Presdir Bucin

Presdir Bucin
Ipar?!


__ADS_3

Lanjut? hayukk lah


Happy Reading 🖤 Hati hati typo


__________________


Aku siapa? Mereka siapa? ini di mana?


Batin Deena seolah berada di dunia lain.


"Hahah.. Senangnya punya dua menantu! makin banyak makin baguss!" Teriak Rihlah girang saat mengetahui bahwa Dirga diam-diam tapi pasti.


Deena dan Aleta langsung menoleh.


"Hey aku disini Honney!" Kesal Regan sepeninggalan istrinya, yang lebih memilih bergabung diranjang Deena dengan Aleta yang berdiri di sisi bangsal.


Rihlah melontarkan senyum mengejek pada Dirga, anaknya. Pria itu seperti biasa, terlihat datar dan cuek bebek saja.


Lihatlah, selama ini dirinya seperti mayat hidup yang tanpa hati dan tanpa ekspresi.


Dulu saja saat di jodohkan dengan Aleta, Dia selalu menolak dengan tegas, alasannya tak mau merusak masa depan, wanita itu merepotkan, tak ada harapan hidup dengan wanita. Tapi sekarang?


Jelaskan pada Deena ada apa dengan drama ini? Kenapa dirinya yang tak tahu menahu?


gadis itu memanyunkan bibirnya cemberut.


"Al kamu kenal sama mama Lala?" Tanya Deena pada sahabatnya itu. Matanya menatap bergantian pada Dirga dan Aleta.


Lala. Panggilan Deena untuk Rihlah, because mertuanya itu terkadang suka drama dan childish, nama Lala lebih cocok menurutnya, dan Rihlah tak mempermasalahkan itu.


"Kenal dong Dee.. kak Dirga kan anak ketiganya mama, lo juga sering denger gue ceritain tentang kak Dirga kan, kecuali nama besarnya dan detail keluarganya." Jelas Aleta biasa saja, Deena sampai memutar kembali ingatannya saat-saat Aleta curhat.


"Ma.." Panggil Deena seolah menunggu jawaban.


"Hahah ini anak mama juga sayang, kamu pasti kenal dong dia siapa?" Jawab Rihlah terkekeh.


Dunia sempit sekali. Pikir wanita itu.


"Iya ma.. tau, kak Nofan Dirgantara Al.." Matanya membelalak teringat nama akhir sang senior, yang tak pernah sekalipun orang tahu apa Al itu.


"Alzavier." Sambung Aleta menambahi. Rihlah mengangguk-angguk.


"So, kalian jadi ipar sekarang." Hanska angkat suara.


Dirga dan Aleta tentu saja menoleh cepat kearahnya.


"I..Ipar?!" Beo gadis itu terpelongo. Sedangkan Dirga menautkan alisnya.


"Hey bang, jangan bilang kalau kalian.."


Pertanyaan Dirga menggantung. "Ya, kami sudah menikah, selamat sebentar lagi giliranmu yang di teror sama mama ckck." Ledek Hanska menunjukkan senyum penuh arti kearah adiknya.


Aleta menganga lebar.


Rihlah terkekeh. "Mingkem sayang, kamu ga liat ada yang mupeng tuh?" Ledek Rihlah menunjuk Dirga.


"Honney, kenapa harus berdiri di situ? cepat kesini, atau kita pulang!" Tegas Regan kesal, bukannya menemani suami, malah asik bercanda dengan anak kecil.

__ADS_1


Begitulah pikirannya.


Sang istri cemberut, tapi walau begitu, Dia tetap berjalan kearah sofa, dan mendudukkan dirinya di samping Regan, sambil melipat tangan kesal dengan bibir cemberut.


Aleta melipat kedua tangannya dengan mata menyipit, seolah mencurigai lawan bicaranya.


"Lo punya hutang penjelasan ke Gue Dee." Tuntut Aleta gantian menelisik Deena dan Hanska.


Hanska hanya mengedikkan bahunya acuh, dengan tanpa dosa menekan tubuh lunglai istrinya untuk berbaring, melihat jam sudah menunjukkan jam istirahat siang.


"Loh mas.. mas." Protes Deena.


Hanska melotot berdehem. "Sudah lah kamu harus istirahat, ma, pa, hey Dirga, urus wanitamu, jangan ganggu dulu istriku, dia harus tidur siang." Usir pria itu lebih sadis untuk Dirga dan Aleta.


Kurang ajar? Yah kita anggapnya begitu, lain hal Regan dan Dirga, sudah tau tabiat masing-masing mereka lebih masa bodo.


