
Hmm.. Ah~ sudahlah ncusss lanjuutt💐
Inget, hati-hati typo yang buat lidah tergigit😭😭 and HappyReading semwaa🧡🧡🧡
__________________
Seperti usul Hanska tadi, Deena segera mengganti bajunya sebab Dia akan berkeliling kantor. Kemudian menemui Tamara dan Beliza untuk bercengkrama hal apapun itu.
Ting.
Bunyi dentingan lift khusus C.E.O terbuka, Deena keluar dari dalam sana sambil celingak celinguk melihat sekitar, bisa gawat jika ada yang memergokinya menggunakan lift ini, apalagi jika itu Yana, si kepala HRD yang tadi di ceritainya dengan Hanska.
Kruyuk.
"Laper.~" Monolognya sambil mengusap-usap perut.
Cacing dalam perutnya bertempur tanpa bisa di cegah, Deena ingat dia belum memakan apapun saat kembali dari kampus.
Dengan cepat kakinya memutar haluan melangkah kearah kantin.
"Mbak saya pesen nasi goreng plus es jeruknya satu ya!" Seru Deena memesan makanan.
Si penjual tersenyum ramah. "Baik, di tunggu ya dek!"
"Lah dek? emang aku bocah banget yah nampaknya?" Monolog Deena bertanya pada dirinya sendiri.
Dia duduk di salah satu bangku paling dekat dengan dinding kaca.
Sambil menunggu, Deena membuka aplikasi noveltoon dan membaca salah satu judul kesukaannya, yaitu Hello Tuan Arsen!
Baru saja Deena terhanyut dalam alur, terdengar suara menghancurkan imajinasinya.
"Silahkan dinikmati pesanannya." Ucap ramah dengan wajah tanpa dosa salah satu pelayan, sambil menghidangkan sepiring nasi goreng seafood lengkap dengan es jeruk pesanannya.
Duh seafood!
"Eh mbak tunggu! saya mau pesen lagi, tapi di bungkus." Panggil Deena sebelum pelayan pergi.
"Baik saya catat." Sambil menyiapkan kertas dan pulpen.
Deena tampak berpikir. "Hmm.. saya pesan onion bread, puff pastry, italian bruschetta nya masing-masing dua ya mba!" Jawab Deena.
"Baik akan saya siapkan." Jawab pelayan antusias sekalian pamit.
Deena menikmati pesanannya sambil melihat sekeliling, lumayan ramai dengan beberapa staff yang masih terlihat lalu lalang walau jam sudah menunjukkan pukul tiga.
"Makasih ya mba!" Ucap Deena selesai membayar tagihannya di kasir dengan uang tunai yang susah payah dia dapatkan dari Hanska.
Gimana engga, suaminya itu malah memberi Deena black card vip tak terbatas untuk Dia gunakan. Buat apa coba? padahal Deena hanya perlu sedikit uang tunai untuk jajan saja.
Alhasil setelah Deena terima, Dia hanya menyimpannya dan meminta lagi uang untuk jajan.
Dengan menenteng paper bag berisi pesanannya tadi, Deena keluar menuju taman yang biasanya digunakan untuk olahraga bagi karyawan.
Ah, sehat sekali suaminya ini sampai menyediakan area olahraga.
Pikir Deena.
Deena baru sadar, kalau gedung yang dikelilinginya ini bercorak naga dan burung, bahkan pahatan pilar dan daun pintu pun berukiran burung, hanya pintu ruangan Hanska saja yang berpahat naga.
Walaupun didominasi oleh dinding kaca, namun corak burung dan naga itu terlihat menjadi ciri khas perusahaan Alz Group.
"Pst! pst! lihat tuh, dia-kan yang godain tuan Hanska di depan mantan beliau?" Bisik-bisik terdengar saat Deena menginjakkan kakinya di lobby kantor.
Walau alis Deena mengernyit, namun dia terus berjalan.
"Iya! dasar gak tau malu." Hardik yang lain, walau berbisik namun tetap terdengar.
"Cih, masih kecil sudah jadi jal*ng!" Pekik yang lain.
Kasak kusuk gibahan terdengar bergantian di telinga Deena, biarpun begitu Dia mah bodo amat, masa bodo dah.
__ADS_1
Kakinya melangkah kearah meja resepsionis, menemui kedua orang yang paling akrab dengan mulai dari pertama masuk.
"Hallo mbaa!" Sapa Deena ceria, khas sekali dengan sifatnya.
