Presdir Bucin

Presdir Bucin
Ternyata oh Bukan


__ADS_3

Mo info sedikit alay🧡😭 btw aing hari ini tanggal 4 ulang tahun :'v


Dah" ncusss lanjuttt


Seperti biasa, hati-hati typo and Happy Reading lopeeeh" aing🧡🧡🧡


____________________


Ini clue.


"Hey hey! Siapa kalian?!" Bentak seorang wanita meronta saat tas jinjing kulit miliknya di tarik paksa oleh dua orang pria.


"Diam! serahkan barang berhargamu!" Bentak salah satu pria bertopeng mengacungkan pisau kearah wanita itu.


Deena yang saat ini celingak-celinguk mencari satu gedung bertuliskan HOTEL. Lengkap dengan koper berisi baju, tas selempang dan novel ditangannya pun menoleh buru-buru mendekat.


"Woy woy! ku panggil polisi nih." Teriak Deena mengganggu konsentrasi kedua perampok itu.


Walau tergopoh memboyong barang bawaannya, namun tak Dia hiraukan sebab fokusnya sekarang lebih penting.


"Halo! halo pak polisi! di jalan xxx." Sengaja Deena menyebutkan lokasi spesifik mereka saat ini dengan kuat agar para perampok itu segera melarikan diri.


Wiu wiu wiu.


Tiba-tiba terdengar suara sirine mendekat. Entah karena beruntung ataukah memang beruntung. Oke, lupakan.


Satu yang pasti, Deena tidak benar-benar menelepon polisi dan Dia hanya menggertak saja.


"Sial! awas kau!" Bentak salah satu pria mengibaskan pisau kearah mereka, lebih tepatnya kearah wanita yang tadi ingin mereka rampok.


Sangkin geramnya mereka, melukai pun menjadi pelampiasan yang lumayan.


"Awas!!" Teriak wanita itu melihat Deena menjadi tameng dan melindungi dirinya dari pisau si preman.


"Awhh.." Ringis Deena merasakan lengannya tergores benda tajam.


Jadilah Deena yang terkena pisau itu, darah segar mengalir dengan derasnya merembes diantara kain putih yang terkoyak dibagian yang sama.


Wiu wiu wiu.


Suara sirine semakin mendekat.


"Cih!" Decih kedua perampok itu dan pergi meninggalkan mereka.


"Kalian beruntung!" Bentak yang lain menghidupkan mesin jeep hitam milik mereka.


Nyuut.


Ada perasaan mengganjal di hati wanita itu saat melihat Deena terluka.


"Kamu.. ga apa-apa nak? Ayo kita kerumah sakit." Ajak wanita itu mengusap surai Deena lembut.


Deena menoleh, alis mengkerutnya spontan terangkat dan bibirnya langsung membentuk senyuman seolah dirinya baik-baik saja.


"Baik kok nte, ntar di olesin obat merah juga sembuh." Jawab Deena menenangkan.


"Nyonya! nyonya baik-baik saja?" Tanya pria dengan set jas hitam menghampiri mereka tampak raut panik namun bibir tertahan menghiasi.


Ah ada yang salah dengan orang ini.


Deena ikut menoleh mengalihkannya fokusnya.


"Baik, panggil Zero menjemputku." Titah si wanita tegas dengan raut serius.


Kental sekali ketidak sukaannya pada pria yang Deena pikir adalah supir atau asistennya itu.


"Tapi.."


"Se.ka.rang!" Tegas wanita itu memotong alasan supirnya.


"Ba..baik nyonya." Jawab gugup pria itu langsung mendial nomor yang di titahkan majikannya tadi.

__ADS_1


"Kamu tinggal di mana? ayo biar tante anter sekalian." Tawar wanita ber-rambut sanggul dengan mengenakan set cheongsam berwarna merah itu tersenyum ramah.


Ah, jangan lupakan gelang giok hijau di tangan kanannya bertengger manis.


Tadi Deena sempat terpana, melihat wanita itu tampak indah berselimut gemerlapnya malam.


Sangat kontras sekali. Pikirnya.


Deena menyambut senyum wanita itu dengan tersenyum juga. "Baru mau check in hotel nte." Jawab Deena. Ada nada kegetiran yang samar dalam ucapannya barusan.


"Kebetulan! ayo ikut tante kerumah, tante kesepian sendiri." Ajak wanita itu antusias menggandeng lengan Deena yang tak luka.


"Tapi.." Tolakan Deena terpotong dengan sapaan seseorang.


"Selamat malam nyonya." Sapa pria dengan set cheongsam hitam membungkuk hormat kearah wanita yang Deena yakini adalah pria itu yang di sebut Zero tadi.


Wanita itu mengangguk senang.


Menatap Deena lagi. "Udah ayo ikut tante aja, udah malem ga baik anak perempuan sendirian." Bujuk wanita itu langsung menarik Deena masuk kedalam mobilnya.


