
Thanksyouuu untuk perhatiannya, dukungan, dan tetep pantengin cerita iniš§”
Happy Reading, Hati hati typo.
_________________
Tap.
Seketika ruangan diliputi kegelapan.
Mata Hanska melotot. "Bini gue takut gelap njir." Ucap Hanska spontan bangkit berdiri.
Tama mencibir melihat kelakuan sahabatnya yang mendekati bucin.
"Arga ada apa ini?" Tanya Hanska sambil berjalan cepat.
"Maaf tuan ada kesalahan teknis." Jawab Arga mengikuti langkah tuannya.
"Deena Deena..!" Teriak Hanska memanggil gadis itu.
Brakkk.
Terdengar suara pintu di banting.
"Hikss.. hikss." Isakan kecil dari arah ranjang mencuri perhatiannya, Deena bergelung dibawah selimut putih.
"Dee.." Panggil Hanska menyibakkan selimut.
"Aaa..." Teriak gadis itu histeris menutup kedua telinganya.
"Sudah sudah, ini mas sayang." Ucap Hanska mengusap surai lembut sang istri.
Direngkuhnya tubuh bergetar Deena. "Kenapa lama sekali perbaikan listriknya?!" Teriak Hanska geram.
Tak lama kemudian listrik kembali menyala.
"Maaf tuan atas ketidak nyamanannya." Ucap Arga.
Hanska mengangguk. "Jangan ulangi lagi." Titah pria itu.
"Baik tuan, saya permisi." Jawab Arga sambil pamit pada Hanska.
Tampak Deena masih sesenggukan dengan sisa air mata di pipi.
Nyiutt nyiutt.
Hanska dengan gemas, mencubit kecil pipi gemoy Deena setelah melerai pelukan mereka.
Kemana amarahnya tadi? tentu saja menguap saat melihat hidung merah, dan wajah sembab milik Deena persis anak kecil yang menangis minta mainan.
Telunjuknya pun tak tinggal diam, ikut menusuk-nusuk pipi Deena gemas.
"Kaya squishi." Ucapnya tanpa sadar, melihat betapa kenyal nya pipi Deena saat di tusuk bolong kedalam, lalu balik seperti semula.
Gadis itu mengusap pipinya manyun.
"Sakit ihh, jangan di cubitin mulu mas.. bukan squishi nih." Ngambek, Deena memajukan bibirnya lucu di mata Hanska.
"Takut gelap hee." Ledek pria itu menyudahi kegiatan di pipi Deena, saat ini dia beralih profesi dengan memainkan rambut gadis itu.
__ADS_1
mengambil sejumput surai lembut Deena dan menciumnya lama, terlihat Deena manyun memukul dada bidang Hanska.
"Gelap itu jahat." Teriak Deena melepas paksa tangan Hanska di rambutnya.
Kemudian gadis itu berlari memasuki kamar mandi. Sebelum itu, masih sempat dia berbalik dan memeletkan lidahnya tanda mengejek di hadapan Hanska.
Hanska hanya menggeleng terkekeh melihat kelakuan Deena, pria itu melihat jam yang melingkar di tangan, menunjukkan pukul delapan tepat.
Kakinya melangkah menuju meja kerja. Bayangkan saja caranya berjalan, bak pria arogan yang diktator.
Hanska mendudukkan diri diatas kursi kebanggaan miliknya, tampak diatas meja sudah ada map yang tadi Tama antar untuknya.
Pria itu membuka ulang berkas serahan Tama, rahangnya mengetat begitu banyak informasi tentang Deena, istrinya.
Nyatanya gadis itu bukan putri kandung Bakara, itu pula yang membuatnya di benci seluruh keluarga ayahnya. Ada juga seluruh bukti kejahatan Ratih yang membunuh ibu kandung Deena, pembullyan, dan perampasan hak milik pulau pribadi milik ibunya.
Hanska makin penasaran dengan sosok Thalia, ibunya Deena.
Ingatannya terlempar, ke waktu Deena meminta imbalan Liontin giok nya, dengan mengubah sebuah pulau menjadi atas nama Deena Prameswari.
Padahal Arga sudah memberinya kesempatan untuk meminta apapun yang Deena mau. Hanska pikir gadis itu akan meminta sejumlah uang dan rumah atau mobil.
Tak disangka, Deena hanya memohon untuk mengubah surat kepemilikan.
Sekarang dia mengerti itu.
Hanska dengan cepat memasukkan semua berkas tentang Deena kedalam brankas tersembunyi miliknya, brankas itu terletak dalam ruangan di balik rak khusus, seolah itu adalah benda bernilai trilyunan.
Ceklek.
Terlihat Deena keluar dari kamar dengan pakaian yang sudah rapih, gadis itu berjalan mendekat.
Hanska mengernyit. "Hey kenapa dengan ekspresimu itu?" Tanyanya.
