
Cusss mari kita cari" yuwuuu.
Key.. sebelum itu hati-hati typo and Happy Reading semuanyaa🧡🧡
___________________
Kembali melihat jarum jam yang berputar. satu. dua. tiga.
kapan ini akan berakhir?
Entah yang ke berapa kalinya Deena memutar bola mata malas, melihat sekumpulan orang di sana, Dance floor.
Ada yang meliukkan tubuh, bergoyang sana sini, kiri, kanan dan melompat seperti orang gila.
Ah, sungguh tak terdefinisikan, berada ditempat seperti itu. Jika bukan karena sahabatnya, Aleta, si tukang pesta itu membujuknya dan terus menempeli Deena bak perangko, mungkin lebih baik Ia meninggalkannya.
Dalam hati Deena sudah mengucapkan sumpah serapah untuk sahabatnya itu. Mengingat dirinya dipaksa dengan segala bujuk mautan Aleta agar ikut menemani.
Flashback on
"Dee lo ikut gue dong ke party-nya Aldo, Temen gue." Bujuk Aleta memelas, membuat Deena memutar bola mata malas. Pasalnya dia takkan mampu menolak sahabatnya yang satu ini.
Apa lagi, sudah lima hari sahabatnya itu menempeli dirinya.
"Hmm.."
"Please please." Mohon Aleta dengan menunjukkan puppy eyes-nya semakin memelas. Jika seperti ini, Deena tidak sanggup bila menolak.
"Issh... okedeh," Putusnya membuang napas pasrah.
Aleta kegirangan sambil memeluknya.
"tapi janji gak akan lama, kalo gak gue tinggalin lo." tambahnya lagi memperingati Aleta.
"oke bos!!" Seru Aleta semangat.
Flashback off
Kini dirinya menyesal telah mengiya-kan ajakan dari Aleta. Jika tau seperti ini, dia akan dengan tegas menolak sahabatnya itu.
Entah bagaimana sekarang nasibnya. Malah si Aleta menghilang bak ditelan bumi, dalam lautan manusia yang sedang berjoget ria di dance floor.
Pusing, dentuman musik yang terdengar malah membuat kepalanya semakin berputar.
Bukan karena membenci hal seperti ini, hanya saja mood yang buruk membuatnya semakin kacau, apalagi memikirkan hal yang akan menimpanya jika kedua orang tua Deena tahu.
Entah apa yang akan mereka katakan. Seorang gadis dengan image pentolan se-universitas. Memasuki tempat terkutuk seperti ini.
Awas kau Aleta!
Gumamnya, menyerobot paksa segelas ocean blue dengan kasar.
"Aduh!" Pekik Deena saat dirinya hendak berdiri menjauh dari keramaian bar.
Tubuhnya malah bertabrakan dengan seseorang dan sialnya lagi, Deena menumpahkan ocean blue miliknya mengenai orang itu.
"Duh, maaf bang, ga sengaja." Ucap Deena dengan cepat meletakkan gelasnya, lalu mengelap dada seorang pria yang bahkan, wajahnya belum Deena lihat.
Pria itu menyunggingkan smirknya, tanda hal buruk akan terjadi pada gadis yang menyenggolnya.
Deena mendongak, wajah itu sangat dekat dengannya. Beberapa saat dirinya terpaku di tempat, tangannya masih setia di dada pria itu.
Matanya menelisik sosok pria yang tampak dewasa dengan alis tebal, rahang kokoh dan berdada bidang, seperti dewa yunani parasnya, sungguh pemandangan yang sayang dilewatkan begitu saja.
Tampan sekali . Pikirnya.
"Kau harus bertanggung jawab baby girl." Tekan pria itu langsung melahap bibir Deena.
Tercium aroma maskulin percampur alkohol yang pekat sekali, menyeruak hidungnya. Deena yang semula memberontak pun malah terbuai dengan pria yang baru saja ditemuinya ini.
Bibir pria itu tersungging.
__ADS_1
Lumayan dapat wanita cantik, lepas perjakaan pun tak apalah.
Pikirnya.
Pria itu menggendong Deena ala bridal, menuju lift dan menekan tombol lantai sepuluh, tempat hotel dan bar menjadi satu gedung.
Jangan lupa, tautan mereka masih menyatu.
Sadar dengan apa yang dilakukannya, buru-buru Deena menjauhkan tubuhnya dan turun dari ranjang, saat pria itu mulai melepas kancing kemeja teratasnya.
Ceklek Ceklek Ceklek.
Deena berusaha membuka pintu, namun nihil.
