
Iklan marjan muncul di mana".
Happy reading ♥️
__________________
"Kesel banget tau ga ma, harusnya anak udik itu lagi di kurung sekarang." Tak sengaja Deena mendengar perkataan Laras dengan Ratih. Masih pagi sudah menyebalkan saja ibu dan anak itu.
"Ah mama punya ide." Senyum licik terukir dibibirnya. "Lusa kan papa ulang tahun pasti bakalan ada jamuan besar. Mama yakin banyak collega papa berdatangan, gimana kalau saat itu?" Usul Ratih sudah mulai menyusun rencana di kepalanya.
Laras tersenyum puas. "Bener kata mama, beberapa orang dari universitas juga bakalan dateng, sekalian aja kita buat mampus." Tawa jahat terdengar dari dua orang didalam kamar.
"Kamu ikutin aja kata mama."
Laras tertawa puas. "Habis lo anak kampung."
Dari luar pintu, gadis yang sedari tadi mendengar pembicaraan mereka berdecak sambil tersenyum miring. "Kalian tak bisa membunuhku."
Deena tak takut, Ia bahkan menunggu rencana apa lagi yang akan menantinya. Meskipun jalan hidupnya berubah, namun Deena sudah mempersiapkan diri.
Gadis itu berlalu, masih ada hal yang lebih penting diurusnya dari pada mendengar omong kosong Laras dan ibu tirinya.
Deena berjalan keluar gerbang rumah, sambil menyetop taxi menuju universitasnya.
Sesampainya Deena di sana, Ia segera menuju ruang tata usaha untuk meminta surat rekomendasi dari perusahaan ternama di negaranya. Setelah Deena mendapatkan surat itu Ia akan menuju perusahaan Alz Group berada.
"Deena!" Teriak sebuah suara dari arah belakangnya, menghentikan langkah gadis itu yang hendak berjalan keluar gerbang.
Deena menoleh. "Oh ada perlu apa Jo?" Tanyanya malas. Joandan yang berdiri di hadapannya berjalan mendekat.
"Kamu mau kemana? biar ku anter." Tawar Joandan tersenyum ramah.
Deena menolak. "Aku mau ke Alz Group." Ketempat yang kau larang dan aku sangat menyesali keputusanku dulu. Tambah Deena dalam hati.
Joan tampak diam sejenak, ada raut tak suka dari wajahnya. "Ah ya, kamu kemana saat dirumah sakit kemarin? baru kutinggal sebentar sudah menghilang, kupikir diculik." Tanya Joan. "Kamu belum memberiku jawaban dari pernyataan cintaku." Tambahnya lagi mengingatkan Deena.
Gadis itu tampak berpikir. "Joan kita belum lama mengenal, kuterima pernyataanmu, tapi aku belum mau berpacaran." Tolak Deena halus kasar penuh penekanan dalam nadanya berbicara.
Wajah Joan tampak semakin suram mendengar jawaban dari Deena. "Aku pergi dulu, bye." Ucap Deena menyetop taxi dan menghilang dibalik pintu.
Joan mengepalkan tangannya kesal melihat mobil yang sudah melenggang membelah jalan kota. Ia sudah di tolak mentah-mentah oleh seorang gadis, dan Joan tak terima itu.
"Berhenti disini pak!" Ucap Deena menepuk kursi kemudi agar si supir memberhentikan mobilnya. "Ambil aja pak kembaliannya." Tambah Deena membenahi barangnya.
"Yaelah neng, ini mah gada kembaliannya, malah kurang serebu ini." Sewot si supir. Deena hanya menyengir bergegas turun dari mobil. "Ntar kapan saya bayar." Setelah mengatakan itu Deena ngacir memasuki gedung perusahaan.
Sejujurnya bukan kali pertama Deena memasuki gedung perkantoran, sebagai satu-satunya cewek paling berprestasi se Universitas, tentu Deena sering keluar masuk perusahaan. Bahkan tanpa bantuan Bakara sekalipun.
__ADS_1
Hanya saja yang biasa Deena masuki sebatas perusahaan biasa dalam kota, tidak seperti tempatnya berpijak ini. Sebuah perusahaan terbesar di negaranya, yang bahkan hanya kehilangan giok saja membuat negara itu gempar.
Deena berhenti sejenak terpaku, kepalanya mendongak menatap tingginya gedung yang akan Ia masuki. "Untung hidup lagi, kalo ga bakal nyesel tujuh turunan aku nolak perusahaan sebesar ini." Monolognya dengan diri sendiri.
Deena melangkah kan kakinya kedalam lobby mewah milik Alz, menuju meja resepsionis. "Selamat siang mbak." Ucap Deena.
"Siang, ada yang bisa saya bantu?" Tanya resepsionis ber name tag Tamara itu dengan ramah.
Deena menunjukkan surat rekomendasi dari Alz kearah dua resepsionis itu. "Nama saya Deena Prameswari Bakara mbak, kepada siapa saya menyerahkan surat rekomendasian ini?"
"Mari ikut saya." Salah satu resepsionis itu menunjukkan arah. Mereka sudah paham dengan kebijakan perusahaan, setiap tahun anak magang dengan prestasi terbaik akan mendapat rekomendasi dari perusahaan mereka, hanya universitas angkasa lah yang masuk dalam daftar perusahaan tersebut, dengan setidaknya ada 2 orang mahasiswi yang di panggil.
