
Dirgahayu Indonesia 🇮🇩 17 Agustus 1945
Semoga corona dan segala penderitaan rakyat Indonesia lekas selesai 💐💐💐
Teruntuk para readers
Maap yee bundd, agan" and sistaah" kalau aing upnya kelamaan, yaahh anggap ajalah karna ppkm tingkat 4😭 hmm itu lah pokona mah.
Kuyy lanjut, sebelum itu Hati" typo andd Happy Reading semuaa..🧡🧡💐
________________
"Ugh.. u..dah dong Hans!" Pekik Deena saat Hanska kembali menghentak dirinya.
"Hmm padahal aku belum mengeluarkan cambuk dan borgol loh baby." Ucap Hanska menggeram.
Ini lah hukuman, akibat Deena dengan percaya dirinya dibelakang Hanska membalas sapa teman sefakultasnya yang seorang lelaki.
"Ga mau!" Pekik istrinya.
"K..kan cuma balas sapaan doang sih, wajar Hans." Rengek Deena berharap suaminya akan berhenti.
Orang yang salah, Deena yang kena hukum.
Hanska mengabaikan rengekan Deena, alhasil suaminya itu menuntaskan lagi sampai dirinya terkapar tak berdaya diatas ranjang.
"Huftt.. maaf baby, ga ada kata puas danganmu." Ucap Hanska mengembuskan napasnya kasar.
Ditelisiknya wajah damai Deena dalam tidur. Sudut bibirnya tersenyum manis sekali, menunjukkan lesung pipi yang menawan.
"Tidurlah, kali ini kau ku lepas." Bisik Hanska mengecup bibir Deena lembut, setelah itu dirinya turun dari ranjang dan berjalan kearah kamar mandi.
Pikirannya jatuh pada beberapa waktu lalu saat Brey menemuinya.
Kilas Balik.
"Geiá sas kýrie. O Bréy thélei na synantitheí" Ucap Brey yang kini berdiri didepan pintu ruangnya dengan setelan office boy.
Hanska mengangguk. "Masuk." Titahnya.
"Saya mulai dari mana ya.." Gumam pria itu mengusap dagu.
"Info yang baru kemarin." Jawab Hanska mengingatkan untuk mencari informasi tentang pria bernama Abraham itu, rekan bisnisnya yang low profile.
"Ah itu, saya rasa anda akan tertarik." Jeda Brey.
"Mr. Abraham Axcel Lincoln, si jantung kota Galaksi dan berkebangsaan Bima Sakti." Ucap Brey menaikkan sudut bibirnya.
"Hmm jantung kota, kenapa aku baru tahu?" Tanya Hanska serius.
"Tentu tuan, hanya orang dari kota Galaxi saja yang mengetahuinya, maka dari itu sangat sulit memasuki kota tersebut." Jelas Brey. Hanska manut-manut membenarkan.
"Tak memiliki seorang istri, namun memiliki anak angkat seorang lelaki berusia 28 tahun. Tinggal di sebuah mansion yang jauh dari kota, lebih tepatnya di dalam hutan tropis milik beliau." Jelas Brey menunduk hormat.
"Maaf tuan, mereka sangat ketat menjaga informasi tentang pria itu di banding putri dari negara Mingzhun, Jika di teruskan takutnya mereka balik menyelidiki anda." Tambah pria itu memohon maaf.
Hanska mengangguk mengerti.
"Lalu, Informasi apa lagi?" Tanya Hanska.
"Saya tak sengaja menemukan sesuatu." Jawab Brey menyerahkan selembar foto berisi seorang gadis membelakangi kamera berdiri dilorong hotel dengan seorang pria menariknya.
Alis Hanska tertaut. "Apa ini?" Tanyanya menelisik foto tersebut dengan pandangan yang jatuh pada gelang giok di tangan gadis itu.
"Sepertinya anda menemukan jawabannya tuan." Ucap Brey yang tak perlu menjelaskan apapun lagi.
Kilas Balik Selesai.
Ssrrrr. Tak.
Hanska mematikan kran showernya, berjalan kearah rak dan membelitkan handuk dipinggang.
*Tok.Tok.Tok*.
"Permisi tuan." Ucap Arga mengalihkan Hanska dari berkas di tangannya.
Hanska berdehem. "Ada apa?" Tanya pria itu.
"Tuan Haidar sudah menunggu di ruang meeting tuan." Jawab Arga, Hanska langsung berdiri tadi tempat duduknya.
"Baiklah." Jawab Hanska mengambil langkah lebar dan berjalan cepat.
Dengan semangat yang menggebu, pria itu melangkah memasuki ruangan meeting.
"Haidar!" Sapa Hanska berseru.
__ADS_1
Pria yang di sapa Haidar itu langsung menoleh dan balas menyapanya dengan pelukan ala pria.
"Gimana kabar lo men?" Tanya Haidar menepuk-nepuk bahu Hanska sambil menilai penampilannya dari atas ke bawah.
