Presdir Bucin

Presdir Bucin
Jebakan 2


__ADS_3

Hati" typo beryebaran.


Happy Reading 🧡


___________________


Suara dentingan sendok berbunyi keras, Laras tentu tertawa dalam hati melihat drama ini.


Tampak dari pihak Yoko dan Silya saling melempar pandang.


"Maaf pak Yoko, saya memang belum memberi tahu Deena tentang niatan kita menikahkan mereka." Ucap Bakara menjelaskan, takut-takut jadi salah paham.


Deena sontak menoleh. "Menikah? Kok papa ga bilang dulu ke Deena?" Tanyanya lagi dengan penuh tanya.


Ratih langsung bersiasat. Takut jika Laras yang benar-benar menikah dengan tuan muda cacat itu.


Sebab, Laras lah yang awalnya akan menikah dengan Dion, namun tak rela Ratih melihat anaknya menikah dengan lelaki cacat, begitu juga dengan Laras yang menolak mentah-mentah.


Maka dari itu, Ratih mengusulkan Deena menggantikan Laras walau awalnya Bakara menolak, tapi dengan bujuk rayu dan embel-embel Deena akan menuruti mereka, jadilah Bakara setuju.


"Nak kamu tenang dulu, bukan maksud papa begitu." Bujuk Ratih pura-pura.


Gadis itu menghembuskan napas nya kasar.


"Beri kami waktu berdua." Ucap Deena bangkit berjalan kearah Dion.


Bakara terlihat senang melihat Deena seolah menerima perjodohan ini.


Pagi tadi, dirinya sempat putus asa mendengar perusahaannya yang hampir gulung tikar, hanya karna gagal investasi dan menderita kerugian milyaran rupiah.


Untung saja pada saat itu, perusahaan terbesar ketiga di negaranya tengah mencari istri untuk sang putra tunggal. Pewaris dari Yoko Group.


"Baiklah, kalian memang butuh waktu untuk mengenal." Ucap Yoko ayahnya Dion.


"Mainan mainan." Ucap lelaki itu persis seperti balita yang meminta di ambilkan mainannya.


"Ayo kita main sebentar." Tampak telaten Deena membujuk Dion.


"Yeeyy mainan ambil mainan." Celoteh lelaki itu terus, sampai mereka tiba di taman belakang rumah.


Terdapat kolam renang, dan ayunan disini, Deena mendudukkan dirinya di ayunan, begitupun Dion yang mengikuti.


Terdengar helaan napas dari Deena.


Gadis itu melihat Dion yang duduk di samping nya dengan Celingak-celinguk menatap sekitar.


"Katanya main? mana mainnya?" Tanya lelaki itu, menunjukkan wajah kecewa merasa di bohongi.


"Hahah.. disini kita main ayunan." Jawab Deena mengacak rambut Dion gemas.


Tanpa mereka sadari, ada wajah yang memerah melihat wajah Deena yang begitu dekat dengan Dion.

__ADS_1


Sambil menggerakkan ayunan dengan kakinya. "Duh gumush banget siik." Ucap gadis itu tampak seperti kakak yang mengusili adiknya.


Dion langsung mengubah ekspresinya, lelaki itu memanyunkan bibir, berceloteh-celoteh lagi minta bermain.


"Kamu tau ga apa itu menikah?" Tanya Deena pada Dion.


Lelaki itu menggelengkan kepalanya.


Coba berpikir, bagaimana Deena bisa menjelaskan agar mudah dipahami oleh Dion.


"Nah jadi, menikah itu kaya mama dan papa Dion, mereka saling mencintai dan berjanji untuk seumur hidup bersama, sampai kakek nenek dan sampai maut memisahkan." Jelas Deena berharap bisa dimengerti oleh Dion.


Lelaki itu tertegun, namun kemudian berceloteh lagi.


"Mau main nikah-nikah an." Celotehannya Dion, membuat Deena tersedak liurnya sendiri.


Gadis itu berdehem.


"Aku ga tau kamu ngerti atau ga, tapi aku mau jujur ya sama kamu, soalnya ga ada satu orang pun di rumah yang tau." Jeda Deena sebentar, menatap sekeliling memastikan tak ada yang curi dengar.


Dion masih saja dengan kegiatannya berceloteh riang sambil memainkan bajunya.


"Sebenernya aku baru aja menikah sama om om galak, tapi walau gitu aku bersyukur langsung menikah tanpa pacaran." Jelas Deena terkekeh.


Seseorang membelalakkan matanya dalam gelap malam, tak ada satupun yang melihat.


Deena menyematkan cincin di jari manisnya, menunjukkan ke arah Dion.


