Presdir Bucin

Presdir Bucin
Hentikan Mas


__ADS_3

Selamat hari Rabu untuk orang yang suka merindu. Dapat salam dari Dee untuk kita yang tak bisa bertemu.


Happy Reading ♥️


________________


Hanska menyeringai. Sedangkan dari posisi Deena, gadis itu merasa sudah hilang akal dengan perlakuan pria di atasnya.


Hanska mengangkat wajah Deena yang sudah semerah tomat. Malu.


Kembali pria itu dengan bibir kurang ajar Deena, Dia menyentil ringan. "Nakal! Kau milik siapa hmm."


"Ampun ya mas, sudah, aku kapok." Rengekan Deena keluar seiring dengan semburat merah merona di pipi. Mau mendorong, bagaimana? Tangannya sudah di ikat.


Bukannya berhenti, Kegiatan Hanska malah semakin menjadi. Tangannya tak Dia biarkan diam, dengan sebelahnya menopang bobot tubuh dan sebelahnya lagi menggelitiki pinggang Deena.


Tubuh gadis itu meliuk meminta tolong.


Ampun. Batinnya kapok.


Perlahan Hanska melembutkan gelitikannya melihat airmata Deena mengalir. Deena sudah pasrah, Ia tak bisa mengelak dengan serangan pria itu, berontak pun tak ada guna, sebab Deena kalah tenaga ditambah tangannya tersegel.


"Hahahah.. ampun mas!"


Hanska meringankan hukumannya.


Deena sedikit melunak.


Puas, Hanska malah memilih turun kedaerah tengkuk jenjang milik Deena.


"Hanska, pria mesum!" Racau gadis itu masih sempat mengatai.


Hanska menyeringai, kembali menggelitiki pinggang Deena kuat seolah menambah hukuman.


"Wahaha...tolong mas.."


Hanska terkikik, sesuatu yang membuat spechless setiap melihat tawa lepas Deena. Tak ingin melewatkan momentnya seolah pria itu akan kehilangan jika terlambat.


Hanska terkekeh. "Hmm tolong apa sayang?" Tanya pria itu pura-pura tak paham.


"To..tolong Hahahah.. hentikan." Pinta Deena.


Dia sendiri bingung antara menahan tawa atau menahan rasa.


Hanska tersenyum puas, mendengar Deena yang terus mengeluarkan perotesan indahnya. Tak ada lagi berontakan.


Tubuh gadis itu meminta dilepas. Hanska juga tak mau kalah, Dia tertawa lepas meledek gadisnya. Sebut saja gadisnya.


Hanska menusuk-nusuk pipi gempal Deena, tak peduli walau berulangkali Deena perotes sambil tertawa.

__ADS_1


Seperti mainan, Deena bagaikan squishi yang lentur, bisa di cubit ataupun di tarik hingga melar, gemas Dia dengan pipi gadis itu.


Deena di balik oleh Hanska hingga posisi tengkurap. Mempermainkan Deena sungguh menyenangkan.


".. Ish, aku capek digelitik.. hahaha udah jangan gelitikin terus."


"Memohon lah." Nego Hanska.


"Mas.. mohon biar..kan hahah please."


Gadis itu merengek, Ia memohon belas kasihan Hanska, agar pria itu melepaskan dirinya.


Seolah pria itu menimang. "Tidak, kau harus dihukum sampai aku puas." Jawabnya meloloskan pakaian Deena melalui kepala gadis itu.


Hanska mengernyitkan alisnya dalam, saat melihat punggung mulus Deena terdapat tanda lahir yang persis dengan liontin giok naga miliknya.


Tangannya menyentuh punggung Deena penuh tanya. Benar dugaannya tempo hari, ada sesuatu di punggung gadis ini. Pikirnya.


Seketika kesenangannya mempermainkan Deena terhenti. Niat yang tadi membuncah ingin menghukum Deena lebih lagi, kini menguap entah kemana.


Pria itu menyunggingkan senyumnya, suatu keberuntungan besar menghampiri. Dia turun mengambil posisi berbaring disamping sang gadis. Terlihat gadis itu menoleh ke arahnya.


"Tidur." Singkat, padat, jelas. Titahnya menarik selimut agar tubuh Deena tertutup.


"Ta..tapi." Gagapnya.


Wajahnya? sudah jangan ditanya lagi semerah apa. Malu? sudah pasti, ingin rasanya Deena menenggelamkan dirinya ke inti Bumi paling dalam.


Dia hanya bisa menutup wajah dengan kedua tangannya. Hanska menarik tubuh mungil Deena dalam peluknya.


