Presdir Bucin

Presdir Bucin
Hah Kangmas?!


__ADS_3

Hayo siapa yang lagi mantau kedatangan pelakor? hohoho, mon maap, aing kadang agak suka sama kedatangan mereka, biar greget gitu πŸ˜…πŸ‘πŸΌ tapi tenang, disini ga ada kok, disini ajah :'v


Cusss lanjut. Happy Reading Hati hati typo sayang"kuuhh🧑


___________________


Terasa tubuh Hanska sedikit rileks, Deena menghembuskan napas lega.


"Hah, kang..mas?" Beo Reyka dengan tampang geli, mendengar panggilan Deena untuk Hanska.


"Hey seharusnya aku yang bertanya. Kenapa kau pulang tak ada kabar?" Omel Hanska mengabaikan keterkejutan adiknya.


Tampak Reyka menggaruk kepalanya salting.


Sambil menyengir kuda dia menjawab. "Mau kasih kejutan ke mama papa.."


Ha.. udah sepuluh tahun ga balik, niat mau ngagetin, malah kaget lihat kakak udah boyong cewek, mana masih muda lagi.


Batin Reyka ngenes, kapan kiranya dia bisa lepas dari masa lalu.


Lalu Hanska menoleh menatap Deena, mengabaikan keberadaan Reyka yang masih belum paham situasi, mereka saling beradu pandang.


Hanska mencubit kedua pipi gempal Deena gemas. Sambil mengerutkan alis serius.


Nyyuutt.


"Adee deeh.. cakitt." Rengek Deena menarik-narik tangan Hanska agar melepaskan pipinya.


Pria itu malah mengangkat dagu Deena membuat istrinya mendongak.


"Katakan, kenapa kau bisa bertemu dengannya dan memakai pakaian kaya gini?" Tanya Hanska menuntut jawaban, dengan mata sedikit menyipit.


Gleekk.


Deenanya gugup dong di tatap intimidasi gitu sama Hanska, secara kan bibir suaminya itu mudah sekali buat orang salfok.


"Itu.." Jawab Deena memutar ingatan.


Flashback on.


Drrttt. Drrttt.


Terdengar dering ponsel milik Deena. membangunkan si empunya.


Tertera nama Ale.


"Halo.." Sapaan Deena terhenti, diikuti matanya yang membelalak terbuka lebar, serta ponsel yang menjauh dari telinga.


"Woy lah Dee! kenapa balik ga bilang ke gue kamprett! gue kira lo di culik nyet sumpah, udah gemoy banget gue pen cubit pipi gembul lo itu!" Teriak Aleta dengan nada kesal dari sebrang sana.


Deena tak jadi kesal, dia malah terkekeh lucu mendengar omelan sahabatnya itu melebihi emak-emak di pasar.


"Sorry Al, aku lupa mau ngabarin, begitu sampe rumah mama langsung ketiduran." Jawab Deena jujur. Aleta terdengar mendengus di sana.


"Ketiduran? lo ga makan malem? lihat noh udah jam berapa, kalau lo tambah sakit gimana?" Kesal Aleta mengomel bagai emak tiri.


Deena mencibir jenaka, walau tak terlihat Aleta dia tak peduli.


Deena menghentikan kekehannya. "What? malem.. Omaygat jam tujuh? aku lupa makan obat nih, duh kalau si om tau dia bakal ngomel." Gumam Deena melihat jam sudah menunjukkan pukul 7. Berarti saatnya makan malam.


"Aku sesiapan dulu ya, nanti kabarin lagi. Bye Al, lop you muach." Pamit Deena mematikan sambungan sepihak.


Sudah di pastikan Aleta mengutuknya dari sana. Deena tak peduli, dia segera bangkit untuk membersihkan diri di kamar mandi.


Lalu setelah Deena siap mandi, dia merutuki kebodohannya yang lupa meminjam baju sang mama, alhasil memakai kemeja putih kebesaran milik Hanska.


Persis seperti pertama kali dia datang ke rumah ini, Deena memakai boxer ketat polos milik suaminya.


Deena mencepol rambut ke atas, mempertontonkan leher mulusnya entah untuk siapa.

__ADS_1


Tok. Tok. Tok.


Terdengar ketukan dari arah pintu.


"Nyonya, tuan besar memanggil untuk makan malam." Ajak Mila setelah dipersilahkan masuk.


"Baik. Ayo turun." Setelah itu Deena keluar.


Terlihat seluruh keluarga sudah berkumpul di depan meja makan. Hemm ralat nih, hanya papa Regan dan mama Rihlah saja sih yang terlihat.


Selebihnya? entah lah gentayangan kemana seluruh anak mertuanya. Anak Rihlah hanya Hanska dan Dirga saja yang Deena tahu.


