Presdir Bucin

Presdir Bucin
Mencuri Kesempatan


__ADS_3

Hati" typo bertebaran^-^


Happy reading ♥️


_______________


Ceklek.


Terlihat rak yang Ia lewati kembali menutup. Hanska berjalan kearah meja kerja, menghempaskan tubuh di kursi kebesarannya.


Ding dong ding dong.


Terdengar dentuman jam di dinding, yang menandakan bahwa waktu, sudah menunjukan pukul 10 malam.


Ia memijat pelipisnya. Tersenyum tajam mengingat hasil perburuan kali ini memuaskan. Batinnya.


Mungkin Ia akan beristirahat lebih lama. Hanska menyugar rambut legamnya kebelakang.


Matanya menangkap pergerakan dari arah sofa, alisnya mengernyit. "Bocil?" Panggilnya.


Teringat Ia masih menghukum gadis itu dalam ruangan. Hanska bangkit berdiri, berjalan kearah sofa.


Matanya menangkap sesuatu diatas sofa, sebuah buket besar tergeletak tak berdaya disitu. Ia mengambil kertas ucapan yang menempel diatasnya.


Deena, Walaupun kamu menolakku, aku tak akan berhenti mengejarmu. Aku cinta kamu.


^^^Dari : Jo^^^


Hanska membaca surat itu sambil berdecak mengejek. "Dasar bocah." Monolog nya.


Pandangan Hanska beralih kearah Deena yang tertidur dengan tangan sebagai bantalan. Hanska mendengus kasar.


Terlihat tumpukan berkas di meja sudah tertata rapih, lengkap dengan catatan dan pembatas yang sengaja di sisipkan olehnya.


Kecuali beberapa box berukuran besar yang tersebar di lantai.


drrtt. drrtt.


Ponsel Hanska berdering. Tertera Ibu Negara ♥️ memanggilnya.


"Halo ma." Sapa Hanska mengangkat panggilan Rihlah. "Tumben jam segini mama nelfon, tau papa ntar Hans lagi deh yang di salahin." Tambahnya.


"Udah ah itu ga penting nak. Mama cuma mau ingetin kamu, besok pagi bawa Dee kerumah ya." Jelas Rihlah dari sebrang sana.


Hanska mengerutkan hidungnya. Ia menatap kearah Deena yang tertidur tak nyaman akibat salah posisi.


"Iy.." Belum sempat Hanska menjawab, sudah terpotong oleh suara lenguhan Deena.


"Eungh.. Ssh aduh." Ringis Deena terdengar saat menggerakkan badan, merasa pundaknya ngilu. Gadis itu terbangun.


"Hayo suara siapa itu? Dee ya, yakhan?" Tanya Rihlah menggoda Hanska.


"Bukan ma.."

__ADS_1


"Kangmas? Badanku pegel semua nih, istirahat bentar boleh ya, nanti lanjut lagi." Deena menoleh menatap Hanska, tanpa sempat menangkap isyarat pria itu untuk diam.


Deena berkata dengan ambigu.


"Kangmas? Ternyata oh ternyata, hubungan kalian sudah sejauh itu? Kamu sudah nikahin Deena diam diam ya Nak? Ayo ngaku, mama papa bakal dukung, apalagi kamu kasih cucu banyak banyak." Girang Rihlah panjang lebar.


Hanska memijat pelipisnya yang terasa berdenyut.


"Dear, kita bakal punya banyak mainan." Terdengar sang mama berteriak dari kejauhan, memanggil Regan.


Anak? Nikah aja belum, gimana mau punya banyak. Dikata melahirkan itu kaya belanja shopi apa? tinggal masukin keranjang. Batinnya gemas.


Ia melotot kearah Deena garang, berharap gadis itu sadar letak salahnya.


"Hum? ga boleh istirahat nih? Yaudah.. hmmpp hmpp." Ucap Deena tertahan, sebab Hanska membekap bibirnya dengan tangan kekar pria itu.


Mata Deena melotot menatap Hanska, keningnya mengernyit penuh tanya. Seolah berkata ada apa?


"Mama, ga seperi itu kok." Jawab Hanska menekankan kata Mama, masih membekap bibir gadis itu sambil melotot. Isyarat, Diam Deena, atau aku kasih hukuman kamu!.


Deena menangkap sinyal itu, Ia mengangguk patuh.


"Jadi seperti apa?" Tanya Rihlah tidak puas.


"Oke oke, besok pagi Hans membawanya kerumah, sekarang mama tidur aja ya, nanti papa ngomelnya sama Hans karna merebut perhatian istrinya." Jawab Hanska pasrah, diselingi sindiran teruntuk sang ayah yang kelewat possesive.


"Yeayy gitu dong, mama tunggu sayang, gud nite, love you." Balas Rihlah.


"Night too, love you." Jawab Hanska mematikan sambungan telfonnya.