"Bukan, ke..keluarga mas gimana? Malu kalau sampai mereka mikir lain." Cicit gadis itu pelan, namun masih terdengar oleh Hanska.


"Tidurlah, akan ku urus itu." Jawab Hanska mengelus surai lembut Deena.


Akibat Hanska terus menggelitiknya membuat Tenaga Deena Terkuras banyak. Gadis itu langsung tidur.


Setelah memastikan Deena terlelap, Hanska melangkahkan kakinya kedalam kamar mandi. Membasuh tubuhnya agar lebih fresh.


Kemana hasratnya yang sejak tadi terbendung? Dia tahan, sebab melihat segel di punggung Deena saja sudah membuatnya puas.


Lagian, sabar sedikit demi kepuasan jangka panjang, tak ada salahnya. Pikirnya.


Hanska turun dengan keadaan segar, wajah berseri. Terlihat hanya memakai celana bahan dan kemeja yang di gulung ke siku lengan.


Pria itu bukan puas karena mendapat sesuatu dari tubuh Deena, tapi lebih dari itu.


Rambutnya setengah basah, mimik puas tercetak jelas di wajah dinginnya. Pria itu menyugar rambutnya kebelakang.


"Loh, Dee nya mana nak?" Tanya sang mama yang berada di samping Regan.

__ADS_1


Ucapannya mengundang perhatian seluruh anggota keluarga, mereka sedang menyantap makan siang sambil bercengkrama.


"Diatas ma, ketiduran." Jawab Hanska berjalan mendekat. Lebih tepatnya dipaksa tidur oleh dirinya.


Para om dan pamannya hanya menggeleng maklum, bisa di tebak sebentar lagi bujang lapuk itu akan melepas status lajangnya.


Sang ayah menyipit. "Tsk, ada yang baru bobol." Dihadiahi ledekan dari Regantara.


Malu? tentu tidak, pembahasan seperti itu sudah bukan hal tabu dalam keluarganya.


Semua di bawa asik saja selagi mereka senang.


"Cieileeh, sabar kak, kan seminggu lagi." Celetuk Dyah menaik turunkan sebelah alisnya menggoda Hanska.


Beginilah sifat kebanyakan orang dari anggota keluarganya. Saat diluar membuat orang lain segan dengan pancaran aura intimidasi. Sedangkan dalam keluarga, hangat terasa melingkupi.


Dianugerahi kepekaan mata serta pendengaran yang tajam. Membuat seluruh anggora Alzavier dapat cepat mengetahui kepribadian orang lain. Sehingga tak mudah jika ingin menipu mereka.


Hanska menaikkan kedua alisnya tersenyum. "Belum Dek, kaka mah sabar orangnya. Nunggu halal." Jawab pria itu terkekeh.


Padahal mah engga, Hanska sudah tak sabar, sedari tadi ingin menerkam Deena saja bawaannya. Jika bukan karna tanda lahir di punggung gadis itu lebih penting. Hanska sudah akan memakan habis gadisnya.


Gadisnya? Iya, lebih bagus seperti itu. Pikirnya.


"Halah, sabar atau tak sanggup ckckc." Ledek Regantara seolah meragukan kemampuan putranya untuk turn *n.


Pria itu mendudukan dirinya di samping sang mama. Regan melotot kearah Hanska, tak senang melihat putranya duduk di samping sang istri.


"Huh, papa mau berapa? lima? sepuluh? atau buat tim kesebelasan seperti gen ha*ili*tar? Hanska jabani." Ucap pria itu percaya diri. Mengangkat dagunya menatap sekeliling.


Ucapannya disambut riuh oleh yang lain.


Regantara terdengar berdecak. "Ckk, ingat ucapanmu itu nak, awas saja jika kau hanya memberi kami sebijik."


Hanska tersenyum menyeringai.


"Ma.. yang sempurna ya. Hans tak ingin ada kedua dan seterusnya." Ucap Hanska berbisik.


Rihlah langsung mengerti bahwa sempurna yang di maksud, adalah pesta pernikahan untuk Hanska.


"Sepp dah, apasih yang ga buat kamu nak." Jawab mamanya antusias.


"Thanks mama." Ucap Hanska mencium sebelah pipi Rihlah dengan ancang-ancang untuk kabur. Sebelum sang harimau di samping mamanya menerkam dirinya.


"Hanska!! Kau sentuh sekali lagi milikku, habis kau!" Teriak Regan bak anak kecil yang direbut mainannya.


Yang lain hanya terkikik, beda dengan Rihlah tampak me-melototkan matanya kepada sang suami.


To Be Continue >>>>

__ADS_1


__ADS_2