Presdir Bucin

Presdir Bucin
Mode Bumil On


__ADS_3

Semoga yang Patah Tumbuh, yang Hilang Berganti, yang Hancur Lebur akan Terobati, yang Sia-sia akan Jadi Makna. ~


Heheh.. Kuyy lanjut, Hati-hati typo, Happy Reading 🧡🧡


__________________


"Sayang~" Panggil Deena manja dengan suara centilnya mencolek pipi Hanska.


Tak menggubris, suaminya itu malah terus asik dengan saham di ipadnya walau hati ingin langsung menerkam sang istri.


Sial! Manis sekali.


Batinnya kesal. Pura-pura marah sungguh sangat menyiksa.


"Ngambek nih? Hmm, padahal udah jam makan siang, tapi Deena nya tetep di anggurin dong." Masih kekeuh menggoda suaminya.


Kalau tadi masih mencolek di pipi, kini jarinya turun ke daerah dada, tempat dimana Hanska angkat tangan jika Deena sudah menggambar pola-pola abstrak seperti itu.


Tapi hari ini Dia mencoba sekuat tenaga dan berhasil melawan godaan istrinya.


"Humm, beneran ngambek yee." Deena masih kekeuh menggoyahkan pertahanan suaminya.


Sebelah tangan Deena turun mengelus dengkul lalu menjalar kepaha bagian dalam Hanska.


"Sial! kenapa mode bumil begitu mengerikan Deena?!" Geram Hanska sudah tak tahan lagi, istrinya ini benar-benar menggoda.


Bukannya baper apalagi balik marah, Deena malah terkikik geli melihat dirinya menang karna berhasil menggoda sang suami.


"Habisnya dari tadi Deena didiemin mulu." Omel Deena, setelah Hanska melepas ciuman gemas pria itu dari bibirnya.


Hanska mencibir lalu meraup lagi bibir Deena. "Kenapa pagi tadi kau langsung menghilang entah kemana?" Tanya pria itu protes.


Deena menahan bibir Hanska dengan jari telunjuknya. "Bukan hilang entah kemana Hanska, kan Deena udah ninggalin catetan mau pergi ngemall bareng mama."


"Walau begitu aku harus tetap ikut baby, kalau ada pria-pria nakal menggodamu gimana?" Gerutunya memeluk pinggang sang istri posesif.


Hanska mengangkat tubuh Deena keatas pangkuannya dan menghadap dirinya.


"Iya deh, kalau gitu temenin Deena kebutik ya jumpa mama disana, sekalian kamu juga coba setelan jasnya." Bujuk Deena menepuk pundak sang suami.


"Tak mau." Pria itu menjawab cepat.


Tangan kanannya yang bebas dari pinggang Deena, meraih ponsel tipis miliknya.


"Datangkan desainer Rhea ke ruanganku, bawakan juga beberapa set gaun pernikahan dan tuxedo pasangannya." Titah Hanska berbicara melalui ponselnya.


Deena langsung menoleh tak senang. "Ga mau! ga! Deena maunya kita ke tempat yang ditunjuk mama." Tolaknya mentah-mentah.


"Kenapa? Dari pada kita kebutik, lebih baik butiknya yang dateng kesini." Jawab pria itu.


Istrinya tampak menggeleng kuat. "Hanska, Deena itu butuh refreshing. Butuh udara seger juga, ayo dong kita sekalian jalan-jalan." Bujuk istrinya cemberut.


Hanska hanya berdehem lalu mendial nomor yang baru saja ditelponnya tadi.


"Batalkan." Ucapnya singkat, padat dan tak jelas.


"Udah kan." Hanska bisa melihat senyum puas dari bibir sang istri.


"Oke! nah buka mulut, aaa.." Ucap Deena menyuapkan buah anggur kesukaan Hanska.


Diterima pria itu. "Hmmm. Sering-seringin gini Dee, dijamin tim sepak bola mah sanggup." Ucap Hanska ngawur.


Deena langsung melotot, pahan akan ucapan suaminya.


"Bibir ga di filter, emang kamu pikir Deena ini apaan? Dikata lahiran ga sakit hah." Deena sewot sambil mencibir.


Hanska malah terkekeh geli melihat respon istrinya yang tampak kesal bin imut itu.


"Dee, pernah gak mikir kalau keluargamu saat ini bukan keluarga kandungmu?" Tanya Hanska memainkan rambut Deena.

