Presdir Bucin

Presdir Bucin
Deena Abraham Lincoln


__ADS_3

Yuwuu lanjutt, semoga ga puyeng yee bundd, agaan and sistahh ku sayang sama jalan ceritanya, beberapa part sebelum ini menceritakan masa lalu orangtuanya Deena.


Yoo Hati-hati typo and Happy Reading All 🧡🧡


___________________


"Sungguh Deena putriku Thata?" Tanya Abraham semangat untuk yang kesekian kalinya.


Setelah perdebatan sengit terjadi hampir tiga jam, akhirnya Thalia memaafkan masa lalu mereka dan berbaikan dengan Abraham.


"Hayeh, puyeng aku mas kamu tanyain itu mulu." Jawab Thalia jengah sambil melipat tangan dan membuang tatapannya keluar jendela jet pribadi milik pria itu.


Abraham, walaupun usianya sudah paruh baya, namun parasnya mah jangan ditanya.


"Jangan salahkan aku sayang, salah sendiri dulu kau memilih mengikatku di tempat tidur dan meninggalkanku." Kilahnya.


Pria itu terkekeh memamerkan kedua lesung pipinya, hal yang tak pernah Dia rasakan semenjak kehilangan gadisnya, Thata.


"Kalau gitu, seharusnya nama putri kita Deena Abraham Lincoln. Bukan Deena Prameswari Bakara." Ucap Abraham merevisi nama putrinya.


"Kenapa dengan Prameswari?" Tanya Thalia. Sebab, nama Prameswari adalah usul dari Bakara.


"Lebih keren Abraham, sepertiku." Jawab pria itu bangga.


Thalia mencibir lalu cemberut. "Ceritain dong, tadi kamu janji sama aku bakal jelasin semuanya." Tanya wanita itu menghadap serius kearah pria yang kini asik mengelus dan mengecupi tangannya.


Abraham beralih merangkul Thalia dan mendaratkan kepala wanita itu kepundaknya.


"Putri kita sudah menikah dengan seorang pengusaha." Jawab pria itu sambil menerawang.


"Aku sangat berterimakasih, ah tidak, berhutang budi pada suaminya, Hanska Regantara. Jika pria itu tak menyelidiki latar belakang Deena, mungkin sampai matipun aku tak akan menemukan kalian." Jelasnya menjeda lagi.


"Definisi dunia ini sempit." Gumam Thalia.


Abraham mengangguk. "Yah, begitulah."


Thalia masih setia mendengarkan penjelasan Abraham.


Wanita itu mendongak. "Apa suaminya tampan? mapan? dan mencintainya Axcel?" Tanya Thalia beruntun.


Abraham menjawil nakal hidung Thalia. "yang pasti, bagimu lebih tampan aku, dia pria yang mapan finansial dan paling penting bukan cinta saja, tapi bucin." Kekeh Abraham saat mengingat sewaktu Arga masuk dan memberitahukan bahwa Deena terkena masalah.


Bisa dilihat kecemasan yang berlebih dan rela meninggalkan urusannya demi sang istri, padahal Abraham tahu, Hanska adalah sosok pria yang tenang, tak peduli situasi apapun.


"Wah bagus! aku ga sabar banget ketemu mereka." Pekik Thalia senang.


"Thata, aku mendapat informasi dari Hanska, Pria itu bilang, anak kita berencana membalaskan dendamu ke keluarga Bakara. Jelaskan padaku, bagaimana masa lalumu, bersama siapa kau dan siapa Bakara itu?" Tanya Abraham serius, memfokuskan tubuhnya menghadap Thalia.


"Sebenernya.."


Dan mengalirlah cerita, mulai saat dirinya meninggalkan Abraham, lalu bertemu dengan Bakara, hingga Thalia dan Bakara menikah, setelah itu Thalia hamil dan melahirkan Deena.


Diusia Deena yang ke lima tahun, Bakara mengetahui bahwa anak itu bukanlah miliknya. Thalia sudah lama yakin, bahwa Deena anak dari pria yang memaksa menikahinya, Abraham.


Sebab, wanita itu hanya berhubungan sekali dengan pria, yaitu Abraham. Hal ini juga yang membuat Bakara selingkuh dengan Ratih, tapi walau begitu, Bakara tetap diam dan tak membeberkan jika Deena bukan anaknya.


Hingga saat Deena berusia tujuh tahun, Bakara membawa wanita dan seorang gadis kecil untuk bertemu dengannya. Ratih namanya.


Sejak saat itu pula, hidup Thalia mulai tak tenang, teror berdatangan mengganggu hidupnya dan putri kecilnya, Bakara jadi lebih dingin dan kasar, bahkan pernah Deena menjadi sasaran kejahatan Ratih.


