Presdir Bucin

Presdir Bucin
Sisi Lain Hanska


__ADS_3

Aing ga kasih cast yee.. biar kalian membaca dengan fantasi liar kalian๐Ÿงก


BTW sebelum lanjut ada tiiiittt, mungkin semi kekerasan ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜‚ yang ga suka monggo skipp yee bundd..


Happy Reading ๐Ÿ’œ Hati" typo cincaaah"kuh


________________


"Hei!! Siapa kau?!" Bentak suara pria menginterupsi kegiatan mereka.


Keduanya menoleh kesumber suara.


Pria blasteran Arab-Indo itu berjalan cepat merebut anaknya dari pelukan Deena.


"Daddy! tok lama tepon na?" Omel gadis kecil itu kepada Daddy nya.


"Maafkan Daddy sayang." Jawab pria itu mencium gemas pipi gempal anaknya.


"Kakak pulang dulu ya cubby." Ucap Deena hendak mencubit gemas pipi Nana, namun segera di jauhkan Daddynya.


"Hey kau! Kenapa anakku sampai terluka begini?!" Tanya pria itu menatap Deena tajam seolah menuduh.


"Woy bang! lain kali anaknya jangan di tinggal sendiri dong, gimana sih, anak jatuh juga ga tau, malah nyalahin orang ck ck ck." Sewot Deena kesal menegur ayah dari Nana, matanya balik mendelik melihat pria itu sambil mendongak berkacak pinggang.


Wajar, tinggi Deena hanya sebatas dagu pria itu.


"Beraninya kau!.." Bentakan Pria itu terpotong mendengar ucapan putrinya.


"Dad! janan malain tatak tantik. Tadi Nana datuh luka tatik na, tatak tolong." Bela Gadis kecil itu sekalian mengadu, menunjukkan dengkulnya yang sudah terbalut plester.


"Ehem.." Pria itu berdehem karena sudah impulsif. Deena tak peduli lagi, dia segera pergi.


"Hey tunggu!" Panggilnya saat Deena sudah berjalan menjauh dari mereka.


"Ckk sayang banget anak se gemoy itu punya bapak judes." Monolog Deena saat dirinya sudah puas berkeliling setengah dari keseluruhan luas hotel milik suaminya.


Kakinya hendak melangkah memasuki area gym yang terletak di dekat lobby hotel. Namun, saat melihat mobil suaminya sudah terparkir di depan lobby, diikuti Hanska beserta Arga berjalan masuk ke dalam.


Entah apa yang membuat Deena panik.


Deena segera putar haluan berjalan menuju lift untuk kembali ke kamar. Herannya, untuk apa coba Deena harus repot balik ke kamar sebelum suaminya itu sampai duluan?


Ah ya. Deena ingat pesan suaminya tempo lalu di jet pribadi milik Hanska.


Flashback On.


Sambil mencumbui Deena di salah satu kamar dalam jet pribadinya, Hanska menjeda sebentar.


Menatap sang istri yang tampak sangat sexy walau bertubuh mungil dan berpipi bulat. Apalagi kalau peluh sedang bercucuran di sekujur tubuh Deena.


Menambah kesan sexy berkali lipat untuk di jamah.


"Dee, ingat ini!" Ucap Hanska mencubit pipi Deena. Dia sungguh tak rela tubuh istrinya dilihat oleh pria lain walau hanya se centi.

__ADS_1


Deena menoleh berdehem. "Nda usah di tubiiit ugha pipi nya." Protes Deena kewalahan saat Hanska menarik-narik gemas kedua pipi Deena.


"Ingat! Ga boleh keluar sendiri, ga boleh ngobrol sama pria lain, ga boleh lirik pria lain, ga boleh pakai pakaian pendek saat keluar!" Titah Hanska tanpa bantahan.


Deena hendak protes, namun Hanska sudah lebih dulu mendelik padanya.


Cetaak.


Sentil Hanska di jidat sang istri.


"Cakiiitt.." Protes Deena.


"Kalau melanggar, kau akan ku hukum Dee.. ingat itu!" Tambah Hanska tegas.


Deena Hanya mengangguk saja mengiyakan.


Flashback Off.