Hanska selesai menelpon, pria itu menurunkan tangannya dari bibir Deena.


Sadar tatapan sang gadis. "Mengagumi ketampanan ku hee." Ucapnya percaya diri."


Deena membuang tatapannya. Terlihat gadis itu menguap sambil mengucek mata lucu. "Jam berapa sekarang kangmas?" Tanya Deena.


"Jam sepuluh lewat." Jawab pria itu melemparkan tubuhnya keatas sofa kosong.


Deena langsung sadar seratus persen. "Kangmas, hukumannya tinggal yang di dalam box, gimana kalau kasih keringanan, akan Dee selesaikan besok." Negonya.


Begitu banyak berkas dalam box, dikerjakan semalaman pun belum tentu siap. Pikirnya.


Pandangan Hanska tertuju pada buket cokelat itu. Deena sadar langsung bangkit, Ia mencopot satu batang, langsung mengamit tangan pria itu, Deena menyodorkan sebatang cokelat ketangan Hanska.


"Ini kangmas, sudah di buka." Terlihat Deena berjalan cepat memutari sofa, Ia berdiri di belakang Hanska.


"Dee pijitin pundaknya ya." Ucap Deena mulai memijat pundak Hanska. Tubuh kaku pria itu perlahan rileks.


"Hemm, jadi ceritanya ini sogokan?" Tanya Hanska menaikkan sebelah kakinya bertumpuan dengan paha yang satunya.


"Kurang tulus, seharusnya kau memberikanku lebih dari ini."


Deena menggerutu dalam hati, bibirnya mengerucut. "Memang seorang pebisnis." Ucapnya masih terus memijat pundak Hanska.

__ADS_1


Hanska menggigit kecil coklat ditangan. "Heh bocil, lumayan juga pacarmu, mengirimi buket sebesar itu." Sambil menunjuk benda diatas sofa.


Deena langsung sewot. "Enak aja, siapa yang pacar coba? rugi banget deh." Tolaknya.


"Hahah, pasti kalian sedang marahan kan, dan kau bocil, berpura pura ngambek agar di bujuk." Ledek Hanska menertawakannya.


Deena kesal, tangannya refleks menekan kuat pundak pria itu. "Hey lembutlah sedikit." Protes Hanska.


Deena melunak. "Kangmas, udahan dong hukumannya, mau pulang nih tidur." Bujuk Deena.


"Baiklah, akan kuantar." Ucap Hanska bangkit sambil menggulung lengan kemejanya.


"Huaa akhirnya." Teriak Deena merenggangkan otot lengannya yang kaku. Gadis itu berjalan dibelakang Hanska mengikuti kearah Lift, sambil membawa buket cokelatnya.


Sayang banget kalau dibuang.


Batinnya dalam hati.


"Kasur.. I'm Coming." Girangnya saat masuk kedalam lift. Hanska terlihat menggelengkan kepala maklum. Masih bocil.


Deena tersenyum-senyum memikirkan kegiatan yang akan Ia lakukan begitu sampai asrama. Mandi, rebahan sambil makan cokelat, menyusun strategi pembalasan kepada saudara dan ibu tirinya.


Tibanya mereka dilantai bawah, Deena dan Hanska jalan beriringan kearah mobil. Lihatlah sudah terparkir manis di luar pintu masuk.


"Kangmas bukain dong pintunya, susah nih." Ucap Deena meminta tolong sambil memanyunkan bibirnya.


Hanska memicing. "Sudahlah buang saja buketmu itu, yang memberinya pun ingin kau berubah jadi gendut, cokelat semua gitu. Kau tak takut?" Omel Hanska panjang lebar.


"Nanti kuganti dengan buket dolar saja." Tambahnya. Biarpun Hanska nyinyirin Deena, namun pria itu tetap berjalan kearahnya membukakan pintu.


Deena tersenyum melotot. "Sayang banget, lumayan temen nonton drakor ntar malem." Jawabnya.


Sulthan mah apa aja bisaa.


Batinnya sarkas.


Brakk.


Pintu sebelah Deena tertutup.


Hanska menjalankan mobilnya membelah jalanan kota.


"Dianter ke mana?" Tanyanya.


Deena masih sibuk mengunyah cokelat batangnya. "Asrama aja deh." Jawab Deena fokus pada makanannya.


Ia malas berurusan dengan keluarganya, hanya karena diantar pulang oleh seorang pria.


Mobil berhenti didepan gerbang Universitas. Hanska berdehem. "Besok pagi jangan telat, ditungguin mama." Peringat Hanska.


Deena mengangguk. "Iyaa om.." Latahnya. Hanska melotot.


"Eh selamat malem Kangmas heheh." Tambah Deena cepat, berlalu pergi menuju gedung asrama.

__ADS_1


To Be Continue >>>>>


__ADS_2