Presdir Bucin

Presdir Bucin
Bos Mafia


__ADS_3

Marhaban yaa Ramadhan, Selamat menjalankan ibadah puasa ramadhan 1442 H bagi umat muslim.


Happy reading 😘


______________________


Terlihat pria baya sedang bersimpuh sambil mengatupkan tangannya didepan dada memohon belas kasih. "Am.. ampun pak, sa..saya tak akan melakukannya lagi." Ucap pria itu dengan terbata.


Peluh sudah membanjiri pelipis hingga menetes ke bagian leher. Kepalanya hanya bisa menunduk takut dengan kemurkaan sang tuan, bahkan seperti tertimpa puluhan kilo batu, Pria itu tak berani mendongak.


"Lagi? apa masih ada kata lagi?" Ucap Hanska datar sambil menyandarkan kembali badannya di kursi kebanggaan miliknya sambil mengetuk-ngetukkan jari diantara sandaran tangannya.


"Arga." Panggil Hanska sebagai isyarat.


"Siap tuan." Tampak Arga maju sambil membuka lembaran kertas yang sejak pagi di bawa olehnya. "Tuan Gunanda Hariyanto, telah melakukan penggelapan dana pada proyek real estate mengakibatkan kerugian ratusan juta, serta menjual informasi perusahaan kepada perusahaan lain." Arga menutup lembaran kertas itu dan berjalan mundur tanda mempersilahkan giliran tuannya berbicara.


Hanska mencondongkan tubuhnya kedepan mengamati Gunanda yang sedang berusaha keras mengabaikan denyutan di lututnya.


Pria itu menyeringai. "Mengkhianati ku heh." ucapnya terdengar ambigu sambil menyilangkan kaki. "Sudah berapa lama kau bekerja di perusahaan ku?"


Gunanda mendongakkan wajahnya. "Se.. sepuluh tahun pak." Kembali menunduk. "Tolong berikan saya kompensasi."


"Sepuluh tahun kau berkerja hanya untuk mengkhianati ku? bodoh! Arga, usir dia keluar, lakukan hal yang biasanya kita lakukan kepada pengkhianat." Titah Hanska menyandarkan kembali tubuhnya kesandaran kursi.


Arga membungkuk mendekat kepada Hanska. "Penghianat harus ma*i, Bunuh dia. Hanya beri keluarganya hadiah bela sungkawa." Seringai pria itu terlihat sadis. Arga mengangguk pamit melaksanakan tugasnya.


Pria yang tadi masih bersimpuh diseret paksa oleh dua bodyguard kepercayaan Hanska untuk keluar dari ruangan. Bahkan hingga ke lantai bawah dan disaksikan oleh karyawan lain.


Barang-barang kepemilikannya pun sudah diangkat oleh bodyguard lain menggunakan box cokelat. Sesampainya mereka di depan pintu pria itu dilemparkan begitu saja beserta barangnya.


"Seharusnya kau berpikir untuk menghianati tuanku, kau pantas menerimanya." Ucap Arga berjalan memasuki pintu gedung.


"Dasar anj*ng pesuruh, kau bahkan tak lebih tinggi derajatnya dari seekor binatang." Teriak Gunanda tak terima diperlakukan seperti itu. Sudah sangat lama Ia membenci Arga yang selalu menempel pada tuannya.


Walau Arga sudah masuk kedalam gedung namun Dia masih dapat mendengar jelas ejekan dari Gunanda. "Bodoh." Ucapnya berlalu.


"Tuan, mobil sudah disiapkan." Ucap Arga setelah memasuki ruangan.


Hanska menelisik tangan kanan kepercayaannya itu. "Ada apa tuan? saya membuat kesalahan?" Tanya Arga mengoreksi diri.


"Sudah berapa lama kau berada disisiku?" Tanya Hanska mengatupkan tangannya sebagai tumpuan dagu.


Arga menunduk sedikit lalu menatapnya. "Saat tuan menyelamatkan nyawa saya dua puluh tahun lalu, dan membawa saya ke kediaman Alzavier menganggap saya keluarga. Sudah sembilan belas tahun saya mengabdikan diri pada tuan atas keinginan saya." Jelas Arga mengingat kembali saat hidupnya sudah diujung tanduk dan bertemu dengan tuannya saat ini.


Arga bersumpah sampai akhir hayat Ia akan setia berada disisi tuannya. Hanska mengangguk, bangkit dari posisi duduknya.

__ADS_1


"Kau tak perlu merasa lebih rendah dari binatang hanya karena setia padaku. mereka yang berkhianat lah yang pantas disebut seperti itu." Tegas Hanska berjalan keluar Lift.


"Terimakasih atas perhatiannya tuan."


Hanska hanya menaikkan sebelah alisnya menjawab sapaan dari para karyawan di perusahaannya. Sebelum Ia keluar dari gedung, Pria itu membalikkan badan menginterupsi kegiatan mereka. "Kalian sudah melihatnya tadi, Dia sudah lama bekerja denganku tapi masih berani berkhianat. Orang seperti itu tak pantas berada di perusahaanku, ini perigatan, baik baik lah bekerja." Tegas Hanska.


