Presdir Bucin

Presdir Bucin
Salah Paham


__ADS_3

PPKM ( Pura-pura Kamu Merindukanku) Emang gada obat.


Eh~ hai readers kuu tercintahhh, semoga kalian selalu sehat dan tetap menjaga kesehatan, karena sakit itu mahal.


Oke lanjuttt, sebelum itu aing mau ngingetin protokol membaca.


Buka pikiran, hati-hati typo and Happy Reading πŸ§‘πŸ§‘πŸ’


____________________


Masih Flashback.


"Ada hukuman yang lebih menyakitkan dan bertahan seumur hidup di ingatan." Ujar Deena dengan senyum tersungging.


Hanska tersenyum smirk.


"Kalian." Tunjuk pria itu ke anak buahnya.


"Titah anda tuan." Jawab empat pria yang tak lain adalah penjaga mendekati Hanska.


"Bermain, lalu mempublikasi." Ucapnya ambigu, tapi masih bisa di tangkap jelas maksudnya oleh keempat pria itu.


Setelah itu Hanska menarik lengan Deena keluar dari ruangan, diikuti Arsenio dibelakang mereka.


"Ada yang mau gue sampein sama lo." Ucap Arsen setelah diam dibelakang menjadi nyamuk.


Langkah mereka berhenti saat berada di samping mobil milik Hanska, pria itu membuka pintu untuk Deena mempersilahkan istrinya masuk duluan. Lalu Dia menoleh kearah Arsen.


"Tentang Calista." Tambahnya.


Deena dari dalam mobil tampak mengernyitkan alis ketika Arsen menyebutkan nama Calista.


"Oke, gue nganter Deena dulu." Jawab Hanska tampak acuh tak acuh.


"Hahaha ada yang berhasil move on nih." Ledek Arsen mengeringkan sebelah matanya yang di tangkap oleh Hanska dengan tampang menjijikkan.


"Sial, dari dulu juga gue udah move on. Lo nya aja yang susah move on, padahal mah ada cewek didalam rumah." Balas Hanska juga dengan meledek.


"Sial."


"Gue tunggu di Golden." Balas Arsen malas, setelah itu mobil melenggang pergi.


Flashback Off


Yah, setelah kunjungan dadakan waktu itu, keesokan harinya di forum perusahaan, beredar skandal tentang Sinta, Jenika, Yana dkk. Sudah di siksa di permaluin.


Deena bahkan sampai sekarang merinding jika mengingat itu. Wanita pun tak dilepaskan oleh suaminya.


Kenaikan jabatan Tamara, Beliza dan tentang Deena yang istri tuan muda mereka pun, tak kalah memenuhi forum perusahaan.


Oke, back to topik.


"Ya ampun nyonya, ngagetin saya aja deh. " Beliza yang sedang fokus dengan berkas di tangannya pun terlonjak kaget dengan sapaan Deena.


"Tuh kan benci deh, ga mau ah temenan sama mba lagi." Ucap Deena cemberut kesal mendengar panggil Beliza untuknya.


Dia sudah kesal dengan orang-orang diperusahaan yang memanggilnya nyonya Hanska, kecuali Beliza dan Tamara yang mendapat paksaan memanggil Deena seperti biasa saja. Hanska tak mempermasalahkan itu, asal istrinya senang dia pun juga.


"Hohoho becanda dek." Ucap Beliza. Deena angguk-angguk bagai anak kecil yang patuh.

__ADS_1


"Tumben pagi-pagi udah keluar? Biasanya.." Goda Beliza menaik turunkan alisnya kearah Deena, sambil mengarahkan telunjuk diantara lehernya.


Membuat Deena yang celingak-celinguk langsung menatapnya dengan wajah memerah.


"Ehem, m..mbak Tamara mana mbak?" Tanyanya mengalihkan pembicaraan dengan gugup.


Sangat sesuatu mengingat seminggu lalu, saat Deena menjumpai mereka (Tamara dan Beliza) Diruangan mereka dengan tanda merah bertebaran di sekitar leher mulusnya, bahkan hingga ke dada.


Dan dengan begonya Deena tak menyadari hal itu, fokusnya teralih dengan cekikikan menawan Hanska yang ternyata menertawakan keberadaan kiss marknya.


Ingatkan dia untuk selalu mematut diri di cermin jika ingin kemana pun.


"Wah dek, ada satu disitu." Ucap Beliza menunjuk rahangnya dengan jari, Deena refleks mengikuti arah pandang Beliza kearah lehernya.


"Hah?! be..bener mbak?!" Pekik Deena panik menutupi sekitar lehernya.


