Presdir Bucin

Presdir Bucin
Chup Sayang, Cuma Bercanda


__ADS_3

Yuwuu lanjut terusss,


Key.. sebelum itu hati-hati typo and Happy Reading semuanyaa🧡🧡


___________________


Hanska menerima lagi potongan mangga, hingga potongan ketiga. Dirinya sudah tak kuat.


"Aduh! sshh.." Ringis pria itu memegang perutnya, rahangnya mengetat, tubuhnya berguling diatas sofa.


Deena mengernyitkan alisnya, raut panik mulai tergambar.


"Kamu kenapa?" Tanya Deena ikut memegang perut Hanska.


Pria itu menggeleng, masih terus mengadu kesakitan dan berguling.


"Sakit." Ucapnya, menyipitkan sebelah mata untuk melihat reaksi istrinya.


Ah, bercanda ternyata.


"Sayang.. jangan nakutin dong." Bujuk Deena mulai panik.


"Aduuh..!" Hanska memekik.


"Ha..Hanska." Rengek Deena dengan mata yang berkaca-kaca.


Deena langsung mengeluarkan air mata dan terdengar sesenggukan kecil melihat kondisi suaminya.


"Hikss maaf." Ucapnya mulai berderai air mata.


"Jangan dimakan lagi, Dee cuma bercanda Hanska, hikss."


"Maafin Deena huwaa!" Bujuk Deena, malah nangis makin kejer.


Lah, siapa yang kesakitan siapa yang nangis.


Batin Hanska.


Sebenarnya pria itu juga bercanda menakuti istrinya, eh malah Deena beneran nangis.


"Udah, udah, chup sayang." Hanska membujuk.


"Aku juga bercanda oke." Tambah pria itu langsung bangkit dan membawa Deena dalam pelukannya.


Sang istri masih sesenggukan. "Kamu beneran ga apa apa?" Tanyanya mendongak kearah Hanska.


Pria itu mengusap kedua pipi istrinya yang masih tergenang air mata.


Hanska menggeleng. "Nih lihat, aku oke baby." Jawabnya merentangkan tangan. Deena bisa melihat suaminya tak meringis lagi.


"Maafin Deena Hans, udah jangan di makan lagi mangganya." Jawabnya mengusap ingus di kemeja putih Hanska.


Pria itu mengangguk sambil tergelak. "Anak kecil." Ledeknya menjepit hidung sang istri.


"Adeh, kok malah di cubit." Deena protes.


"Gemas." Jawab Hanska.


Kruyuukkk.


Perut Deena berbunyi.


"Hey gadis kecil, aku benar-benar menikahi gadis kecil." Ledek Hanska sambil tergelak.


Deena hanya mencibir.


"Baiklah, ayo keluar, sekalian lihat sudah sampai mana persiapan acaranya." Ajak Hanska membantu Deena berdiri.




"Target terlihat." Ucap seorang pria dengan ponselnya.



"Hahaha. Bagus!" Jawab wanita sambil menghembuskan rokoknya, menghasilkan kepulan asap diudara.



"Ambil kesempatan untuk membunuh perempuan itu." Titahnya memadamkan rokok kedalam asbak.



"Baik nona." Jawab pria di sebrang sana.



"Heh, memang kenapa kalau sudah menikah? begitu mati jadi mayat juga." Monolognya dengan seringan licik.



**Disisi Kantor**.



"Eh Ta, kira kira kado apa ya?" Tanya Beliza menyikut lengan Tamara yang masih fokus pada berkasnya.



Tamara menoleh seolah bertanya. "Hah? kado untuk apa mbak?"



"Ye, pasti lupa nih." Beliza mencebikkan bibir.



Tamara menyengir kuda. "Kikikii inget atuh mba, kadoin lingerie super tipis aja." Usulnya.

__ADS_1



"Geblek, ntar kalau pas kita nikah terus si Deena ngasih k\*nd\*m gimana? secara tuh anak kan ada usil usilnya." Tolak Beliza mulai galau.



Mereka berdua tampak berpikir.



"Kadoin aja borgol sama cambuk mbak!" Pekik Aleta tiba-tiba muncul, memberikan solusi unfaedah untuk mereka berdua.



"Woe yang bener aja dek." Jawab Tamara mendengus. Begitu juga Beliza.



Sedangkan Aleta menjawab dengan cekikikan.



"Nyari Deena ya Dek?" Tanya Beliza.



"Eh, iya nih mba, gue ada perlu." Jawabnya tersadar.



Tamara dan Beliza pun menggeleng. "Kalah cepet datengnya, mereka baru aja pergi." Jawab Tamara.



Aleta terpelongo. "Lah, gimana sih, kemarin katanya minta di temenin jajan." Ucapnya.