Dirga pun, Dia tahu saat dirinya di rawat rumah sakit kemarin, memilih tinggal di apartemen miliknya sendiri dan menjauh dari bisnis keluarga, tentu saja terkadang Aleta menginap di sana dengan alasan hukuman.


Lalu mereka semua makan malam di selingi dengan drama yang dibuat oleh Rihlah. Kadang Deena suka heran sendiri, mama mertuanya itu satu, tapi rasanya seperti duduk sama sepuluh orang cerewet.


Pukul delapannya, mama dan papa pamit menghadiri pesta dansa di kapal pesiar.


Sedangkan Deena yang kebosanan, memilih berjalan ke taman belakang sendiri, duduk di bangku sambil menikmati semilir angin menggelitik wajahnya.


Di saat itu pula, Reyka Dewantara Alzavier datang, dan dengan tanpa dosanya langsung mengambil tempat di samping Deena.


Berbagai macam bualan, seperti.


"Wah ada dede gemush nih, sini main sama abang, kamu mau apa? Ip pro mag? Lambo atau Vila? abang kasih sekarang juga, tapi ayo temeni abang satu malem." Goda Reyka tak tahu malu.


Deena langsung mendengus kesal menginjak kaki pria itu dengan kesal.


"Bodo amat!" Juteknya menjawab berpindah posisi.


"Cantik, makin gemush deh kalau jutek gitu." Ucapnya lagi menopang dagu kearah Deena


Deena yang malas pun memilih diam dan berpindah lagi ke bangku ayunan. Reyka pun tak mau kalah, di intilinya terus Deena. Sampai.


Cekrek. Cekrek. Cekrek.


Suara jepretan kamera terdengar di telinga Deena.


"Boleh hapus, tapi satu foto satu kali cium." Tawarnya dengan senyum tersungging.


Deena hilang sabar, saat itulah dia marah dan Hanska muncul di belakang mereka.


Flashback Off.


Hanska tampak manut-manut, paham.


"Menjauhlah darinya lain kali, jangan sampai hanya berdua." Titah Hanska menyentil kening Deena gemas.


Istrinya tampak memanyunkan bibir.


Reyka menggaruk kepalanya lagi. "Hmm kak.. siapa gadis ini?" Tanya Reyka malas menerka.


"Siapa mas?" Tanya Deena juga teringat, alhasil mereka bertanya bersamaan.


"Adik kedua, Reyka Dewantara Alzavier. Dengar tidak?" Hanska memperingatkan, kembali menyentil kening istrinya.


"Sshh.. iyaa iya." Jawab Deena mengusap sentilan Hanska.


"Dan kau," Jeda Hanska menunjuk Reyka sambil menyipit tajam.


"Dia ini kakak iparmu, menjauh lah darinya, jangan sampai aku melihatmu menggodanya lagi." Omel Hanska posesif.


Sambil ancang-ancang kabur Reyka berteriak. "Ga janji kak, lihat keadaan wleee."


Sampai lelaki itu hilang diantara pintu.


Deena melototkan matanya menatap kepergian sang ipar, lalu menoleh ke samping mendengar dengusan Hanska.


"Ayo kita masuk, lihat bagaimana aku menghukummu." Omel Hanska menarik Deena masuk rumah.

__ADS_1


"No.." Teriak Deena drama.




"Engghh..Yah kau nikmat.. sayang." Lenguhan manis dari bibir s\*\*y Hanska terdengar.



*Plaak*.



Suara pukulan di punggung polos Hanska dari Deena.



"Udah dong mas.." Rengek gadis itu menggeplak punggung suaminya.



Saat ini, mereka sudah berada di dalam kamar Hanska dengan Deena yang mendapat hukuman dari pria itu.



Sedangkan Deena, hanya menerimanya dengan pasrah saja walaupun kini tubuhnya sudah pegal.



"Dikit lagi sayang, Sshh.. terasa berdenyut disini." Tolak Hanska, kepalang tanggung, pikirannya.



Terlihat wajah istrinya yang memerah, keringat pun membasahi keningnya hingga menetes ke leher.



Sama seperti Hanska, keringat juga membanjiri pelipis pria itu.



*Bip Bip*.



Suara AC menyala.



Ah ternyata mereka lupa menyalahkan pendingin ruangan.



Hanska meletakkan kembali remote AC diatas nakas.



"Mas.. udahin ya hukumannya." Rengek Deena berharap suaminya itu melepaskannya.



Pria itu menggeleng. "Tidak sebelum aku puas." Tolaknya tegas.



**To Be Continue** \>\>\>


__ADS_1


Jahat thor suka nanggung di tengah πŸ˜­πŸ˜­πŸ‘πŸΌπŸ˜‚


Komen and like zeyeng"kuu, jangan lupa follow cerita ini πŸ’œ


__ADS_2