
Cerita murni fiktif belaka, apabila ada kesamaan nama tokoh, tempat, dan unsur lain. Mohon Maaf.
Happy Reading ♥️
________________
Terlihat Hanska mengambil es batu di dapur, lengkap dengan kain dan salep pereda memar.
"Pegang sebentar." Ucap Hanska, mengarahkan tangan kanan Deena untuk memegang es batu terbalut kain di pipinya.
Sebelah tangan Deena yang bebas ditariknya, tampak memar dibagian pergelangan tangan. Pria itu Mengoleskan salep di tangan dan bagian pipi Deena.
Setelah selesai, Hanska melipat tangan di depan dada bersenderan dengan meja dibelakangnya, Dia menatap Deena tidak senang.
"Memang bocil tetap bocil, mengurus diri sendiri saja tak bisa, benar benar mengkhawatirkan." Ucap Hanska mencibir.
Deena membuang muka kesamping. "Huh, bocil pun gini dipaksa menikah juga sama om om." Balas Deena percaya diri.
Hanska mendelik. Tangannya sudah gatal ingin menjitak kepala gadis itu.
Cetakk. Cetakk.
Benar terkabul.
"Nakal ya bocil, sini om beri pelajaran." Geram Hanska menyentil-nyentil jidat Deena lagi. Gadis itu mengaduh kesakitan. Matanaya sudah berkaca.
"Kenapa bisa sampai begitu pipi dan tanganmu?" Tanya Hanska lagi mengalihkan, dengan nada yang melunak, tak seperti tadi.
Terlihat Deena menggembungkan sebelah pipinya. "Biasalah.." Jawabnya berdada.
Hanska menyipitkan mata. "Coba lihat sini." Ucap Hanska menyingkirkan tangan Deena dari pipinya sendiri.
"Masih nampak ga mas?" Tanya Deena.
"Sudah lumayan." Jawab pria itu mengangguk. Beralih melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan.
"Ayo berangkat." Tambahnya menegakkan badan.
Deena meraih jasnya. "Anu.. kangmas, bisa ga manggilnya normal aja gitu ntar dirumah mama? Disana kan rame tuh pasti." Nego Deena dengan perasaan tak enak.
"Mama hee, sudah menganggap diri sendiri anak ya kau bocil." Ejek Hanska menoyor jidat Deena ke belakang.
"Om.." Kesal Deena memegangi jidatnya.
Hanska mendelik. "Kangmas bocil, Tidak ada nego lagi, itu hukumanmu selama bekerja denganku." Putus Hanska mutlak.
Mereka berjalan beriringan keluar dari lift. "Tuhkan, mas bisa manggil aku bocil." Protes gadis itu cemberut.
"Dari pada Nyi Roro Kidul." Jawab Hanska sembarangan. Deena langsung mendongak menatap kesampingnya melotot.
Andai saja mereka hanya berdua, Deena sudah pasti berteriak membalas perkataan pria itu. "Iya, biar aku santet mas jadi ikan ******." Kesalnya tak mau kalah.
"******? hahah.. kalau gitu aku akan melompat dari air dan memberikanmu banyak cupangan." Tawa Hanska membayangkan ikan ****** lain dari yang lain.
Dalam pikirannya, malah terlintas ikan napoleon yang memiliki julukan si bibir dower.
__ADS_1
Keduanya menjadi pusat perhatian oleh karyawan lain. Sebab saat ini, mereka berjalan melewati lobby besar perusahaan.
Beberapa melihat kearah Deena heran dan bertanya-tanya, siapa gerangan gadis kecil disamping bos galak mereka.
Sedangkan yang sudah mengenal Deena, menatapnya dengan tatapan kagum, dapat bertahan tanpa gugup di samping pria mengintimidasi itu.
Mereka terkejut mendengar tawa Hanska, sungguh sesuatu yang langka untuk dilihat. Beberapa wanita terpana melihat senyumnya, dan sebagian lagi tengah jingkrak-jingkrak pelan di belakang.
Baik Hanska ataupun Deena tak memperhatikan itu, seolah hanya ada mereka berdua disitu.
Deena mengatupkan bibirnya, Ia melipat tangan di depan dada. "Ih.. dasar mesum." Geram Deena berjalan lebih cepat dengan menghentakkan kakinya kesal.
Hanska yang melihat itu, hanya tersenyum tipis menggelengkan kepalanya pelan. Berjalan menyusul Deena.
Mereka yang melihat kelakuan Deena terkejut, setelah itu balik melihat kearah Hanska apakah pria itu akan murka.
Tapi tidak. Ternyata yang lebih mengejutkan adalah bos mereka yang terkenal galak itu malah tersenyum.
Diluar, Arga sudah menunggu kemunculan tuannya dengan sebuah Rolls Royce, terduduk manis menyambut.
Deena yang duluan menampakkan wujud sambil melipat tangan.
Arga sampai menaikkan sebelah alisnya melihat raut wajah Deena yang tampak kesal.
Ia membungkuk. "Nona.." Sapanya sopan membukakan pintu. Deena mengangguk hendak naik, Namun urung dilakukan melihat kedatangan Hanska.
