Presdir Bucin

Presdir Bucin
Game


__ADS_3

Gapapa deh episode yang di gantung, dari pada hati yang di gantung? 🤪 hayoo, kalo Rhea sih bagusan episode nya aja, bener deh.


WARNING!! Adegan kekerasan


Mulai dari tengah ada adegan warning, jadi jika tidak suka, monggo di skip sayang"kuu♥️


Oke Happy Reading & hati" typo🍫


__________________


"Terus ini apa? kamu mau aunty adukan pada mamamu?" Tanya wanita itu menunjuk Deena, dan menelisik penampilan Hanska dari atas ke bawah dengan pandangan menilai.


Hanska sadar itu. "Dia di culik lalu diberi obat." Jelas Hanska singkat.


Mata wanita itu memicing melihat tubuh bagian atas Hanska yang polos, menampilkan bentuk roti sobek siap di gigit.


Pria itu juga ikut melirik tubuhnya.


"Yaelah nty.. ponakan sebaik dan se suci kaya Hans gini masa di tuduh macemin anak kecil sih?" Jelas Hanska pede.


(Padahal mah, tadi kalau ga keburu di ganggu, udah kelepasan si Hans.😝)


Tampak Salsa memutar bola mata malas.


"Paling satu macem doang." Gumam pria itu pelan, namun masih tertangkap oleh pendengaran Salsa.


"Hah.. sudah aunty duga, dasar ponakan nakal." Gemas Salsa ingin menggigit pipi pria itu.


"Bercanda Nty." Kekeh Hanska menyengir.


"Kamu mau tidak Aunty kasih obat, agar sekali tembak langsung jadi hihih." Bisik Salsa yang tak seperti bisikan. Terlihat dari ekspresi Arga yang tersenyum maklum.


Hanska menoleh cepat. "Astagah Nty, milikku ini sangat hebat, tak butuh bantuan obat obat, pasti langsung jadi bibit unggul." Jawab Hanska arogan.


Salsa menggeleng tersenyum.


"Deena sudah di beri obat penawar dan sudah mulai bereaksi, hanya saja nanti setelah Dia bangun, efeknya masih tersisa dan ada efek samping. Kamu akan sedikit kerepotan nanti." Jelas Salsa panjang lebar.


Hanska mengangguk-angguk pelan sambil mengusap dagu. "Baiklah, terimakasih Nty." Jawabnya.


"Yasudah kalau begitu Aunty balik dulu." Pamit salsa, sedikit berjinjit hanya untuk mencubit pipi Hanska yang sedari tadi membuatnya gemas.


Pria itu tersenyum. "Pasti nty lagi ngisi kan?" Tebaknya memicing.


Wanita yang tampak awet muda itu terkekeh. "Seneng banget, sekian lama Aunty menantikan akhirnya jadi juga." Girang wanita itu.


"Take care nty, jaga sepupu Hans yaa." Ucap pria itu ikut senang. Salsa mengangguk mantab.


"Bye."


Setelah kepergian tantenya, pria itu berjalan ke sisi ranjang, mendekati Deena yang sudah terlelap damai.


"Kali ini, kau ku lepas bocil. Tapi tidak lain kali." Tegas Hanska mengusap lembut, pucuk hidung Deena dengan jarinya.

__ADS_1


Pria itu bangkit berjalan kearah walk in closet, mengganti setelannya dengan setelan hitam.


Sudut bibirnya membentuk seringaian tajam bak iblis. Tatapan lembutnya tadi, terganti dengan tatapan dingin seolah akan membekukan siapapun yang melihat.


"Arga, siapkan jaguar." Perintah Hanska dingin. Pria itu berjalan melalui pintu rahasianya melewati rak buku.


"Tuan, ada lagi yang anda butuhkan?" Tanya Arga menyambut tuannya sambil membukakan pintu.


Braakk.


Hanska memasuki mobil hitam legam anti peluru kesayangannya.


"Aku akan bermain, jika Deena bangun sebelum aku kembali, segera hubungi." Jelas Hanska menyalakan mobilnya.


"Baik tuan." Tampak Hanska berlalu dengan kecepatan tinggi membelah gelapnya malam.


kruukk krukk kruuk


Suara burung hantu.


Anggg angg.


Dan gagak bersahutan.


Terasa hening tanpa hiruk pikuk kehidupan manusia, hanya ada suara alam, burung dan pepohonan saling bersahutan, tak peduli apakah saat siang atau malam.


Kawasan yang sangat jarang di lalui walau pada siang hari, apalagi saat ini pria itu melewatinya pada malam hari. Jalanan aspal itu terbentang diantara pepohonan pinus dan semak-semak tinggi.


Sekilas seperti hutan terbengkalai, kesan angker dan seram kental menyelimuti. Namun, daerah seluas 300 hektare itu adalah milik keluarga Alzavier, banyak penjaga rahasia tersebar luas di beberapa titik wilayah tersebut, cctv pun tak luput dari penyebarannya.