Deena tersadar menoleh kearahnya. "Oh, mau izin keluar mas, Dee bakal pulang telat hmm mungkin ga pulang." Ucap gadis itu malas.
Mood nya sudah terjun bebas kedasar bumi terdalam, ibu tirinya menelpon memaksa Deena untuk makan malam di rumah dengan alasan sang papa rindu dengannya.
Percayalah apapun itu Deena tak mempercayainya.
Apalagi dengan dalih Bakara rindu? Sungguh tak mungkin. Pikirnya.
Hanska mengernyit tak suka. "Harus kembali, tak boleh bermalam di sana." Jawab pria itu.
"Keluarga Dee ga tau Dee sudah nikah, kalau mereka curiga gimana?" Tawar gadis itu halus.
"Sekalian aja mas ikut." Jawab Hanska santai.
Deena melotot. "Big no!" Refleks nya menolak.
"Bu.. bukan, maksudnya, nanti ada waktunya mas pliss bolehin ya.." Rayu Deena mengatupkan kedua tangannya.
Hanska masih berpikir, fokusnya beralih kearah jari manis Deena.
"Kemana cincin nikahmu bocah?" Tanya Hanska setengah kesal, tak mendapati cincin yang tadi pagi Dia sematkan selepas ijab qobul.
Ekspresi gadis itu berubah, Dia menyengir lebar.
"Dilepas pas mandi." Jawabnya.
__ADS_1
"Taruh mana cincinnya?" Tanya Hanska geram.
Deena menyodorkan genggamannya. Menunjukkan cincin yang sedikit mirip dengan milik Hanska, bedanya terletak di ukiran dan peletakan berlian.
Hanska menyipit. "Pake Dee, kemanapun dan dimana pun pake terus, awas saja kalau di lepas." Tegas pria itu tanpa mau di bantah.
"Dih males ah, ntar jadi ketahuan dong kalau Dee sudah nikah." Tolaknya mentah-mentah, tak melihat warning dari tatapan sang suami.
Alasan Deena melepas cincin itu, bukannya tak mau menunjukkan bahwa dirinya saat ini sudah berganti status menjadi seorang istri.
Hanya saja Deena akan mengunjungi rumah Bakara, tentu sangat merepotkan kalau datang-datang tersemat cincin nikah di jarinya.
"Biarkan saja dunia tahu kau istriku." Balas Hanska tak mau kalah.
Deena mencebikkan bibir. "Ntar kalau mereka penasaran sama suami Dee gimana? kalau mereka tahu suami Dee ini om om gimana? dikatain punya sugar daddy dong Dee."
Hanska menggeram, dia bangkit berjalan mendekati Deena yang masih belum membaca kekesalan suaminya.
"Aku bilang pake Deena!" Ucap pria itu lagi menipiskan jarak diantara mereka.
Deena terpojok dengan meja, tubuhnya terhimpit.
"Mama.. tolong ma tolong." Teriak Deena dramatis, seperti dirinya sedang di apa-apain oleh penjahat.
Dengan spontan Hanska menoleh kebelakang punggungnya, membuat tubuh pria itu sedikit menjauh dari Deena.
Kesempatan itu dipakainya untuk kabur dari kungkungan Hanska.
Pria itu mengernyit, tak mendapati sang mama seperti yang Deena teriakan tadi, sadar dirinya sudah tertipu. Hanska menggeram.
"Deena!!" Teriaknya saat melihat gadis itu, sudah mencapai pintu ruang kerjanya.
Sambil memeletkan lidahnya tanpa rasa berdosa, gadis itu mencibir. "Kurang gercep om, tambahin dong staminanya lemah banget sih hahah."
Setelah mengatakan itu, Deena menutup pintu ruang kerjanya dengan gebrakan.
"Si*l Deena! awas saja kau." Teriak Hanska geram.
"Hahaha." Tawa gadis itu saat di luar ruangan, dan hal itu masih terdengar oleh telinga Hanska, membuat pria itu semakin terlihat jengkel.
"Selamat pagi nona, sepertinya pagi anda menyenangkan." Sapa Arga menghentikan tawa Deena.
"Pagi Arga, ada yang terpancing tapi bukan ikan." Balas Deena tersenyum.
Arga tersenyum mengangguk paham.
"Anda mau kemana nona?"
"Dee balik ke rumah papa, tolong sampaikan izin ke mas Hanska ya."
Arga mengangguk. "Baik nona, mari saya antar." Tawar pria itu.
Deena menggeleng. "Ga perlu deh, Deena naik taxi online aja, mereka repot." Tolak gadis itu halus.
Arga paham dengan sebutan mereka yang Deena maksud, adalah keluarga Bakara.
Terdengar interkom berbunyi. "Arga! urus saja pekerjaan mu, tak usah pedulikan bocah nakal itu, biarkan saja dia menderita sekalian." Teriak sang tuan dari sebrang sana.
Jelas sekali terdengar pria itu sangat kesal.
__ADS_1
To Be Continue >>>>