
Baiklah, berhubung readers ga suka ada konflik berat diantara mereka. Btw aing juga udah riset ke hampir 100 orang temen di sosmed, 80% orang bilang ga suka ada konflik diantara pemeran utama. Maka hard konflik ditiadakanðŸ˜ðŸ˜
Apesii yg ga buat kalian 💖
Ogheee lah lanjuuutt. cussss.
Hati-hati typo. Happy Reading sayaang" kyuuu🧡🧡🧡
____________________
"Dek ayo ke kantin, keburu rame ntar." Ajak Beliza menggandeng tangan Deena untuk mengikuti langkahnya.
"Ga ***** mbak." Tolaknya dengan gelengan kepala lemah.
"Kemarin juga gitu bilangnya, ayo dong dek." Bujuk Tamara.
Kaki Deena melangkah mengikuti mereka dengan gontai.
Kini dua hari pun berlalu, sama seperti hari kemarinnya, pagi ini Hanska juga tak kedapatan Deena tidur dikamar dengan dirinya.
Entah dimana suaminya itu tidur, kalau kata Arga, Hanska istirahat di ruang cadangan dan Hanska lebih banyak meeting di luar dibandingkan di kantor.
Deena bukannya diam saja, Dia sudah berulang kali memohon untuk menemui Hanska, mencoba jelaskan agar Hanska memaafkan kesalahannya.
"Dek ini mbak pesankan nasi soto sama teh manis panas." Ucap Beliza meletakkan nampan berisi pesanan mereka keatas meja.
"Pengen kepiting sambal manis mbak." Jawabnya menjauhkan nasi dan soto yang didekatkan oleh Beliza.
"Yaudah biar mbak aja yang pesankan." Tamara menjawab lalu melangkah pergi.
Setelah itu pesanannya datang, barulah Deena mau.
Deena makan sambil memikirkan suaminya, walau Hanska mendiami Dia, tapi pria itu tak meninggalkan Deena sendirian. Bahkan, mereka bagai main kucing-kucingan dua hari ini.
Contohnya seperti tadi malam, Deena merasa Hanska datang dan mencium bibirnya dengan lembut, tapi sangkin ngantuknya, Deena lanjut tidur dan membiarkan hal itu.
Atau saat pagi hari kemarin sebelum Deena bangun, sudah tersedia sarapan diatas meja. Belum lagi baik Tamara maupun Beliza, mereka sering datang untuk mengajaknya berbicara sambil mengantar buah-buahan pada waktu makan siang ataupun menemani hingga makan malam.
Ya, beberapa hari ini Deena di temani oleh mereka dengan alasan agar dirinya tak kesepian.
"Udah ya mbak." Tolak Deena padahal masih makan sesuap.
Kedua wanita itu menggeleng. "Kalau ga mba suap aja ya, nah aa.." Bujuk Tamara menyodorkan sendok berisi nasi dan kepiting.
Deena menutup rapat bibirnya sambil menggeleng.
"Mbak ga kerja?" Tanyanya untuk mereka berdua, sebenarnya ini sudah pertanyaan yang kelima kalinya.
Tamara pernah keceplosan, bahwa mereka dikasih waktu senggang untuk menemani Deena.
__ADS_1
"Udah kami ga perlu di pikirin, sekarang kamu makan ya dek." Bujuk Beliza mengambil alih sendok dan Deena menerima suapan.
Sebenarnya Deena juga merasa tak perlu di ginikan, Hanya saja entah kenapa kedua wanita di depannya ini senang sekali memperlakukan Deena seperti gadis kecil.
"Dee kamu ga kasian sama tuan muda? pasti khawatir atau mbak panggilkan Leta buat nemenin kamu ya?" Ucap Beliza mengambil ponsel Deena dan mencari kontak Aleta.
Deena menggeleng, kalau sampai Aleta tahu pasti Dirga bakalan tahu dan masalah bakalan makin rumit, apalagi kalau sampai ke mertuanya. Deena tak mau itu.
"Udah ya mbak." Ucap Deena meletakkan sendok dan garpunya merasa enggan meneruskan.
"Yah, kok gitu sih dek, makanannya pun belum berkurang setengah."
"Ayo makan lagi ya." Bujuk mereka berdua. Deena kekeuh menolak.
Bagaimana dia bisa makan kalau dirinya sendiri tak tahu sang suami sudah makan atau belum, makanannya sesuai selera atau tidak.
"Gamau mbak mual." Tolaknya lagi membendung bibir dengan jari.
Hoeckk. Uhuuk uhuuk. Hoeckk.
