
Hallo 👋 ada yang nungguin ga nih kelanjutan Hanska Deena?
Maaf semua, kelang 3 hari ga update. Dikarenakan Rhea ada sedikit kemalangan. Jadi harap maklum🙇♀️🙇♀️
Oke..
Happy Reading 😘
Hati" banyak typo..
________________
"Haa.. huftt Huwakhh." Entah kenapa, Deena mengeluarkan suara-suara menguapnya sambil merenggangkan badan, saat dirinya terbangun dari tidur lelap bak putri dongeng itu.
"Hah dimana nih.?" Monolog gadis itu saat melihat ke sekeliling. Seolah melupakan kejadian yang membuatnya jadi seorang gadis haus belaian. Ups.. keceplosan.
Seketika ingatan beberapa jam lalu terlintas di otaknya.
"Aduh, malu banget sih, dasar si om mesum hikss.." Ucap gadis itu pada dirinya sendiri sambil mengigiti ujung selimut.
Kakinya tertekuk, tubuhnya terduduk menyembunyikan wajah diantara dengkul.
Menggeleng kuat. "Ga bisa! ayo Dee ga boleh diem aja ditindas." Seru gadis itu mengangguk mantab.
Kakinya melangkah kedalam kamar mandi, untuk membersihkan pliket di tubuhnya.
"Aah! Dasaar mesum!!" Teriaknya menatap murka, kearah cermin besar yang berada di dalam kamar mandi milik sang tuan muda.
Terdapat banyak kiss ma*k bertebaran di tangan, leher, hingga kaki. untung pada bagian tengkuk hanya beberapa dan samar.
Setelah selesai berkutat dengan ritual mandi. Deena memakai jubah handuk berjalan kearah walk in closet yang terpampang jelas berhadapan dengan kamar mandi.
Baju Deena? Ah entah sudah jadi apa bentuknya, sangat tak cocok melihat banyaknya kerutan yang di timbulkan Hanska. Ia hanya tak ingin meninggalkan kesan sembrono pada keluarga pria itu.
Bodo amat Hanska akan mengomel, Deena segera memakai kaos oblong sebagai dalaman, dan kemeja putih kebesaran milik Hanska sebagai luaran.
Tak lupa dengan tali pinggang yang Dia lekatkan di bagian pinggang, sebagai pemanis. Oke, tampilannya kini terlihat kasual saat dirinya mematut di depan kaca.
"Uwu cantik juga, siapa lagi yang bisa memuji kalau bukan diri sendiri." Monolog nya bangga saat memamerkan bentuk tubuhnya.
"Heh, kasian sekali kau bocil." Deena terlonjak kaget mendengar kalimat dadakan Hanska.
Pria itu melotot. "Apa yang kau kenakan itu?! cepat lepaskan, kau ingin tubuhmu dilihat orang lain?" Tambah pria itu mengomel.
"Aaaah.." Teriak gadis itu kaget. Tampak Hanska berdiri dengan menopang tubuhnya di antara pintu masuk.
"Kenapa kau berteriak? seperti melihat hantu saja." Kesal Hanska berjalan cepat masuk kamar, siap melayangkan nyinyiran.
Lihat lah, pria itu bagaikan hantu, berjalan pun tak bersuara.
"Aaaa.. tidak, ada om om mesum." Teriak Deena mengejek. Gadis itu memeletkan lidahnya berlari menjauhi Hanska, sebelum pria itu dapat menjangkau.
"Apa kau bilang!"
"Ganti bajumu! Jangan biarkan orang melihat." Protes, Hanska mengomel bak seorang ibu tiri.
"Siapa juga yang mau pamer, ini tuh style, emang ya orang tua, gatau modis." Celetuk gadis itu berani.
Hanska melotot garang, walau begitu tak ada rasa tersinggung sedikit pun.
"Awas kau Dee, ku gelitiki kau sampai muntah darah.."
__ADS_1
Terlihat Hanska merentangkan tangannya lebar, guna memblokir jalan gadis itu. Namun, beruntung memiliki tubuh mungil, Deena dengan mudah lewat dari bawah tangannya.
"Wleee.. ga kena ga kena." Ejek Deena me-meletkan lidahnya. Hanska jadi tertawa melihat kelakuan konyol Deena.
Hanska berbalik mengejar. Gadis itu membuka pintu dan berlari keluar.
"Awas saja ya jika kau kena. Lihat hukuman apa untukmu." Teriak pria itu menyusul. Lucu sekali meladeni gadis kecil ini. Pikirnya.
"Coba aja kalau bisa. Wlee.." Berlari menuruni tangga.
Hanska panik. "Perhatikan langkahmu bocah." Teriak pria itu, melihat Deena oleng.
Hanska tersentak menyadari sesuatu.
Heh, apa-apaan ini, kenapa kelakuanku seperti bocah itu.
Batinnya.
"Dee, makan sini nak." Panggil Riana yang kebetulan berada di ruang makan, melihat Deena dengan napas tersenggal.
"Heheeh Iya Budhe.." Jawabnya mengangkat piring.
Riana tersenyum menggeleng saat melihat kedatangan Hanska. "Budhe tinggal dulu ya, bergabung dengan yang lain." Pamit Riana memberi kesempatan mereka berdua.
"Waspada lho nak, si bujang lapuk ini sudah lama tak dapat belaian. Bisa bisa kamu dibuatnya tepar berhari hari." Tambah Riana yang sukses membuat Deena tersedak liurnya sendiri.
Setelah Itu Dia berlalu.
Hanska sudah berdiri di samping Deena, siap-siap melayangkan jitakannya.
Cetakk.
"Awhh.. ihh kok di jitak." Protes gadis itu cemberut.