Rupanya Deena mengabaikan titah sang suami saat ini, membuat jantungnya berpacu dua kali lipat saat dirinya sudah berada di dalam lift hotel yang masih terbuka.


"Duh lama banget nutupnya!" Monolog Deena gemas.


Tak hanya dia sendiri di lift tersebut, ada beberapa tamu juga.


Sialnya, belum sempat pintu tertutup rapat suaminya itu sudah memergokinya dengan seringaian tajam, menatap kearah Deena.


Gleekk.


Tingg.


Bunyi dentingan. Lift berhenti di lantai yang di tuju oleh Deena.


Segera saja Dia berlari, takut suaminya itu sudah menyusul.


Dan benar, Hanska keluar dari lift lain tak lama lift Deena berhenti.


"Dee..! kau melanggar titah ku hee, kau harus dihukum!" Ucap Hanska terdengar bergema di lorong sepi area presiden suite itu.


Hanska mengambil langkah lebar dengan kaki panjangnya, menyusul sang istri yang sudah berada di depan pintu kamar.


Tinining.


Bunyi verified. Pintu terbuka.


Braak.


"Aaaa..!! ampun mas ga Dee ulangi." Teriak Deena saat suaminya dengan cepat menutup pintu, mengunci Deena diantara pintu.


Hanska menarik dagu Deena, membuat istrinya mendongak.


"Hukuman tetap hukuman sayang, kau sudah melanggar dua titahku." Ucap Hanska menyeringai melihat penampilan Deena dari atas ke bawah.


Padahal mah tiga yang di langgar, kalau Hanska tau aja๐Ÿ˜œ

__ADS_1


Pria itu langsung menggendong Deena ala koala, mengangkat istrinya menuju kamar.


Braaakk.


"Mas.. hari ini skip dulu ya pleaseee." Bujuk Deena saat Hanska melemparnya keatas bed king size itu.


Hanska sudah menanggalkan satu persatu setelan nya Dia lempar begitu saja, tinggal celana bahan yang Hanska sisakan.



Pria itu merangkak menaiki ranjang, menarik kaki Deena membuat istrinya telentang.


Langsung saja Hanska melucuti hoodie kebesaran istrinya, menyisakan celana pendek dan kaus tipis yang masih melekat pada diri Deena.


"Apa ini? kau keluyuran memakai pakaian begini?" Tanya Hanska mengeram tanpa menuntut jawaban.


"La.. lagi nge trend tapi mas." Jawab Deena dengan muncul semburat merah di pipi, jantungnya sudah berdetak kencang.


"Kenapa kau masih malu?" Tanya Hanska serak membelai pipi istrinya.


"Ti.. Tidak!" Bantah Deena cepat.


Hanska mengecup singkat bibir ranum istrinya. Kemudian bibirnya menyeringai tajam, Hanska bangkit berjalan membuka lemari nakas, mengambil alat yang sudah di siapkannya tempo hari.


Borgol tangan bulu hewan, dan


Cambuk.


Deena melotot, kepalanya menggeleng. "Ma..mas buat apa itu?" Tanya Deena gagu bergidik ngeri saat melihat suaminya merangkak lagi ke ranjang.


Sreett.


"K..kok ta..tangannya di ikat sih?" Deena kalang kabut melihat Hanska menaikkan kedua tangannya keatas kepala dan mengikatnya dengan borgol.


Alamaak! tolong woee readers! Ga kesian apa sama aing?.


Batin Deena teriak, tangannya sudah terikat ke pilar sandaran tempat tidur.


Posisi Hanska berada di tengah-tengah paha istrinya, membuka kedua kaki Deena selebar mungkin.


"Let's play the game baby." Ucap Hanska dengan smirk.


"Mas.."


"Panggil aku Hanska! jangan lupakan itu saat kau bermain denganku baby." Bisik Hanska sensual mengingatkan Deena lagi.


"Hans...kahh." Sebut Deena mengalah tak mau mendebat.


To Be Continue >>>


Hohohoo.. gregeett aaa!! sepertinya akan panjang.


Yaak like, follow and Comment sesuka hati cerita ini..๐Ÿงก๐Ÿงก

__ADS_1


__ADS_2