
Lagi masa berkabung ๐ญ๐ญ mengandung segudang bawang nih kalau di ceritain, biarlah aing ajaa yg rasa. Mon maap aing lama up yaa semuanya..๐งก
Happy Reading ๐๐ Hati hati typo
_________________
"Dia bu! beraninya menyentuh gaun ini, padahal sudah jelas tertulis larangan menyentuhnya." Tuding salah satu dari mereka kearah papan larangan.
Sang manager menoleh.
"Oh ternyata teman lama.. Deena Prameswari, lama tak berjumpa." Sapa Danita dengan senyum palsunya membuat Deena mencibir, hal itu tak luput dari penglihatan Danita.
Alamat bakal makin rumit urusannya.
Batin Deena sarkas.
"Mbak gimana nih? mereka saling kenal, jangan jangan kita beneran di pecat." Bisik salah satu karyawati down mendengar sapaan manager mereka untuk Deena.
"Ppsttt. kita lihat aja dulu dek." Balas yang satunya menyikut balik.
Jelas keduanya terlihat pias, takut salah menyinggung.
Deena mencibir. "Siapa yang sudi menjadi temanmu." Ejek Deena santai memutar bola mata malas.
Bibir Danita berkedut kesal. "Dasar gadis miskin, sombong banget sih lo! masih mending gue ngasih muka!!" Hina Danita menatap merendahkan kearah Deena.
Kedua karyawati itu saling sikut, merasa lega karena mereka tak salah menyinggung orang.
"Gue dengar lo nyentuh gaun edisi terbatas dari Rhea's?" Ejeknya dengan tatapan menilai dari atas kebawah tubuh Deena.
Deena mengepalkan tangan, ingin sekali dia mencakar wajah sebening air itu, sampai-sampai tak ada sedikitpun pori-pori di wajahnya.
"Bukan urusan mu!" Jawab Deena malas.
"Tentu ini jadi urusan gue dong!" Bentak Danita tak suka.
"Heh cewek kampung! Bu Nita adalah manager di butik ini." Jawab karyawati menyanjung Danita.
"Betul! Paman beliau salah satu pemegang saham di Mall HansAlzav asal kamu tau!" Bentak satunya lagi dengan galak, menegaskan bahwa Danita memiliki wewenang di mall tersebut.
Danita tersenyum menyungging. "Sudah tau kan seberapa berkuasanya gue di sini?!" Tanya Danita sombong.
"Wah aku terkesan." Jawab Deena tersenyum gamang sambil bertepuk tangan.
Iya in aje dah biar cepet.
Batin Deena.
"Bu Nit, gimana kalau dia suruh mengganti gaun ini." Bisik salah satu karyawati mengusulkan Danita.
__ADS_1
Danita tampak manut-manut.
"Lo harus bayar gaun ini. kalau ga gue lapor security." Ucap Danita melipat tangan di depan dada.
Deena terlihat diam sejenak, mengusap dagu dengan jari telunjuknya.
"Kenapa? ga punya duit kan lo?!" Bentak Danita sarkas.
"Oh, ternyata belagu doang." Bisik para penonton wanita.
"Lebih seru lagi kalau ada adegan jambak jambakkan nya." Kali ini para lelaki juga ikut nimbrung.
"Ckck, makanya mbak nya kalau ga ada duit ga usah sok sok an." Cibir karyawan yang lain mulai menyudutkan Deena.
"Bener tuh buat malu aja lo!" Ejek para pembeli yang lain.
Ada 20 orang karyawati yang bekerja di butik Rhea's Sweet, namun yang terkenal paling galak dan tak sopan hanyalah mereka yang saat ini beradu cek cok dengan Deena.
Sedangkan Danita dan jeje wakil manajernya, terkenal semena-mena kejam dalam menyiksa karyawan.
Siapa yang untung di sini? tentu saja Danita sendiri, dari dulu Dia sudah sangat membenci Deena, itu sebabnya Danita menargetkan Deena sebagai bahan bully-an di sekolah dengan menyebar fitnah-fitnah hoax mengenai kehidupan Deena.
"Oke bakal aku bayar!" Tantang Deena mendapat sedikit celah. Menjeda perkataannya
"Tapi.. aku mau nanya." Sambungnya.