"Zero, angkat koper nona ini, kita pulang sekarang." Titah wanita itu mengabaikan keberadaan asistennya yang kini menatap dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Ga usah repot-repot nte, saya pesan hotel aja." Tolak Deena halus.


Wanita di sampingnya tampak tak mendengarkan penolakannya.


"Ah ya! perkenalkan nama tante Thalia Han Tangsun, nama kamu siapa?" Tanya wanita bernama Thalia itu memperkenalkan dirinya, membuat Deena membulatkan matanya lebar mendengar nama ibunya mirip dengan wanita di sampingnya ini.


Tersadar, Deena menghembuskan napas pasrah sambil tersenyum menjabat tangan Thalia.


"Deena Prameswari Nte." Jawab Deena. Thalia bersalaman antusias sekali.


Thalia mengerutkan alisnya, seolah mendapat petikan di ingatan.


Dia tepis. "Bagus, nama ayu." Puji Thalia merasa akrab dengan keberadaan Deena.


"Makasih Nte." Jawab Deena.




Sosok pria yang kerap dijuluki jantung kota itu, kini tengah meneguk minuman kerasnya tanpa berpikir sudah berapa botol dia menkonsumsi alkohol dengan dosis tinggi itu.



Ditemani sebatang rokok.. ralat, rokok ke sekian puluh yang dia hisap diantara jari telunjuk dan jari tengahnya sehari ini.



Sangat jarang terjadi, bahkan ini kali pertama pria itu dapat mengonsumsi rokok lebih dari 2 batang dalam satu hari.



Tampangnya tak terurus, baju kusut, rambut berantakan, muncul kantung mata dan bulu-bulu halus di daerah rahang kokohnya.



Pikirannya acak bagai benang kusut yang tak bisa lagi di luruskan.



Hanya sepatah kalimat, membuat pria bermata hitam legam dengan tatapan tajam itu bagai sampan terguncang ombak.



Dua hari lamanya.



*Bodoh*!

__ADS_1



Hanya satu kata itu yang mampu tertulis di jidatnya saat ini, agar seluruh dunia tahu bahwa dia adalah lelaki paling bodoh yang tak bisa menjaga wanitanya.



*Istrimu mengandung anakmu bodoh*.



Kalimat santai namun tegas itu membuatnya bagai tersambar petir di siang bolong.



Terus terngiang dalam otaknya tanpa mau pamit pergi, seolah seluruh sarafnya pun ikut merutuki kebodohannya.



Tolong, siapapun jika bisa, dia berharap waktu dapat kembali. Sungguh semua ini menyiksa dirinya.



"Arrgghhhh!!" Teriak pria itu diikuti suara pecahan kaca.



*Praang*.



Tak ada yang berani mengusir ataupun mengusik pria itu, mereka yang berada di dalam ruangan pun hanya bisa berdiam diri di pojokan, berharap tugas mereka lekas berakhir.



Walau menjadi pelayan, namun tekanan dari aura pria yang mereka layani benar-benar membuat sesak.



"Bodoh!!" Teriaknya menjambak rambut kasar, berharap hal itu dapat menghalau pikiran negatifnya.



"Selamat datang nyonya besar!" Sapa beberapa maid berdiri di pintu masuk menunduk hormat.


Maid yang kebanyakan adalah seorang wanita muda yang cantik.


Pakaian mereka tak jauh beda dengan milik keluarga Alzavier, mengenakan baju lengan pendek dan rok panjang, terlihat sopan.


Kalau di sana menggunakan konsep modern klasik, kalau di sini konsep tradisional sangat kental terasa.


"Ayo masuk, tante mau masak makan malam kali ini buat kamu cobain." Ajak Thalia memboyong Deena kedalam rumahnya.


Terlihat beberapa maid mengikuti langkah mereka dan memegangi barang bawaan Deena ataupun Thalia.


Terpana. Satu kata yang mewakili raut wajahnya.


"Panggilkan dokter kerajaan." Titah sang nyonya membuat beberapa maid spontan bersimpuh.


"Hukum kami yang tidak mengurus nyonya dengan baik sehingga nyonya sakit! Maafkan kami nyonya!" Ucap belasan maid dengan menunduk dan duduk diantara dua sujud.


Deena terlonjak kaget melihat respon para maid Thalia yang takut hanya mendengar wanita itu minta di panggilkan dokter.


Meninggoy.


Batin Deena terbodoh.


To Be Continue >>>


Mon maap yee bundoo" agan sistah ku semuaa..


Part ini bukan sambungan oke, cuma sepenggal bocoran yang berharap kalian nikmatin.. 😭😭🧡🧡🧡

__ADS_1


Follow cerita ini, komen dibawah and like plus".


NEXT!!!


__ADS_2