
Maaf atas keterlambatan Rhea, dikarenakan perasaan sedang berkabung 🤧 semoga tidak mempengaruhi isi cerita.
Okee next. Happy Reading ♥️ and Hati" typo..
______________________
Belum sempat wanita itu berlalu. Dari arah tangga, turun seorang gadis mengenakan Dress berwarna navy silver dengan gaya mermaid, rambut belakangnya di gulung indah, sedangkan bagian depan seolah tergerai bebas namun tetap memberikan kesan elegan.
Deena tampak seperti wanita dewasa yang memancarkan aura positif.
Laras dan Ratih menggeram kesal melihat Deena yang seketika menjadi pusat perhatian. Terdengar orang di sekeliling mereka berdecak kagum melihat kemolekan Deena.
"Kakak, baru saja aku akan memanggil. Sudah di tunggu papa ayo." Tiba-tiba Laras menggandeng lengan Deena dengan manja. Seolah mereka berdua memiliki hubungan baik.
Sungguh gadis ular. Tapi baguslah, aku akan ikut bermain drama kalian.
Batin Deena sarkas.
"Kenapa kamu tak memakai gaun pemberian mama nak? apakah segitu bencinya kamu dengan mama?" Ucap Ratih pura-pura sedih agar yang melihat merasa iba, sedangkan Deena akan tampak jahat.
"Anak jaman sekarang banyak yang keterlaluan." Celetuk salah satu wanita baya dengan kipas di tangannya.
"Iya jeng, setidaknya di hargai." Tambah satu lagi.
Laras dan Ratih saling pandang melempar senyum. Mereka saat ini berada di perkumpulan para nyonya sosialita.
"Iya kak, bahkan mama sudah keliling berjam jam untuk memilih kan kakak gaun." Tambah Laras memanas-manasi.
Deena, gadis itu masih terlihat tenang, sambil memutarkan mata jengah.
Gadis itu tersenyum. "Ma.. bukankah di surat yang mama taruh jelas tertulis, gaun itu untukku mengahdiri makam istri pertama papa, yang tak lain adalah mama kandungku, Thalia?"
Penjelasan Deena membuat ibu-ibu sosialita itu saling pandang. Sebab beberapa ada yang belum mengetahui perihal tersebut.
Ratih sudah menggeram kesal semakin naik pitam. Jika saja Ia lupa saat ini acara masih berlangsung, sudah Dia cakar habis wajah bodoh Deena. Pikirnya.
"Sudahlah, ayo ke tempat papa, sudah di tunggu." Ajak Ratih berlalu tanpa pamit.
Dibelakangnya para istri dari collega Bakara sudah berbisik-bisik nyinyir. Deena tersenyum puas, telah memberi pukulan telak ke wajah Ratih, skornya kini satu point.
"Papa memanggil saya." Ucap Deena berdiri di samping sang ayah.
"Wah Bakara, apakah ini anak tertuamu? Anggun sekali." Ucap Danu berdecak kagum.
Terlihat beberapa pria muda berjalan mendekati mereka.
Laras geram, seharusnya perhatian itu tertuju padanya.
Dengan berbisik. "Kak lihat mereka, pasti selera mereka begitu rendah hingga menyukai gadis murahan sepertimu." Ucap Laras memanas-manasi Deena. Tapi seolah tak termakan ucapannya.
Deena justru menunjukan senyum. "Setidaknya, pandangan mereka menunjukan betapa mempesona aku walau tanpa make up tebal. Tak seperti dirimu, berdandan menor begini pun masih tak bisa menarik perhatian mereka." Jawab Deena santai.
__ADS_1
"Kamu!!" Tanpa sadar Laras membentak.
"Adik, kenapa kamu berteriak, saat ini pesta sedang berlangsung, kita juga bukan di hutan." Ucap Deena dengan anggun tampak memperingati.
Sekarang, terlihat gadis itu berprilaku dewasa, semantara Laras seperti tak tahu aturan.
Bakara melotot kearah Laras dengan isyarat teguran. Gadis itu kicep.
"Perkenalkan lah, ini putri tertua saya. Namanya Deena Prameswari." Ucap Bakara memberkenalkan Deena.
Gadis itu tersenyum manis, siapapun yang melihat, akan terpikat oleh senyuman nya.
"Senang bertemu anda semua tuan nyonya, semoga kalian menikmati jamuannya." Sambut Deena ramah, membuat orang di sekitar mereka senang mendengarnya.
"Nona, perkenalkan nama saya Hendri Zhang, senang bertemu dengan anda." Terlihat pria muda tampan mengulurkan tangan kearah Deena.
Diikuti beberapa pria lain.
"Saya Zico Andrian."
"Saya Fernando Koto."
Gadis itu menyambut ramah. "Tentu tuan, senang bertemu anda sekalian."
