
Udah" cusss lanjut aja dah.
Happy Reading semuaa, Hati-hati typo bertebaran yee semuaa, lagi ngantuk bangeett bunddd rawan typo🤣😭🧡🧡💐
Dah" aing mao tidurr😴😴
_____________________
Walau diri Hanska terpancar aura mematikan, namun sorot mata pria itu tampak tersakiti saat menatap sang istri malah menderita di perusahaannya sendiri.
"Deena.. beri tahu suamimu ini, siapa yang menyiksamu di dalam perusahaannya sendiri?" Tanya Hanska bergetar samar, seolah-olah takut Deena akan meninggalkannya kapanpun gadis itu mau.
Semua orang yang mendengar perkataan Hanska tercengang, kecuali Arga. Mereka saling menatap menebak apakah yang mereka dengar benar atau salah.
Nasib sial menimpa Yana, Sinta dkk yang mengerjai Deena. Kelimanya sudah tampak pucat pasi mengingat kekejaman tuan mereka jika sudah menghukum.
Sepertinya mereka salah memilih lawan.
"Uhukk..uhuk, to..long mereka.." Ucap Deena menunjuk bilik kamar mandi yang sejak tadi masih tergedor oleh Beliza dan Tamara.
Mereka sangat khawatir dengan keadaan Deena, ditambah lagi kegaduhan Hanska tadi membuat mereka berdua penasaran.
Arga dengan cepat menitahkan dua penjaga untuk membuka pintu bilik, tampak lah Beliza dan Tamara basah kuyub.
"Dek!"
"Deek.." Mereka berdua dengan cepat berjongkok melihat kondisi Deena.
Hanska langsung berdiri menggendong Deena ala bridal, membuat Tamara dan Beliza mundur menjauh, keduanya menunduk.
Bahkan Yana, Sinta dkk juga menunduk takut tak berani menatap kemurkaan tuannya.
Pria itu melangkahkan kaki, seluruh karyawan yang mengintip di depan pintu membelah jalan, mempersilahkan Hanska berjalan keluar.
"Arga, hukum siapa saja yang terlibat menyakiti istriku, black list nama mereka dari perusahaan manapun dan jika ada yang berani menerima mereka. buat perusahaan itu gulung tikar." Titah Hanska final.
"Tuan! tuan beri saya kesempatan." Mohon Tamara.
"Jadi OG, jadi bersih-bersih saya bersedia." Tambahnya.
Kasihan gadis itu, dia menjadi tulang punggung bagi keluarganya dan Alz adalah perusahaan menjanjikan dengan gaji diatas rata-rata.
Masuk ke perusahaan ini saja sudah berkah baginya.
Deena masih mencoba menstabilkan napasnya.
"Tolong jangan black list nama kami tuan." Beliza ikut memohon juga bersimpuh di samping Tamara.
"Tidak..tuan! ampun tuan!" Sinta berlutut dengan mengepalkan kedua tangannya di depan dada mendongak kearah Hanska.
Begitu juga Yana, Jenika dan dua lagi.
"Ampuni saya.."
__ADS_1
"Kasih saya kesempatan lagi tuan!"
Mereka memohon terus, berharap sang tuan mengampuni dan memberi mereka kesempatan.
Hanska hanya menatap mereka dingin, seketika lobby raksasa itu terasa mencekam diliputi hawa mencekik.
"Arga." Panggil Hanska, seakan tahu apa yang di maksud tuannya.
Arga mendekat kearah dua resepsionis itu.
"Kalian tidak di hukum, berdirilah." Ucap Arga pada Tamara dan Beliza, membuat mereka berdua bingung. Namun begitu tetap menurut dan bangkit berdiri.
Sambil menunduk. "Te..Terimakasih tuan!" Ucap mereka berbarengan, setelahnya mundur perlahan mengikuti Arga.
"Cambuk.." Ucapannya terpotong saat Deena berdecak tak suka.
Seakan tahu apa yang di maksud suaminya.
Hanska langsung memandang sang istri yang menyembunyikan wajah di dada bidangnya dengan sebelah alis terangkat.
"Udah ihh! turunin." Ucap Deena menoel bahu Hanska. Wajahnya mendongak menatap sang suami dengan cemberut.
Tak berani bercampur malu, hanya untuk memandang mereka semua yang seolah melihat kearahnya.
Hanska jadi terkekeh geli melihat istrinya. Pria itu sudah akan menurunkan titah cambuk jika saja Deena tak mengajaknya bicara.
"Arga, pecat semua karyawan yang diam saja melihat kejadian ini namun tak ada respect untuk membantu istriku, kecuali dua resepsionis itu dan juga karyawan pria yang menghubungimu." Titah Hanska tegas dengan nada dingin dan sorot mata tajam.
