
Cus cusss wak!! lanjut kuyyy.
Sebelum itu, Happy Reading semwaaa hati-hati typo ๐งก๐
_______________
"Bahwa, berita tersebut adalah fitnah, tidak benar adanya. Tak hanya itu, saya juga ingin menyampaikan hal yang bersangkutan dengan pemilik yayasan, bapak Hanska Regantara Alzavier.." Ucapnya menggantung.
Membuat semua mahasiswa, kecuali yang satu ruangan dengannya tadi dan beberapa petinggi saling bertanya heran.
Termasuk Bakara, Laras dan Joandan.
Hanska mendengar namanya disebut pun spontan menoleh.
"Kenapa?"
"Ada hubungan apa?"
Bisik-bisik terdengar samar, namun Deena mengabaikan itu dan lanjut dengan ucapannya.
"Beliau adalah pria dalam foto tersebut. Siapapun yang memfitnah saya dan pria dalam foto tersebut, berarti memfitnah beliau juga!" Tambahnya dengan intonasi tegas.
Deena masih kesal mengingat suaminya ikut terseret oleh oknum tak bertanggungjawab, Dia tak suka itu.
Makin bertambah riuhlah suasana dalam auditorium itu.
"Bohong!" Bentak Laras berdiri dari kursinya.
Menuding Deena dengan jari telunjuk.
"Aku tau kakak tak punya pilihan, tapi apa sampai membawa nama pak Hanska? beliau bukan orang yang bisa sembarangan disinggung." Tegur Laras sok bijak.
"Beraninya kau!" Bentak Bakara ikut berdiri dari kursi. Kakinya langsung melangkah kearah podium.
"Hey Bakara! kau biarkan dulu Deena selesai menyampaikan klarifikasinya." Tegur salah satu petinggi perusahaan sekaligus orang kepercayaan Hanska.
"Cih, kau ingin melihat anakku membuat malu?!" Kesal Bakara menepis tangan Tony, salah satu petinggi tersebut.
Suasana makin riuh oleh orang-orang yang ikut menghina Deena, mereka menatap sinis gadis itu yang sembarangan menyinggung Hanska.
"Gak tau malu!"
"Cih, muka ular, lihat ntar begitu pak Hanska tau, mampus dia."
"Sayang banget IQ tinggi tapi bego."
"Denger penjelasan dulu, jangan langsung nuding."
Masih banyak lagi suara makian yang tersensor oleh author, but ini aja lah dulu.
"Cepat turun! kau membuat malu keluarga! tak tau diri!" Bentak Bakara langsung menarik paksa lengan Deena.
"Lepas! sakit pa." Ringisnya berusaha melepas cekalan tangan Bakara.
__ADS_1
"Diam! Kau sadar tak apa yang kau buat ini?!" Bentaknya menyeret tubuh Deena.
"Aku punya bukti pa!" Tegas Deena mengibas tangan Bakara, membuat cekalan tangan papanya terlepas paksa.
"Mana buktinya kalau pria itu pak Hanska?!" Tantang suara perempuan dari arah penonton.
"Cepat turun!" Cekal Bakara lagi.
"Lancang sekali kau!" Terdengar suara bass sarat akan geraman dari arah pintu masuk, membuat penghuni auditorium serempak menoleh kearah pria yang saat ini menatap tajam kearah podium.
Beberapa gadis yang tak menyukai Deena termasuk Laras memekik semakin menghinanya.
"Mampus tuh, tau rasa si Deena." Ejek mereka.
"Memang udik ga tau malu, bebek jelek pengen jadi phoenix."
"Seru pengen lihat pak Hanska nampar cewek."
"Haha kakakku memang bodoh, kalau ngomong suka ga pake otak." Ejek Laras menghina.
Saat melewati barisan duduk Laras, Hanska menghunuskan tatapan tajam seolah berkata.
Tunggu saja giliranmu.
Membuat Laras and the genknya bergidik ngeri.
"Berani sekali kau menyakiti istriku." Geram Hanska melepas paksa cekalan tangan Bakara.
"Istri?!" Pekik Bakara dan seluruh penghuni auditorium itu kecuali yang sudah mendapat undangan dari Deena.
"Siapa tadi yang bilang rela jilat ludah sendiri di lantai kalau Deena beneran istrinya pak Hanska? udah bisa lo lakuin." Sindir Tasyika melihat rombongan Laras.
"Makanya kalau ga bisa jaga lisan buang aja mulut lo ke tong sampah, dari pada yang keluar sampah semua kata-katanya." Ucap Gigi dengan pedasnya.
"Udah kita bilang kalau Deena itu nyonya muda Alz, kita aja dapet undangannya." Nimbrung Ibrahim, memamerkan undangan khusus lengkap dengan kartu kamar, kearah mereka semua yang tadi julid pada Deena.