"Baik pak.." Jawab mereka serempak sebelum melihat Hanska melenggang memasuki mobil.


"Silahkan tuan." Ucap salah satu bodyguardnya membukakan pintu mempersilahkan sang tuan memasuki ruangan eksekusi.


"Siapa kalian!? lepaskan aku! aku mengenal bos mafia di kota ini, kalian akan mati memperlakukanku seperti ini." Teriak Gunanda mencoba melepas tali yang mengikat tubuhnya dikursi


Hanska muncul. "Siapa yang kau kenal?" Tanyanya.


Gunanda menatapnya heran. "Pak Hans, jadi semua ini ulah bapak?!" Ucapnya tak terima. "Sialan kau cepat lepaskan aku, kau bahkan lebih muda dariku tapi tak sopan."


"Bicara soal kesopanan, kau sendiri yang memilih mengkhianatiku tanpa sopan santun." Ucap Hanska mengusap-usapkan pistolnya dengan jari.


Gunanda menelan salivanya susah payah melihat pistol di tangan Hanska.


"Heh kau tau tidak, aku mengenal Wiratama Deo Atmadja, bahkan Arsenio Barata Wijaya pun aku mengenal, mereka mafia di kota ini, kau akan habis jika aku memanggil mereka kesini" Jelas Gunanda penuh kesombongan.


Hanska semakin menunjukkan smirk kejam miliknya. "Panggil mereka kesini." Titah sang tuan.


"Lucu sekali, bahkan disisa hidupnya pun masih bisa menyombongkan diri." Ejek Hanska menarik kursi tepat dihadapan Mantan karyawannya.


"Whatsapp bro!" "Yoo ma men." Serempak kedua orang memanggilnya. Hanska menoleh.


"Mana si Zibrilio?" Tanya Hanska menoleh kearah belakang dua sahabatnya, tak menemukan seorang lagi.


"Woylah gue ditinggal." Teriak sebuah suara dari arah belakang Arsen dan Tama. Dia Zibrilio Putra Aldebaran.


Arsenio melihatnya sambil mengedikkan bahu. "Ada yang seru apalagi nih sampe lo manggil kita." Tanya Pria ber rambut pirang dengan tahi lalat di bawah bibir kirinya mirip dengan milik Hanska. Bedanya Hanska memiliki satu lagi tahi lalat di sudut bawah mata.


Hanska menunjuk Gunanda yang terheran melihat mereka ber4 dengan dagu. "Katanya Dia kenal kalian berdua." Merujuk Arsenio dan Wiratama.


Mereka mengernyit saling pandang. Bertambah lagi satu orang mengaku-ngaku mengenali mereka.


Memang diantara keempatnya, yang paling terkenal bergabung dalam geng mafia hanya Arsen dan Tama, sebab mereka yang paling sering menangani masalah dunia gelap itu.


Sementara Zibrilio dan Hanska memilih low profile dalam dunia mafia, Meskipun Hanska adalah pemiliknya. Hal ini jugalah yang membuat orang menyalah artikan menganggap si bos mafia adalah Arsen dan Tama.


"Hahah.. salah mengenali orang hee, bos sebenarnya dalam geng Dragon Phoenix berdiri di depanmu." Jawab Wiratama membuat Gunanda membelalakkan mata.


"K..Kau bos mafia? jika polisi menangkapmu, perusahaanmu akan hancur."

__ADS_1


Hanska memutar-mutar kan pistolnya tak peduli sementara dari posisi Gunanda sudah panik. "Polisi? hahah bukan kah kau juga membunuh rekanmu dengan melenyapkan bukti. Eksekusiku hampir sama dengan polisi, yang membedakannya, aku berjalan cepat, sedangkan proses mereka lama." Gunanda terdiam.


"Kau mau dengan cara kasar atau halus?" Tanya Hanska.


"Kita masih ada 2 mainan lagi Hans." Jelas Arsenio, Hanska teringat tentang pencurian giok leluhurnya. Dia menyeringai.


"Ucapkan permohonan terakhirmu." Titah Hanska mengacungkan pistol kearah Gunanda tepatnya ke kepalanya.


Pria paruh baya itu menelan dengan susah payah, napas nya tercekat. "Jangan sakiti keluargaku."


"Mereka akan ku Lepas, aku hanya mengambil seluruh harta yang kau curi dariku dan mengembalikan jasatmu sebagai hadiah kepada mereka." Jawab Hanska mulai menekan pelatuk.


"Tidaak.."


Dorr..


Satu tembakan tepat mengenai kepala Gunanda, darah segar mengalir dengan derasnya.


Hanska membuang pistol itu lalu membuka sarung tangan yang Ia kenakan. "Bersihkan." Titahnya berlalu meninggalkan ruangan eksekusi sambil menyeringai senang, diikuti ketiga sahabatnya.














__ADS_1



To Be Continue >>>>


__ADS_2