
Happy Reading ♥️
_________________
Paginya. Deena terbangun mendengar suara khas milik Aleta. Ia terduduk mengucek matanya silau.
"Morning baby, bangun woy udah jam berapa nih, hari pertama kerja loh Dee." Sapa Aleta mengingatkan Deena.
Deena mengecek jam. "Muning too, iyee ini mau siapan." Jawab Deena.
Gadis itu segera menuju kamar mandi melakukan ritual paginya.
Setelah selesai, Deena akan pulang kerumah sebentar mengganti gaun sederhana miliknya. "Al, masih ada tuh cokelatnya ambil aja bagiin." Jelas Deena.
Ia menjeda teringat kata Hanska. "Takut gendutan aku." Tambahnya memakai sepatu.
Aleta girang. "Key sipp, titi dija lo yee." Ucapnya. Deena mengangguk.
Sesampainya di pekarangan rumah, Deena membuka pintu, berjalan masuk kedalam.
Terdengar suara erangan dari arah ruang tamu. Deena mengangkat alisnya, Ia mengedarkan pandangan.
Tampak Joan yang duduk bersenderan pada sofa, sedang menikmati kegilaan Laras dengan posisi adik tirinya berada diposisi atas.
Deena menggembungkan pipinya. Dia berdehem. "Sorry numpang lewat." Ucapnya.
"Astagah masih pagi, emang ya pengkhianat, kemarin aja masih ngirim buket segede gaban, eh sekarang malah sama yang lain."
Dengusnya bergumam pelan menaiki tangga.
Joandan yang panik langsung refleks mendorong tubuh tak siap Laras.
Brakk.
Terdengar dentuman. "Aduh!!" Pekik gadis itu merasa sakit dibagian pinggulnya, dorongan Joan membentur badannya mengenai bibir meja.
"Kamu apa apaan sih kak? dorong aku kaya gini." Protes Laras mengusap pinggulnya. "Sakit tahu." Tambahnya merengek.
Joan mengabaikan rengekan Laras. Membuat gadis itu berdecak sebal.
"De..Deena ini ga seperti yang kamu pikirkan kok." Bela Joan berdiri menghampiri Deena.
Deena menaikkan sebelah alisnya seolah bertanya. "Lalu, apa yang ku pikirkan?" Tanya gadis itu.
Joan kicep.
Deena malas meladeni, Dia berlalu dengan cuek bebek, berjalan memasuki kamar.
"Si*alan banget, mencemarin mataku aja kalian." Monolognya kesal.
Gadis itu membuka lemari, dress navy selutut dengan paduan warna silver menyilang, menarik perhatiannya. Segera Deena mengganti set pakaiannya, memakai sepatu tapak tahu berwarna senada navy, berjalan kearah cermin.
Deena memakai polesan natural di wajahnya, setelah dirasa cukup, Dia berjalan keluar menuruni tangga.
Terdengar suara keributan berasal dari ruang tamu lagi. Gadis itu memijat pelipisnya pelan, tak habis pikir melihat keluarga yang selalu ribut ini.
"Heh gadis busuk, kau apakan adikmu? kenapa sampai menangis begini?" Teriak Ratih memberondonginya dengan cercaan.
__ADS_1
Pandangan Deena berkeliling mencari keberadaan joan, namun nihil, tubuh pria itu tak Dia temukan dalam ruangan.
Wanita itu, ibu tirinya mencekal lengan Deena kuat, lalu menyeretnya mendekat kearah Laras.
Deena menyentak cekalan di tangannya. Terlihat pergelangan tangan mulus Deena memerah.
"Apa maksudnya, sejak kapan aku membuatnya menangis?" Tanya Deena tak suka disalahkan.
Laras menggandeng lengan Ratih. "Pinggul Laras sakit ma, ini semua ulah dia tuh, ga seneng lihat Laras sama kak Joan deket." Adunya melebihkan.
Deena menoleh sambil mengernyitkan sebelah alisnya, seolah berkata. Are you kidding me.
"Drama queen." Gumamnya.
Gadis itu cuek, melihat jam yang melingkar di lengannya. sebentar lagi jam 9. Jika Ia terlambat, Hanska yang bermulut pedas itu pasti akan menyinyiri dirinya lagi.
"Dasar kurang ajar! kau harus di beri pelajaran." Bentak Ratih melayangkan tangannya.
Plakkk.
Tanpa aba-aba, belum siap mengalihkan tatapannya dari jam di tangan. Satu tamparan telak mengenai pipi mulusnya.
Telinganya terasa berdengung, namun Ia tepis. Deena geram dalam hati, cepat atau lambat, Ia akan mengambil semua yang menjadi miliknya. akan Dia balas berkali lipat mereka yang menjahatinya.
Berpuas lah kalian sekarang, liat sebentar lagi.
Batinnya dalam hati.
Tanpa mempedulikan mereka ibu dan anak, Deena berjalan keluar rumah dengan perasaan kesal bercampur amarah.
Seperti biasa, Deena menggerai rambutnya, namun kali ini Ia berjalan menunduk, sudah bisa di pastikan, pipinya memar sebelah akibat tamparan tadi.
tok tok tok.