"Hahah.. becanda, tak ada apapun di situ." Jawab Beliza terkekeh.


"Mbak nih bikin malu aja deh." Ucap Deena merajuk.


"Wah, apa ini? kalian gibahin aku ya?"


Tampak Tamara datang dengan menenteng paper bag bermotif Implora Luxury, meletakkannya dihadapan Deena.


"Ga tuh, kita lagi bahas yang buat Dee telat bangun." Jawab Beliza mengkode Tamara.


"Ah itu.."


"Ehem ap..apa ini mba?" Potong Deena berharap dirinya lepas dari bulan-bulanan kedua wanita itu.


"Oh ini, tadi ada cowok didepan lobby nitipin ini suruh kasih ke kamu." Jawab Tamara teringat


Diambilnya dan Deena melihat isinya. Gaun dan parfum.


Beliza bertanya dengan Tamara melalui tatapan, seolah bertanya dari pria? siapa?


"Untuk mbak aja nih." Ucap Deena menjauhkan paper bag itu darinya.


"Dari siapa dek?" Tanya Tamara berbisik mendekat dengan penasaran. Begitu juga Beliza.


"Baby!"


"Omo..!" Pekik ketiganya terlonjak kaget, dengan suara bariton dadakan Hanska memanggil sang istri.


"Tuan." Sapa Beliza dan Tamara berdiri sambil menunduk hormat.


Hanska berdehem menjawab mereka.


"Baby, kemana saja kau? Baru ku tinggal tak sampai lima menit dan kau sudah menghilang?" Tanya Hanska yang terdengar seperti pernyataan.


"Kan Hanska tau, kalau Dee ga ada di kamar berarti disini. Siapa suruh ga di izini masuk kelas." Jawabnya ngedumel.


Entah kenapa suaminya itu makin hari semakin aneh, kalau diktator dan posesif mungkin dia sudah terbiasa. Tapi sekarang? semakin menempel.


Deena tak boleh lepas dari pandangannya lebih dari lima menit, bepergian harus dengan Hanska, bahkan untuk rapat atau pertemuan apapun dengan client, Deena harus ikut.


Suamiku, izinkan aku menjitakmu saat ini juga.


Batin Deena kesal.

__ADS_1


"In your dream baby, dengan senang hati jika itu sebuah ciuman." Ucap Hanska membuat Deena terkesiap.


"Tolong perhatikan kami yang jomblo ini." Cicit Tamara mendapat sikutan geli dari Beliza, namun masih bisa di tangkap oleh Deena.


"A..ayo kita keluar dulu mereka mau balik kerja." Ajak Deena menarik tangan suaminya agar keluar ruangan.


Dengan cepat Deena menarik tangan suaminya menuju lift khusus CEO.


"Baby, sudah berapa kali ku bilang, jangan menghilang dari pandanganku." Ucap Hanska menggeram, pria itu langsung meraih tengkuk istrinya dan melabuhkan kecupan-kecupan panas hingga ke pintu lift terbuka.


"Sarapannya udah dimakan?" Tanya Deena mengusap rahang suaminya.


Hanska menaikkan sebelah alis menggeleng. "Aku tak melihatmu, bagaimana sarapan itu bisa kutelan?" Jawabnya malas.


"Apapun itu kesehatan dulu Hanska." Peringat Deena mempersilahkan Hanska duduk dikursi kebesarannya.


"No, kau selalu jadi yang utama, berjanjilah padaku baby. Jangan pernah menghilang dari pandanganku." Ucap Hanska serius.


Deena mengangguk. "Laksanakan tuan, sekarang ayo sarapan." Jawab Deena.




*Praang*!



Terdengar nyaring suara pecahan kaca dilantai marmer salah satu apartemen mewah pusat kota itu.



"Aargghh sial! dasar jal\*ng kecil b\*ngs\*t!" Makian kasar terdengar dari seorang wanita yang melemparkan kembali gelas berisi air, membuat suara nyaring terdengar lagi.



Wanita itu tampak geram sambil melihat tampilan dirinya didepan cermin.



"Gue bersumpah bakal hancurin tuh bocah tengik." Teriaknya lagi, berharap semua dendam kemarahan dalam dirinya terlampiaskan.



"Emangnya apa yang lo punya?! harta? jabatan? bagusan gue kemana-mana." Masih terus bermonolog pada cermin di hadapannya.



"Gue bakal buat lo hancur! cuma gue, cuma gue.. Calista yang pantes bersanding sama Hanska."



**To Be Continue** \>\>\>



**Humm semangat nunggu updateannya, jangan lupa like, komen and follow cerita iniπŸ’πŸ’**


__ADS_1


**NEXT**!!!


__ADS_2