Gadis itu berjalan kehalaman belakang rumah, berbaur dengan keluarga Hanska diikuti pria itu. Menjadi bahan candaan dan ledekan oleh keluarganya, begitulah mereka menghabiskan waktu.
Sudah dua hari semenjak Deena berkunjung kerumah Hanska. dan sudah di putuskan, pernikahan keduanya akan berlangsung seminggu kemudian.
Diakhiri dengan kesepakatan Deena mengajukan syarat, hanya resepsi sederhana yang di hadiri oleh keluarga dan beberapa rekan saja, serta tidak di publikasikan. Alasannya, Dia tak mau mempengaruhi masa kuliahnya.
Itu alasan kedua, alasan utamanya demi membalas dendam.
Tok tok tok
terdengar pintu di ketuk.
"Nona, Boleh saya masuk?" Ucap seorang maid meminta izin.
"Masuk." Jawab Deena.
Maid masuk dan membungkukkan tubuhnya memberi hormat.
"Saya letak di sini ya nona. Ini set pakaian pemberian nyonya besar." Jawab si pelayan meletakkan paper bag diatas tempat tidur.
Deena mengangkat alisnya, berjalan ke sisi ranjang.
"Hah, tumben banget? ada pesan apa yang di sampaikannya?" Tanya gadis itu.
"Nyonya berpesan, nona harus memakainya di pesta ulang tahun tuan." Jawab Maid yang bermama Santi itu jujur.
"Nona masih membutuhkan sesuatu?" Deena menggeleng.
__ADS_1
"Keluarlah." Jawab gadis itu. Terlihat Santi membungkuk dan berjalan keluar.
Deena mengeluarkan isinya tampak beberapa make up ber merk. Dan dress hitam panjang berwarna hitam, Deena mengernyit.
Dress untuk melayat? Pikirnya.
"Mau mempermalukan ku dengan ini?" Senyum Deena tersungging.
Intinya Deena tak akan memakai sedikit pun barang pemberian ibu tirinya. Dia berjalan kearah tempat sampah, membuang barang-barang pemberian Ratih.
Terlihat ramai aula keluarga Bakara dengan kerabat dekat dan collega bisnisnya. Sebagian besar memiliki maksud, yaitu dapat menjalin relasi dengan perusahaan lain.
"Selamat ulang tahun Bakara." Ucap salah seorang pria berkacamata, yang tak lain temannya.
"Terimakasih Danu, senang melihatmu." Jawab Bakara menjabat uluran tangan pria bernama Danu itu.
"Tuan, ini Bakara sahabatku, beliau menjalan bisnis di bidang properti, memiliki dua putri yang sangat cantik." Danu memperkenalkan. Terlihat pria buncit setengah botak itu mengusap dagu.
"Dan Beliau, tuan Haikal Handani dari PT. Sejahtera Company." Jawab Danu mengkode temannya.
Bakara mengulurkan tangan. "Tentu saja saya kenal dengan tuan Haikal, sungguh keberuntungan anda mau menghadiri undangan saya." Jelas Bakara selesai menjabat tangannya.
Terlihat tiga orang pria menghampiri ikut nimbrung percakapan.
"Papa, anda membutuhkan sesuatu?" Tanya Larasati disamping Ratih ibunya, berbasa basi.
Gadis itu memakai mini dress berwarna peach dengan mengekspos bagian punggung, dan memamerkan belahan dad*nya. Dibagian lehernya bertengger manis sebuah kalung mutiara, dengan rambut di gulung indah.
Make up yang tersapu di wajahnya memberikan kesan polos.
"Ini kah putrimu? Perkenalkan kepada kami." Celetuk salah satu dari mereka. Disetujui yang lain.
"Ah ya, perkenalkan ini putri kedua saya, namanya Larasati." Kode sang ayah agar anaknya itu menjabat tangan mereka.
"Cantik, cantik sekali." Ucap pria setengah botak tadi mengusap dagu sambil manggut-manggut, seolah menilai.
Tangan Laras masih dalam genggaman pria baya tersebut. Jangan tanyakan bagaimana perasaan gadis itu, Ia jijik setengah mati di tatap dengan mesum oleh pria tua buncit dihadapannya.
Laras menarik tangannya, kembali pada posisi di samping Ratih. Sedikit takut melihat pria dengan tatapan mesum seperti itu.
Haikal menyikut Danu di sampingnya memberi kode.
Danu tampak berdehem. "Bakara, sepertinya tuan Haikal ingin menjalin kerjasama denganmu." Ucap pria itu penuh arti.
Bakara tentu saja senang, kapan lagi Dia mendapat kesempatan kerjasama dengan perusahaan kesepuluh paling berpengaruh itu.
"Tentu, saya dengan senang hati jika tuan mau bekerjasama. Secepatnya saya akan berkunjung menemui anda." Jawab pria itu antusias.
"Ngomong ngomong, dimana putrimu yang pertama Bakara? Tidakkah kau ingin mengenalkannya juga?" Tanya Danu.
Bakara tampak mengetatkan rahangnya. Menoleh kearah Ratih seolah bertanya.
Dimana anak kurang ajar itu?
Begitulah.
"Bentar saya panggilkan dulu, dia memang sedikit nakal, mohon maklum." Fitnah sang ibu tiri.
Belum sempat wanita itu berlalu. Dari arah tangga, turun seorang gadis mengenakan Dress berwarna navy silver dengan gaya mermaid, rambut belakangnya di gulung indah, sedangkan bagian depan seolah tergerai bebas namun tetap memberikan kesan elegan.
Deena tampak seperti wanita dewasa yang memancarkan aura positif.
__ADS_1
To Be Continue >>>>