
Drrttt. Drrttt
Terdengar getaran diatas nakas, letaknya di samping tempat tidur.
Hanska mengernyit, perlahan mata setajam elang pria itu terbuka, menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam retinanya.
Merasa ada yang berat di tangan, pandangannya terpaku sejenak menatap kedamaian tidur Deena dalam pelukan.
Drrtt. drttt.
Lagi, terdengar suara mengusik kegiatan menyenangkan Hanska pagi ini.
Pria itu tersadar, Dia menoleh kearah ponsel genggamnya diatas nakas.
Tama is calling.
Hanska melihat jam, tertera jarum menunjukkan pukul enam pagi. Berarti hanya dua jam Dia tertidur setelah pernikahannya dengan Deena.
"Ada apa?" Jawab Hanska mengangkat panggilan sahabatnya dengan nada jengkel.
"Yoo, sabar bro gue tau lo masih suasana malem pengantin baru ckck." Ledek Tama masih sempat-sempatnya.
Hanska berdecak. "Gue matiin nih, ganggu lo." Kesal pria itu masih setengah mengantuk.
"Hahah santai dong pak su, ini tentang masa lalu binik lo, gue jamin buat lo melek sekarang juga." Jelas Tama yang sontak membuat kesadaran Hanska pulih seratus persen.
Dan memang benar, pria itu terduduk setelah mengalihkan kepala istrinya dengan hati-hati ke atas bantal.
Tama tertawa dari sebrang sana. "Bagus, tunggu gue di ruang meeting." Jawab Hanska cepat memutuskan panggilan.
Sudah di pastikan, Tama menyumpah serapah Hanska saat itu juga.
Hanska bangkit berdiri, berjalan kedalam kamar mandi untuk bersiap menjumpai Tama. Sahabat sekaligus peretas terhebat di negaranya.
Ya, Hanska akui itu, walau Tama suka usil, dan yang paling ramah, namun keahliannya dalam meretas tak perlu di ragukan.
Selesai dengan kegiatannya membersihkan tubuh, pria itu menatap pantulan dirinya di depan cermin.
Setelan formal dengan warna jas kesukaannya yaitu navy, di padukan dengan celana bahan navy pula, kemeja putih dan dasi biru belang.
Hanska berjalan kearah ranjang, dimana Deena masih tampak damai dalam tidurnya. Pria itu dengan lembut mencium bibir Deena sebentar, tanpa mau mengganggu si putri tidur itu.
Mencuri kesempatan dalam kesempitan? Tentu tidak, ini hanya morning kiss.
"Selamat pagi tuan." Sapa Arga sopan sambil membungkuk melihat Hanska keluar dari ruangan kerjanya.
Pria itu mengangguk sebagai sapaan. "Bawakan sarapan ke ruang meeting. Aku akan menemui Tama di sama." Titah Hanska.
"Baik tuan."
Ting.
__ADS_1
Bunyi dentingan.
Hanska berjalan keluar dari lift khusus C.E.O diikuti Arga dibelakangnya.
"Selamat pagi tuan Tama." Sapa Arga melihat sahabat tuannya sudah duduk manis di atas kursi.
Tama tersenyum. "Pagi juga Arga." Balasnya.
"Sarapan anda tuan." Ucap Arga meletakkan Segelas kopi dan sepiring pastry di hadapan Hanska, begitu juga dengan Tama.
"Thanks Arga kebetulan gue lagi laper." Balas Tama.
"Urwell Tuan."
Sambil menyeruput kopi, Tama menyerahkan map cokelat kearahnya.
Hanska mengeluarkan isinya, tampak beberapa lembar kertas slip transaksi, data diri Deena dan keluarganya, terdapat juga beberapa lembar foto.
Hanska mengusap dagu pelan, matanya menyipit membaca lembaran pertama informasi yang diberikan Tama.
Fokusnya jatuh pada sebuah foto.
Tampak seorang bocah perempuan imut dengan rambut di kepang dua, wajahnya tersenyum ceria kearah kamera membuat bibir Hanska sedikit melengkung keatas.
Seakan terhipnotis oleh senyum bocah itu, Hanska pun ikut tersenyum.
"Itu foto bini lo waktu kecil." Jawab Tama tanpa di tanya.
Hanska membenarkan itu. "Ya, gue yakin hal itu, cuma beda di beberapa garis wajah aja."
"dan gadis muda itu Thalia Bakara, ibunya. Thalia saat itu berumur 24 tahun sedangkan Deena berusia 5 tahun." Jelas Tama sebelum Hanska menanyakan pertanyaan di otaknya.
Tampak pria itu manut-manut. Hanska tahu beberapa informasi tentang Deena dari Arga, saat pertemuan pertama mereka tentunya. Tapi tidak sespesifik milik Tama.
"Dan ini foto Thalia mengalami kecelakaan mobil." Ucap Tama menunjukkan foto kedua.
Tampak dua mobil hangus terbakar di dalam jurang. Hanska menelisik foto dengan pandangan elangnya.
