah." Ledek Tamara terkikik saat mendengar Deena hamil kembar tiga.


"Mbak bisa aja deh." Jawabnya salting.


"Pas banget! mbak satu, Leta satu, Tamara satu!" Pekik Beliza.


"Iya bener!" Aleta menyetujui.


"Kek jajan aja mbak di bagiin hikss." Jawab Deena mendrama.


Ketiganya menertawakan dirinya.


"Sekali lagi selamat ya dek! seneng banget deh dengernya." Beliza menyelamati, dibalas anggukan oleh Deena.


"Makasih mbaa." Jawabnya terkikik.


"Terus kapan lo ngadain pesta pernikahan? ga mungkin kan ga pesta ya ga mbak?" Tanya Aleta mencomot kue cubit didepannya sambil mengangkat alis kearah Tamara dan Beliza.


"Bener banget, kalo kata orang, kapan lagi bisa makan daging selain eraya qurban." Jawab Beliza.


Deena terkikik.


"Ngadain dong, pestanya minggu depan!" Jawabnya senang.


"Ntar semua karyawan juga diundang kok." Tambah Deena.


Mereka bertiga tampak kegirangan menerima undangan dari Deena.


"Btw, tadi Leta bilang kamu di fitnah dek, terus gimana?" Tanya Tamara.


Deena tersenyum. "Auto di bales dong mbak." Jawab Deena semangat, mengkode Aleta dengan isyarat mata.


...~~~...


"Pstt. psstt! liat tuh." Bisik cewek membuat beberap temannya menoleh.


"Hah? apaan?" Jawab mereka ikut berbisik.


"Tuh lihat!"


"Eh itu bukannya cewek yang jadi trending topik pagi ini di forum?"


"Iya bener."


"Gila ya, kok ada orang ga tau malu kaya gitu?" Cibir yang lain.


Bisik-bisik terdengar disekitarnya, seluruh mahasiswa baik yang senior maupun yang junior tengah menatap dirinya seolah men*lanj*ngi dirinya.


Yang dilihatin pun merasa risih, tapi dia memilih masa bodo dan terus berjalan masuk kelas.


To Be Continue >>>


Hayooo kenapa? hohohoo mon maaf aing kurang fit.


Kuyyy follow cerita ini, like and komen di bawah ini.

__ADS_1


NEXT!!


__ADS_2