__ADS_1


"Atau pernah merasa kalau kau itu anak tiri dalam hati?" Tambahnya.


Deena mengangguk semangat dan menjawab suaminya amat serius.


"Pernah!" Serunya mengangguk-angguk plus menatap lekat kearah Hanska.


"Tapi kalau diinget konyol sih sempet mikir gitu, walaupun emang kaya anak tiri gan, hikss." Jawab Deena mendrama.


Pandangannya menunduk seolah-olah sedih.


"Sayang banget, kalau beneran bukan keluarga kandung pasti kau sudah berbahagia dan mencari keluarga aslimu." Pancing Hanska.


Deena mengangguk semangat lagi dan hal itu dapat ditangkap oleh Hanska. Walau pria itu seolah cuek dengan memakan buah anggurnya.


Tapi perhatiannya terus ke sang istri.


"Bener banget, tapi untungnya Deena punya Hanska!" Jawab Deena memeluk suaminya manja.


"Udah keren, pemarah, posesif, bucin lagi." Tambahnya antara memuji dan meledek sang suami.


"He.. perumpamaan macam apa itu." Hanska mendelik.


"Hihihi, kalau misalnya Hanska membuang Deena dimasa depan, kan Dee-nya dah kebal duluan sama keluarga." Ucapnya ngasal.


"Kau memang harus kuhukum." Geram Hanska mengangkat istrinya dan membawa tubuh Deena keatas bed king size miliknya.


Istrinya hanya tertawa geli. "Ga mau hahaha."


"Jangan pernah dalam benakmu pikir untuk pergi dariku." Hanska menggeram, lalu melahap istrinya tanpa ampun. Tapi masih memperhatikan ketiga bayi dalam perut Deena.




"Hans, ga ada rencana punya rumah sendiri nih?" Tanya Deena setelah sesi hukum menghukum dari Hanska.




Walaupun ada asisten khusus yang bertugas beres-beres dan mencuci setiap hari, tapi tetap saja Deena harus mengintip dari sela pintu jika ingin keluar, apakah ada tamu atau tidak dan masih ada lain lagi.



Hanska menjentikkan jarinya.



"Ada,sudah kusiapkan sejak lama." Jawab pria itu.



"Beneran?" Tanya Deena semangat, fantasinya sudah melayang jauh untuk mendekor rumah mereka.



Hanska menyentil pelan kening istrinya.



"Simpan dulu idemu, Awalnya aku membeli mansion di kawasan pinus itu hanya untuk investasi, karna aku masih sendiri jadi ku pikir lebih praktis tinggal di kantor dari pada pulang kerumah mama." Jelasnya.



Deena mengangguk bak anak kecil.



"Ayo ku tunjukkan dimana letak rumah baru kita." Ucap Hanska duduk dan membantu Deena untuk membersihkan diri dikamar mandi.

__ADS_1



"Asikk!" Pekik Deena, setelah itu mereka pun bersiap-ria.



"Kuyy cepetan!" Seru Deena semangat menggandeng lengan suaminya saat Dia selesai berdandan.



"Bocil." Ledek suaminya menggenggam lengan Deena.



"Sore tuan, nyonya." Sapa Arga melihat kedatangan dua tuannya.



"Sore Arga!" Balas Deena.



Hanska berdehem. "Arga, Handle kantor, aku dan istriku akan keluar." Titahnya.



"Baik Tuan." Balas Arga hormat.



**Di Sisi Lain**.



"Gimana?" Tanya sebuah suara.



Wanita yang ditanyai pun mengangguk, sambil membantu majikannya menata rambut.



"Sudah beres nona, tinggal nunggu target masuk jebakan." Jawab si asisten.



Wanita yang dipanggilnya nona tadi tertawa puas. "Bagus, aku mau j\*l\*ng kecil itu mati, sebab hanya aku yang pantas bersanding dengannya."



"Baik nona, sesuai titah anda." Jawab si asisten.



"Deena ya? siapapun itu harus mati." Monolog si wanita menatap cermin dengan bengis, seolah musuhnya berada tepat dihadapannya.



**To Be Continue** \>\>\>



**Ayoyoo siapa lagi lah yang mau celakai Deena. 😭😭**



**Kuy follow cerita ini, like and komen di bawah cepetan kuyy**.


__ADS_1


**NEXT NEXT NEXT**!!!


__ADS_2