Deena berlari menuju kamar mandi saat perasaan ingin muntah kembali menyerangnya.
Entah sudah yang keberapa kali Deena bolak-balik kamar mandi hanya untuk memuntahkan isi perutnya, bahkan pagi tadi sangkin kosongnya, Deena hanya memuntahkan cairan saja.
"Kamu sakit Dee?" Tanya Tamara cemas, muncul dengan minyak telon ditangan.
Deena mengangguk sedangkan Tamara membantu dengan mendekatkan minyak kehidung agar Dia hirup.
"Ayo dek kerumah sakit aja ya." Bujuk Beliza memapah tubuh Deena.
Dijawabnya dengan menggeleng lemah, Deena merasa tubuhnya hilang tenaga.
"Aku ga papa kok mbak, cuma mau istirahat aja." Jawab Deena mendudukkan dirinya diatas dudukan marmer kantor.
"Palingan masuk angin." Tambahnya.
"Engga, ga boleh nolak. Ayo kita ke dokter." Bujuk Beliza tegas melihat Deena sudah pucat pasi.
"Ga mau ke rumah sakit." Tolak Deena mentah-mentah melangkah gontai menuju lift sambil menutup mulutnya dengan tangan.
Beliza mengkode Tamara agar meminta bantuan Hanska untuk membujuk Deena. Setelah membalas dengan anggukan, Tamara melenggang pergi.
"Yaudah kalau gitu kita balik ke kamar." Jawab Beliza memapah Deena berjalan, takut kalau dirinya tiba-tiba limbung dan jatuh.
"Mbak Dee bisa sendiri kok, udah nanti kalian di marahin karna sering bolos." Ucap Deena lemah merasa tak enak telah mengganggu waktu kerja kedua wanita itu.
Beliza menggeleng masih kekeuh menopang punggung Deena.
"Jangan pikirin kami, kamu buat cemas loh dek." Jawab wanita itu berusaha membuka pintu ruangan.
__ADS_1
Tak ada Arga di mejanya, barang kali pria itu tengah bersama Hanska. Wajar saja.
Deena membuang napas kasar.
"Kamu butuh apa? biar mbak ambilkan." Tanya Beliza, menuangkan minyak angin ketangan dan mengoleskannya ke pelipis Deena.
Deena terbatuk merasa ganjalan didada. "Mau muntah mbak." Ucapnya parau.
Beliza mengarahkan minyak angin ke hidung Deena.
Braak.
Pintu terbanting dengan kuatnya, muncul lah Hanska sebagai pelaku utama diikuti Tamara dibelakangnya.
Raut muka Hanska tampak datar, namun bila di telisik tampak kekhawatiran yang samar terasa.
Deena langsung turun dari tempat tidur untuk berhambur kepelukan Hanska, namun kakinya putar haluan dan mengarah ke kamar mandi, mual kembali menyerang.
Hoeeck.
Deena memuntahkan semua isi perutnya ke wc, Tamara sudah menjelaskan pada Hanska kalau istrinya itu sudah dua hari tak ***** makan.
Beliza memanggil Arga atas suruhan Hanska.
"Tuan memanggil saya?" Tanya Arga.
"Cepat siapkan mobil, hubungi juga tante kalau kami akan kerumah sakit." Titah Hanska memangku Deena dan mengurut pundak istrinya agar mual sedikit mereda.
"Sudah, kalian balik bekerja saja, biar aku yang mengurus istriku." Ucap Hanska menerima minyak angin dan membalurkan kepundak Deena.
Deena terbatuk demi mengeluarkan ganjalan di tenggorokannya yang tak kunjung mereda.
"Sudah?" Tanya Hanska mengelap bibir Deena dengan sapu tangannya.
Deena langsung menoleh kearah Hanska dan langsung menumpahkan air mata didada suaminya, kedua tangannya meragkul pundak Hanska seolah tak ingin pisah.
"Hikss, ke..kemana aja kamu? Dee kecarian tau, huwaa.." Rengeknya bak anak kecil yang menanggis karena ditinggal mamanya belanja.
Hanska mengelus surai Deena dengan sayang. "Iya iya aku disini, udah sekarang kita kerumah sakit dulu ya." Ajak Hanska mengecupi kedua pipi, kening, hidung dan bibir Deena lembut.
Setelah itu Hanska berdiri dengan menggendong Deena ala bridal.
To Be Continue >>>
ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ sekali lagi dan terus menerus, saia minta maaf karna telat up yaa sayang"kyuu.
Oke like, follow and comment di bawah.
NEXT!!
__ADS_1