"Silahkan dinikmati hidangan yang tersedia, saya permisi." Ucap Deena hendak undur diri.
Deena menyapu pandangan kearah Ratih dan Laras yang memandangnya dengan tatapan merendahkan.
Gadis itu menyeringai, kini point mereka dua kosong.
Satu notifikasi masuk. Deena berjalan kearah meja yang penuh dengan hidangan, haus kini menjalari tenggorokannya.
Om Mesum 😤
Hey bocah, aku hanya mengingatkan mu, jam 9 harus sudah sampai di kantorku, awas jika lewat satu menit. ku hukum kau.
Begitu isi pesannya. Deena memutar bola mata malas, sambil meneguk minuman bersoda di atas meja. Berganti melihat jam.
Dasar pemaksa, sebentar lagi jam sembilan.
Batinya merutuki.
Tampak Laras dan Ratih berjalan mendekat.
"Puas sekali kau mempermalukan kami." Ucap Ratih sewot, meskipun begitu, Dia tetap memperhatikan nada bicaranya.
Laras berdiri di sampingnya, guna mengalihkan perhatian Deena.
Gadis itu melipat tangan. "Kegenitan, sok tebar pesona." Ejek Laras mencebikkan bibir.
Deena berdecak. "Iri? bilang boss." Jawabnya meneguk kembali minuman bersoda di meja.
__ADS_1
Tanpa Deena sadari, Ratih dan Laras tersenyum puas melihat Deena meminum, minuman yang baru saja mereka tambahi obat kedalamnya.
"Huh, sombong sekali kau." Sewot Ratih membuang muka.
Laras menggandeng lengan ibunya. "Sudah biarkan saja dia ma, nanti juga masalah akan menghampirinya." Terlihat mereka berlalu dari hadapannya.
Deena mengedikkan bahunya acuh, meminum kembali hingga minumannya tandas.
"Kalian bersiaplah, sebentar lagi dia akan datang." Ucap Ratih dengan orang suruhannya.
"Baik nyonya." Balasan dari sebrang sana.
"Biar tau rasa j*lang murah*n itu, berani sekali dia menyebut si jal*ng Thalia di depanku." Kesal Ratih disetujui oleh anaknya.
Mereka saat ini berada di balkon rumah untuk menjalankan aksi busuk mereka.
"Mama benar, mereka berdua memang sama sama murah*n, sial, aku hampir saja dimarahi oleh papa."
"Apa mama sudah menyuruh preman itu untuk mem-vidio aksi mereka? sekalian kita hancurkan saja reputasinya, biar tak ada lagi pria yang mau menikahi gadis rusak itu." Tambah Laras mengepalkan tangannya.
Ratih mengangguk. "Udah dong nak, kamu tenang saja. Sebentar lagi dia akan di dampr*t dari keluarga ini, biar mampus tuh menjadi gembel sekalian." Ucap Ratih tertawa.
"Hahaha.. mama benar."
Deena berjalan keluar pekarangan rumah Bakara dengan kesal. Sebentar lagi, jam menunjukan pukul sembilan, dan jika Dia terlambat, Hanska pasti akan menghukumnya dengan hukuman aneh yang tanpa sadar Deena sukai.
(Sorry Dee, emak buka kartu hihih 😆)
Terlihat taxi berhenti dihadapannya, padahal niat hati ingin memesan taxi dari aplikasi berwarna hijau di ponselnya.
"Mari nona, akan saya antar ke tempat tujuan." Ucap sang supir dengan bagian kanan wajahnya di penuhi luka, namun tak nampak dari posisi Deena.
Dengan tanpa ragu, Deena menaiki taxi tersebut.
"Ke Alz group ya pak." Ucap Deena.
Mobil berjalan sangat lambat, membuat gadis itu semakin tak nyaman duduk di posisinya.
"Pak, bisa cepetan dikit, saya sudah di tunggu." Ucap gadis itu dengan sedikit nada kesal dalam ucapannya.
Bisa gawat jika Hanska benar-benar menghukum dirinya.
Sang supir menyeringai. "Nona tenang saja, sebentar lagi kita akan sampai tempat tujuan."
Gadis itu mengerutkan alisnya. Dia tersadar, jalan yang mereka lalui bukan ke arah perusahaan Hanska. Kini sekelilingnya tampak sepi dengan pohon-pohon tinggi.
Perasaan kalut melingkupi dirinya.
Tubuhnya mendadak lemas, terasa terbakar di tenggorokan, dan sekujur badan terasa panas, ingin rasanya Deena melepas seluruh pakainnya.
"Hey, kau akan membawaku ke mana? ini bukan jalan menuju Alz Group." Bentak Deena hilang sabar.
__ADS_1
Terlihat mobil berhenti, di depan rumah kumuh dengan penerangan minim itu. Tampak lima orang pria bertato berdiri seolah menyambut kedatangannya. 😈
To Be Continue >>>>