"Lo tau ga semua korban hangus terbakar, sampe sampe gabisa di identifikasiin lagi mayatnya milik siapa aja. Dan saat itu, keluarga Bakara nyimpulin kalau mayat Thalia salah satu dari mereka, hanya karna si mayat pake gelang pernikahan dari Bakara." Tama masih melanjutkan perkatannya. sambil menunjukkan foto-foto beberapa korban.
Alis Hanska mengernyit melihat salah satu foto, tampak seseorang sedang memakai gelang giok biru dengan corak belang putih.
"Maksud lo ini?" Tanya Hanska menunjuk kearah gelang itu.
Tama mengangguk. "Hmm Iya, tapi herannya gue nih gelang itu ga pecah sama sekali, padahal kalau di telisik lagi kan kecelakaan nya duh parah banget, mobil ancur." Jawab pria itu.
Hanska telisik lagi foto itu, namun kali ini, bukan gioknya yang mencuri perhatian, namun korban dalam foto itu lebih menarik baginya. Tampak familier Hanska dengan tubuh korban itu, pikirannya menerawang jauh.
Kedua mata elangnya memandangi dua foto, yang satu foto Thalia dengan Deena, dan yang satunya lagi memandang foto korban terbakar dengan gelang giok.
Tatapan tajamnya membandingkan. Hanska meyakini, tubuh keduanya sangatlah berbeda.
__ADS_1
Hipotesanya terjawab saat Tama melanjutkan perkataannya.
"Korban di mobil lawan ada 4, sedangkan di mobil Thalia ada 3 tapi, saat para korban di larikan kerumah sakit cuma berjumlah 6 orang."
Hanska menyeringai. "Gue yakin, nyokapnya Deena masih hidup." Ucap Hanska yakin.
Tama tersenyum mengerti. "Gue bakal nyari sampe akar akarnya buat lo puas." Jelas pria itu sebelum Hanska mengutarakan maksud.
Hanska mengangguk. Ini lah alasan hubungan persahabatan mereka awet. masing-masing dari mereka memiliki kepekaan dan perhatian yang amat bagus.
Alisnya mengernyit saat membaca lembar kertas yang menerangkan bahwa Deena bukan putri kandung Bakara.
Tama melihat itu.
"Hans lo harus tahu, binik lo waktu masih tinggal di rumah Bakara, sering banget di Bully sama ibu dan saudara tirinya."
Tama terus menjelaskan, masih sambil Hanksa membaca lembar demi lembar riwayat hidup Deena. Pastinya dengan mimik tak suka yang kelihatan jelas.
"Gue ga habis pikir ya bahkan keluarga besar Bakara juga ga ketinggalan buat jahatin binik lo, parah banget asli, nih si Bakaranya juga suka banget nyiksa Deena, ngunciin dia di ruang bawah tanah kalau lagi berantem sama adek tirinya." Tama menjelaskan dengan kejijian yang jelas.
Hanska mengetatkan rahangnya.
"Kurang ajar, mereka harus mati." Murka pria itu.
"Menurut gue nih ya, kayanya lo cukup awasin bini lo aja dulu." Usul Tama.
Hanska membenarkan, dilihat-lihat karakternya Deena juga bukan gadis yang mudah di tindas.
"Huh, hukuman mati masih ringan untuk mereka. Gue bakal jadi deking Deena, bakal gue ganda in siksaan untuk mereka yang nyiksa binik gue." Jelas Hanska.
Tama mengangguk. "Lo jangan lupain yang ini." Ucap Tama melempar foto Joandan ke hadapan Hanska.
Pria itu mengernyit.
"Kayanya dia bakal jadi saingan cinta lo. Udah hampir dua tahun tuh cowok berusaha deketin istri lo, awalnya Deena merespon baik, bahkan gosipnya di universitas kalau mereka juga saling suka." Jelas Tama jeda sebentar.
"Yakin lo? cowok kaya gini jadi saingan cinta gue?" Tanya Hanska pura-pura tersinggung.
Tama tertawa. "Gue juga ragu sih, soalnya dari yang gue denger, sebelum acara penghargaan mahasiswa terbaik se-Universitas, denger kabar semenjak Deena ditemukan hilang dari kemah. Sifatnya berubah 180° men, dari yang suka murung jadi ceria banget, jadi ramah suka nyapa banyak orang, terus nih cowok sering nempel sama Deena, nah binik lo fine fine aja tuh dulu, sekarang malah Deena cuek bebek gitu sama dia ckckc."
Tama jeda sebentar, menyeruput kopinya dengan gigitan pastry terakhir.
Hanska mengernyit, ingatannya terlempar saat pertama kali Dia bertemu dengan Deena, di rumah sakit milik Tantenya.
Saat itu, Hanska seperti ingin memporak-porandakan negara maju tersebut, demi menemukan liontin giok kesayangannya hadiah dari sang kakek.
Bersyukur sebelum itu terjadi, dirinya sudah di pertemukan dengan Deena yang memegang liontin miliknya.
Kalau begini, yang tenang juga Arga.
Tap.
__ADS_1
Seketika ruangan diliputi kegelapan.
,To Be Continue >>>