
😨😨 Lanjutt
Seperti biasa. Protokol membaca setiap part, Hati-hati typo, buka imajinasi and
Happy Reading semuanyaaa💐💐
_______________
"Laras?" Tanya salah satu siswi yang sekelas dengan Deena dan Laras.
Kita sebut saja Santi. Dia lah gadis yang paling ingin mendekati Deena, baginya Deena benar-benar contoh teladan.
Kagum, mungkin itulah kata yang tepat.
Dengan cepat ketiga teman Laras menarik kain apa saja yang berada di dalam gudang dan menutupi tubuhnya. Walau sangat berdebu, namun itu tak penting saat ini.
Beberapa saling pandang mempertanyakan siapa Laras ini. Namun tanda tanya mereka terjawab saat salah satu gadis berambut panjang dengan lesung pipi berbisik kuat.
"Anak salah satu pemegang saham."
Beberapa hanya angguk-angguk saja.
"Cih! tadi siapa yang nyebar-nyebar berita tampang asli Deena?" Cibir salah satu diantara mereka memandang Laras sinis, bengis, mencibir dan tak suka.
Pemandangan yang sama ditunjukkan oleh beberapa diantara mereka. Walau ada juga yang iba, namun siapapun yang menjadi saksi pasti lah sadar siapa yang salah.
"Eh gak taunya situ sendiri yang munak." Ejek yang lain.
Cibiran berdatangan untuk Laras.
"Gak! gak! ini semua salah jal*ang itu! dia nge-jebak gue!" Teriak Laras menutup kedua telinganya sambil menggeleng.
"Parah lo! munak! najis!"
Berita tentang kejadian Laras yang tak senonoh dan tersemat memfitnah Deena dengan cepat menyebar keseluruh penjuru universitas, melalui forum-forum dan dari orang ke orang.
The Power of Netizen.
Mereka yang tak tahu siapa Laras pun menjadi tahu bagaimana anak dari salah satu investor kampus.
"Gak usah sok suci lo!" Bentak salah satu temannya Laras melotot kearah mereka semua yang menyaksikan.
Ketiga teman Laras menutupi tubuh polosnya agar tak terjangkau oleh kamera. Namun sayang mereka kalah cepat.
"Gue emang ga baik baik amat, tapi sorry kalau fitnahnya model ginian cuma dia deh yang bisa." Cibir yang lain menjawab.
Salah satu cewek yang terkenal sebagai bunga kampus.
Mereka mengangguk setuju.
"Lo sadar gak sih, parah banget. Kita sekelas dan lo pada tau kalau Laras adek-nya Deena." Ucap Santi teman sekelasnya Deena, Laras dan kawan-kawan.
"Duh duh, adek sendiri kok tega bener." Terdengar yang lain menyayangkan perbuatan Laras, mereka berpikir kasihan sekali Deena.
Dari jauh Deena melihat semuanya, Dia meneguk ludahnya kasar melihat si adik tiri yang termakan jebakannya sendiri.
Andai saja tadi dia tak waspada, sudah pasti saat ini dirinya yang berada di dalam sana dengan kondisi yang sangat memalukan.
Sudah bisa di pastikan, berapa keturunan pun jika hal ini menimpanya, Deena pasti susag melupakan kecuali amnesia.
"Baby!" Teriak suara dari ponsel Deena yang sedari tadi digenggamnya, sangkin syoknya Deena mendekap ponselnya kedada.
"Baby! jika kau tak menjawab, akan kuhancurkan keluarga Bakara dengan tanganku sendiri tanpa persetujuanmu!" Bentak Hanska membuat Deena tersadar dari bayangannya yang memposisikan Laras.
Sejak dirinya dikejar beberapa menit lalu oleh lelaki asing, Deena sudah mendial nomor Hanska tak peduli diangkat atau tidak.
Ternyata suaminya itu mengangkat panggilannya.
"Ja..jangan! iya Hans maaf, Deena lagi sembunyi." Jawab Deena mendekatkan ponselnya ke telinga, menjawab panggilan suaminya.
"Ada apa dengan suaramu? Kenapa kau bersembunyi?" Tanya Hanska tak sabar.
Deena menggigit bibir merasakan sejak tadi panas menjalari tubuhnya. Entah habis berlari ataukah cuaca yang memang lagi terik.
__ADS_1
Apapun itu, Deena merasa butuh es untuk mendinginkan suhu tubuhnya saat ini.
Meminum atau berendam yang mana pun jadi, asal dirinya lepas dari kegerahan.
"Deena!" Panggil Hanska lagi, mulai kesal Dia tak mendapat jawaban dari sang istri.
"I..iya disini! To..tolong jemput Deena dulu Hans." Rengek Deena, saat ini dirinya sudah terduduk diatas rerumputan, bersandar dengan pohon rindang di belakangnya.
Hanska langsung bangkit dari duduknya, membuat Brey mendongak melihat sang tuan berdiri.
Setelah Brey menjelaskan silsilah hingga kisah hidup Deena dan ibunya, Hanska mendapat panggilan dadakan dari sang istri.