Pria itu membelalakkan matanya, langsung menyerobot cincin di genggaman Deena.


Terlihat nama Hanska & Deena.


"Eh.." Gumam gadis itu terheran melihat reflek Dion.


Tersadar. Lelaki itu memutar-mutar cincin bak anak kecil yang menelisik.


"Mainan apa ini?" Tanyanya lucu dengan mimik heran.


Deena menepis pikirannya. Dia tersenyum.


"Ini namanya cincin, untuk orang yang sudah menikah, bukan mainan." Jelas Deena mengambil alih cincinnya, gadis itu langsung menyimpan lagi kedalam kantung kecil berwarna merah gelap.


"Nah, kamu kan tau aku sudah menikah, nanti biar aku aja yang nolak pernikahan ini ya biar kamu ga di salahin." Usul Deena berharap Dion menyetujuinya.


"Kamu ga mau nikah sama aku?" Tanya Dion cemberut.


Deena gelagapan. "Bukan.. tapi aku sudah menikah, aku ga bisa menikah lagi sama kamu, ayo kita berteman aja, nanti aku sering ajak kamu main kita beli mainan banyak." Bujuk Deena dengan wajah antusias.


Dion terlihat bertepuk tangan senang. Lelaki itu mengangguk semangat.


"Yeyy janji beli mainan yang banyak?" Tanyanya memastikan.

__ADS_1


Deena mengangguk. "Iya, jadi kita temenan aja ga usah nikah oke."


Dion ikut mengangguk. "Gamau nikah, maunya temen aja biar main main."


"Anak pinter." Puji gadis itu mengacak rambut Dion gemas.


Deena berdiri dari ayunan. "Ayo balik ke dalem." Ajaknya, diikuti Dion di samping.


"Nah, gimana nak Deena dengan keputusanmu?" Tanya Silya yang pertama kali sadar dengan kedatangan dua insan itu.


Deena dan Dion sudah kembali duduk di kursi mereka.


"Hmm maaf sebelumnya om tante, bukan maksud Dee menolak, hanya saja kami lebih enakan jadi temen aja Nte." Jawab Deena sesopan mungkin takut menyinggung.


Bukan Kedua orang tua Dion yang tampak mengeluarkan ekspresi murka saat ini, namun Bakara dan Ratih lah yang tak senang, begitu pun Laras yang tampak kesal.


Kedua orang tua Dion malah tampak maklum, lalu mereka tersenyum hangat kearah Deena.


"Hahah baiklah jika begitu, kamu harus ingat main kerumah kami jika senggang." Jawab Yoko yang senang melihat istrinya tampak menyukai Deena.


"Kamu mau kan main sama Dion? Dia pasti seneng." Tawar Silya diangguki setuju oleh anaknya.


"Mau ya.. ya, Dion maunya main sama kakak cantik, gajadi nikah sama kakak deh." Ucap lelaki itu membujuk tampak merajuk.


Deena tertawa. "Iya ntar Deena sempetin waktu buat main sama kamu." Jawabnya membuat Dion tampak senang.


Wajah Bakara sudah merah padam karena tak berhasil menikahkan Deena dengan Dion, sedangkan perusahaannya harus di selamatkan, jalan satu-satunya hanya mengorbankan Laras.


"Jadi bagaimana Bakara? apakah perjodohan ini akan diteruskan?" Tanya Yoko lebih ke basa basi.


Bakara yang semula masam wajahnya, berusaha menampilkan senyum palsu.


Dasar anak kurang ajar!. Batin Bakara.


"Ah,, saya masih memiliki satu putri lagi." Ucapnya membuat Ratih dan Laras langsung menoleh kearahnya.


"Putri keduamu?" Tanya Yoko.


Bakara mengangguk mantab. "Inilah putri kedua saya, namanya Larasati, sejak awal dialah yang memang akan saya nikahkan dengan putra anda." Jawab Bakara menepuk pundak Laras.


Terlihat gadis itu menoleh tak senang, dan menatap jijik kearah Dion.


Laras akui keluarga Yoko memiliki banyak aset berharga, bahkan mereka hanya memiliki seorang putra tunggal yang akan mewarisi seluruh hartanya kekayaan yoko.


Namun, demi apapun Laras geli melihat kecacatan Dion.


"Baiklah, kalau begitu kita nikahkan saja putraku dengan putrimu Laras." Putus Yoko yang sontak membuat Laras refleks berdiri dengan suara lantang dia berkata.


"Apa?! tidak pa, aku tak mau menikah dengan cowok cacat ini." Tolaknya mentah-mentah, membuat wajah Bakara pias bercampur marah.


Brakkk.

__ADS_1


To Be Continue >>>


__ADS_2