Lain pula Aleta dan Rihlah, kedua perempuan itu malah tak senang, masih ingin banyak bercerita malah bolak balik di ganggu.


"Tapi mas.. mama papa masih di sini, ga sopan ihh di usir." Tolak Deena tak enak hati, ingin duduk lagi namun di tahan suaminya.


"Istirahat lah mantuku, kami pulang dulu." Tukas Regan berdiri, menarik tangan istrinya lembut.


"Yah.. kok sekarang? masih mau cerita loh ayang." Ucap Rihlah menekuk wajahnya merajuk.


"Kak, kita juga pergi? baru dateng?"


Dirga mengangguk. "Benar kata abang, Deena..." Ucap Dirga menggantung lagi.


"Kakak Ipar." Ralat Hanska membenarkan panggilan adiknya untuk Deena.


Aleta dan Rihlah mendekat ranjang. Entah apa yang mereka lakukan.


Pikir ketiga pria itu.


"Ma cepet banget baliknya." Rengek Deena pelan, gadis itu manyun.


Nasib memang, menjadi pasangan dari pria-pria posesif.


"Dee ntar kalau keluar kita nge mall yuk udah lama." Ajak Aleta, Deena mengacungkan jempol.


Sang mama mendapat ide.


"Dee, Al kalian tenang aja, ntar kita balas mereka tuh tapi tunggu kamu sembuh total ya." Bisik Rihlah serius.


Mereka berdua pun mengangguk antusias.


"Huh enak aja mereka ganggu waktu para wanita." Tambah ibu dari lima anak itu.


Terlihat kedua gadis itu mengangguk-angguk saja, layaknya sedang mendapatkan misi rahasia.


"Hey hey simpan rencanakan kalian itu, ayo pulang Honney." Regan menarik paksa tangan istrinya sebelum ada drama lain lagi.


"Ayo kita juga balik." Kini giliran Dirga.


"Ayang.. ayang ihh." Protes Rihlah merajuk.


Brakk.

__ADS_1


Pintu tertutup dengan gebrakan, Hanska menghela napas.


Sedangkan Deena ngambek, berbalik memunggungi Hanska dan menarik selimut hingga kepala.


"Jangan ditutupin semua, ntar kamu ga bisa napas." Tegur Hanska menurunkan selimutnya sampai batas dada.


"Huh, lepasin ihh." Tolak gadis itu dengan nada kesal, menaikkan lagi selimutnya.


Hanska menyeringai. "Ngambek nih ceritanya? hmm." Ledek pria itu mendusel-nduselkan hidungnya ke pipi Deena.


"Ga ah, ihh awas.." Elaknya berusaha menjauhkan wajah Hanska dari wajahnya.


"Hahah dasar ngambekan anak kecil." Bukannya menjauh, pria itu malah semakin menggodanya.


Tangan Hanska Menggelitik kedua sisi pinggang Deena gemas.


"Ihh ga.. Hahah.. ihh lepas." Tawanya kegelian dengan badan menggeliat kekiri dan kanan.


Bukannya melepas, Hanska malah semakin seru dengan kegiatannya.


"Ampun ga hmm.."


Deena menggeleng terkekeh. "Ga mau." Tolaknya.


Tanpa mereka sadari Hanska juga terkekeh lucu melihat tingkah istrinya.


"Rasakanlah.." Ucap Hanska.


"Hahah.. ampun ampun, udah mas, Dee ga kuath.." Pasrahnya minta pengampunan.


Pria itu tetap tidak berhenti. "Sudah terlambat sayang, tak ada maaf bagimu." Ancamnya.


"Hahah..Ampun mas.. hihihi."


"Cium dulu." Titahnya. Entah bagaimana Hanska sudah berada diatas tubuh Deena saat ini, Dengan gadis itu berada dalam kungkungannya.


"Iyaah hahah.." Deena mengalah.


Tangannya terangkat berpegangan pada pundak Hanska.


Chupp.


Bibir gadis itu menyentuh sudut bibir Hanska, Hanya menempel, tak bergerak atau melepas.


Deena tak sempat berpikir mencium bagian mana, asal dapat yang penting hukumannya selesai.


Refleks Hanska menghentikan gelitikkan-nya pada tubuh Deena. Kedua mata legamnya membulat lebar kedalam mata Deena, sarat akan keterkejutan.


Mereka tatap-tatapan beberapa saat. Hingga Deena lebih dulu sadar dan melepaskan bibirnya dari pipi Hanska.


Gleekk.


Susah payah gadis itu menelan ludah kasar, matanya melirik kanan kiri dengan salting.


"Hmm maaf.. mas." Gumamannya terpotong.


To Be Continue >>>

__ADS_1


__ADS_2