Tampak muda Deena lihat, namun gayanya melebihi tante-tante jablai ckckck.
Hatinya masih sempat membatin.
"Iya bu Nit bener tuh, dia harus bayar dua kali lipat!" Kompor yang lain dengan semangat.
"Ngaco kamu ya! kalian ini pemerasan namanya!" Bentak Deena tak suka, Dia melotot kearah karyawati itu dengan alis bertaut.
Masalah seluk beluk desain, Deena jagonya. Tak ada yang bisa menipunya dengan mata tajam dan otak kritis yang Deena miliki. Kecuali.. Hanska suaminya. Hohoho ๐ญ.
Danita tersenyum menyungging, terlihat menghina dari posisinya.
"Ingat! dua kali lipat lo bayar!" Ulang Danita memajukan wajahnya menatap menelisik Deena dari atas hingga bawah.
"Kalian pikir aku bodoh? mana mungkin hanya pegang ganti rugi dua kali lipat!" Tolak Deena sebagai jawaban.
"Iya bu, tak ada peraturan jika pelanggan menyentuh gaun ini harus membayar dua kali lipat." Bela karyawati lain dengan kaca mata minus, sekawanannya mengangguk menyetujui.
Sebelum berkata demikian, Dia sudah memantapkan mentalnya menghadapi kemurkaan dan siksaan Danita kelak. Tak apalah. Pikirnya.
Hal apapun itu, dia akan menerima walau Dia akan di pecat hanya karena berkata jujur.
Dia tak ingin berada di kata pintar, Dia ingin berada di kata jujur.
__ADS_1
Seperti kata. 'Bangsa ini tak kekurangan orang Pintar, Namun kekurangan orang Jujur.'
Dialah satu dari sepuluh orang yang pertama kali berani membela Deena, sedangkan rekannya, hanya menatap kasihan telah berjumpa gadis kejam plus bertopeng macam Danita.
Mereka tahu ada yang salah dengan gaun itu, namun tak ada yang berani menyuarakan.
Sontak saja perkataan karyawati itu, mendapat delikan tajam dari karyawati yang berselisih dan tak suka kepada Deena.
"Diam kau! tau apa anak baru!" Bentak Danita tak suka pada bawahannya.
Dari dulu hingga sekarang, ada saja yang membantu anak miskin ini.
Danita membatin kesal.
"Siapa lagi coba bu yang mau membelinya jika sudah di pegang pegang." Kompor karyawati yang lain sudah kepalang.
"Iya bener bu!" Seru para karyawati jahat yang lain ikut mengompori.
Seperti mendapat cahaya ilahi, Deena tersenyum.
"Kalau gitu aku tanya berapa harganya?" Tanya Deena mulai rileks, sedari tadi dia diam bukan merutuki kebodohannya yang sempat menantang. Tapi.
Deena dalam otak berpikir, gaun ini di pajang diluar kaca tentu saja itu hal yang janggal bagi Deena, bayangkan saja jika hanya menyentuhnya sama dengan membeli. Kenapa pula tidak dipajang dalam lemari kaca.
Lagian, Deena jelas tahu gaun pola rancangan Rhea, tak sembarang bisa di sentuh apalagi di pajang.
Ada dua kemungkinan, gaun ini palsu, atau sudah cacat.
Kemungkinan pertama sangat tak mungkin, melihat butik mewah ini milik Rhea's. Berarti.
"Lo kan dah lihat label itu! jadi lo harus bayar 32 juta dollar!" Bentak Danita menoyor kepala Deena kearah label tersebut.
Danita berdecih.
Sebelah bibir Deena berkedut, ingin sekali dia menampol wajah kurang ajar rivalnya itu.
"Hahah.. uwu gemoy banget sih kalian! kalian mau membodohi siapa hmm?" Ejek Deena dengan tawanya menggelengkan kepala heran.
Mereka semua mengernyit saling pandang.
"Apa lo bilang?!" Bentak Danita tak senang.
"He.. gaun ini sudah rusak kan?" Jawabnya telak tepat sasaran.
Mereka semua yang menyaksikan melotot dan saling melempar pandang.
To Be Continue >>>
Jangan lupa Follow, Comment and like cerita ini yaa gans sistt.. ๐๐
__ADS_1