"Percuma sayang, kau tak bisa kemana pun." Bisik pria itu sudah memeluk tubuh Deena dari belakang, hingga menghimpit tubuhnya dengan daun pintu.
"A..apa yang kau lakukan?!" Teriaknya menarik kembali kata-kata kagum yang tadi Deena berikan untuk pria itu.
Sekarang, dirinya malah takut.
"Sudah terlambat kelinci kecil, kau sudah masuk kandang singa." Pria itu menggigit kecil telinga Deena dengan sensual.
"Kyaaaa!!" Pekiknya, merasa tubuh melayang, saat tubuhnya diangkat lalu dihempaskan kembali keatas kasur.
Deena berontak, agar genggaman tanggan dan bibir pria itu dapat terlepas.
"Kau gadis nakal." Ucap pria itu melepas bibirnya saat Deena menggigit kuat, hingga mengeluarkan rasa anyir.
"Aku akan teriak, dan melaporkan perbuatan tak senonohmu!" Bentaknya menantang sambil melotot.
Sialnya, malah tampak menggemaskan di mata pria itu.
"Kau tampak semakin imut." Ucap pria itu tergelak.
Deena melebarkan matanya saat pria itu menciumnya kembali.
"Setelah ini akan seru, panggil aku Hanska." Ucap Pria itu, langsung melahap Deena tanpa ampun.
"Tidaakk.." Teriakan Deena terendam dengan bibir pria itu, disusul dengan jeritan kesakitan, lalu berubah menjadi sensasi yang belum pernah dirinya rasakan.
Malam masih panjang dan permainan pun terus berlanjut, bagai hewan buas yang kelaparan. Pria bernama Hanska itu pun, terus menghantam dirinya.
**Malam berganti pagi**.
"Ughh..Shh.." Deena meringis saat tubuhnya berbalik arah demi menjauhi sinar mentari yang masuk melalui celah gorden.
Alisnya bertaut merasakan denyutan yang sangat dibawah sana, belum lagi, pinggangnya juga ikut nyut-nyutan.
"Kyaaaa!!" Teriakan Deena menggema saat matanya terbuka, mendapati sosok pria tampan sedang menatap serius, sambil bertopang kepala menghadap dirinya.
"Hey, aku akan bertanggung jawab, tak perlu ber..." Ucap pria itu terpotong dan sedikit menjauh dengan teriakan Deena.
"Diam lah! Siapa juga yang mau pertanggungjawabanmu." Deena langsung bangkit berdiri, lalu mencari ponselnya yang dilempar oleh pria itu entah kemana.
Pria itu mengernyit.
__ADS_1
"Dimana ponselku?" Tanya Deena tak sabar sambil berkacak pinggang.
"Tak akan kukembalikan." Balas pria itu memainkan ponsel Deena diwajahnya.
Deena mulai jengah dengan sikap pria di hadapannya.
"Kembaliin! Cepatlah!" Bentak gadis itu mendekat.
"Jawab dulu, siapa namamu?" Tanya Hanska.
"Deena, namaku Deena Abraham Lincoln!" Jawabnya kesal, langsung merebut ponsel miliknya dari tangan Hanska.
"Hampir aja aku ketinggalan." Monolognya, setelah menekan send di benda pipihnya.
Alis Hanska bertaut, bangkit dari ranjang lalu membelitkan handuk dipinggangnya.
"Emangnya ada apa sih?" Tanya pria itu heran.
"Huh, aku ikutan give away sepuluh, sepuluh dari novel Presdir Bucin tau. Lumayan, yang bisa jawab pertanyaan dan yg suka komen gitu bakal dikirimin pulsa. Ga mau metinggalan dong, terbatas, cuma sepuluh orang." Jelas Deena.
Hanska juga mengeluarkan ponselnya. "Ikutan ah." Ucapnya.
.
Mo ngingetin guys, bukan lanjutan part yee..🤭
**To Be Continue** \>\>
**Gimaneee? kurang gregett? mon maap up ngaret😭 emang guek ga bisa diandelin banget, cih**.
**Yuhuuuu, BTW, ANYWAY! Seperti janji aing sebelum"nya. bakalan ada sesuatu di tanggal 10. untuk 10 orang pertama, yang bisa nebak tanggal lahir author, sekaligus yg paling sering hebohh bgt yee wak" sekalian**.
**Kalian pasti jeli dan bakal dapet, tanggal berapa aing ulang tahun🧡🧡🧡 Semoga beruntung**!!!
**Cusss dah follow cerita ini, like and komen sesuka dan baik hati di bawah** .
__ADS_1
**NEXT NEXT NEXT NEXT NEXT**!!!