"Jangan matikan panggilannya." Titah Hanska melangkah tergesa.
Langkahnya tertahan langsung menoleh kearah Brey.
"Nanti kita sambung, aku pergi menjemput istriku dulu." Ucap Hanska berlalu dari ruangan kerjanya tanpa mendengar jawaban dari penjaga bayangannya.
Brey menjawab dengan bersiul jenaka.
"Baby?!" Panggil Hanska sambil mengemudikan Pagani Zonda Barchetta navy kesayangannya dengan tak sabar.
"Baby!" Geram Hanska menajamkan tatapannya.
Deena berdehem. "Iya.. masih di sini." Jawabnya.
Hanska mengaktifkan pelacak untuk mengetahui posisi spesifik istrinya.
"Kenapa kau ke gedung tak terpakai itu?" Tanya Hanska mengerutkan alis.
"Nanti.. cerita." Jawab Deena susah payah. "Jangan dari..depan Hans." Tambah Deena lagi.
"Demi apapun aku akan menghancurkan gedung itu!" Kesalnya entah pada siapa. Intinya saat ini Hanska kesal.
Pria itu menghentikan mobilnya dengan cepat, seperti permintaan istrinya, Hanska akan masuk melalui gerbang tak terpakai yang dekat dengan gudang lama.
Dari posisinya, Deena bisa melihat kedatangan Hanska dengan aura kekesalan yang kental terasa.
Sudah bisa di pastikan, setelah ini Dia akan sulit hanya untuk izin ngampus.
"Siapa yang buat?!" Bentak Hanska berjongkok, menyelipkan tangannya untuk menggendong Deena.
Deena menyandarkan kepalanya didada sang suami, memanyunkan bibirnya.
"Sebel ihh.. malah di marahin." Cemberut, Deena menggambar pola-pola abstrak didada bidang Hanska dengan telunjuk lentiknya.
"Kau di beri obat?" Tanya Hanska, Deena menggeleng pelan masih tetap menggambar pola abstrak.
"Ga tau.." Jawab Deena tak memperdulikan hal-hal yang sebelumnya terjadi.
Hanska menyipit, kemudian menyunggingkan senyum.
"Kau tau baby? kadang kau begitu imut sampai aku mau memasung kakimu terus dalam kamar." Ucap Hanska membuat Deena langsung mendongak.
Bukannya gimana, Deena malah memajukan bibirnya semakin cemberut kesal.
"Lepas baby, kita pulang dulu." Titah Hanska mendudukkan Deena di jok samping kemudi.
Menarik tangan Deena yang berpegangan di pundaknya.
Deena menggeleng. "Gak mau!" Tolaknya tegas.
"Pangku! biar ga gerah." Tambahnya.
Tak ada pilihan, Hanska menggendong Deena lagi namun kini bak bayi koala digendongan induknya.
"Kau benar-benar niat menggodaku ya baby." Ucap Hanska sambil mengemudikan Pagani Barchetta-nya kencang.
Hanska membawa Deena kembali menuju perusahaannya. Mobil berhenti di parkiran khusus miliknya yang langsung terhubung dengan ruangan pribadi kedua Hanska.
Zzzrrtt.
Pintu slide besi pun terbuka saat mengidentifikasi wajah Hanska.
__ADS_1
"Panas Hans, tolong." Ucap Deena memohon dengan pandangan sayu menatap Hanska.
Tangannya pun masih bertaut manis di bahu suaminya, tak mau lepas.
"Kau harus ingat ini baby kalau kau yang lebih dulu meminta, bukan aku." Jelas Hanska mengulur waktu, ingin melihat lagi istri kecilnya itu memohon.
Deena malah cemberut melepas rangkulannya.
"Yaudah kalau ga mau kasih! huh.. sana jauhan, sebeeel.." Jawabnya mendorong pelan dada Hanska.
Hanska tertawa ringan terasa meledek.
"Baiklah aku yang minta." Jawab pria itu mengalah, toh tak ada ruginya juga.
Double part ini atas permintaan
@Fitria Bundae Armanaura💐🧡❤
@Tataaaannn🧡❤
@Winda Windut🧡❤
@EniRhino🧡❤
@Ennita🧡❤ Penulis "Pesona Tersembunyi Sang Tuan Muda"
Thanksyouuu do'a kalian untuk ulang tahun aing.
Dan untuk support serta do'a nya selalu.
@Diana Dwi Prasetyorini💐🧡❤
@Ayuni Wati so hot koment❤❤
@Siti Nurdiah🧡🧡
@S.Nurhapitah Piet928🧡🧡
@Wacemfarhanrizki❤❤
@Reyz Yamato🧡🧡
@Valeri and Vinz🧡🧡
@Si Usil🧡🧡
@Winda Lestari🧡🧡
@Sasti Prima🧡🧡
Mon maap yang ga ter-tag, kita jumpa lagi di part selanjutnya..
**To Be Continue** \>\>\>
**Kyaaaa!! Hayuu follow cerita ini, like and komen sesuka kalian di bawah, masukan, kritikan, kenalan dan apapun akan diterima**.
__ADS_1
**NEXT**!!!