"Selamat datang tuan." Sapa hormat sepuluh penjaga siaga di depan pintu masuk.


Hanska hanya menjawab dengan sekali anggukan dengan terus berjalan.


Kakinya melangkah menuju lorong kedua, tempat di mana daerah eksekusi menengah di lakukan.


Bahkan, hanya untuk mengeksekusi saja harus ada tingkatan tempatnya.


"Argghhh.." Terdengar teriakan dari ruangan kelima. Hanska tersenyum menyeringai.


"Hahaha.. rasakan manisnya darahmu ini." Ucapan kejam dari bibir se*y Tama terdengar.


Hoeekk.


Kakinya berpijak di depan pintu masuk, ada dua orang penjaga yang menyambutnya hormat.


"Silahkan tuan." Ucap keduanya membungkuk.


Ceklek. Brak.


"Arrgghh.. Am..ampun." Terdengar memelas suaranya.


Pandangan yang menyambut Hanska saat dia memasuki ruangan, adalah keenam penjahat itu sudah dalam keadaan mengenaskan.

__ADS_1


"Yoo gimana gadis lo?" Tanya Tama dengan wajah tanpa dosanya, seakan-akan Dia tak pernah menyiksa orang sedikitpun.


Padahal saat ini, sekujur tubuh korban sudah di penuhi luka sayatan dari pisau di tangan kirinya, oke, Tama kidal yang tampan. Lihatlah gelas penuh darah di tangan kanannya, sudah di pastikan itu milik si korban.


"Cepet banget lo selesainya, jangan bilang kalau kemampuan lo bener bener payah?" Ucap Zibrilio jenaka.


"Sialan lo, gue buktiin sekali lahir anak gue langsung tiga." Jawab Hanska tegas. ketiga sahabatnya saling memberi kode jenaka.


Dihadapan Zibril, keadaan korbannya tak jauh beda dengan korban Tama yang penuh sayat, hanya saja di bagian kuku tampak copot tak bersisa.


Arsen? Jangan di tanya lagi, setelah Hanska, pria itu yang paling kejam selanjutnya dibanding Tama dan Zibril.


Dua korban milik Arsen yang paling mengenaskan. Keduanya sama-sama di botak, dengan bagian perut sudah bolong dan mata mereka di tutupi oleh perasan jeruk lemon.


Oke, mereka hanya menyisahkan satu korban, bagian Hanska yang mengeksekusi, Dia saat di cyduk tengah menindihi tubuh Deena.


Pria itu berjalan dengan angkuh sambil menunjukkan seringai iblisnya.


"Keluarkan alatku." Titahnya tegas.


Muncul lah kedua bodyguard dengan yang satu membawa alat berupa pisau bedah, jarum dan benang, jeruk nipis, cairan, jarum suntik, kawat berduri dan masih banyak lagi.


Sedangkan yang satu, tengah menyodorkan sarung tangan silikon untuk di pakai olehnya selama mengeksekusi.


Kakinya melangkah maju, kehadapan pria dengan satu bola mata sudah tercongkel saat Hanska menghukumnya di tempat.


"Permainan di mulai." Ucapnya bak malaikat pencabut nyawa sambil mengangkat pisau bedah.


"Jangan.. ja..jangan."


"Arghhh.."


"To..tolooong."


"Ampunn.. Arghhh."


"Aku.. ampun aarrgg."


Tama dan Zibril sedikit ngilu melihat keganasan Hanska dalam menyiksa korbannya, lebih parah di banding Arsen, pikir mereka.


Sedangkan Arsen, tampak tertawa bahagia saat melihat Hanska mulai membedah perut korban lalu di jahitnya kembali dengan benang dan jarum tanpa bantuan bius sedikitpun.


Begitu seterusnya hingga di bagian lain, seperti paha, mata, pipi dan dada sekalipun. Entah apa tujuannya, hanya saja membuat mangsa berteriak menderita dengan putus asa sangat membahagiakan bagi dirinya.


Inilah yang mereka sebut, memohon untuk mati.


Tak sampai di situ, Hanska mengambil kawat berduri halus sepanjang tiga meter, dan membelitkannya di tubuh mangsa. Belum siap, Hanska memeraskan jeruk lemon di sekujur tubuh penuh luka mangsanya itu.


"Aaarghh.. hikkss aaargg.."


"Sakit.. aarggh." Jeritan kesakitan terdengar ngilu.


Iya, pria itu memang kejam jika sudah menghukum musuhnya, siapapun tak ada yang boleh mengusik milik Hanska. Pria itu seperti kanker, diam-diam mematikan.

__ADS_1


To Be Continue >>>


Greget banget nulisnya asli, sambil ngebayangi beneran adegannya, sampe riset 😭😭 gapapadah aing jabani. lop youu kalian semua para pembaca silent kuu😚


__ADS_2