
Apa ya.. hee lupa apa yang mau dibilang. Lanjut aja daaah
Happy Reading zeyeng" kyuu. hati" typo🧡🧡🧡
___________________
Salah satu karyawati penakut hendak menjawab, namun di tahan oleh temannya.
"Jangan tanya! kita ga salah, dia ga tau apa apa." Bisik teman karyawati itu menahan agar rekannya tak membuat onar.
"Alah paling lo cuma takut di suruh ganti rugi kan?!" Tuduh Danita melipat tangan didepan dada.
Banyak yang ikutan mencibir kearah Deena.
Danita berjalan mendekat kearah Deena, dengan angkuhnya mengangkat sebelah alis.
"Mengingat lo teman lama gue, akan gue pertimbangkan pasal gaun ini." Ucap Danita menjeda.
"Berlutut dan memohon ampunlah sekarang juga!" tambahnya percaya diri.
Perkataan Danita jelas terdengar di telinga mereka semua yang menyaksikan.
Ada yang senang melihat drama ini, ada yang biasa saja dan ada juga menatap Danita tak suka.
"Bu.. anda sudah keterlaluan." Ucap karyawati lain mengundang persetujuan dari beberapa pengunjung lain.
"Sok atuh gampar waelah." Celetuk salah satu pengunjung.
"Iya bu.. jika nyonya Rhea tahu.."
Plaaakk.
Plaaakk.
Dua tamparan telak Danita hadiahkan ke pipi dua orang karyawati baik itu. Deena akan mengingat wajah mereka.
Danita sungguh murka luar dalam, sifat Deena yang tenang bercampur serius itulah yang membuat Danita iri, seperti sekarang.
"Woee beneran di gampar guys."
"Tau apa kalian! urus saja urusan kalian sendiri!" Bentak Danita kasar menampar pipi bawahannya di depan khalayak ramai, memotong perkataan karyawati itu yang membawa-bawa nama Rhea.
Dari kejauhan, seseorang tengah mengepalkan tangan kesal merutuki kebodohan Deena.
Sedari tadi dia sudah menahan diri untuk tidak membantu Deena, andai saja gadis itu menyebutkan namanya, hanya namanya saja, dan pria itu pasti akan memberikan pelajaran tersadis untuk siapa saja yang berani menyinggung Deena.
"Hahaha.!!" Tawa Deena hambar.
"Kamu menyuruhku mengganti barang rusak ini?" Tegas Deena sekali lagi pada ucapannya.
"Lo bego ya! bilang aja ga mampu!" Jeda Danita menghardik.
"Ga usah sok tau deh lo, dasar anak buangan, ga diajarin lo sama nyokap lo kan!" Hinanya tepat di titik sensitif Deena. Tangan gadis itu terkepal kuat, siap melayangkan tangan.
Plaakk.
Satu tamparan keras menghantam pipi Danita, membuat telinga gadis itu berdengung lama. Sedangkan Deena mengabaikan telapak tangannya yang terasa kebas.
__ADS_1
"Kebangetan banget sih tuh karyawannya."
"Iya bener, biar gimana pun juga ga usah gitu amat kan?"
"Gamau deh gue ke sini lagi kalau yang jadi managernya tetep dia."
"Iya, udah yok pergi aja, males gue lama lama."
"Kejem banget."
"Tunggu, gue masih penasaran ending nya gimana woy."
Bisik-bisik riuh mulai terdengar, menyayangkan perbuatan Danita kepada Deena.
Deena berusaha menghirup udara sebanyak-banyaknya. Udara di ruangan itu sangat mencekik di rasa seakan pasokan oksigen bercampur dengan racun.
Alisnya berkedut, tanpa sadar matanya berkaca-kaca.
Danita menatap sinis kearah Deena, sambil memegang pipinya yang kini tampak terlihat cap tangan memerah.
"Dasar jalang!" Bentak Danita mengangkat tangannya ancang-ancang ingin menampar Deena.
"Eheem!!" Terdengar suara deheman berat dari arah pintu.
"Haa ganteng banget jirr." Teriak histeris para wanita dan gadis cantik bersahut-sahutan
"Bener banget! masih single ga ya?" Banyak wanita melihat dengan tatapan memuja, kearah seorang pria yang sedang berjalan dengan penuh kharisma diikuti beberapa pria berseragam kedalam butik Rhea.
"Tuan muda!" Sontak seluruh karyawan yang melihat kedatangan Hanska menyambut hormat.
Pria itu hanya merespon dengan anggukan.
Yess, tuan muda ngeliat gue! Emang ya ga ada yang bisa nolak kecantikan seorang Danita Jayadi.