Kedua wanita itu, Tamara dan Beliza menatap Deena dengan wajah kusut bin cemberut.
"Hay dek." Balas mereka tak semangat.
"Kenapa sih mbak mbak ini?" Tanya nya terkekeh, tahu apa yang membuat keduanya cemberut.
"Gedek banget tau ga dek, masa kamu di katain pelakor sih!" Kesal Beliza menjawab.
"Tau, dasar merekanya aja yang pada iri." Sewot Tamara memutar bola mata malas.
Tak habis pikir dia melihat staff lain memojokkan Deena begini.
Bukannya marah, Deena malah terkekeh. "Udah ah mbak, nih Dee bawain untuk kalian biar ga baper." Ucap Deena mengangkat paper bag bawaannya.
"Wah! apa ini?" Tanya Beliza berubah raut menyenangkan.
"Cemilan." Jawabnya.
"Tau aja pen ngemil nih." Jawab Beliza kesengsem.
"Makasih ya dek." Ucap mereka berdua.
Deena mengangguk.
"Kamu ga tersinggung gitu dek?" Tanya Tamara sambil melihat enam bungkusan, mereka dapat masing-masing tiga.
"Hahaha.. kalian nih mba, aku yang di ghibahin tapi kalian yang ga rela." Ledek Deena terkekeh geli.
"Habisnya sih." Jawab Beliza manyun.
"Heh! bukannya kerja, kalian malah menggosip!" Bentak wanita dengan wajah menor dan baju ketat kurang bahan seperti biasa.
Yah Deena tahu siapa dia dan kedua orang dayang setia yang selalu mengintilinya di kanan dan kiri.
"Udah mba Yan, pecat aja resepsionis yang lalai ini." Usul salah satu dari mereka.
Yana Sulastri. Kepala HRD yang waktu itu diceritainya pada Hanska.
Deena mengernyit tak suka, sementara Beliza dan Tamara sudah menunduk takut.
Di Ha's Restoran.
Hanska berjalan dengan penuh kharisma memasuki restoran yang menjadi tempatnya pertemuan.
Disisi kanannya ada Arga yang selalu mempersiapkan segala kebutuhan perusahaan tuannya itu.
"Lewat sini tuan." Ucap Arga mempersilahkan Hanska untuk masuk kedalam ruangan khusus, dimana pertemuan diadakan.
Masih terlihat kosong, sedangkan meja sudah terisi dengan beberapa makanan pembuka dan beberapa botol wine khusus.
"Berapa menit lagi mereka sampai?" Tanya Hanska mendudukkan dirinya diatas bangku.
__ADS_1
Satu pelayan pria mendekat, menuangkan sedikit wine kedalam gelas Hanska.
"Harusnya lima menit lagi tuan." Jawab Arga melihat jam.
Hanska mengangguk pelan sambil memutar gelas berisi wine nya, memainkan seperti biasa.
*Ceklek*.
Tampak pintu terbuka, menampilkan sosok pria yang tak kalah berkharisma dari Hanska, namun dengan wajah yang terlihat hampir seusia dengan papanya, Regan.
Pria itu tidak sendiri, dia masuk dengan beberapa kaki tangannya dan mungkin bodyguard plus sang asisten. Semuanya pria, tak ada satupun wanita.
Jelas, sebab siapapun tahu sosok pria dihadapannya ini memiliki phobia dengan seorang wanita.
Hanska bangkit berdiri menyambut kedatangannya. "Silahkan Mr. Lincoln." Ucap Hanska mempersilahkan tamunya untuk duduk.
Pria itu duduk dengan arahan Hanska, diikuti kedua pria yang berada dikedua sisinya.
"Perkenalkan sebelumnya, nama saya Hanska Regantara Alzavier." Ucap Hanska memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya agar di jabat oleh pria yang di sapanya Lincoln itu.
Pria itu tampak menjabat tangan Hanska profesional. "Aku Abraham Axcel Lincoln, panggil saja Abraham." Jawab pria itu.
Tampak bola mata keemasan menyambut tatapan mata Hanska yang kelam setajam elang itu.
Melihat garis wajah pria dihadapannya membuat alis Hanska tertaut, perasaan familiar jelas menerpa pikiran dan benaknya.
*Apa lagi ini*?
Batinnya.
**To Be Continue** \>\>\>
**Waduh".. Semongko nunggu up yaa sayoung" akoohhh🧡🧡💐**
**Jangan lupaFollow cerita ini, like and comment di bawah👇🏻👇🏻👇🏻**
__ADS_1
**NEXT**!!!