"Masih keburu di susul ko dek." Ucap Beliza.



Aleta semangat lagi. "Oh ya?! kemana mbak?" Tanyanya antusias.



"Hans Restoran dek." Jawab kedua wanita itu.



Aleta mengangguk-angguk. "Wothank." Ucapnya.



"Apa tuh?" Keduanya spontan bertanya.




"Bye, gue cabut dulu." Tambahnya pamit langsung bergegas pergi.



Aleta menyetop taxi lalu, mobil pun berjalan sesuai alamat yang di tujunya.



Tanpa dirinya ketahui, sosok pria yang tadi sempat turun untuk menghampiri dirinya, kini melakukan kendaraannya mengikuti taxi Aleta



"Sini aja pak!" Pekik Aleta menepuk pundak si supir. Mobil spontan berhenti.



"Eneng mah buat jantungan aja." Sewot pak supir yang panik, akibat pekikan khas miliknya.



"Ya maap pak, nih ambil aja kembaliannya pak." Ucapnya memberikan selembar uang berwarna merah.



"Wah, makasih neng, semoga panjang umur sehat selalu." Ucap supir itu mendoakannya.



"Aamiin, sama sama pak." Jawab gadis itu menutup kembali pintu mobil.



Aleta celingak-celinguk mencari keberadaan sahabatnya. *Bodo amat ada bang Hanska*, kali ini Aleta harus quality time dengan Deena.



Pikir dirinya.



"Eh, ntu dia." Monolognya, mendapati Deena yang baru keluar dari pintu masuk restoran.



Kakinya melangkah mendekat.



"Eh.. Dee awas!" Pekik Aleta langsung berlari dan memeluk tubuh Deena, membuat sahabatnya terlonjak dan sedikit limbung.

__ADS_1



Dengan bola mata melebar dan pikiran yang masih mencerna kejadian barusan.



Setelah Aleta berteriak dan memeluknya, bersamaan seorang pria menghunuskan sesuatu tepat kearah perut.



Deena masih belum mencerna semuanya.



Seketika tubuh Aleta menegang dengan raut wajahnya tampak memucat, alis bertaut dan pikiran kosong seketika.



"Sialan!" Pekik Hanska setelah melihat belati tajam sudah tertancap di tubuh Aleta.



"Dee, lo.. syukur..lah, baik.. baik aja." Ucap Aleta terbata dalam pelukan Deena.



"Al..Aleta!" Pekik Deena setelah berhasil mencerna keadaan yang sempat membuat otaknya kosong.



"Ale.. sayang!" Teriak Dirga langsung menahan pundak gadisnya yang masih setia memeluk Deena.



"Sebaiknya kau bilang siapa yang menyuruhmu, sebelum kubuat kau memohon untuk dibunuh." Ucap Hanska dengan raut dingin yang mengintimidasi.



Setelah pria itu menyerahkan Deena dan Aleta pada Dirga, Hanska langsung melumpuhkan pria yang tadi berniat untuk menusuk istrinya lalu menghubungi Arga.



Entah harus bersyukur atau tidak, andai saja Aleta tak langsung memeluk istrinya, mungkin saat ini Deena bahkan ketiga bayinya dalam bahaya.



"bertahan lah ku mohon, gadis kecilku!" Bisik Dirga mencium pelipis Aleta sayang.



Aleta jadi teringat beberapa menit lalu, supir itu mendoakannya panjang umur dan sehat selalu.



Tapi jika dilihat kini, mungkin Dia akan menemui ajalnya.



Pikir Aleta.



"Jika kau menyerah, aku akan terus membencimu." Ucap Dirga.



Aleta meringis dan sedikit meledek kekasih masa kecilnya itu.



"Bu..kannya ini keinginan..mu dari dulu?" Tanya Aleta terbata.



"Tuan.." Ucap Arga datang langsung mengambil alih penjahat itu dari tuannya.



Sebelum media datang dan lebih banyak yang mempertontonkan mereka.



"Ambil alih, interogasi dengan *istimewa*." Titah Hanska memberi isyarat pada tangan kanannya itu.



"Ayo kerumah sakit." Hanska langsung membuka pintu mobil untuk mempersilahkan Dirga yang menggendong Aleta masuk.



Deena sudah lebih dulu duduk di jok depan, samping Hanska.



Dengan cepat pria itu menghidupkan mesin mobilnya, lalu langsung mengendarai membelah jalan, menuju rumah sakit terdekat.



**To Be Continue** \>\>



**Gimaneee? kurang gregett? mon maap up ngaret😭 emang guek ga bisa diandelin banget, cih**.



**Cusss dah follow cerita ini, like and komen sesuka dan baik hati di bawah** .


__ADS_1


**NEXT NEXT NEXT NEXT NEXT**!!!


__ADS_2