Lalu Hanska menyuruhnya duduk dan merekapun larut dalam pembicaraan.
**Disisi Deena**.
"Mbaa Liza!" Teriak gadis itu saat tiba di ruangan khusus manager.
Beliza yang sedang fokus dengan berkas di tangannya pun terlonjak kaget dengan sapaan Deena.
Ya, semenjak kejadian itu.
Jika dipikir-pikir lagi, sudah hampir sebulan sejak Deena dibully oleh Yana dkk, Sinta dan Jenika yang berakhir dengan putusan Hanska mengangkat Beliza sebagai Manager dan Tamara sebagai Wakil Manager.
Tentu saja mereka senang, jabatan yang bermimpi pun Tamara merasa insecure mendapatkannya, nah saat ini keinginannya terkabul.
Yana, Sinta, Jenika dkk. Mereka menghilang bagai di telan bumi semenjak dikeluarkan secara hina dari perusahaan dan ikut terseret masuk media. Jangan di tanya lagi, tentu saja semua itu ulah suaminya yang pemarah.
Nasib tak berpihak pada mereka, sebab Deena pun tahu apa yang terjadi dengan para wanita nyentrik itu.
Iba? tentu tidak, apalagi yang dia iba kan. Seseorang yang sudah pernah merasakan penderitaan hingga di akhir hidupnya, mati dengan sadis.
***Flashback On***.
"*Ayo, aku akan tunjukan sesuatu." Ajak Hanska menarik lengan istrinya. Deena menurut mengikuti langkah Hanska*.
"*Selamat datang tuan, nyonya." Sapa mereka*.
*Deena tak sempat membalas sapaan mereka karena Hanska terus menuntun jalannya memasuki gedung tua itu*.
*Zzzrrtt*.
"*Ahhkk..!" Suara pekikan nyaring yang pertama kali menyambut gendang telinga Deena*.
"*Hikss lepasin!" Bentak suara lain*.
*Krieet*.
"*Tuan, nyonya." Sapa penjaga pintu dua orang pria dengan hormat*.
*Lagi-lagi, kemana sebenarnya Hanska akan membawa*.
*Batinya penuh tanya*.
*Mata Deena seketika membulat saat retinanya menangkap pemandangan ngilu dari dalam ruangan*.
*Ada lima orang wanita yang Deena tahu siapa mereka, masing-masing tengah duduk diatas kursi dengan tangan, kaki dan tubuh terikat*.
*Dan juga ada empat orang bodyguard dan satu orang pria, pria itu sekarang menoleh kearahnya setelah tadi menyapa Hanska*.
__ADS_1
"*Hai ipar." Sapa Arsenio menyipitkan matanya tersenyum kearah Deena*.
*Yah, tampak ramah bila orang yang melihat tapi tidak di posisi Deena, Arsenio malah kelihatan seperti malaikat pencabut nyawa*.
*Oh, Dia belum lihat jika Hanska yang turun tangan*.
"*Ha..halo!" Jawabnya gagu*.
*Deena langsung menoleh kearah Hanska. "Apa ini Hans?" Tanya Deena menuntut jawaban dengan alis tertaut*.
*Hanska malah membalas dengan senyum smirk*.
"*Kau tak mau membalas rival mu baby?" Tanya pria itu mengambil cambuk dan sarung tangan*.
*Deena yang melihat tingkah Hanska pun mulai bergidik*.
"*To..long..tolong." Ucap parau Sinta memohon pertolongan kearah Deena*.
*Dia kan yang menyiksa Deena paling parah*.
"*Lepas.. sakit hikss." Rengek Yana, di pipinya terdapat luka sayatan*.
*Hanska maju sambil menarik tangan Deena, menyodorkan satu cambukan untuk di pakai istrinya*.
*Cetass*!
*Bunyi tali menghantam lantai terdengar nyaring*.
*Hanska membantu Deena menghentakkan cambuk itu. "Pakai lah baby, kau bebas melukai siapapun." Ujar Hanska*.
*Deena menggeleng. "E..enggak mau!" Tolaknya takut*.
"*Tak ada yang perlu kau takutkan, beginilah menjadi istriku baby." Hanska menarik dagu istrinya*.
"*Mengerti?" Tambah pria itu menggeram*.
*Deena mengangguk merasa suaminya itu akan kesal*.
"*Hanska~ tapi Deena ga mau, membosankan kalau mereka di siksa kaya gini." Ucap Deena yang sebenarnya membujuk, agar suaminya itu menghentikan siksaan yang bagi Deena terasa, sakit*.
*Setelah itu dia berjalan maju sambil terkekeh menutup bibir dengan jari-jarinya*.
"*Ada hukuman yang lebih menyakitkan dan bertahan seumur hidup di ingatan." Ujar Deena dengan senyum tersungging*.
**To Be Continue** \>\>\>
**Masih flashback, belum selesai guyss**
**Jangan lupa Follow cerita, like and comment di bawah**.
**NEXT**!!!
__ADS_1