Dia memberi jalan untuk pria itu masuk lebih dulu. "Silahkan Bapak Hanska Alzavier yang terhormat." Ucap Deena mencibir.
Terlihat gadis itu menjulurkan lidahnya mengejek di belakang Hanska. Pria itu hanya terkekeh geli, melihat kelakuan Deena yang kekanakan.
"Phoenix Garden." Jawab Hanska. Sebuah pekarangan mewah milik keluarga Alzavier, terletak di bagian timur kota.
Deena menatap keluar jendelea, Dia bukannya tidak tahu tempat seperti apa Phoenix Garden itu, Gusar, gadis itu menatap Hanska yang sedang sibuk dengan iPad ditangannya.
"Mas, mamanya ga di bawain apa apa? biar seneng gitu." Tanya Deena melirik sedikit kearah tablet canggih, pria di sampingnya.
Hanska berdehem. "Jika ingin menyenagkannya, bawakan saja mereka cucu." Jawab pria itu ngasal.
Deena cemberut. "Ishh beneran nih." Sewot Deena menurunkan iPad milik Hanska. Perhatian pria itu beralih kearahnya.
"Arga, mampir ke toko kue langganan mama. Beli tart kesukaannya." Ucap Hanska malas. Dia menatap Deena seolah berkata. Sudah puas kan?
Gadis itu mengangguk. "Eh.. ini kan perbatasan kota Bintang dan Angkasa." Ucap Deena, menunjuk layar iPad yang menampilkan peta wilayah.
"Ini kalau dibangun hunian real estate bakal untung besar." Gumam gadis itu, Jiwa-jiwa berpikir kritisnya bangkit.
Hanska menoleh berdehem, pria itu menaikkan sebelah alisnya.
"Kau mengerti tentang properti?" Tanya Hanska tertarik.
Gadis itu menoleh. "Tentu saja aku mengerti. Menurutku wilayah ini sangat strategis jika dibangun hunian dengan konsep bisnis yang elegan namun tetap asri." Jelas Deena percaya diri dengan tanggapannya.
Hanska tampak manggut-manggut menyetujui.
"Lihat dua kota ini, jika mereka bersatu, ibarat matahari sebagai pusat tata surya." Tambah gadis itu menerawang jauh.
__ADS_1
Deena berasal dari jurusan Arsitek, tentu Ia paham tentang properti dan seluk beluknya.
Terlihat bocah di luar, namun sebenernya Deena termasuk orang yang berpikir kritis jika mengenai rancangan strategis dan bangunan.
Dalam otaknya sudah mulai tersusun konsep. Lihat seberapa cepat kemampuan otaknya berpikir.
Hanska semakin tertarik. Awalnya pria itu berniat membangun kawasan elite di wilayah Bintang Angkasa. Namun, belum menemukan konsep yang pas untuk memulai.
Siapa sangka, Ia mendapat sebuah Ide dari gadis di sampingnya. Hanska menyeringai. "Bagus, aku akan membahasnya nanti denganmu."
Deena mengangguk. "Satu kata, satu juta dolar." Candanya.
Pria itu menyentil kening Deena gemas. "Yaelah becanda om..mas." Ralat gadis itu manyun.
"Tuan nona, kita sudah sampai." Ucap Arga menyela jeda diantara mereka.
Deena menoleh sekeliling, ada banyak mobil berjejer di carport bagian samping rumah. Mulai dari yang mewah, hingga yang paling mewah seperti milik Hanska.
Hanska mengangguk. Keduanya jalan beriringan memasuki rumah bertema klasik itu. Deena berdecak kagum, melihat hamparan taman yang terbentang luas pada bagian depannya.
Banyak sekali di temui tanaman-tanaman langka yang indah. Kedatangan mereka disambut oleh beberapa maid yang berjejer rapih di bagian pintu masuk.
"Selamat datang tuan muda, nyonya muda." Sapa mereka sopan sambil membungkuk.
Hanska berjalan tanpa menghiraukan mereka. Sedangkan Deena yang merasa canggung hanya membalas dengan senyuman.
Pintu terbuka lebar. "Sayaang sini masuk." Ucap Rihlah menyambut kedatangan mereka.
"Ma.. tak perlu sambut sambutan lah." Ucap Hanska memeluk ibunya.
Tampak mamanya mengangkat jari telunjuk. "No, mama mau nyambut mantu dan anak mama dong."
Deena tersedak liurnya sendiri. Hah, Mantu?!
Teriaknya dalam hati.
Gadis itu mengintip dari balik tubuh Rihlah, terlihat ramai ruangan seluas lapangan badminton itu. Perasaannya mulai tak enak.
Tak hanya terlihat wanita tua dan muda yang hadir, namun para pria juga tampak di penglihatannya.
Deena mengernyit. Arisan apa ini? Bukannya hanya ibu-ibu sosialita saja yang bakalan hadir?
Batinnya.
Seolah mengerti isi hati Deena yang penuh tanya, Rihlah menambahkan. "Selamat datang di keluarga besar Alzavier, sayang."
Deena melotot.
Apaa?! Tidaakk.
_
_
To Be Continue >>>>
__ADS_1