Mbak resepsionis berhenti. "Saya mengantar sampai disini, setelah belok kanan, kamu lurus saja lalu mentok disitu ruang HRD, kamu serahkan surat ini kepada pak Januar Adiatma." Jelas si resepsionis ramah.
"Thanks mbaknya." Jawab Deena tersenyum tak kalah ramah.
"Kalau begitu saya permisi."
Deena berjalan mengikuti interupsi dari Tamara si resepsionis.
"Si*lan Januar itu! Suruh dia menghadapku sekarang!" Murka Hanska menggebrak pintu dengan geram.
Brakk.
"Aduh.. sih jalan gapake mata." Keluh Deena kesal memegangi bahu kirinya yang bertabrakan dengan punggung seseorang.
"Ini lagi anak kecil, harusnya aku yang tanya, ngapain kamu disini?" Tanya Hanska menundukkan tatapannya kearah Deena yang bertubuh mungil.
Deena menyodorkan surat rekomendasi dari perusahaannya. "Nih tujuanku jelas om, emangnya kaya om apa, karyawan aja gayanya kaya bos. pfftt." Ejek Deena menahan tawanya.
Kelethok.
"Aduh..sakit tau om" Deena mengaduh akibat sentilan keras dari Hanska di dahinya.
Hanska mengambil surat itu berjalan menuju lift. "Buatkan segelas kopi, lalu antar ke lantai 25." Perintah Hanska galak tanpa mau dibantah. Seperti ada yang merasukinya, Deena menurut mengikuti langkah Hanska yang sudah hilang di balik lift.
Gadis itu terbengong. "Lah ntar keruangan mana? yaelah ngapa nurut banget dah." Monolog Deena dengan dirinya saat berada di dalam lift.
Tingg.
Pintu lift terbuka, menampilkan koridor super mewah yang pernah Deena lihat melebihi di tv.
"Tuan." Sapa Deena melihat Arga keluar dari balik pintu.
Yang di sapa menunduk. "Panggil Arga saja nona." Ralat pria itu menatap Deena. "Nona mencari Tuan?" Tanyanya setelah itu.
Deena mengangguk imut. "Si om tadi menyuruhku membuatkan kopi, tapi aku tak tahu untuk siapa dan dimana membuatnya. Lagian tujuanku kesini sebagai anak magang yang direkomendasikan oleh perusahaan Alz" Kesal Deena mengerutkan wajahnya. "Dimana pantrinya." Lesu Deena membenarkan letak tasnya yang melorot kebawah.
__ADS_1
Arga bergeser memberinya jalan. "Anda bisa memasuki ruangan diujung itu nona." Tunjuk pria itu kearah pintu keemasan besar berpahat naga. "Anda bisa membuatnya di pantri yang tersedia dalam ruangan itu." Tambahnya lagi.
Deena mengangguk mantab. "Thanks you Arga." Ucap Deena. Pria itu mengangguk sambil pamit undur diri.
Tok tok tok.
Tak ada jawaban.
Kembali Deena mengetuk namun nihil, Ia memutuskan membuka sedikit pintu berpahat naga itu mencoba mengintip isinya dengan menyembulkan kepala kedalam.
Merasa aman, Deena melebarkan pintu berjalan masuk. Matanya di manjakan oleh pemandangan kota yang tersaji di dinding kaca ruangan itu. Tampak langit cerah dan kendaraan berlalu lalang berperang dengan kemacetan dari atas. Deena terkagum.
Tatapannya menelisik seisi ruangan yang didominasi warna coklat gelap, sejajar dengan pintu terdapat sofa hitam lengkap dengan meja menghiasi ruangan, lalu terdapat meja besar dengan kursi single besar yang Deena yakini milik seorang bos. Gadis itu sempat takut jika sang bos besar menciduk perbuatannya uang tak sopan ini.
Dibelakang kursi itu terdapat ruangan lagi yang dibatasi dengan rak buku setinggi ruangan, di bagian sebelah kiri terdapat pintu berpahat phoenix, dan disebelah kanan dekat dengan dinding kaca terdapat ruangan yang Deena cari sedari tadi.
Bila di telisik, ruangan itu hanya tampak seperti pantri saat dilihat dari sofa ruangan maupun meja utama, namun setelah masuk kedalamnya, barulah terlihat bahwa ruangan itu adalah kitchen. Deena berjalan kedalamnya.
lagi-lagi Ia berdecak kagum melihat set perlengkapan masak di ruangan itu, susah payah menelan salivanya saat melihat isi dari lemari-lemari yang bergantung, beserta peralatan masak lengkap kompor listrik yang menyatu dengan meja dan oven berukuran besar menempel di dinding. Ada banyak sekali rempah, bahkan bahan kering lainnya. Seperti rumah pribadi. Batin Deena.
Ia beralih menuju kulkas. Matanya membelalak sempurna. Jiwa tukang makan plus hobi masak dalam dirinya bergejolak, tangannya terasa gatal ingin mengubah semua bahan mentah itu menjadi santapan lezat.
"Hey bocah!" Tegur suara pria bergema kedalam ruangan, menginterupsi kegiatan mengagumi dari Deena. Gadis itu terlonjak kaget.
__ADS_1
To Be Continue >>>>