Batinnya percaya diri, Melihat Hanska berjalan kearahnya.
Eumm, sebenernya sih Hanska mendekat kearah Deena yang kebetulan bersebelahan dengan Danita.
Bahkan, arah pandang pria itu pun terpusat pada istrinya yang saat ini terlihat murung dengan alis bertaut.
Kebetulan Tuan Hanska dateng Gue bakal buat dia terpesona sama gue.
Batin Danita menyombongkan diri.
"Selamat datang tuan muda." Sambut Danita membungkuk genit, mempertontonkan belahannya yang tampak karena memakai baju sexy dengan belahan rendah.
"Siapa kau? Dari bagian mana?!" Tanya Hanska cuek dia malah tak tertarik sedikit pun.
"Perkenalkan nama saya Danita Jayadi, anak dari Farhan Jayadi tuan, Direktur Utama Mall ini." Jawab Danita menekankan nama ayahnya yang seorang Direktur utama di Mall milik Hanska.
Itu semua dia tuju untuk Deena yang kini membuang wajah. Masih dalam mode murung on karena telah menyinggung ibunya.
"Kenapa heboh sekali?" Tanya Hanska dengan mimik datar dan tegas, jelas terlihat ketidak sukaannya pada Danita.
Danita sempat terkesiap.
"Maaf tuan telah menganggu waktu anda. Teman lama saya yang tak tahu aturan ini telah membuat onar." Jawab Danita menunjuk Deena yang buang muka.
__ADS_1
"Teman lama?" Potong Hanska, menatap Deena.
Dengan percaya diri, dia mengira istrinya itu akan berlari kedalam pelukannya sambil mengadu.
Tapi tidak, istrinya itu malah terlihat sudah muak dengan drama yang di ciptakan Danita. Hanska paham itu.
"Apa kesalahannya?" Tanya Hanska memasukkan tangan dalam saku celananya mulai mengikuti alur drama dari Danita.
"Dia sudah menyentuh gaun Forget Me Not limited milik bu Rhea tuan." Jawab Danita sedih.
"Benar tuan.. jika begini siapa lagi yang mau membeli gaunnya." Karyawati yang berselisih dengan Deena ikut mengompori.
Diangguki Karyawati jahat yang lain.
"Padahal sudah jelas tertulis larangan di depannya." Tambah Danita menunjuk papan larangan.
"Lalu?" Tanya Hanska lagi.
Walau sempat ragu, namun Danita meneruskan dramanya.
"Dia tidak mau ganti rugi, bahkan menampar saya tuan." Jelasnya dengan mimik sedih, menyentuh pipinya yang di tampar Deena tadi.
Danita pede bahwa Hanska akan membalas Deena dengan menamparnya juga.
Para karyawan baik dan pengunjung pun pada berbisik, sebab Danita menjelaskan setengah dan tampak dirinya sebagai korban.
Padahal dia duluan yang menghina Deena.
Pikir mereka.
"Benar tuan kata bu Nita, bahkan dia dengan tak tahu malunya mengancam kami semua untuk di pecat." Kompor karyawati menjilat berharap dalam hati dia akan di tambahkan bonus bulan ini oleh Danita.
Danita mengangguk lemah dalam hati bersorak sorai.
Mampus lo! gue buat malu sekalian ckckck. Deena Deena belagu si lo.
Batin Danita mengejek, tanpa di ketahui siapapun kecuali Hanska, senyum tipis terbit di bibirnya.
"Maaf tuan saya menyela." Ucap karyawati yang membela Deena tadi maju meminta izin dengan berani.
Namanya Fatimah.
"Kurang ajar!" Bentak wakil manager maju hendak menampar Fatimah.
Hanska mengangkat sebelah tangannya yang bebas, Interuksi agar wakil manager mengurungkan niatnya.
"Lanjutkan." Titah Hanska, pria itu tahu gadis ini yang tadi membantu istrinya hingga mendapat tamparan dengan rekan satunya.
"Maaf jika saya lancang, tapi ibu Danita dan beberapa karyawati lain menyudutkan dan menghina nona ini duluan tuan.. bahkan sampai di suruh memohon oleh ibu manager.." Jelasnya menjeda, dia menarik napas sejenak sebab perkataannya di potong.
"Fitnah tuan." Potong Danita.
Sial! ikut campur banget si cewek tengil ini, lihat bakal gue siksa dia ntar.
Batin Danita murka.
To Be Continue >>>
__ADS_1
Follow cerita ini, like and comment di bawah👇🏻 siapa tau bakal jadi temen