Ya, Thalia tahu bahwa semua yang di alaminya adalah perbuatan Ratih. Hingga sampai saat Thalia memohon pertolongan Rifah, lalu tragedi itu pun terjadi.


"Hikkss, se..semenjak saat itu, aku hilang ingatan, hanya kejadian sebelum aku kabur dari rumah yang tertinggal." Ucap Thalia mengakhiri ceritanya.


Abraham mengelus pelan punggungnya demi menenangkan Thalia agar tak menangis lagi.


"Cari tahu detail informasi Bakara Santoyo." Titah Abraham saat orang disebrang sana mengangkat panggilannya.


Thalia mendongak. "Kenapa?" Tanya wanita itu.


"Akan kubuat mereka yang menyakiti istri dan anakku menderita." Jawab pria itu dengan senyum smirk.



__ADS_1


"Mana mama?" Tanya Hanska dengan sebelah tangannya memeluk pinggang Deena posesif.



Saat ini, keduanya sudah berada disalah satu mall milik papa Regan.



"Mama agak telat, gimana kalau kita keliling bentar." Jawab Deena memberi usul.



Hanska tersenyum smirk. "Oke, kita ke butik itu." Ucapnya langsung menyeret Deena menuju butik Victoria's.



"Eh.. Hanska!" Pekiknya langsung menggeleng kuat.



"Cepat, ambilkan aku lingerie yang pas dengan ukuran tubuhnya." Titah Hanska setelah mereka sampai didalam butik dan disambut oleh dua orang SPG.



"Baik tuan." Jawab mereka.



Tanpa Deena ketahui, suaminya itu tersenyum geli melihat wajah merah bak kepiting rebusnya.



"Udah ah ayo balik aja, ntar mama nungguin loh." Bujuk Deena, yakali dia belanja di tempat seperti ini.



*Dasar Hanska malu-maluin*.




Hanska menggeleng. "Tidak baby, papa sudah lebih dulu menahan mama." Jawab pria itu.



Bahu Deena turun, lemas mendengarnya.



"Ini tuan, kami sesuaikan dengan ukuran nyonya." Jawab karyawati.



Hanska mengambil lingerie berwarna navy, hitam dan merah dari tangan karyawati itu.



"Ayo coba, ini cocok untuk ibu hamil." Ucap Hanska menambah rona merah dipipi Deena, bukannya senang, Dia malah malu.



"Hah.? ga ah." Tolaknya ogah-ogahan.



Demi apa Deena disuruh nyoba gituan, mana lagi ditempat umum lagi.



Hanska kadang emang suka nyebelin kalau udah ga jaim.



"Kenapa? ah, kau pasti malu." Ucapnya mengusap dagu, seolah Hanska meremehkan Deena, padahal pria itu hanya menggoda istrinya saja.

__ADS_1



Deena langsung merebut ketiga lingerie sutra dengan tali tipis diatas lutut itu, dari tangan Hanska.



"Heh, coba ya coba aja!" Cibirnya berjalan sambil menghentakkan kaki kearah fitting room.



"Hahaha, kepiting pun kalah merahnya." Ledek Hanska menertawakan Deena yang sedang malu.



Para wanita yang berada disekitarnya pun hanya bisa gereget dalam hati dan baper sendiri.



"Buka pintunya baby, aku akan membantumu." Hanska mengetuk pintu yang berisi istrinya.



"Ga mau! nanti modus!" Teriak Deena dari dalam, menolak mentah-mentah suaminya.



"Hey, bukannya kau yang selalu menggodaku dan meminta le.." Ucapan Hanska terpotong dengan bentakan Deena.



"Diam ga?! dasar om mesum!" Teriak Deena kesal.



Bukannya marah dikatain, Hanska malah semakin terkekeh geli dan terus-menerus menggoda istri kecilnya.



Seakan tak peduli sekitar yang sudah ber-baper ria, para wanita yang mendambakan sosok Hanska hanya diam menyaksikan keuwuan dari keduanya.



"Ayolah sayang, kau pasti membutuhkan aku." Bujuknya lagi semakin mengetuk pintu.



"Tidak!" Balasnya.



"Kyaaa..! apa-apaan kamu Hans!" Teriak Deena saat pintu ganti pakaian ter-dobrak paksa dari luar.



"Shhtt, jangan terlalu kuat sayang, mereka akan mendengar racauan manismu." Goda suaminya mengecup bibir Deena gemas.



"Dasar Hanska pria mesum!!" Deena berteriak kesal.



**To Be Continue** \>\>



**Heheh.. semoga menghibur permisahhh para readers tercintahh**.



**Follow cerita ini, like and komen di bawah**.



**NEXT NEXT NEXT**!!

__ADS_1


__ADS_2