"I..istri?" Gumam Bakara.
Pria itu yang tadi dengan angkuhnya menghina Deena, kini kedua lututnya seakan tak bertapak.
Melihat kemurkaan yang jelas terasa dari wajah si pemilik yayasan. Bakara meneguk ludahnya susah payah, bahkan untuk bernapas pun rasanya sulit saat melihat tatapan Hanska.
"Benar! Dia Istriku. Nyonya muda keluarga Alzavier." Tegasnya mengambil alih mikrofon dari tangan Deena.
Sebelah tangan pria itu merengkuh pinggang sang istri posesif.
"Kedatanganku saat ini juga untuk mengumumkan beberapa hal." Jedanya menatap Deena yang masih terbengong.
Tuk.
Hanska sedikit menyadarkan istrinya itu dengan ketukan ringan di kening.
"Tak sesuai ekspektasimu hmm?" Tanya Hanska meledek.
__ADS_1
"Huh, silahkan bapak Hanska Regantara Alzavier yang terhormat mengambil posisi." Jawab Deena menggembungkan sedikit pipi kirinya.
Bukan begini rencananya, Hanska bahkan tak ada dalam skrip untuk berbicara. Ah memikirkannya Deena jadi pusing karena rencana sudah melenceng, apa boleh buat.
"Pertama, Deena adalah istri sah dan yang pertama diakui menantu oleh keluarga Alzavier. Kedua, istriku sedang hamil saat ini, pria dalam foto yang tersebar di forum universitas adalah aku sendiri dan untuk perkataan yang menuding istriku ganti pasangan sampai hamil atau jadi wanita bayaran, itu semuanya adalah fitnah, aku akan menuntut siapapun pelakunya yang mencemari nama baik, mengganggu, apa lagi meneror istriku tanpa ampun." Jelas Hanska panjang penuh ancaman.
Suasana menjadi mencekam, saat ucapan Hanska dan tatapan pria itu terlontar untuk seluruh penghuni auditorium.
"Terakhir, aku mengundang kalian semua untuk hadir dalam acara pernikahan kami yang sempat ditolak istriku, mengingat dia masih menjadi mahasiswi di universitas ini. Asistenku dan beberapa temannya Deena yang akan membagikan undangan. Sekian." Tambah pria itu, langsung menarik Deena dan menyodorkan mikrofon pada siapapun yang mengulurkan tangan.
Semua yang ada di auditorium, hanya melihat kedua pasutri itu menghilang diantara pintu.
Di Posisi Lain.
Tampak damai sosok wanita yang sedang memejamkan mata, bagaikan dihamparan taman luas nan indah. Namun tak seperti itu isi dalam kepalanya.
"To..tolong! Selamatkan aku." Teriak suara perempuan berjalan dengan tertatih dikoridor sebuah hotel, tangannya bertumpuan pada dinding.
Peluh bercucuran dan udara terasa menyesakkan, tenaga perlahan melemah akibat dari efek obat afrodiasiak yang mulai bekerja.
"Itu dia di lift! hey jangan lari kau!" Teriak dua orang pria bayaran mengejar kearahnya.
"Hikss.. to..long." Lirih suaranya mengharapkan bantuan.
Nasib sial menimpanya saat kabur dari rumah dan bertemu dengan para pedagang manusia. Setelah diberi obat, dirinya akan disuruh melayani para tamu yang memesan.
Bruuk.
"Ahkk.. ti..tidak! jangan jual aku!" Teriaknya menutup mata, setelah tertabrak tubuh seseorang dan tersungkur di sudut lift.
"Hey, kau kenapa?" Tanya sosok pria tampak kesal.
"Ha.. tolong, tolong aku." Mohon gadis itu parau, Dia sudah tak kuat lagi melawan reaksi dari obat hasrat itu.
"Ikut aku! siapa namamu?" Tanya si Pria dengan cepat menarik tangannya melewati koridor setelah keluar dari lift.
"Tha..Thata!" Samar-samar tampak ruangan mirip kamar hotel.
"Panas~" Racaunya.
"Kau Thata?" Tanya pria itu lagi, gadis itu mengangguk.
"Masuk." Titah si pria, lalu kamar yang tadinya hanya berisi mereka berdua, kini tampak ramai dengan beberapa orang.
Dengan sisa tenaganya, gadis itu duduk di sofa dan mengabaikan mereka semua. Setidaknya harta berharga satu-satunya tak terenggut oleh pria ini.
Pikirnya.
To Be Continue >>>
Hayooo wak" gimanee?? komen kuyy di bawah!
Follow cerita ini, like and komennya dong๐
__ADS_1
See you. NEXT!! NEXT!!