Ketuknya pada pintu berpahat, tanda sopan santun.
"Masuk." Jawab dari dalam ruangan.
Deena memasuki ruangan dengan mengendap. "Selamat pagi kangmas." Sapa Deena ceria, meluapkan kekesalannya.
"Hemm." Jawab Hanska berdehem.
Deena berjalan cepat kearah kitchen, untuk membuatkan Hanska segelas kopi. Inilah pekerjaan yang akan terus Deena lakukan.
Kemarin siang, setelah acara makannya dengan Aleta selesai. Arga datang dan menjelaskan semua, apa yang harus dan tidak boleh Deena lakukan. Termasuk mengurus kebutuhan pribadi tuannya.
Deena mengangguk paham, Ia sudah ingat semua ucapan Arga kemarin.
"Silahkan kopi dan kuenya mas." Ucap Deena meletakkan secangkir kopi dan sepiring kue pastry di meja Hanska.
Terlihat pria itu mengangguk tanpa mengalihkan tatapannya dari berkas yang Dia pegang.
Hanska menyeruput kopi itu. Deena sudah menanti-nantikan, kata mantab dari bibir pria itu saat meminum kopi. Namun, Ia tak mendengarnya.
Karena saat ini, Hanska dalam mode Serius akut.
"Jam berapa kerumah mama mas?" Tanya Deena. Panggilan aman baginya, dibanding harus dengan mebel-embel kang, kang. lebih bagus langsung saja memanggilnya dengan mas.
__ADS_1
"Setelah rapat." Jawab Hanska seadanya. Deena mengangguk mengerti, Hanska lagi tak bisa diganggu. Dia memilih berjalan kedapur.
Tok Tok.
Terdengar ketukan. Arga berjalan masuk sambil menunduk sopan. "Tuan, ruang rapat sudah siap." Ucapnya.
"Baiklah." Jawab Hanska meletakkan berkasnya. Dia bangkit dari duduk, berjalan dengan tenang keluar ruangan.
Rapat dimulai, suasana tegang meliputi seluruh penjuru ruangan luas itu.
Wajah Hanska saat ini dalam mode, intimidasi. Siapa yang melihatnya akan merasa tertekan, ingin kabur saja rasanya.
"Jelaskan, bagaimana bisa ada laporan seperi ini." Tekan Hanska melemparkan kembali laporan penurunan dari perusahaan.
Walau tak mempengaruhi apa-apa, bagi Hanska, sekecil apapun penurunan perusahaan, Dia menganggapnya sebagai sebuah kegagalan, dan Hanska paling benci itu.
"Lemot, lamban, kenapa kinerja kalian menurun? Beli cerebrovi* sana buat suplemen otak, biar ga lemot." Ucap Hanska pedas, membuat seisi ruangan hanya bisa meneguk ludah dengan payah.
Tak ada yang berani membuka suara, jika sang raja rimba sedang berbicara. Beberapa mereka hanya memilih diam menunduk, dan beberapa lagi membolak balikkan berkas ditangan.
"Aku mau, bulan depan sudah tak ada lagi hal seperti ini. Rapat selesai." Ucap Hanska berlalu dari ruangan.
Terlihat seluruh karyawan yang mengikuti rapat, menghembuskan napas lega. Merasa lega keluar dari siksaan aura Hanska yang membuat tertekan.
Brakk.
Terdengar pintu dibanting. Deena terlonjak kaget.
"Apa apaan mereka itu, mengurus hal begini saja tak becus, memang lemot semua." Ucap Hanska geram.
Pria itu menghempaskan tubuhnya di kursi kebesaran miliknya, sambil mengerut kan hidung.
"Dee.." Panggil Hanska.
Muncul lah Deena dari arah dapur. "Iya kangmas." Jawabnya.
"Sini pijat pundakku." Tunjuk Hanska kepundak kanannya.
Deena mengangguk mulai memijat pria itu. Tampak Hanska memakan kue pastry buatannya.
Matanya menagkap keganjilan. Pria itu menoleh melihat kearah sampingnya. "Kenapa dengan tanganmu?" Tanyanya menatap Deena.
Gadis itu gagap. "Ti..tidak apapa mas." Jawab Deena menunduk.
Alisnya semakin mengkerut, saat melihat pipi Deena yang merah samar membentuk lima jari.
"Kau di tampar?" Tanya Hanska lagi, bangkit dari kursi kebesarannya. Ia mengamit dagu Deena dengan ibu jari dan jari telunjuknya.
Gadis itu mendongak memperlihatkan paksa pipi kanannya.
Hanska menggeram. "Siapa yang melakukannya?" Tanya pria itu membentak. Geram, Hanska yang masih kesal, tambah kesal melihat penampilan Deena seperti ini.
"Sshh.. sakit mas." Ringis gadis itu saat merasa dagunya tak sengaja di cengkram Hanska kuat.
Pria itu melepaskan tangannya, mendorong Deena, membuat gadis itu terduduk di kursi kerjanya.
Deena mendongak menatap mata Hanska bertanya. "Kenapa mas?" Tanya gadis itu mengerjab.
__ADS_1
To Be Continue >>>>