Dia tak tega melihat anak magang yang tak tahu apapun malah di bully oleh senior, hanya karena tuan muda mereka.
Padahal jika di pikir, ini bukan masalah yang harus di selesaikan oleh seorang atasan, namun jika bagian HRD dan manager nya yang andil dalam keributan ini, lalu dia harus ke mana?
Dari segi manapun, bila dilihat orang biasa yah itu hal yang remeh jika para wanita bersaing tentang apapun dan berujung cekcok.
Deena dengan cepat turun dari gendongannya.
"Tuan!.." Pekik mereka kaget mendengar titah mengerikan dari Hanska.
"Mohon tuan ampuni kami.." Bujuk mereka.
Sudah di pastikan yang akan repot adalah Arga, sebab ada sebagian karyawan yang masih tinggal di perusahaan berarti sebanyak itu juga yang akan Arga cari nantinya.
Walau mustahil dan merepotkan, namun apa yang tidak bagi tuannya ini. Arga pun harus menurut.
"Baik tu.." Ucapan Arga terhenti dengan seruan Deena.
"Arga!" Akhirnya Arga bisa bernapas lega, dia yakin nyonya nya itu tak akan membiarkan sang tuan bertindak yang merugikan perusahaan.
"Ada yang bisa saya bantu nyonya?" Jawab Arga menunduk hormat.
Mereka semua yang menyaksikan hanya bisa meneguk ludah kasar, pertanyaan dalam otak mereka terjawab sudah melihat tingkah tuannya dan juga sang asisten.
Sudah dipastikan, Deena adalah nyonya muda mereka.
__ADS_1
Yana dan Sinta gemetar ketakutan, terutama Sinta yang paling kejam menghajar Deena.
Deena memasang tampang sebal, mendongak kearahnya suaminya yang lebih tinggi dari ukuran tubuhnya, sambil menggembungkan pipi persis seperti anak kecil yang minta di belikan permen.
"Arga, jam kerja sudah lewat sejam lalu loh, aku ga mau suamiku keluarkan biaya lebih cuma untuk bayar lembur mereka doang, padahal mereka hanya nonton drama, wanita, dari tadi." Ucap Deena menekankan kata drama dan wanita sambil melihat suaminya.
Menegaskan bahwa, tak perlu seheboh ini hanya untuk permasalahan dirinya di bully. Bukannya senang, yang ada Deena malah malu.
Dia juga memikirkan reputasi Hanska agar suaminya itu menjadi pemimpin yang baik dan tak menyalahgunakan wewenangnya pada bawahan.
Hanska tersenyum geli.
Suami bertindak, istri berontak.
"Suruh mereka pulang, aku ga mau suamiku pusing melihat karyawannya pada kesiangan gara-gara di tahan dan ga di kasih biaya lembur." Titah Deena.
Arga mengangguk paham.
Selain Hanska, titah kedua yang akan dia dengar adalah sang nyonya muda.
"Yakan, boleh pulang kan mas?" Tambah Deena lagi menoleh kearah suaminya, memanggil dengan embel-embel mas.
Tak dia pikirkan lagi jika nanti ada hukuman karna melanggar aturan dalam panggilannya.
Hanska tersenyum smirk, kesalahan Deena yang paling di sukai pria itu.
"Udah dong, lain kali kita buat kelas peduli sosial aja deh kalau kamu mau, mereka ga salah loh Hans." Bujuk Deena pelan sedikit berjinjit, melihat masih belum ada yang berani beranjak dari tempatnya.
"Nanti Dee masakin spesiaaaal, ya ya yaa." Tambahnya mengerlingkan mata kearah Hanska.
Pria itu malah terkekeh melihat tingkah konyol Deena.
"Hmm ya, as you wish baby." Jawab Hanska mengalah, pria itu beruntung memiliki Deena di sisinya.
Istrinya ini bagai air dan es, kapanpun menjadi pemadam amarahnya.
"Sudah, kalian boleh pulang." Titah Hanska datar.
"Terimakasih tuan dan..." Ucap mereka takut-takut.
"Nyonya Alz, nyonya kalian!" Tambah pria itu.
"Ba..baik! terimakasih kemurahan hati anda nyonya." Ucap mereka serentak, menunduk.
"Hadeh kaku banget kalian."
To Be Continue >>>
Mon maap bund kalau ngarettt jadi dini hari, ketiduran 😭😭😭 jan di masa aing nya.
Oke lanjutt, jangan lupa follow cerita ini, komen di bawah and like.
NEXT!!!
__ADS_1